CINTA Plus Minus

CINTA Plus Minus
See You, Steve


__ADS_3

Seketika Dave berhenti menggeleng dan langsung menyalakan mesin mobilnya. Tanpa ekspresi, dan aku tak peduli.


\*\*\*


Mobil yang dikendarai Dave kini mendarat mulus di area parkir bandara. Dengan gerakan cepat aku membuka pintu mobil mewah itu dan segera keluar.


"Pelan-pelan Cyn." omel Dave yang menyadari gerakan ku yang sangat terburu-buru.


Masih mengabaikan pria berwajah tampan itu, aku malah berlari kecil menuju stasiun keberangkatan internasional.


"Steveeeee..." jeritku setengah berteriak saat melihat punggung Steve antri di antara orang-orang yang sedang check in, sukses membuat pria itu memutar tubuh mencari keberadaan ku.


"Sebentar ya." jawab Steve tanpa suara, hanya bibirnya uang bergerak pelan.


"Kamu pikir ini di hutan? Cyntia, jaga tingkah laku kamu." tegur Dave yang kini sudah berdiri di samping ku.


"huh..." aku mendengus kesal. Dave selalu sukses membuatku kesal.


Dengan perasaan campur aduk, aku terdiam memandangi tubuh Steve yang masih berdiri di barisan antrian itu.


"Awalnya Noni, lalu Steve.. gue cuman punya kalian berdua sebagai teman, tapi malah kalian harus pergi jauh begini. Besok-besok pasti bakalan sepi banget." gumamku dalam hati.


"Nih.." ujar Dave menyodorkan sapu tangannya padaku.


"ha? buat apa?" tanyaku heran.


"Lap ingus kamu." ujar Dave.


"Gue nggak ingusan kali.".


"Oh terus yang keluar dari matamu itu apa? Air hujan?"


"Eh..." jawabku sambil mengusap wajah dan merasakan air yang kini sudah bertengger di pipiku. Ternyata tanpa sadar aku tengah menangis. Tapi tetap saja, ini yang keluar air mata bukan ingus.


"Apakah pria di samping ku ini sangat bodoh?" tanyaku dalam hati.


"Hapus air matamu Cyn, jangan buat ini jadi sulit bagi Steve." tegur nya sambil menyerahkan sapu tangan berwarna cream dan terlipat rapi itu padaku.


Setelah meraih sapu tangan Dave, aku langsung menghapus bulir yang mengalir dari sudut mataku. Dan berusaha menahannya agar tak menetes lagi.


"Terimakasih Dave." ujarku berusaha tersenyum ramah. "Tapi, btw benda ini steril kan?" tanyaku polos, yah siapa tahu aja udah dia pakai buat lap keringat, ingus dan lain-lain kan kasihan kulit ku kena bakteri jahat.


\*\*\*


Dave POV


Bandar Soekarno-Hatta terminal keberangkatan internasional.


Aku memandang gadis berambut ikal dan bertubuh mungil yang kini berlari kecil. Dengan langkah cepat aku berusaha menjaga jarak dengannya. Tak mungkin aku berlari, bisa-bisa posisi kami jadi seperti sedang syuting drama romantis.

__ADS_1


Kudengar gadis itu berteriak memanggil nama, Steve. Ya, tentu saja Steve yang itu, teman Noni, teman gadis ini juga. Setelah berhasil berdiri di sisi nya aku langsung menegor tingkah grasak-grusuknya. Dia lalu berdiam diri. Tatapan matanya begitu sendu dan sayu, memandang punggung Steve. Lalu entah sejak kapan, namun kini aku sadar ada bulir bening mengalir di ujung matanya. Ku tawarkan sapu tangan padanya.


"Lap ingus kamu." ujar ku mencoba meledeknya yang tengah menangis.


"Gue nggak ingusan kali." jawab gadis itu datar.


"Oh terus yang keluar dari matamu itu apa? Air hujan?" tanyaku tak percaya, sepertinya gadis ini sedang kehilangan kesadarannya.


Mendengar kalimat ku, seolah tersadar dia lalu memeriksa wajahnya. Tentu saja dengan bantuan indra perabanya sendiri. Dengan gerakan santai gadis itu menghapus air matanya dengan sapu tanganku.


"Terimakasih Dave." ujar gadis itu sambil tersenyum ramah.


Pemandangan yang sangat langka, dia tersenyum ramah dan berbicara lembut padaku. Saat begini, Cyntia terlihat... hmmm terlihat manis.


"Tapi, btw benda ini steril kan?" tanyanya dingin sambil memandang ku dengan tatapan serius dan bodoh.


Ah.. lupakan, lupakan soal dia yang manis. Gadis ini sepertinya muncul hanya untuk membuat mood ku selalu berantakan. Bagaimana dia bisa bertanya begitu kejam setelah mengucapkan terimakasih dengan cara yang tulus. Aku memijat kening dengan jari telunjukku, rasanya sedikit frustasi.


"Aku habis pakai buat lap ingus, selain itu juga tadi buat bersihin spion mobil." jawabku asal karena sudah terlampau kesal.


"ihhh... jijik gue." dia melempar sapu tanganku sembarangan.


"Astaga, gadis ini sungguh tidak sopan. Bagaimana dia bisa melempar sapu tangan ku yang tadi sudah dipakai buat menghapus air matanya itu?" sesalku dalam hati.


"Ambil Cyn." ujarku dingin, memerintah gadis itu memungut sapu tanganku.


"Nggak mau, jorok." jawabnya santai.


"Apaan sih lo?" ujarnya kasar. Aku tahu dia kesal, sorot matanya memancarkan hal itu.


"Ambil dan cuci bersih." jawabku dingin.


Dengan gerakan santai kubimbing tangannya meraih benda itu dari lantai dan saat sapu tanganku ada dalam genggamannya, aku sangat tahu isi kepala gadis ini.


"Jangan berani-berani membuangnya. Atau, aku tinggalkan kamu di sini dan aku nggak akan mau nemani kamu selama Steve di US. Dan aku tidak akan peduli dengan apapun yang akan dilakukan Goerge padamu." ancamku kemudian.


Cyntia terlihat kikuk mendengar ancaman ku, bagaimanapun momok kehadiran George dan keluarga pria itu sungguh jadi ancaman tersendiri baginya.


Dave POV off


\*\*\*


Aku membuang muka dari Dave. Pria ini, belum apa-apa sudah jadi diktator dalam hidupku.


"Cyntia." sebuah suara menyadarkan ku dari rasa kesal tak berujung.


"Steve." jawabku lirih memandang pria yang kini berjalan ke arahku dan Dave. Sebelah tanganku masih menggenggam sapu tangan kotor milik Dave.


"Hi bro. Makasih udah nemani Cyntia." ujarnya ceria pada pria menyebalkan yang kini sedang tersenyum padanya.

__ADS_1


"Dasar lelaki licik." omelku dalam hati.


"Safe flight bro, semoga semua urusan mu lancar." ucap Dave pada Steve.


"Thanks bro. Gue titip Cyntia ya bro."


"Tenang aja. Dia juga titipan Noni, jadi nggak perlu loe titip lagi." ujar Dave.


"Apa? gue nggak salah dengar kan? cowo nyebelin ini baru aja pakai sapaan loe-gue. Tapi kenapa malah selalu ngelarang gue setiap makai kata itu? Nyebelin...nyebelin.." aku protes dalam hati.


"Gue juga titip Noni bro." ujar Dave, yang samar-samar masih kudengar.


Ah... Noni, nama itu kembali mengubah mood ku.


"Steve." panggilku lirih memandang pria yang terlihat stylish itu.


"Apa Cyn?"


"Salam buat Noni ya, gue kangen banget. Semoga dia segera pulang kemari." ujarku sungguh-sungguh.


"Salam gue simpan Cyn. Kita semua juga berharap Noni sembuh secepatnya." ujar Steve.


"Oh iys Steve, loe jangan lupa kirim kabar sama gue." tuntutku serius.


"Nggak boleh terlalu sering, tapi gue bakal hubungin loe lagi kok."


"Lha, kok nggak boleh sering-sering?"


"Takutnya loe malah nyaman terus naksir gue, kan nggak seru Cyn." ujar Steve santai.


"Dasar teman durhaka." ujarku kesal.


"Aku serius. Btw, loe hati-hati deh selama gue nggak ada. Nggak usah dekat-dekat cowo lain selain Dave, nggak usah sok-sok kenalan sama cowo baru. Gue nggak mau sikap tulus dan polos teman gue ini malah dimanfaatin sama buaya-buaya darat di luar sana." ujar Steve.


"Cerewet loe." protes ku sedikit geli mendengar omelannya.


"Gue serius Cyntia. Loe nempel-nempel aja noh sama Dave biar aman. Jangan buat gue cemas, apalagi Noni. Anak itu kayaknya cinta mati banget sama loe. Jangan-jangan, kalian jeruk makan jeruk." Steve kembali membanyol.


"Enak aja loe bro, nggak mungkin adik gue jeruk makan jeruk. Yang ada si Cyntia nih." ledek Dave seketika.


Astaga, ingin rasanya tangan ini melayang dan mendarat di bibir nya itu. saat ini aku pengen nonjok wajah Dave.


"Sudah-sudah, Cyn jangan sampai matamu keluar karena melototin Dave. Kalian sungguh lucu." ujar Steve tiba-tiba.


"isssh... apaan loe?" aku mendengus kesal.


"Cyntia, Dave, gue berangkat ya.. See you." ujar Steve sesaat setelah mendengar pengumuman lewat pengeras suara, sudah saatnya pria itu menuju gate penerbangan.


"See you bro." jawab Dave sambil menepuk pundak Steve pelan.

__ADS_1


"See you... Steve." ucap ku lirih.


Dengan ini hari-hariku bersama Dave pun di mulai.


__ADS_2