Cinta Sang Balerina

Cinta Sang Balerina
Kecurigaan Daddy


__ADS_3

"Chef,lagi liatin siapa?"suara seseorang tengah berbisik disebelah tubuh chef Rendy.Chef Rendy yang masih fokus mengamati kekasihnya duduk berdua dengan laki-lali lain hanya menjawab seadanya. 


"Liatin itu yang duduk disana"sahutnya tanpa menoleh sekilas lalu kembali menatap targetnya.


Degh


Ia pun kembali menoleh dan betapa terkejutnya ia melihat wajah wanita cantik meski sudah memasuki umur 40 tahun memasang wajah tersenyum konyol sambil melambaikan tangan pada Chef Rendy.


"Astaga" ucap Rendy sambil memegangi dadanya.


"Sial ketahuan"batin Rendy.


"Ngpaian diintipin sih Om,ntar bintitan lho"ucap mami,entah kenapa ia malah ikut berbisik-bisik seperti chef Rendy. 


"Em-anu bu itu,takut ada sesuatu yang jahat menghampiri mereka jika hanya berdua.Kan gak boleh dua-duaan bu"sahut chef Rendy pelan.


Mami Rain mengangguk-angguk "Bagus,keren nih.. Meski udah selesai jam tugas, masih mau lanjutin tugas demi keselamatan. Keren chef, gak sia-sia jadi bodyguard putri saya"ucap mami bangga pada lelaki seumuran dirinya yang bagi mami seseorang yang rajin melaksanakan tugas.


Tak tau aja mami,jika ada udang dibalik bakwan. 


"Yaudah silahkan dilanjutkan ngintipnya, tapi kalau nanti bintitan jangan salahkan saya ya.. Kan saya tidak menyuruh chef melakukan ini"ucap mami lagi menepuk pelan lengan chef Rendy lalu kembali masuk ke rumah dengan mengemut sebuah lolipop ditangannya.


Dengan tatapan cengo chef Rendy membiarkan calon mertuanya masuk "Polos amat punya calon mertua"gumamnya menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan saat ia tersadar ia langsung membalik badan kembali mengamati dengan mata elangnya pada seorang target.


……


Keesokan paginya,semua tengah berkumpul di ruang makan.Karena ulah Rafa tadi malam membongkar kejadian yang menimpa Ara,daddy mereka tak ingin pulang dan memutuskan untuk menginap.


Alhasil,mami pun ikut menyuruh chef Rendy menginap.Sedangkan Sam memilih kembali ke Hotel,karena beberapa berkas kerjaannya berada di Hotel. 


"Audrey.. em maksudku Rain,apa masih harus diperlakukan seperti itu saat Princess bangun.. Itu pasti sangat menyakiti telinganya"ucap daddy yang terkejut mendengar alarm yang pernah ia dengar saat dulu ia juga pernah bermalam disini.Kenapa mulutnya harus memanggil nama yang sering ia ucapkan bila hanya sendiri.


Degh


Mami yang tengah makan itu pun menghentikan kunyahannya,matanya menatap lelaki yang memanggilnya dengan nama yang sudah sangat lama tak ia dengar"Gak akan ada yang berubah,bocahnya aja masih sering telat bangun meski ada ribuan alarm di kamarnya.Cuma ini yang mempan"sahut mami melirik gadis yang duduk disebelah Rafa dan makan dalam diam. "Tumben dek diam aja, biasa juga langsung nyaut"lanjut mami mengurangi kegugupannya. 


Ya Allah mami,ini kedua kalinya mami membuatnya malu dihadapan kekasihnya pikir Ara.Ia terus menyuapkan makanan yang dibuat oleh kekasihnya sebagai menu dietnya. 


Rendy hanya tersenyum tipis melihat wajah kekasihnya tengah tertekuk itu.Sangat menggemaskan. 


"Adekmu kenapa kak?" Bisik mami pada Rafa tapi masih bisa didengar oleh Ara.


Rafa menaikkan kedua bahunya.


"Pms kali ya"cletuk mami lagi membuat wajah Ara semakin memerah saja. 


Ddrrtt 


Kursi bergesekan saat Ara tiba-tiba berhenti makan dan langsung berdiri.

__ADS_1


"Ara udah selesai"ucapnya lalu membawa piring serta gelasnya untuk ia cuci. 


Ketiga orang yang berada di ruang makan hanya diam dan malah biasa saja dengan tingkah tak tertebak Ara itu.Beda dengan Rendy,matanya terus meneliti apa yang dilakukan oleh kekasihnya.


"Oh iya chef,restoran kamu siapa yang mengurus saat kamu lebih sibuk dengan pekerjaan sampinganmu ini?"tanya daddy masih tak rela putrinya dijaga oleh sembarang orang.


"Asisten saya mengurus semuanya pak"sahut chef Rendy.


"Kenapa kamu memilih menjadi bodyguard Aurora? Bukankah pemasukan restoranmu lebih besar dari gaji seorang bodyguard?"tanya daddy lagi. 


"Karena dia kekasihku"ingin sekali chef Rendy menyahut seperti itu,tapi hanya bisa ia ucapkan dalam hati.


"Saya sudah meanggap Aurora sebagai keponakan saya sendiri dan dulu ibu dan bapak Rayyan sudah berjasa untuk karir saya hingga saya bisa seperti ini.Saya anggap ini sebagai balas budi saya untuk mereka"sahutnya ditatap dari dapur oleh Ara,Rendy melihat kekasihnya tengah menyeringai dengan tangan dilipat didepan dada. 


Rendy membalas dengan senyuman tipis setipis-tipisnya hingga hanya Ara yang menyadari. 


Daddy Elang tetap menelisik melihat gerak gerik yang mencurigakan dari lelaki yang berprofesi sebagai chef sekaligus bodyguard itu.Sangat aneh alasan lelaki itu pikir daddy. 


"Aku sudah menyuruh beberapa orangku untuk kembali menyelidiki kematian Ray,aku harap kamu gak keberatan dengan keputusanku"ucap daddy pada mami Rain tiba-tiba.


Prang 


Sendok mami terjatuh,lalu mendongak menatap lelaki yang tak jauh darinya.


"Apa maksutmu? Kamu mau mengungkit kematian suamiku??? Untuk apa??"tanya mami dengan nada serius.


"Setelah melihat teror yang dilakukan pada Ara dan bata merah itu,aku yakin kematian Ray juga ada sangkut pautnya dengan semua ini" 


"Aku rasa begitu" sahut daddy. 


"Aku gak setuju,jangan pernah usik kematian suamiku..Aku gak akan rela"ucap marah mami dengan mata berkaca-kaca.Kematian mendadak suaminya serta mayat yang tak tau dimana sudah membuatnya terpukul dan sekarang ada yang mau mengusiknya lagi.Ia tak ingin,ia tak mau. 


"Rain,dengar dulu..Kecelakaan itu pun ada kejanggalan,bahkan setelah blackbox itu ketemu tak pernah mereka merilis penyebab jatuhnya pesawat itu."kekeuh daddy menyuarakan pendapatnya.


Mami terus menggeleng,bukan waktu yang singkat ia memaksa otaknya untuk tak terus mengurung raganya dalam keterpurukan.Wajah terakhir,senyuman terakhir suaminya saja masih terus terngiang di otaknya.Ia tak ingin kembali terpuruk,tak mengertikah semua orang pikir mami. 


Ara yang mendengar ucapan daddynya terdiam di dapur,begitupun Rafa.


Rafa perlahan berjalan kearah maminya lalu berjongkok disebelah maminya dan menggenggam sebelah tangan maminya.


"Mih,bukannya daddy ingin mengusik kepergian papi mih.Ini semua demi kebaikan kita semua,Rafa juga merasa ada yang salah dengan semua yang terjadi pada papi mih"ucap Rafa yang tadi malam sudah berunding dengan daddynya tentang semua yang terjadi. 


Mami hanya diam,lalu berdiri dan berjalan menuju kamar miliknya.Tak menjawab ucapan putranya. 


Ara pun melakukan hal yang sama,ia berlari naik ke lantai dua untuk masuk ke kamarnya.Rendy hanya diam tanpa bisa melakukan apapun,tak ingin lelaki tua yang tak lain daddy angkat kekasihnya curiga. 


…..


Setelah sekian lama Ara berada di kamarnya,ia pun kembali turun ke lantai bawah dengan mententeng sepatu baletnya.Terlihat disana hanya ada Rafa duduk di ruang keluarga,tak ada kekasihnya atau daddy.

__ADS_1


Ara pun berjalan cepat menghampiri Rafa.


Ia menghempaskan badannya disebelah kembarannya itu.


"Daddy kemana Raf?"tanya Ara 


"Pulang"sahut singkat Rafa.


"Maksut lu apa sih Raf,ngomong gitu segala sama mami?"tanya Ara lagi,teringat ucapan Rafa tadi. 


Rafa menoleh pada adiknya,lalu kembali menatap tabnya. 


"Gue lakuin ini demi mami dan kita semua"sahut dingin Rafa. 


"Lu nyakitin mami Raf" 


"Bukan maksut gue,tapi emang ada yang aneh sama kepergian papi Ra Dari awal gue udah curiga,tapi gue gak ada keberanian buat bicara ke mami dulu"


sahut Rafa.


"Terus kalo udah gini lu mau apa,mami pasti sedih Raf"


"Dari tadi malem,daddy udah nyuruh semua bawahannya buat nyelidiki semua.Ada atau gak ada persetujuan dari mami,gue sama daddy terus usut semua"ucap Rafa serius.Ia pun hendak pergi ke kamarnya lalu tangannya dicekal oleh Ara. 


"Lu boleh nyelidiki semua,tapi inget.Jangan pernah terluka karna gue sama mami cuma punya lu"ucap Ara sungguh-sungguh lalu ia berdiri dan menghambur ke pelukan Rafa.Ia tak ingin kembali kehilangan,jika semua yang dibicarakan oleh daddy dan Rafa benar.Ancaman untuk keluarganya akan kembali terjadi. 


Rafa membalas pelukan adiknya lalu membelai punggung Ara "Hhmmm,gue janji.Gue sayang sama lu sama mami,gue janji bakal jagain kalian kan.Inget janji gue terus"sahut Rafa dan diangguki oleh Ara dipelukan Rafa. 


Tanpa keduanya sadari,seseorang tengah menatap mereka dengan air mata mengalir di pipinya. 


"Liat sayang,anak-anak kita saling menyayangi.Bukankah ini keinginanmu dulu,melihat mereka saling menjaga dan menguatkan.Kenapa kamu begitu cepat meninggalkan kami"batin mami berdiri tak jauh dari tangga,lalu membalik badan untuk kembali masuk ke dalam kamar miliknya. 


…….


Ara memasuki tempat latihannya,ia harus terus berlatih untuk menampilkan aksi terbaiknya memerankan peran Giselle nanti.


Dengan alunan lagu yang mengiri ia pun mulai menggerakkan badannya.


Tiba-tiba ditengah latihan otaknya malah berkelana tak seperti biasanya.


"Kecelakaan itu sangat janggal,teror yang Ara terima mungkin berkaitan dengan kecelakaan yang dialami oleh Ray" ucapan daddy Elang tadi malam masih terngiang di kepala Ara. Seakan ingin menghilangkan pikiran itu, Ara mencoba tenggelam dalam alunan lagu classic yang setia menemani sesi latihannya.


"Bukan maksut gue,tapi emang ada yang aneh sama kepergian papi Ra Dari awal gue udah curiga,tapi gue gak ada keberanian buat bicara ke mami dulu" Kembali ucapan Rafa tadi malah ikut masuk dalam pikirannya. 


Gerakan putaran Ara sampai terhenti karna kedua ucapan dari daddy dan Rafa terus berputar.


Bruk 


Ia terjerembab 

__ADS_1


"Hah..huh..hah…"Ara terengah,ia menyeka wajahnya yang berpaluh ribuan keringat. "Apa benar ada yang tega celakain papi? Tapi untuk apa? Papi orang baik"batin Ara mencoba menerka dengan otaknya.Seakan orang-orang yang patut dicurigai pun tak ada di lingkungan mereka.


Ara hanya bisa menengadahkan kepalanya menatap langit-langit ruang latihannya.Pikirannya mulai berkelana,sebenarnya siapa yang mencoba mengusik keluarganya pikir Ara menerawang kembali.


__ADS_2