CINTA Plus Minus

CINTA Plus Minus
Piranha dan Pawangnya


__ADS_3

"Otakku tidak sedang disabotase kan?" tanyaku dalam hati sambil mengekor Dave yang keluar dari kamar.


"Jangan pegang-pegang." protes ku pada Dave yang kini sedang mengandung tanganku.


"Hei, harus acting. Kamu lupa di meja makan ada papi dan mami mertuamu? Bagaimana jika mereka curiga pada kita?"


"Bodo... Peduli amat. Toh aku juga nggak menginginkan pernikahan ini."


"Yakin? Kita cerai, masalah ku tuntas loh. Aku tinggal kabur ke Sidney. Kamu mau teman-teman kuliahmu menyebutmu janda muda?" gumam Dave pelan.


"Dasar nyebelin. Intimidasi aja terus gue Dave. Dasar cowo nggak punya hati. Ya Tuhan, kok bisa-bisanya ya hidup gue terdampar dengan pria ini? Kan masih banyak ikan di laut, kenapa malah ngasih gue piranha sih? Bukannya gue yang makan ikan malah gue yang bentar lagi dikunyah habis-habisan." aku mengomel dalam hati sambil mengikuti langkah Dave yang orang sebut suamiku.


"Pagi Mi... Pi..." sapa Dave pada dua orang yang duduk di meja makan menunggu kedatangan kami.


"Pagi Dave, pagi Cintya." sapa Papi.


"Ayok sarapan. Cintya siapkan sarapan buat Dave ya nak." ujar Mami lembut saat aku menghempaskan bokong ku di kursi.


"Iya Mi." jawabku mulai memindahkan beberapa roti lapis bakar ke piring.


"Gue malah di suruh melayani si piranha. Rasanya kayak ngasih makanan pembuka gitu." gumamku sedikit bergidik ngeri membayangkan gigi-gigi runcing ikan itu.


"Thanks sayang." Dave menerima piring yang baru selesai ku isi dengan roti lapis.


"iya...", jawabku sambil manggut-manggut dan tersenyum masam.


Ruang makan kini hening, kami berempat fokus menikmati sarapan masing-masing.


"Berhasil kan Dave acara buat cucu untuk mami tadi malam?" pertanyaan mami memecah keheningan.


"Buat cucu? apaan sih mi? Maksud mami ngerjain hal mesum begitu... astaga" Aku terserah mendengar kalimat yang ku ucapkan dalam hati. "Uhukk... uhukk."


"Pelan-pelan dong Cin." mami menyodorkan gelas berisi air putih padaku.


"Kayaknya mami udah dapat jawabannya. Semoga cepat sukses ya nak. Noni pasti senang kalau dapat ponakan baru." Mami kembali mengoceh, sedangkan Dave hanya manggut-manggut tanda setuju, dan Papi ikut tersenyum.


"Astaga Mi... siapa yang mau buat anak?" Aku memandang mami dengan hati menjerit memohon pengertian.


Acara sarapan pagi akhirnya selesai, siang ini juga mertua ku akan kembali ke US, untuk merawat Noni yang sedang sakit. Setidaknya aku bisa bernafas lega, karena kini di rumah ini hanya akan ada aku dan Dave beserta para pekerja di rumah. Artinya aku tak perlu berpura-pura mesra dengan si piranha.


\*\*\*


Sebulan sudah aku tinggal di rumah ini, bersama tuan Dave yang terhormat. Di akhir pekan biasanya kami akan berkunjung ke rumah ibu dan menginap di sana. Sampai sekarang kami masih tidur seranjang, lengkap dengan boneka dan guling yang jadi pemisah. Tentu saja media pemisah ini adalah ide cerdas ku. Aku nggak mau kalau sampai Dave menggerayangiku tanpa sadar di tengah malam.


"Hahahaha..." aku tertawa senang sambil berguling di atas tempat tidur.


"Jangan gila dong Cintya." tegur Dave yang sedang duduk membaca di sofa.


"Dasar piranha" ledekku dalam hati sambil mengeluarkan lidahku meledek Dave.


"Daripada gila mending belajar. Ingat loh, kamu ini masih mahasiswa, masih juga sembilan belas tahun sudah malas belajar. Mau jadi apa kamu?" Dave mengomel padaku.

__ADS_1


"weeek... emang enak udah tua? Kamu aja yang udah tua masih mahasiswa. Mau jadi apa kamu? mau jadi piranha? Hahahahaha..." tawaku meledak lagi membayangkan piranha berwajah Dave.


"Awas aja kalau nilai ujian mu minggu depan nggak bagus." ancam Dave.


"Beraninya ngancam aja." balasku ketus sambil berguling kesana kemari.


"Aku serius Cintya. Kalau nilai mu buruk, aku akan memp*rkosamu sepanjang malam."


"Bocah.. jangan beraninya cuman ngancam doang ya." ledekku tak mau kalah.


"Aku bukan bocah." jawabnya dingin.


"Oh iya, aku lupa. Kau kan piranha... Hahaha...hahahah..hahahah..." tawaku kembali meledak hebat sambil berguling-guling diatas tempat tidur.


'bugh...'


Tiba-tiba saja aki terjatuh ke lantai.


"Aduh sakit banget..." Aku meringis dalam hati menahan sakit dan malu.


"Kenapa? Makanya nurut. Disuruh belajar ya belajar, jangan guling-guling. Untung cuman jatuh kelantai, bukan kepelukan pria jahat." omel Dave sambil menggendong tubuhku dari laintai.


Aku memilih membisu dan tak membalas kata-katanya.


-deg deg deg deg deg deg-


"Astaga....!! Bunyi jantung siapa itu? Kenapa kuat sekali?" aku merasa pipiku mulai hangat.


Dave meletakkan tubuhku kembali di atas tempat tidur, dan tanpa kata pria itu malah beranjak ke sofa dan fokus lagi dengan pelajarannya, seolah tidak ada kejadian apa-apa.


"Belajar Cintya." ujar Dave tanpa menoleh ke arahku.


"Iya." aku mencicit pelan karena masih malu.


Akhirnya aku menyerah dan memutuskan ikut Dave duduk manis di sofa sambil membaca. Aku memang memegang buku di tangan ku, namun pikiranku berhamburan kemana-mana.


"Gue digendong sama piranha... Tapi sebenarnya dia nggak sejahat itu sih, lagian dia selalu nolong gue. Jangan ge er Cintya, dia nolong loe karena nggak punya pilihan lain. Kembalikan kesadaranmu. Sekali piranha tetap piranha." aku memaki diriku sendiri mencoba mengembalikan otak warasku.


\*\*\*


Ujian semester sudah usai. Aku baru saja menyerahkan lembaran ujian yang paling terakhir untuk semester ini.


"Semoga hasilnya memuaskan. Aku nggak mau dimakan sama piranha." gumamku sambil berjalan keluar dari kelas.


"Siapa dimakan piranha?" tanya Dave yang sudah menungguku di dekat pintu, ternyata pria itu sempat mencuri dengar sebagian kalimat ku.


"Siapa? Apa? Piranha apaan?" tanyaku sok polos.


"Tadi kamu bilang seseorang dimakan piranha." ujar Dave santai.


"Oh itu, maksudku seseorang akan di makan piranha kalau hasil ujiannya tidak bagus.. eh..." aku langsung membekap mulutku, merasa sudah mengatakan sesuatu yang salah.

__ADS_1


"Oh, jadi sejak kapan piranha pindah kemari?"


"Apaan sih Dave? Ngapain nanya-nanya soal piranha? Penasaran? Dasar sesama piranha." aku berteriak padanya mengusir malu yang merayap kedalam sanubariku.


"Sepertinya aku punya kenalan yang sangat dekat dengan piranha. Mau ku pertemukan dengannya?" tanya Dave sambil masuk ke dalam mobil, kami baru saja tiba di parkiran kampus.


"Dekat bagaimana?" tanyaku polos.


"Yah sebut saja dia pawang piranha." ujar Dave kemudian.


"Bisa begitu?" tanyaku yang mulai penasaran.


"Atau sebaliknya, si piranha yang jadi pawangnya." Dave menyalakan mesin mobil dan mulai melakukannya pelan.


"Mana ada begitu?" protesku kesal.


"Ada." jawab Dave santai.


"Aku tidak penasaran." bersandar pada jok mobil dan memilih memejamkan mataku.


"Kau harus berkenalan, ayok buka matamu." Dave kini meletakkan jari telunjuk dan jari tengah salah satu tangannya untuk membuka kelopak mataku.


"Apaan sih Dave." aku membuka mata pelan, dan baru sadar bahwa kami belum keluar dari area parkit hanya pindah beberapa meter.


"Coba kamu lihat kenalan ku." ujar Dave sambil menyodorkan poselnya padaku.


Aku meraih ponsel itu dan menatap layarnya bingung.


"Kamu bercanda ya? Ini mah cuman buka kamera depan. Kalau mau ngajak selfi yaudah aja sih, nggak usah bayak cerita." Aku langsung mendekatkan wajahku pada Dave dan berusaha memotret wajah kami berdua. Karena tidak bisa mendapatkan potret yang memuaskan akhirnya aku bergeser mendekat dan meletakkan kepalahu di bahu Dave.


jepret... jepret... beberapa foto alay tercipta.


-deg..deg deg deg deg deg...-


"Bunyi jantung siapa ini?" ucapku dalam hati, spontan kutarik kepalaku dari bahu Dave setelah menemukan sesuatu di dalam layar ponselnya.


"Dave, apa maksud kamu? Dasar piranha." ujarku kesal sambil melempar ponsel pria itu ke pangkuannya.


"Arrrghh... Cintya, jangan lempar sembarangan. Kau mengenainya lagi." ringis Dave sambil menyentuh sesuatu diantara pangkal kakinya.


Aku memilih menutup wajah karena malu.


"Ya Tuhan, bagaimana ini?" Jeritku dalam hati.


**Author POV


Jangan lupa vote, like dan komen ya gusy..


thanks...


-best**-

__ADS_1


__ADS_2