CINTA Plus Minus

CINTA Plus Minus
Malam Minggu


__ADS_3

"Pria ini kenapa sih?" gumamku dalam hati.


"Jadi ngapain kamu datang?" tanyaku penasaran.


"Ya ngajakin kamu belajar lah, saya curiga weekend begini kamu pasti sama sekali nggak buka buku kan?"


"Jangan nuduh sembarangan." ucapku kesal.


"Tapi ke apotek duku yuk, beli obat buat wajah kamu." ujar Dave sambil menarik pergelangan tanganku.


Mau tak mau aku hanya mengekor pria itu sambil manyun karena merasa terganggu.


"Mau kemana Cyn?" tanya Mama dari ruang keluarga saat melihatku dan Dave.


"Saya bawa Cyntia ke apotek bentar ya tan." ujar Dave.


"Oh, sekalian nitip santan kelapa ya Cyn, dari warung mpok Nana." ujar mama padaku.


"Iya ma." jawabku santai, meninggalkan ruang keluarga yang sedang dihuni oleh mama dan adikku.


"Jalan aja." ujarku pada Dave yang kini tengah membuka mobilnya.


"ha?" tanyanya ragu.


"Ada apotek dekat dari sini kok."


"Terus pesanan mama kamu?"


"Santan? Warung mpok Nana tuh di sebrang." ucapku sambil menggerakkan dagu ku menuju ke sebrang.


Dave hanya mengikuti arah yang kutunjuk dan kembali mengunci mobilnya. Kami berjalan bersisian, di trotoar. Setelah berjalan kira-kira lima puluh meter aku dan Dave tiba di sebuah toko obat. Dave lalu memesan beberapa jenis obat. Kami langsung kembali ke rumah, tentu saja dengan santan pesanan mama.


\*\*\*


Kini aku sedang sibuk mengoleskan salep di wajahku. Sementara Dave sedang berkumpul dengan keluargaku di ruang keluarga. Aku bisa mendengar tawa renyah dan ceria dari tempat itu. Dave yang begitu menyebalkan ternyata bisa membuat rumah ini ramai. Setelah menyelesaikan ritual pengobatan iritasi wajahku, aku keluar dari kamar menuju ruang tamu.


"Kemana semua orang?" tanyaku pada Dave.


"Adikmu pergi, biasa katanya malam minggu."


"Ha?" tanya ku tak percaya dengan bola mata yang sengaja ku putar.


"Mama...?" tanyaku lagi.


"Di dapur."


"Oh, yaudah gue eh maksudnya aku bantu mama dulu ya." ujarku.


"Lah, terus aku sendirian?" tanya Dave tak terima.


"Kamu kan nggak diundang." ujarku sambil berlalu dari sana.


"Aku juga bisa bantu-bantu di dapur." ujar Dave sambil menyusul ku.


"Sok banget sih." ucapku ketus sambil menatapnya dengan tatapan perang.


Dave balas menatapku, namun dengan tatapan yang sangat lembut tepat memandang dalam ke bola mataku.

__ADS_1


deg...deg...deg..


Tiba-tiba aku merasa aneh. Pria ini sungguh menyebalkan.


"Yasudah terserah kamu aja. Males ah ngadepin orang nyebelin." ucapku sambil bergegas menuju dapur.


\*\*\*


Dave POV on


Sudah lima menit aku duduk sendiri di ruangan ini. Ruang keluarga rumah Cyntia. Gadis itu tak kunjung keluar dari kamarnya. Apakah mengoles salep pada wajah irigasinya butuh waktu selama itu? Gadis ini betul-betul selalu berhasil membuatku kesal.


""Kemana semua orang?" Aku memalingkan wajahku ke arah sumber suara itu.


"Akhirnya gadis ini muncul juga." geramku dalam hati.


Setelah menjelaskan padanya kemana adik dan ibunya pergi, gadis itu malah mengatakan akan ikut membantu ibu nya di dapur


"What? maksudnya gue ditinggal sendiri? Astaga, ngapain gue pakai acara berkunjung kemari kalau malah di anggurin. Mending gue di rumah Noni, toh di sana masih ada art yang beraktifitas kesana kemari." gumamku dalam hati.


"Aku juga bisa bantu-bantu di dapur." ujarku pada gadis itu sambil bangkit dari posisi duduk dan menyusul nya.


"Sok banget sih." Gadis itu berujar ketus sambil melotot padaku.


Aku memilih membalas melotot padanya. Namun kedua bola mata itu terlihat sangat lucu dan membuat hatiku terasa hangat.


"Yasudah terserah kamu aja. Males ah ngadepin orang nyebelin." omel gadis itu, dan aku hanya tersenyum simpul sambil mengekor di belakangnya.


Akhirnya di sini lah aku sekarang, membantu Cyntia dan Ibunya membersihkan sayuran yang akan di masak sebagai menu makan malam.


"Jadi kamu sedang ngerjain skripsi?" tanya wanita paruh baya itu tanpa menghentikan aktifitasnya.


"Wah sebentar lagi wisuda dong. Nggak kayak si Cyntia ini, masih lama." ujarnya berusaha melucu.


"Ya ampun mama, Cyntia kan masih baru mulai semester dua. Gimana mau wisuda dengan cepat?" Gadis itu terkekeh pelan.


"Iya juga sih. Tapi ternyata nggak terasa ya Cyn, kamu yang dulu masih bayi mungil sekarang udah bisa bantu mama masak di dapur." ujar sang ibu terharu.


"Yah, kan aku tumbuh dengan baik karena di asuh sama mamaku yang hebat ini." Gadis itu menghadiahkan sebuah kecupan singkat di pipi ibunya yang sedang sibuk dengan bumbu dapur.


"Anak mama bisa aja. Manis banget sih."


Kedua perempuan itu saling memandang dengan hangat. Perasaan hangat yang sudah lama hilang dari hidupku tiba-tiba kembali. Ternyata tak sia-sia aku memilih rumah ini untuk menghabiskan weekend ku kali ini. Akhirnya aku bisa menyaksikan kehangatan keluarga lagi.


Dave POV off


***


Aku, mama dan Dave kini duduk di ruang keluarga menyaksikan sebuah acara tv. Ajang mencari bakat bernyanyi. Sementara adikku tak kunjung pulang.


"Suaranya bagus. Pasti akan menang." celetuk mama saat menyaksikan salah satu peserta bernyanyi.


"Belum tentu mam, perjalanan masih panjang." jawabku santai.


"Aku setuju tan, dia bisa bernyanyi dengan baik." ujar Dave.


"Alah, kamu mah memang nggak suka sependapat sama aku." ujarku sarkas.

__ADS_1


"Cyntia. jangan bicara begitu dong sayang. kamu ini ada-ada aja." ujar mama lembut mencoba menegurku.


"Baiklah. Maaf ya mama." jawabku kemudian.


"Aku pulang." adikku akhirnya muncul, langsung mencium tangan mama dan bergegas ke kamarnya.


Setelah iklan gratis dari adik bontotku itu, aku, mama dan Dave kembali asik menonton tv.


Aku menguap berkali-kali, acara yang kami tonton akhirnya akan segera usai.


"Dave nggak pulang?" tanyaku pelan sambil mengantuk.


"ha?" dia melirik jam di pergelangan tangannya.


"Udah larut Dave, nginap aja." tawar mama.


"Tapi ma.."


"Sayang, kamu sama teman sendiri kok tapi-tapian sih?" tanya mama menghentikan kalimat ku.


"Yaudah deh. Nginap aja Dave. Lagian jalan malam bahaya, banyak begal." ujarku kemudian.


"Terimakasih tante." ujar pria itu tulus.


"Jangan sungkan-sungkan. Oh iya, tante tidur duluan sudah ngantuk. Kamu jangan lupa ngasih selimut buat Dave ya Cyn, tidurnya di kamar tamu dekat kamarmu aja."


"Tapi ma..." ujarku menggantung mengingat kamar itu lama tak berpenghuni, yang berarti kamar itu harus dibersihkan lagi.


"Apa lagi sayang? Mama sudah ngantuk berat nih." Aku memandang mama yang terlihat lelah, hatiku trenyuh seketika.


"Oke Ma.... Have a nice dream." ujarku kemudian.


Mama berlalu, meninggalkan aku dan Dave di ruang keluarga. Kamar mama dan adikku ada di lantai bawah. Sedangkan kamarku dab kamar tamu terletak di lantai dua. Jangan bingung, kenapa keluargaku yang pas-pasan bisa hidup di rumah mewah ini. Itu semua karena rumah ini satu-satunya yang tersisa dari momen kejatuhan bisnis keluargaku.


"Masih mau nonton?" tanyaku pada Dave.


"Aku juga sudah mengantuk." gumamnya.


"Hei, bukannya tadi kamu datang kesini buat belajar? kita belum ada belajar Dave." protesku.


"Ngantuk nih Cyn, ingat pesan tante jangan lupa kasih selimut ke aku."


Dengan kesal aku mematikan tv dan menariknya ke lantai dua. Kami lalu berhenti di depan pintu kamar yang terletak di sebelah kamarku.


"Gue nggak yakin mau bilang ini, tapi.. kamu bisa liat sendiri keadaan kamarnya." ujarku.


Kami masuk ke kamar itu, ruangannya tidak terlalu berdebu.


"Pasti mama yang bersihin kamar ini." gumamku dalam hati.


"Yaudah, kamu tidur di sini, tunggu aku ambil selimut bentar." ujarku bergegas dari sana.


Aku masih di ambang pintu, saat tiba-tiba keadaan di sekeliling mendadak gelap gulita dan seseorang memelukku erat.


"Kamu ini apa-apaan sih?" tanyaku emosi.


"aku takut gelap cyn." jawabnya bergetar.

__ADS_1


"Astaga..." kutepuk jidatku frustasi. Untuk pertama kali dalam hidupku, ada pria dewasa yang takut gelap.


__ADS_2