
Aku memilih diam dan mengunci bibirku rapat-rapat, tidak ingin berdebat dengan siapapun lagi. Sudah cukup aku cekcok dengan si Dave menyebalkan itu.
\*
"Cin... Cin..." samar-samar suara lembut dan khas milik Mama masuk ke dalam pendemgaranku.
"hmmmmmh..." aku bergelung pelan dibawah selimut.
"Cintya, bangun nak." sekali lagi suara itu menyapa gendang telingaku.
"Bentar lagi Ma..." jawabku malas tanpa membuka mata.
"Lagipula alarm ku belum berbunyi, artinya ini masih terlalu pagi." aku bermonolog dalam hati.
"Cintya, bangun nggak? atau mama siram pakai air nih?"
"Mama...!!! Jangan-jangan." ujarku langsung duduk di atas tempat tidur sambil gelagapan.
"Mama, apa-apaan sih, kan masih kepagian mama.." protes ku sambil menguap lebar.
"Mandi... mandi..." ujar Mama tanpa menghiraukan aksi protes ku.
"Ma? ngapain sih mandi sepagi ini?" tanyaku tak percaya sambil menatap jam yang tergantung di dinding kamarku. Masih 06.00 pagi hari.
"Kamu lupa ini hari apa?"
"Ini Rabu ma, Cintya nggak ada kelas kok hari ini." jawabku malas.
"Ini hari pernikahan kamu. Ayok siap-siap sayang." ujar mama lembut.
"Ah iya..." jawabku lemas. Setidakniat itu aku atas pernikahan ini, sampai aku lupa kalau hari ini pasti akan datang.
"Kamu mau mama mandiin? Bengong melulu ih." omel mama menyadarkan ku.
"Cintya bisa sendiri ma." ujarku sambil ngibrit ke kamar mandi.
\*
Dave POV on
Aku masih duduk termangu diatas ranjang sejak bangun beberapa menit lalu. Kuremas rambutku karena frustasi. Hari ini datang tanpa bisa ku hindari. Membayangkan tiap hri akan menghadapi sikap cerewet dan keras kepala Cintya, sungguh membuatku sakit kepala.
"Dave... sudah bangun?" Itu suara Mami (note: kalian harus ingat kalau orang tua Noni sudah menganggap Dave seperti anak mereka sendiri awalnya memang ayah Noni merasa canggung dipanggil papa, tapi akhirnya pria tua itu setuju juga).
"Iya Mi." jawab Dave sambil menoleh ke arah pintu kamar dan menemukan wanita itu sudah bergerak mendekat ke arahku.
"Makasih ya Dave." ujar Mami sambil duduk di tepi ranjang.
"Buat apa Mi?"
"Terimakasih sudah berkorban sejauh ini buat Noni. Mami tahu kok, alasan kamu menikah dengan Cintya. Itu semua karena Noni kan Dave?" ujar mami dengan suara bergetar.
"Bagaimana mami tahu semua ini?" tanyaku dalam hati.
__ADS_1
Flashback on
"Kak, aku mau melanjutkan pengobatan tapi ada syaratnya..." ujarnya sambil terisak kala itu.
"Apa?" jawabku penuh harap. Ya penuh harap, karena akhirnya adik yang ku sayangi mau berjuang untuk bertahan hidup.
"Menikahlah dengan temanku."
"Temanmu yang mana?" tanyaku datar, mengingat dia hanya punya satu teman, gadis kucel Cintya.
"Cintya."
"Oke."
Flashback off
Potongan kenangan itu kembali mengganggu pikiranku. Saat mendengar persyaratan yang diberikan Noni, hatiku juga bergolak hebat. Aku sangat berniat untuk menolak persyaratan itu, tapi bagaimanapun aku takut kehilangan keluarga lagi.
Rasa sakit atas kepergian orangtua kandungku masih sangat membekas. Karena itu, aku sangat tidak sanggup untuk menyerah atas penyakit Noni. Apapun, akan kulakukan demi melindungi mereka yang ku sayangi tetap bersamaku.
"Dave..." suara lembut mami kini menyadarkan ku dari lamunan panjang.
"Iya mi.."
"Kamu bangun tidur langsung melamun, masih ngantuk? mami dari tadi di cuekin."
"eh... iya... kenapa mi?" jawabku gelagapan.
"Tadi mami bilang, kalau kamu nggak siap dengan pernikahan ini, kita bisa batalin. Jangan memaksakan diri karena Noni nak, lagipula usaha yang kita lakukan sekarang belum tentu berhasil."
Aku menatap wajah mami yang kini sedang menahan tangisnya.
"Bukan berarti kamu harus menikahi perempuan yang nggak kamu cintai Dave. Pernikahan itu untuk seumur hidup, jangan mempermainkan hidupmu seperti ini." ujar Mami dengan suara yang kembali bergetar.
Kini wanita itu sudah bangkit dari posisi duduknya dan berjalan ke arah pintu. Sepertinya Mami tak kuasa menahan air matanya lebih lama.
"Mi, siapa bilang Dave nggak cinta dengan calon istri Dave? Mami nggak usah khawatir tentang itu. Pernikahan ini akan tetap berlangsung." ujarku mantap.
Mami membalik tubuhnya hingga bisa kulihat bagian pipinya yang basah karena airmata.
"Kamu yakin?"
"Iya mi."
"Syukurlah. Mami sudah merasa lebih baik sekarang. Mami tidak ingin merebut kebahagiaan kamu nak, bagaimana nantu mami dan papi bisa bertemu dengan orangtuamu di alam sana, jika kami malah mengorbankan kebahagiannmu untuk Noni." ujar Mami parau.
"Mami tidak oerlu mengkhawatirkan kebahagian Dave mi. Pernikahan ini memang sesuatu yang Dave mau. Mami dan papi hanya perlu berbahagia selama mendampingi Noni. Bukankah kebahagiaan itu menular? Jadi mami harus terus bahagia, agar selama pengobatan Noni juga bahagia. Kalau Dave sendiri, tentulah sangat bahagia. Pria mana sih mi yang tidak bahagia di hari pernikahannya?" ujarku panjang lebar sambil melangkah menyusul posisi mami.
"Wah, anakmu sudah besar mbak." gumam Mami seolah bicara pada seorang wanita, tentu saja kalimat itu ditujukan pada mommy di alam sana.
Mami memelukku lembut. Kehangatan yang pernah hilang, tiba-tiba kembali menyelimuti hatiku.
\*
Setelan pengantin pria sudah melekat di tubuhku. Kemeja berwarna silver ditutup jas putih bersih dan celana kain berwarna senada. Setangkai mawar berwarna baby pink tersemat di dadaku. Aku melangkah memasuki ruang tamu yang hanya dihuni oleh papi.
"Wah, kamu terlihat tampan dan sangat gagah nak." puji Papi sambil menepuk pundak ku.
__ADS_1
"Makasih pi." jawabku sambil tersenyum padanya.
"Daddy dan Mommy mu pasti bangga melihatmu dari atas sana." Sambil meremas pundak ku pelan.
"Papi bisa aja." jawabku santai.
"Papi juga bangga, melihat anak papi segagah ini."
"Terimakasih pi." jawabku tulus.
"Sama-sama. Ini mami kenapa lagi coba? Dandan sejak pagi sampai jam segini belum beres-beres juga." omel papi sambil melirik jam ditangannya.
"Duduk sebentar." Ajak Papi padaku, lalu kami pun duduk di sofa ruang tamu.
"Dave, perempuan itu memang susah di mengerti, tapi kamu nggak boleh protes. Contohnya, si mami. Kamu tahukan mami bangun lebih cepat, mandi lebih awal, tapi tetap selesai dandan paling lama. Tapi papi nggak boleh protes sama mami kamu. Sebagai laki-laki, walau tidak sepenuhnya mengerti, kita harus bisa mengalah pada wanita yang kita cintai." ujar papi.
Cinta? Wanita? Mengalah pada wanita yang kita cintai? Cintya? Aku tidak ingin memikirkan segala sesuatu tentang itu sekarang. Cukup lakukan pernikahan ini dan secepatnya mencari tahu cara terbaik untuk pengobatan Noni.
\*
Aku menatap bayangan yang kini dipantulkan oleh cermin.
"oh itu aku?" gumamku dalam hati.
"Wah, kak... loe cantik banget." ujar Giordani yang kini sudah di kamarku.
......
"Apa gunanya cantik tapi nggak pernah merasakan jatuh cinta? Belum juga sempat jatuh cinta udah disuruh nikah sama lelaki menyebalkan." aku protes dalam hati.
"Loe bisu kak? ngomong dong."
.....
Aku hanya memanyunkan bibirku karena kesal.
"Cantik-cantik manyun."
"Berisik loe."
"Jangan galak-galak dong." ujar Giordani yang sedang duduk di tempat tidurku.
"Dek, loe bisa bantu gue kabur nggak?" tanyaku hati-hati sambil menyusulnya naik ke tempat tidur.
Giordani memandang ku dengan mata membulat penuh plus mulut yang menganga lebar seolah dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Gue serius, buruan bantu gue kabur yok.."
**Pengumuman
Hai semua, makasih ya sudah mampir.
Menurut kalian cerita ini bagaimana? Tolong berikan komentar ya.
Thankyou
-best**-
__ADS_1