
Kenangan ku kembali ke kejadian saat pemadaman listrik beberapa hari lalu di rumahku, juga kejadian penendangan tadi pagi. Seketika wajahku terasa hangat karena malu.
"Kenapa diam?" tanya Dave mulai mengusikku yang ingin kabur karena malu.
"Ih, pakai acara nanya segala lagi, dasar aneh." aku mengomel dalam hati.
"Tapi kan Dave, kita tetap harus buat kontrak. Nggak mungkin kan kita menikah dan hidup seperti pasangan pada umumnya?'
"Terus?"
"Ya buat kontrak dong Dave. Harus ada peraturan yang mengatur supaya kita nggak sembarangan satu sama lain."
dalam hati "enak aja nggak ada kontrak, nanti loe malah bisa seenaknya ngancem-ngancem gue tiap hari."
"Oh.. begitu." jawab Dave santai sambil manggut-manggut.
"Aku mandi dulu ya." ujar Dave lagi dengan santai sambil beranjak dari tempat tidur, seolah permohonan kontrak yang kubuat tadi tidak pernah ada.
"DAVE..." setengah berteriak pada punggung pria yang bergerak menjauhiku dan nyaris menghilang di balak pintu kamar mandi.
"Arrrrgh, dasar Dave nyebelin... nyebelin.. kenapa sih gue harus nikah sama loe? Ritual pagi gue yang indah bakal berantakan nih kayaknya. Nyebeliiiiiiin!!!!" Aku berguling di atas tempat tidur sambil berteriak mengeluarkan rasa kesal di hatiku.
"Gue nggak boleh lengah dan di intimidasi oleh si Dave, jangan sampai terjadi kayak di novel-novel dengan tema pernikahan paksa alias perjodohan dimana sang lelaki biasanya mengintimidasi perempuan. Tapi.... pada akhirnya mereka saling jatuh cinta sih. Apakah pada akhirnya kami juga bakal saling jatuh?" aku bermonolog dalam hati sambil berguling di atas kasur.
"Jangan beg* Cintya, wake up... wake up... bangun.. jangan ngimpi.. Cerita begituan cuman terjadi di novel. Loe di kehidupan nyata, jangan halu" aku mengubah posisi jadi duduk di atas tempat tidur sambil menggelengkan kepala berkali-kali.
"Cintya, kamu ngapain? Tempat tidur sampai jadi begini?" tanya Dave yang baru keluar dari kamar mandi, dengan bertelanjang dada. Hanya handuk yang melilit di pinggangnya.
"Aaaaa... Dave, pakai bajumu. Dasar pencemaran. Mataku kan jadi ternoda." protes ku sambil menghambur ke dalam selimut.
"Rapikan tempat tidurnya." kudengar suara Dave menjauh.
"Dasar nyebelin. Bisa gila gue kalau harus tinggal sama pria ini seumur hidup."
Aku kembali memutar otak, bagaimana agar bisa segera terlepas dari pernikahan yang tidak kuinginkan ini.
\*\*\*
Dave POV on
Aku masih ke kamar mandi sambil merutuki nasib. Kasihan sekali nasibku, bangun tidur malah harus dapat tendangan mendadak dari Cintya, tepat di area kebanggaanku.
"Apa dia nggak tahu kalau ini modal masa depanku?" aku meringis dalam hati sambil membiarkan air mengutur tubuhku.
Dari kamar mandi aku bisa mendengar Cintya yang sedang berteriak kesal sambil mengumpat berkali-kali.
"Huh, dasar cerewet." jawabku santai.
Saat menyelesaikan ritual mandi ku yang tidak selama acara mandi para tuan putri, aku bergegas kembali kekamar. Dan langsung saja seperti polusi, pemandangan di atas tempat tidur sungguh membuatku terkejut.
"Kenapa tempat tidur jadi mirip kapal pecah begini?" aku bergumam dalam hati sambil memandang bantal dan bad cover yang berserakan kesana kemari.
"Cintya, kamu ngapain? Tempat tidur sampai jadi begini?"
"Aaaaa... Dave, pakai bajumu. Dasar pencemaran. Mataku kan jadi ternoda." Cintya meneriaki aku sebelum masuk kedalam selimut menyembunyikan wajahnya, lengkap dengan rambutnya yang masih lembab dan berantakan.
__ADS_1
"Keringkan dulu rambutmu, astaga... apa kau sungguh perempuan?" aku merutuk dalam hati menyadari rambut lembab Cintya yang kini menempel di tempat tidur.
"Rapikan tempat tidurnya." aku menjauh dari sana, memutuskan untuk segera memakai pakaianku.
Di walking closet, aku terkekeh geli mengingat wajah bingung Cintya saat membaca kontrak tadi.
"Hahaha... makanya jangan sok mengintimidasi." ocehku pelan.
"Untung aku cerdas dan langsung mengganti kontraknya semalam. Ah... keberuntungan terimakasih sudah berpihak kepadaku." aku bersorak dalam hati.
Setelah memastikan penampilanku terlihat kembali normal, aku meninggalkan walking closet. Menemui perempuan cerewet yang mulai hari ini akan menjadi pengisi hari-hariku. Sepertinya aku harus sering mengunjungi dokter THT, untuk memeriksakan telingaku nanti. Kalian paham kan, betapa cerewetnya si Cintya itu? Aku masih tidak habis pikir sampai saat ini, kenapa Noni begitu peduli pada gadis barbar ini.
Dave POV off
\*\*\*
Aku baru selesai merapikan tempat tidur saat Dave kembali ke kamar. Pria itu memandang ku dengan tatapan meledek.
"Apa lagi sih ini?" umpatku dalam hati seolah mendengar tabuhan genderang perang saat melihat tatapan Dave.
"Jangan menatapku seperti itu." protes ku dengan nada kesal.
"Kenapa? Kau takut jatuh cinta padaku jika kutatap begitu?"
"Jatuh cinta lututmu? Tatapanmu seperti orang meledek begitu." sambil melempar sebuah bantal dan tepat mendarat di wajahnya.
"Dasar bar-bar." protes Dave.
"Apa loe bilang? Bar-bar? Mau gue tunjukin bar-bar itu gimana?" aku protes dalam hati.
"Ha? untuk apa mami kemari?"
"Tentu saja untuk memeriksa apakah malam pertama mu berjalan lancar atau tidak." jawab Dave santai sambil memilih duduk di sofa dan menyalakan TV.
"Malam pertama? mana ada yang begituan? Dasar aneh." jawabku pelan.
"Hei, kau mengatai Mami aneh?" tanya Dave sambil mentapku dengan sepasang mata yang mengisyaratkan rasa tak percaya.
"Apa? Aku tidak bermaksud begitu." sambil membekap mulutku sendiri, sadar bahwa baru saja aku salah bicara di hadapan pria menyebalkan ini.
"Tadi kau mengatakannya." tuntut Dave.
"Tidak ada Dave."
"Pokoknya aku mendengar kau berkata begitu." ujar Dave ngotot.
"Yasudahlah, terserah kau saja. Lakukan saja sesuka hatimu Dave, kau memang menyebalkan." Aku menyerah dan hanya membalas kata-katanya dalam hati sambil bergegas meraih hairdryer dan mulai mengeringkan rambutku.
Setelah hampir sepuluh menit, rambutku sudah lebih kering. Sebagai penutup acara merawat rambut, ku oleskan vitamin ke tiap helai rambutku.
"Ah, selesai juga." gumamku sambil menatap wajah di cermin.
"Dave, aku sudah selesai." aku melapor pada pria itu.
"Duduk kemari." panggil Dave.
__ADS_1
Tanpa membantah aku menyusulnya dan menghempaskan tubuhku di sofa. Sambil melirik TV aku terkekeh geli.
"Kenapa tertawa?" tanya Dave.
"Baru tahu ada pria bule nonton acara gosip." jawabku santai sambil memperhatikan tayangan TV yang sedang melaporkan kasus perceraian artis ternama di negeri ini.
"Perceraian?" kata itu secara tiba-tiba membuatku antusias.
"Dave..."
"Ya?"
"Suatu saat kita juga akan begitukan? Bercerai?" tanyaku bersemangat.
"Ha?"
"Maksudku, kau tahu pernikahan kita tanpa cinta. Pasti suatu saat kita akan lelah dengan pernikahan ini dan bercerai."
"Kau sebegitunya ingin perceraian itu terjadi di antara kita?" tanya Dave tanpa mengalihkan matanya dari TV.
"Tentu saja." jawabku antusias sambil memandang wajahnya yang nyaris tanpa ekspresi.
"Baiklah. Lagipula aku tidak rugi apa-apa. Kau yang akan menyandang status janda dan hidup di lingkungan ini. Aku bisa kembali ke Sidney seolah tidak terjadi apa-apa. Perceraian sepertinya akan menjadi tawaran dan pilihan yang sangat menarik." ujar Dave sambil manggut-manggut.
Kata-katanya berubah seperti sebuah tamparan keras mendarat di wajahku.
"Apa? Apa maksudnya itu? Sial... Kayaknya cuman gue yang bakal rugi atas pernikahan ini." tiba-tiba aku merasa bercerai bukan pilihan yang baik, namun tetap dengan pernikahan ini juga bukan pilihan terbaik.
"Kontrak... kita harus membicarakan kontrak." jawabku kemudian.
"okay... peraturan pertama, jangan sampai orang lain selain kita berdua tahu bahwa kita tidak saling mencintai." ujar Dave.
"Kenapa harus begitu?" tanyaku polos.
"Kau tidak ingin menjaga perasaan orang tua kita?"
"oh..."
"Kedua, pembagian tugas sehari-hari sebagai suami istri."
Aku hanya manggut-manggut mendengar kalimat-kalimat Dave. Akhirnya kontrak pernikahan lisan itupun sah setelah kami saling berjabat tangan.
Tapi tunggu dulu, apa ini tidak salah? Kenapa malah kontrak yang kami sepakati hanya berbunyi tentang aturan-aturan dalam bersikap di luar rumah saat menghadapi lawan jenis dan pembagian tanggung jawab di rumah?
"Otakku tidak sedang disabotase kan?" tanyaku dalam hati sambil mengekor Dave yang keluar dari kamar.
Author POV
Hai readers, jangan lupa dukung dengan Vote, Like dan Komen ya...
kalian sumber energi ku.
thankyou.
-best-
__ADS_1