Cinta Sang Balerina

Cinta Sang Balerina
Kembali berakhir


__ADS_3

Dilain tempat,mobil BMW 8 Series itu dikemudikan sangat laju oleh Roy atas perintah Elang yang duduk tak sabar di kursi belakang. 


Beberapa kali Roy melirik ke kursi belakang malah membuat bulu kuduknya merinding.Ini bukan kali pertama,tapi setiap tatapan tajam menusuk dan perasaan tak baik dari tuannya.Roy merasa ada diujung jurang ketakutan.Meski dirinya sendiri juga menyeramkan. 


Diikuti oleh beberapa pengawalnya,akhirnya jarak tempuh yang membutuhkan 3 jam perjalanan itu.Mereka pun sampai.


Dengan gagahnya,Elang turun lalu memakai sarung tangan yang berada dalam jas miliknya.Ia berjalan diikuti oleh Roy dibelakangnya,lalu para pengawal mereka pun berjalan di belakang. 


Bruk 


Salah seorang pengawal Elang mendorong seseorang hingga tersungkur dengan tangan yang diikat dibelakang. 


"Elang-Elang…"panggil lelaki tua itu "Apa-apaan kamu,Lepaskan paman"racau lelaki tua yang bisa dilihat umurnya sekitar 70an itu. "Aku pamanmu,aku keluargamu..Lepaskan aku"lanjutnya dengan terus memberontak minta dilepaskan.


Elang hanya berdiri,melihat tatapan mengiba dari seseorang yang sangat muak untuk ia sebut sebagai 'keluarga'.


Ia pun membenarkan posisi dasinya lalu perlahan  berjongkok,mensejajarkan tubuhnya dengan lelaki tua itu. 


Puk 


Puk 


Ia membenarkan posisi jas yang miring dari lelaki tua itu "Itulah maksutku,bukannya kita keluarga…"ucap Elang dengan nada dingin "Tapi, tapi kenapa paman kembali mencoba melenyapkan keluargaku?"lanjutnya dengan pandangan yang bertatapan langsung pada lelaki tua itu.Pandangan tajam menusuk dan kilatan amarah terlihat jelas oleh pandangan seorang 'Arasie Elang Wardhana'. 


"Paman sudah gila.. Maafkan paman sudah gila,tolong ampuni paman"sahut lelaki tua itu mengiba,memohon ampun pada sang keponakan.


"Iya aku tau, gila karna harta bukan haha..Aku bahkan hafal dengan keserakahanmu itu paman"sahutnya "Apa ekspresi ketakutan seperti ini yang anda perlihatkan saat berhasil membunuh mama saya? Atau saat membunuh kakak kandung anda sendiri?"tanya Elang lagi melihat tatapan memohon dengan ketakutan dihadapannya.


Degh! 


Badan lelaki tua itu menegang,ia tak tau jika apa yang dilakukannya selama ini diketahui oleh keponakannya.Padahal setau dia,Elang sangat dari kecil sangat acuh.Itu yang membuat ia memiliki kesempatan untuk memberikan racun pada setiap minuman kakak iparnya hingga meninggal.Dan kembali ia lakukan pada kakaknya sendiri yang tak lain papa Elang dengan hal yang sama hingga papa dari Elang juga meninggal.


Keduanya meninggal karna serangan jantung,racun yang digunakan pun tak dapat dideteksi oleh medis.


Elang terkekeh pelan "Paman terkejut?"tanyanya "Perlu aku jelaskan semua yang paman lakukan pada kedua orang tua ku? Ah.. sepertinya hanya membuang waktu"ucapnya lalu ia berdiri dan menepuk-nepuk lututnya. 


"Maafkan paman Elang.. Paman mohon"ucap lelaki tua itu lagi sebelum Elang berbalik "Lagi pula gadis itu tak matikan? Hanya ayah dari gadis itu yang paman lenyapkan.. Bukankah ini kesempatanmu untuk bersama dengan ibu dari gadis itu.. Gunakan kesempatan ini,paman melakukan ini untukmu"lanjutnya saat Elang mencoba menjauh,ia pun menghentikan langkahnya lalu berbalik. 


Ia kembali berjongkok dihadapan lelaki tua itu dan tersenyum "Jadi dalang dari semua ini adalah paman?"tanyanya seakan senang dengan apa yang lelaki tua itu lakukan. 


Lelaki tua yang sebelumnya ketakutan mendongak dan menatap sang keponakan lalu tersenyum. "Ya.. ya paman dalang dari semua itu,meskipun dibantu oleh beberapa orang..Paman akan lakukan apapun demi kamu mendapatkan wanita itu..ha..ha..ha.."sahutnya dengan bangga lalu tertawa. 


Ia terkekeh "Kali ini kau memikirkan kebahagiaanku?"tanya 


"Demi menebus semua kesalahan paman dimasa lalu"sahut lelaki tua itu dengan kesedihan yang dibuat-buat.


"Benarkah??? Bukankah ini cara paman untuk meambil alih perusahaan yang ku berikan pada kedua putra putriku"ucap Elang telak,karna ia tau beberapa kali lelaki tua ini sengaja mengulik dua perusahaan yang ia siapkan untuk Rafa dan Ara.Keserakahan manusia ini sangat mendarah daging dan sulit untuk dikendalikan,meski ia sudah menyerahkan perusahaan milik kakeknya yang diturunkan pada almarhum papanya agar dikelola sang paman.Lelaki tua itu terdiam.


"Tapi paman.. kau melakukan satu kesalahan"ucap Elang lalu terkekeh pelan "Dulu.. papa tak pernah memberikan perusahaan itu padamu sepenuhnya,karna kau hanya dipertugaskan mengelola bukan meambil alih perusahaan itu.. Dan, em.. sekarang saatnya aku mengambil kembali hak milik papa itu, terimakasih sudah menjaga dan mempertahankan perusahaan"lanjutnya tertawa jahat membuat wajah lelaki tua itu memucat. 


"Br*ngs*k kau Elang"lelaki tua itu mengumpat,emosinya memuncak mendengar penuturan keponakannya itu.


Umpatan yang keluar dari mulut lelaki itu juga menyulut emosi Elang,enak saja.Bukan hanya dia yang br*ngs*k disini pikir Elang.Ia terus menatap sang paman dengan pandangan tak terbaca. 


"Roy"panggilnya pada sang asisten untuk mendekat.


"Iya tuan" 


"Sudah kau siapkan semua?" 


"Semua siap tuan" 


Elang berdiri "Lakukan sekarang"titah Elang yang langsung diangguki oleh Roy.Roy pun memberikan perintah pada bawahannya dengan gerakan kepala saja membuat mereka mengerti dan kedua orang yang berada di belakang lelaki tua itu langsung menarik lengannya untuk berdiri.

__ADS_1


"Elang...Elang..ada apa ini? Bukannya kamu memaafkan paman"paniknya melihat dirinya yang kembali diapit oleh dua orang berbadan besar itu.


"Sebelumnya.. Em.. aku sama sekali tak memiliki niat untuk berterima kasih.Dan mereka bukan orang lain untukku.. Mereka keluargaku yang sesungguhnya"ucap Elang dengan menekan kata-kata 'keluarga' pada pamannya tepat dihadapan lelaki tua itu.


Srek 


Elang pun menebaskan pisau kecil miliknya pada leher milik lelaki tua itu.Wajah devil yang sudah lama ia sembunyikan kembali terlihat jelas,rasa iba atau kasihan kepada sang paman seakan lenyap begitu saja.


"Aaarrrggggg….."lolongan kesakitan pun terdengar pilu dengan darah yang mengucur deras dari leher lelaki tua itu.


Ia mencengkram kepala pamannya yang mengerang kesakitan untuk dihadapkan didepan matanya.


"Ini rasa sakit untuk kedua orang tua ku dan saudaraku(papi Ray)"ucapnya dingin lalu melepas cengkramannya dan menjauh dari tempat lelaki tua yang mendekati ajalnya itu. 


Ia melipat tangan didepan dada lalu menatap Roy dan meangguk.Roy yang membalas dengan anggukan pun menyeret tubuh lelaki tua bersama dua orang lainnya dan mengikat tubuh itu didalam mobil milik lelaki tua itu. 


Perlahan mobil itu didorong oleh bawahan Elang dan..


...Brusssss...


Mobil itu terjun bebas dari atas jurang yang berada tak jauh dari gudang tak terpakai tadi.


"Balasan yang setimpal untuk manusia serakah"gumamnya,lalu berbalik arah untuk masuk ke dalam mobil.


"Maafkan aku.. Janjiku belum bisa ku tepati Ray,ternyata aku yang membuat keluargamu dalam bahaya.Tapi Ray,aku tak bisa untuk pergi dari keluargamu.Mereka nafasku"batinnya mengingat setiap pertemuannya dengan Rayyan untuk berjanji menjaga keluarganya dan menjauhkan keluarganya dari orang-orang jahat.Ia menghembuskan nafas kasar.


Mobil itu pun melaju kembali ke ibukota setelah Roy membereskan sisa-sisa kekacauan disana.


……..


Kembali lagi di rumah sakit


Tok


"Masuk"ucap seseorang dari dalam yang tak laij adalah Rafa. 


Rendy menggeser pintu ruangan itu lalu masuk kedalam,ia mengedarkan pandangannya.Hatinya berdebar saat matanya saling bertubrukan dengan mata indah milik sang kekasih.Tapi entah perasaannya saja atau memang benar,Ara langsung membuang muka setelah beberapa saat.Ia tak peduli.


Ya, kekasih hatinya sudah sadar. 


Ia mempercepat jalannya agar cepat sampai pada bankar milik Ara.


"Sayang"panggilnya pada Ara. 


Ara seakan tuli tak mendengar panggilan dari Rendy.


Rendy pun menatap kedua orang yang juga berada didalam ruangan.Dan kembali,ia tak mendapatkan jawaban karna keduanya ikut bungkam.


Ia pun meraih tangan Ara.


"Sayang,lihat aku.. Aku bahagia kamu udah sadar"ucap Rendy benar-benar bahagia.


"Jangan sentuh aku"sahut Ara dengan kuat menarik tangannya.


Jederr


Bagai petir disiang bolong,penolakan Ara membuat Rendy melongo.


"Jangan pernah temui Ara,jangan pernah muncul dimanapun Ara ada"ucap Ara lagi tanpa menatap Rendy. 


"Sayang maksut kamu apa,aku gak ngerti.?"tanya Rendy lagi yang masih belum paham dengan keadaan yang ada.


"Ara bilang pergi!!!! Ara muak liat om,kita putus.. Dengar"teriak Ara dengan mata memerah karna tangis.

__ADS_1


"Dek, jangan seperti ini"mami mendekati Ara,memeluk dan menenangkan gadisnya.Mami memeluk Ara yang tengah menangis itu. 


Jantung Rendy seakan terjun bebas dari tempatnya,dadanya terasa sesak mendengar kalimat menakutkan yang kembali terdengar dari bibir mungil sang kekasih. 


"Sayang,, dengarkan aku, aku gak tau salah apa..Tapi sayang, jangan lagi ada kata-kata itu.. Aku gak sanggup dengernya"Rendy mengiba pada Ara.Sungguh di umur nya yang sudah matang ini,ia tak menyangka akan mengiba pada seorang gadis yang pantas menjadi keponakannya. 


"Om salah,ini semua gara-gara om.. Om tau, dengan kaki sialanku yang seperti ini.Aku gak bisa lagi balet om.Ini semua karna om yang gak becus jagain aku.Ini semua karna om,salah Om"teriak Ara lagi membabi buta.Ia melepaskan pelukan maminya dan memukul-mukul kakinya.


Degh!


Dadanya kembali seakan diremas dan ditusuk-tusuk oleh ribuan jarum disana.


"Salahku… Gadisku menderita,semua karna aku"batinnya meringis pilu.


"Om sebaiknya om pulang, Ara sedang tak terkendali"pinta Rafa menepuk bahu Rendy yang masih terdiam syok.Ia kasihan melihat wajah pucat Rendy karna teriakan mengerikan Ara dan disalahkan oleh Ara.


Rendy perlahan mendekati Ara lagi,tangannya terulur untuk memeluk gadisnya.Meski beberapa kali Ara menampik tangannya,ia terus berusaha.


Greb 


"Maaf.. maafin aku, maaf sayang"bisik Rendy membuat Ara kembali menangis,ia meraung dengan memukul-mukul punggung Rendy. 


Mami perlahan menjauh, ia sedih melihat kedua orang dihadapannya. 


"Semua salah om,salah Om"racau Ara. 


Rendy meangguk, tapi enggan melepas pelukannya.


"Maaf sayang,aku tau aku salah maaf... tolong tarik kata-kata kamu tadi"pinta Rendy.


"Gak akan.. Kita udah selesai om"sahut Ara pelan nyaris tak terdengar. 


Badan Rendy kembali menegang,perlahan ia menarik badannya.Menatap manik mata sang kekasih, tapi Ara langsung mealihkan pandangannya.


"Aku tau kamu syok, tapi sayang..Aku gak akan mundur"ucap Rendy dengan tangan menghapus lelehan air mata Ara yang masih mengalir di pipi mulusnya.


Badannya kembali mendekat..


Cup 


Ia mengecup kening kekasihnya dengan penuh kasih sayang.Matanya pun terpejam,hingga lelehan air mata juga ikut menetes. 


Ara merasakan itu,karna air mata Rendy juga jatuh di pipinya.


"Aku pulang dulu,nanti aku kesini lagi.. Istirahat ya sayang"ucap Rendy pamit dengan memaksakan senyumnya,mengelus kembali pipi sang kekasih. 


Ia pun mundur dan berbalik pamitan dengan calon ibu mertuanya.


"Bu,saya pulang.. Titip Ara" 


"Oh, eh… iya chef hati-hati"sahut mami,ia masih kaget karena lelaki dihadapannya terang-terangan mencium putrinya.


"Kenapa gak ku geplak ya tadi"batin mami baru sadar.


Akhirnya tubuh Rendy pun menghilang di balik pintu ruangan Ara,dan kembali tangis gadis itu pecah.


"Hiks….hiks...hiks…."Ia menangisi semua yang terjadi, Rafa pun mendekat dan mendekap tubuh adik kembarnya itu.


"Aku jahat Rafa hiks...hiks…"racaunya sesegukan.


"Kamu terpaksa,aku ngerti."sahut Rafa penuh kasih sayang.Mengecup puncak kepala sang adik dengan sayang.Semua tak luput dari pandangan mami Rain,sampai ia juga ikut menangis.Pemandangan yang dulu jarang terjadi,sangat jarang di lihat oleh sang suami.


"Kamu pasti senang kalau liat mereka saling sayang kayak gini pi"batin mami menangis teringat mendiang sang suami. 

__ADS_1


Mami terus teringat dengan sang suami meski ia sadar sekarang,jika memang sang suami sudah tak ada di alam yang sama dengannya.Tapi cintanya pada sang suami akan terus ia jaga hingga ia berjumpa lagi dengan kekasih hatinya itu.


__ADS_2