
"Gue serius, buruan bantu gue kabur yok.."
"Astaga, kak... Loe jangan beg* gini dong. pakai acara mau kabur segala lagi. Ingat mama kak. Ingat perasaan mama." ujar Giordani sambil mengguncang bahuku pelan.
"Tapi dek..."
"Sudah-sudah, jangan pakai tapi-tapian. Kakak tahu kan kalau kakak nggak muncul di altar, yang kena imbasnya bukan hanya si bule Dave, mama dan keluarga kita juga kak."
"Astaga, gue nggak mikir sampai kesitu..." ujarku sambil menepuk dahiku pelan.
"hmmm... lagian, loe ngapain sih pakai acara kabur tengah malam sama si Dave? pulangnya siang hari lagi. Kalau pulang subuh-subuh kan masih masuk akal, walaupun tetap mencurigakan."
"Bibir loe tuh ya dek, ngoceh kayak anak cewek." protes ku pada si Giordani.
"Yasudahlah. Keluar yuk." ajak adikku sambil menggandeng tanganku.
Pupus sudah rencana kabur yang sudah kubayangkan sejak bangun tadi pagi. Ternyata pernikahan ini akan tetap terjadi.
"Oh God, tolonglah aku." jeritku dalam hati.
\*\*\*
Dave bergerak santai, tanpa sikap canggung sedikitpun dia memasang kan cincin mungil bertahta berlian di jari manis ku. Aku melakukan hal yang sama memasang kan benda yang kini jadi pengikat hubungan kami. Janji pernikahan sudah diucapkan dengan lantang, dan sudah sekarang aku menjadi istri sah pria asing ini.
"Selamat ya sayang.",ujar Mama sambil memelukku haru.
Aku memaksakan diri membalas pelukan mami, sambil tersenyum getir. "Apakah ini merupakan saat yang tepat untuk mengucapkan selamat?" tanyaku dalam hati.
"Wah, menantu mami cantik sekali. Selamat ya sayang. Mami harus mengirim foto kalian pada Noni, anak itu pasti akan sangat bahagia."
"He...he... Makasih mi" jawabku gusar, tiba-tiba pikiranku melayang pada Noni mendengar kata Noni akan sangat bahagia sedikit menggetarkan hatiku, sesuatu yang hangat menyusup kedalam sana.
\*\*\*
__ADS_1
"Sayang, selamat datang di rumah." ujar Mami ceria kami baru saja memasuki kediaman keluarga Noni.
"Terimakasih Mi."
"Sudahlah Mi, jangan terus-terusan memeluk Cintya, biarkan mereka beristirahat." ujar Papi.
"Tapi mami masih ingin membawa Cintya keliling rumah Pi."
"Wah Mi, lain kali juga bisa. Biarkan Cintya istirahat malam ini. Lagipula Cintya sering berkunjung kemari dengan Noni."
"Oh iya pi. Mami lupa, untung papi ingetin. Cintya, kamu langsung ke kamar aja ya nak, besok akan mami sempatkan membawa kamu keliling rumah kita."
"Terimakasih mami."
"Jangan sungkan-sungkan. Mulai sekarang rumah ini juga rumah kamu." ujar Mami sambil menepuk bahuku.
"Mi... katanya mau ngasih waktu buat mereka istirahat, kok malah ngajakin Cintya ngobrol sih?" protes papi sekali lagi.
"Papi ini, makin tua makin cerewat. Yasudah, Dave bawa istrimu ke kamar nak, sebelum papi ngomel lagi." ujar mami.
\*\*\*
Rentetan acara pernikahan dan resepsi sudah selesai. Sepanjang acara, aku menyadari beberapa teman kuliahku ada di sana. Termasuk Andrew dan George.
"Apakah ini berarti aku boleh bernafas lega mulai sekarang? George tidak akan mengganggu ku lagi kan?" Aku bermonolog dalam hati sambil melepas bobby pin yang menjepit rambutku.
Ini kedua kalinya aku berada di kamar Dave. Kejadian pertama tentu saja insiden malam minggu, yang aku sendiri tidak tahu bagaimana aku berakhir ditempat ini. Sambil perlahan melepas tataan rambutku, kuedarkan mata ke seluruh penjuru kamar. ruangan yang di dominasi warna putih dan cream ini terlihat lembut dan rapi. Ranjang berukuran king size dengan lampu tidur yang bertengger pada meja kecil di kedua sisinya. Berjarak dua meter dari salah satu sisi ranjang ada sofa yang berhadapan langsung dengan televisi layar datar. Sebuah karpet bulu warna cream juga terhapar di bawah sofa, dibanding kesan maskulin, sentuhan lembut lebih memberi kesan di kamar berukuran lumayan besar ini.
Sementara Dave, suamiku, ralat-ralat, aku tiba-tiba bergidik ngeri dengan kata "suamiku". Lupakan kalimat barusan, maksudku sementara Dave si pria bule menyebalkan sedang ada di kamar mandi sejak beberapa menit yang lalu. Dengan begitu aku lebih bebas mengamati ruangan ini. Setelah beres dengan rambutku, kuputuskan untuk menelusuri seluruh ruangan ini. Karena ini kali keduaku kemari, aku tahu bahwa ada walking closet dibalik pintu yang terletak di sudut ruangan. Aku akan menelusuri ruangan itu, sifat ingin tahuku tak selalu muncul secara sembarangan, tapi berbeda dengan rumah ini. Dave tinggal di rumah Noni, dan mungkin alasan itulah yang membuatku selalu merasa nyaman di sini. Tempat ini selalu membuatku merasa begitu dekat dengan sahabatku.
"Wah" aku terbelalak kagum menyaksikan ruangan di hadapanku. Aku sudah tahu bahwa sahabatku adalah putri konglomerat, tapi tak pernah terpikirkan olehku bahwa ada pria seperti Dave. Maksudku, kalian akan terkejut saat melihat walking closet yang baru saja kutemukan. 50% isi ruangan ini adalah barang mahal yang bisa dipakai perempuan, mulai dari baju, sepatu, tas, perhiasan.
"Apakah dia berbagi ruangan dengan Noni?" gumamku ragu.
__ADS_1
"Cintya, kau tidak akan mandi?" sebuah suara dari arah pintu menyadarkan ku dari kekagumanku tadi. Dave sedang berdiri di sana mengenakan celana pendek berbahan kain dan kaos berukuran over size, rambutnya yang basah masih terlihat sedikit berantakan. Dia sangat tampan, tentu saja semua orang akan melihatnya begitu. Kecuali aku, karena bagiku Dave itu menyebalkan.
"eh... Sudah selesai?" tanyaku ragu.
"Ya. Mandilah." jawabnya santai sambil berlalu dari sana.
Tanpa menunda akupun melangkahkan kaki dari ruangan yang bertabur barang-barang mewah ini langsung menuju kamar mandi lengkap dengan gaun pengantin yang melekat di tubuhku.
Baru saja aku berniat mendorong pintu kamar mandi dan masuk ke dalamnya, sesuatu tiba-tiba menghentikan langkahku.
"Buka bajumu." kudengar Dave berteriak dari arah tempat tidur.
"Apa? apa aku salah dengar? Dia bicara padaku kan? diruangan ini hanya ada aku kan?" aku bermonolog dalam hati dengan kepala yang sibuk celingukan kesana kemari, memereksi jika ada mahluk lain di ruangan ini kecuali aku dan Dave.
"Cintya, tidak mendengar ku?" tanya Dave, entah sejak kapan kosa kata "saya" dalam hidup pria ini berubah menjadi "aku".
"Tunggu dulu. Apa? Apa maksudnya? Apa tadi dia menyuruhku membuka bajuku?" tanyaku dalam hati sambil memandangnya dengan raut penuh tanya.
"Cintya, buka bajumu. Kenapa malah hanya berdiri di situ?" tanya pria itu lagi, kini dia malah menyandarkan punggungnya di sisi kepala tempat tidur.
"Apa? Apa hal ini juga akan terjadi padaku? Apa maksudnya aku akan melewati malam pertama dengannya? Astaga, aku bahkan tidak mencintainya. Bagaimana ini?" protes ku cemas dalam hati. Aku berusaha memasang wajah memelas, agar Dave berhenti dengan ide yang kini melintas di kepalanya.
"Cintya, apa kau akan tetap mematung di sana? Buka bajumu." ujar Dave sekali lagi.
Aku melotot tajam padanya, sambil memasang wajah tidak percaya. Apakah isi kepala pria hanya memikirkan hal mesum? Bahkan tanpa cinta dia bisa menyuruhku melakukan hal seperti itu sekarang?
**Author POV
Menurut kalian apa yang akan terjadi pada Cintya dan Dave sekarang?
BTW, gimana nih kisah Cintya dan Dave? berikan jawaban di kolom komentar ya.
Kalian sudah baca kisah Joelin dan Mickey belum? Kalau belum silahkan ketik "Cerita Manis di Musim Semi, Trouvaille" di pencarian. Atau kalian bisa langsung ke propil author, dan temukan novel yang aku tulis. Makasih ya.
__ADS_1
-best**-