Cinta Sang Balerina

Cinta Sang Balerina
Rindu beda Negara


__ADS_3

Hati lelaki yang tengah duduk di atas tabung gas itu tengah gundah gulana.Bagaimana tidak,dengan sekejap ia harus berpisah dengan sang kekasih.Walau hanya seminggu saja,tapi jujur saja ia tak kuat. 


Dorr 


"Ngelamun aja bos?"kejut sang asisten dengan kekehan jenakanya.


"Aarrgg,ganggu aja lo"sahutnya terkejut langsung tersulut emosi.


Salim hanya terkekeh melihat bos sekaligus temannya itu. "Ayang mana nih? Dua hari tumben lu standby di resto mulu" 


"Nape lo,lo gak suka gue dimari.Serah gue lah,resto-resto gue ini" 


"Yaelah,kan kan.. Salah lagi gue,sensi amat sih lu kayak cewek lagi pms.Gak dapet jatah sun lu dari ayang?"terus goda Salim yang sudah terbiasa dengan amukan sang bos,bahkan sejak dulu saat masih menjadi suami Nadia.Rendy yang memang tak harmonis dengan sang istri sering uring-uringan tak jelas.


"******,ngomongin ayang mulu.. gue cincang lu ya"sahut marah Rendy langsung mearahkan tangannya pada leher sang teman tapi dengan sigap Salim menepis dengan gerakan silat yang ia punya.


"Ape lu,mau macem-macem sama gue..Sini adepin jurus macan kumbang seribu bayangan"goda Salim lagi dengan sebelah kaki yang sudah diangkat,lalu tangan yang seolah akan menerkam mangsa.


"Bodo Lim Bodo,, gue lagi galau malah lu tambah-tambahin,mumet gue"Rendy memijit pelipisnya.


"Nah makanya kan tadi gue nanya lu galau kenapa? Lu nya yang sensian,minum bersih darah kembang bulan sono dah..Biar lancar pms lu kaga bikin sensian"goda lagi Salim sambil terkekeh.Sebelum sepatu milik Rendy melayang di wajahnya,ia lebih dulu ngibrit dengan kecepatan penuh.


"Tobat-tobat gue kenapa punya asisten kayak tu orang"kembali Chef Rendy memijit pelipisnya untuk mengurangi sakit kepala yang ia dera karena rindu dan tensi naik karena Salim tadi.


Ia pun kembali duduk sambil menopang dagu di meja sebelahnya.Mengingat kata-kata yang diucapkan calon mertuanya bahkan membuat ia yang tengah memegang sendok dan garpu itu terjatuh seketika.


...Flashback malam makan bersama. ...


Ruang makan keluarga Sanjaya kembali ramai,setelah sebelumnya gadis manis teman Aurora sekarang makan malam mereka kembali ramai dengan lamaran dadakan lelaki yang akan menjadi kepala keluarga di rumah itu. 


Rendy tengah makan di sebelah Aurora dengan sesekali menjaili gadisnya,tangan jailnya sesekali mentoel-toel pinggang gadis yang ia cinta itu membuat Aurora beberapa kali menoleh dan membulatkan matanya.


Tapi dengan santainya Chef Rendy malah tersenyum sambil berkata " I love You"ucapnya tanpa suara,lalu mengedip genit membuat gadis itu kembali merona.


"Ehem"suara daddy Elang membuat Rendy menghentikan kejailannya,lalu melanjutkan makannya. "Sebaiknya besok pagi kita berangkat ke Rusia"ucap daddy tiba-tiba.


"Hah?"kejut mami Rain."Untuk apa?"


Daddy tersenyum "Aku harus meminta restu sama orang tua kamu dan mereka kan ada di Rusia,kita harus kesana Honey"ucap daddy.Demi apa wajahnya lelaki itu terlihat begitu bahagia dengan menyebutkan kata 'Honey' saja. 


Mami tampak terdiam sejenak "Kenapa harus secepat ini,ini terlalu cepat.. Bahkan aku belum melakukan persiapan sama sekali"sahut mami Rain.


Daddy kembali tersenyum lalu meraih tangan kiri mami Rain "No Honey,aku ingin segera meminta restu mereka agar aku bisa meminangmu"ucap daddy sungguh-sungguh.


"Aw..aw..aw..Mom dad,princess baper banget liat kalian"timpal gadis baperan itu yang merona sendiri,sampai ia menangkup pipinya sendiri karena keromantisan calon ayah dan maminya. 


Mami menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya itu,lalu kembali menoleh pada calon suaminya. "Gimana kalau lusa saja,jadi aku bisa nyerahin urusan resto sama asistenku"usul mami lagi.Kerjaannya di resto tak mungkin ia tinggalkan begitu saja.


"Biar Rafa mih yang mantau Resto.Mami bisa pergi sama Daddy"timpal putranya itu.Rafa memang selalu bisa diandalkan,daddy tersenyum kembali mendengar ucapan putra kebanggaannya itu.


"Kamu memang putra terbaik daddy"ucap bangga daddy Elang menepuk bahu putranya itu. "Bagaimana Honey?"tanyanya lagi pada mami Rain.


Dan akhirnya mami Rain tersenyum lalu mengangguk "Iya aku mau"sahutnya,membuat senyum daddy semakin merekah. 


"And princess,kamu ikut kesana bersama kami"ucap daddy pada Aurora.Gadis itu yang tengah menopang dagu sambil tersenyum pun kaget. 


Klontang


Garpu serta sendok yang chef Rendy pegang sebelumnya pun terjatuh,membuat ia tersenyum kikuk "Maafkan saya"ucapnya.Ia oleng mendengar ucapan calon mertuanya.


Aurora yang tadi langsung menoleh pada kekasihnya,sekarang kembali menatap daddy "Aku? Kenapa harus ikut dad?" 


"Daddy tak yakin jika kamu disini, Rafa akan sibuk.Daddy tak ingin kamu kesepian"sahut daddy memberi pengertian.Ia menatap putrinya lalu melirik sekilas kegelisahan lelaki disebelah putrinya.


Aurora tampak terdiam.


"Daddy akan mengenalkan kamu dengan dokter yang dulu pernah menangani kaki mami kamu,kita sambil pengobatan disana.Mau kan?"tawar daddy kembali.


Aurora menoleh kembali pada daddynya,suatu penawaran yang menggiurkan.Jujur saja hatinya ingin sekali,tetapi ia juga tak ingin kecewa jika akhirnya dokter malah mengatakan hal yang tak ingin ia dengar seperti waktu itu.Jika mustahil untuk membuatnya kembali normal.


Mami yang duduk disebelah putrinya itu pun menggenggam tangan kiri sang putri,lalu mengelusnya pelan.Menatap gadisnya dengan penuh kasih sayang.


"Mami tau kamu masih ingin sekali melakukan aktifitasmu seperti dulu..Tak ada salahnya untuk mencoba sayang"ucap mami Rain.


"Tapi mih,aku takut semua sia-sia" 


"Gak akan ada yang sia-sia sayang,kita percaya pada kuasa Tuhan.Mami tau kamu rajin sekali berdoa,mami yakin Tuhan selalu mendengar doa-doa kamu."


Gadis itu kembali terdiam,menatap semua orang yang berada disana tengah menatapnya dengan senyum teduh mereka.Seakan mendukung dirinya untuk melakukan pengobatan. 


"Ini masih belum terlambat dan aku yakin kamu bakal sembuh"cletuk Rafa menatap sayang adiknya.Aurora membalas senyuman kakaknya itu.Lalu menoleh tepat disebelah kanannya untuk melihat sang kekasih.

__ADS_1


"Menurut kamu gimana?"tanyanya pada Rendy.


"Aku akan dukung keputusanmu,yang terbaik buat kamu sayang"sahutnya tersenyum "Kalau bisa aku ikut"lanjutnya membatin.


"Gapapa aku tinggal?"tanya Aurora.


"Gapapa sayang"sahutnya masih tersenyum,mengelus pelan rambut panjang sang kekasih. "Jangan sayang"batinnya lagi,ia tak mungkin ia menjawab seperti itu.Sungguh ia sebenarnya berat jika harus berpisah.Tapi demi kesembuhan sang kekasih ia harus rela.


Aurora membalas senyuman kekasihnya,semua dukungan telah diperoleh membuatnya semakin yakin.


"Princess mau dad mih"ucap ia akhirnya dengan senyum penuh harap akan kesembuhannya.Senyuman cantik yang jarang sekali terlihat setelah musibah yang terjadi dengannya.


...Flashback Off. ...


"Ren…Ren"panggil seseorang dengan mengguncang badannya membuat chef Rendy tersadar dari lamunannya.Salim dengan raut wajah terkejut dengan memegang ponsel lalu menyodorkan padanya.


"Lihat,berita bisnis hari ini.Kaget gue lihatnya,pihak Tuan Wardhana mengumumkan kabar pernikahannya.Gila,gue kira tu orang Gay."ucapnya dengan penuh keterkejutan."Tapi Ren,gue kaya gak asing deh sama calon bininya.Liat deh kayak familiar gak sih?"lanjutnya bertanya pada Rendy,Rendy menatap wajah lelaki dan wanita yang tampak serasi di berita online itu,sang lelaki tampak merangkul pinggang sang wanita sambil berjalan masuk ke dalam bandara.Meski terlihat dari samping ia tau jika itu wajah calon mertuanya,karena waktu itu ia juga berada disana saat meantar mereka berangkat di bandara. 


"Ck,ya iyalah lu familir.Itu calon mertua gue kampret"sahutnya lalu menoyor kepala asistennya itu.


"Lah,lah.. gimana gimana"ucap Salim belum mengerti.


"Ck,tu cewek yang disebelah tuan Elang calon mertua gue.Emaknya pacar gue dodol"sahut Chef Rendy lalu beranjak dari duduknya,meninggalkan Salim yang terdiam sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.


Kkkrrriiinngg


Kkrriiinnggg 


Suara dan getaran dari ponsel yang berada didalam saku celananya membuat ia terhenti untuk membuka pintu ruangannya,Rendy merogoh ponselnya lalu menatap layar ponsel miliknya.


Wajah tanpa senyuman yang seharian ia tampilkan pada semua karyawan restonya sekarang tengah berganti dengan senyuman manis dengan lesung pipi yang tampak jelas disana.


Ia menggeser tanda terima di layar itu untuk melakukan video call.


"Morning"sapa seseorang dengan nada lembut,serak nan manja dari seberang sana.Tampak wajah khas bangun tidur tengah terlihat jelas dari layar. 


"Udah siang sayang"sahutnya dengan senyumannya.Gadisnya pun tertawa dari seberang panggilan. "Kamu baru bangun?"tanyanya sambil kembali berjalan masuk keruangan lalu duduk di sofa panjang miliknya,merebahkan badannya sambil terus menatap ponsel.


"Heemm,disini dingin.Pengennya rebahan terus"ucap gadis itu tengah menyandarkan badannya pada dinding ranjang.


"Pantes itu ilernya masih banyak"sahut Rendy menggoda Aurora,dengan cepat gadis itu mengelap iler yang dimaksut oleh kekasihnya.


"Ck,gak ada ya"ucap gadis itu saat sadar sang kekasih tengah menggodanya.


"Baru juga tiga hari, masih empat hari lagi aku baru pulang.Akupun rindu juga,tapi aku masih harus terapi sayang"sahutnya memberi pengertian pada bayi besarnya. "Emm,Tapi sepertinya akan memerlukan waktu lebih lama deh yank,karena kata dokter paling tidak dua minggu untuk terapi agar hasilnya terlihat jelas"lanjutnya membuat senyum chef Rendy langsung redup.


Badan chef Rendy langsung lemas,menahan rindu tiga hari saja ia tak tahan ingin sekali menyusul kekasihnya.Apalagi jika benar sang kekasih memutuskan untuk lebih lama tinggal disana,ia bisa mati karena rindu.


"Aaaaa sayang,haruskah? Bagaimana denganku,sayang aku rindu sekali.Aku gak kuat nahan rindu"ucapnya terang-terangan,bak anak kecil ia merengek bahkan mengacak rambutnya sendiri.Aurora menahan tawanya melihat tingkah sang kekasih yang tengah frustasi akan kabar darinya,tapi juga ia ingin sekali sembuh dan saat ditangani oleh dokter di hari pertama.Dokter itu mengatakan jika kemungkinan sembuh ada,itu yang membuatnya memiliki secerca harapan untuk sembuh.Belum juga sang kekasih menjawab pertanyaannya ia dikejutkan dengan suara kekasihnya lagi.


"Uncle"panggil kekasihnya itu,tapi tunggu bukan Rendy yang tengah dipanggil oleh gadis itu.Rendy melihat jika kamera itu menghadap ke atas langit-langit kamar.Terdengar samar suara laki-laki yang tak ia kenal suara,bukan seperti suara calon mertuanya atau kakek dari kekasihnya.Karena gadisnya pun tadi memanggil dengan panggilan 'uncle'.


"Rindu"suara manja dari kekasihnya terdengar sangat jelas membuat dirinya meradang seketika.


"Sayang"panggil Rendy.


"Sayang itu siapa?"panggil Rendy lagi


"Sayang"panggil Rendy lagi,ia berdiri dengan mondar mandir,hatinya gelisah.Tengah bertemu dengan siapa kekasihnya itu hingga mengabaikan dirinya.Tanpa memindahkan pandangannya ia terus menatap layar ponsel itu. 


"Sayang"panggilnya lagi tak gentar hingga..


"Iya"sahut gadisnya tersenyum.


"Kamu dari mana? Siapa tadi? Aku denger suara cowok di kamar kamu? Sepertinya bukan tuan Elang,karena aku sangat tau dengan suara dia" cerca Rendy membuat Aurora kembali terkekeh.


"Oh ini"sahut Aurora malah menggenggam tangan seseorang yang sudah bisa dipastikan itu seorang lelaki.


Wajah Rendy langsung merah padam "Sayang siapa itu? Tangan siapa itu sayang,lepas gak?"ucapnya marah melihat kekasihnya tengah menggenggam tangan laki-laki lain.Meski ia tak melihat wajah lelaki itu ia sudah terbakar api cemburu. 


"Gak mau..Wlek"sahut enteng Ara dengan menjulurkan lidahnya.Ia bahkan sekarang menampilkan jika dirinya bersandar di lengan lelaki itu. 


"Sayang lepas sekarang atau aku terbang kesana sekarang" 


Ara masih tertawa "Sayang lepas!!!" emosi Rendy sudah tak terkendali,ia pernah di khianati.Untuk kali ini ia tak ingin kecolongan lagi. 


Tawa Aurora terhenti,mendengar teriakan marah dari kekasihnya yang ternyata sangat menyeramkan itu. 


"Huh,serem banget sih"ucap Aurora tersenyum tipis,jujur ia sedikit takut.Lalu ia arahkan kameranya pada lelaki yang berada disebelahnya,lelaki tampan dengan tubuh atletis nampak tersenyum disana.Meskipun ditutupi dengan kemeja panjang warna maroon tak bisa dipungkiri bagaimana kekar lengan lelaki itu,otot yang menonjol dibalik ketatnya lengan kemeja miliknya membuat Rendy insecure. 🤣


"Sial,kenapa lebih tampan dari aku"batin Rendy.Tiba-tiba ia ingat wajah lelaki itu,pantas saja ia merasa tidak asing dengan senyuman itu.Adik dari mendiang papi kekasihnya.

__ADS_1


"Udah inget?"tanya Aurora geli sendiri melihat ekspresi kekasihnya.


"Adik papi kamu" 


"Iya,masa sama uncle Air kamu jealous?"tanya Aurora lagi.


"Kecuali Rafa sama daddy kamu,aku akan jealous pada semua lelaki yang deket sama kamu meski mereka saudara kamu sayang.Kamu ngerti kan?" Sahut Rendy terang-terangan,membuat lelaki disebelah Ara terkekeh. 


"Begitu menggelikan mendengar ucapan kekasihmu princess" timpal Air masih tertawa dan disambut tawa juga oleh Aurora dengan kepala yang masih bersandar di lengan kekar uncle nya itu. "Uncle punya sesuatu buat kamu princess"lanjut Air mengeluarkan sesuatu dari clutch miliknya,dua buah kertas yang membuat lengkingan teriakan bahagia Aurora menggema di seluruh penjuru kamar miliknya. 


"Thankyou,thankyou so much uncle"ucap Aurora penuh haru lalu memeluk tubuh uncle kesayangannya itu,bahkan gadis itu mencium pipi Air membuat Rendy melotot tajam.


"Sayang,apa yang kamu lakukan?"tanya marah Rendy menatap layar ponselnya.


"Aku bahagia banget,uncle ngasih aku ini"sahut riang gembira Aurora menampilkan dua tiket masuk ke Opera balet yang terkenal di Rusia,mengabaikan wajah merah padam sang kekasih menahan amarah karena cemburu.


"Sesenang itu sampai kamu harus mencium uncle mu itu?"tanya Rendy dengan posesif. 


"Apa salahnya sayang,ini uncle Air dan aku lagi bahagia"sahut Aurora tanpa sadar semakin memancing api cemburu yang tengah berkobar.


"Sayang,kamu bisa tegakkan kepalamu itu..Sungguh aku gak suka dan aku gak segan-segan buat terbang kesana sekarang juga"ucap Rendy lagi dengan wajah tak bersahabatnya.


Ara berdecak dan dengan terpaksa menegakkan kembali badannya,ia menekuk mukanya dengan bibir mengerucut lalu menatap kekasihnya itu.


"Sayang,aku gak suka wajah cemberutmu itu kalau kita lagi jauh kayak gini"ucap Rendy kembali tak suka tapi suaranya sekarang melembut karena kekasihnya menuruti ucapanya.


"Biarin" sahut singkat Aurora.


"Sayang,jangan cemberut.. Bibir kamu jadi pengen aku cium,please jangan bikin aku tersiksa.. Kita lagi jauh" ucap Rendy tak tau malu membuat Aurora membulatkan mata sempurna.


"Duh gusti… Mesumnya punya calon mantu"tiba-tiba suara yang tak asing ia dengar melengking hingga teriakan itu seakan berada disebelah telinganya.


"Mampus ada calon mertua gue"batin Rendy malu setengah mati. 


"Ya Allah, itu mulut bisa difilter gak.. Ada mertua disini juga gak ada akhlak emang ya,gak inget umur"cerocos mami Rain,bahkan kamera ponsel Aurora tengah menyorot mami Rain yang berkacak pinggang.Ternyata wanita itu juga berada di kamar Aurora dan duduk di depan Air dan Aurora,membuat Chef Rendy sebelumnya mengira jika hanya ada Air dan Aurora yang berada di dalam kamar.


Chef Rendy kembali menegakkan badannya lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil memaksakan senyumnya "Eh ada ibu,ibu sehat? Calon bapak mana bu?Oh iya, ibu sama bapak serasi lho pas foto di berita online yang saya baca.Gak nyangka calon mertua saya ini ternyata miliarder hehe"cerocosnya mengurangi kegugupan,padahal diberita online itu wajah mami tampak hanya sedikit sekali karena foto itu diambil secara diam-diam.


"Ceh,gak usah mengalihkan pembicaraan chef."sahut mami Rain dengan wajah garangnya. "Gak malu ada mertua sama om nya Ara disini hah"


Chef Rendy malah tersenyum lebar,ia tau jika calon mertuanya ini hanya pura-pura marah padanya. "Yah ibu,calon mertua saya kan seumuran.Lagian bu,rindu saya udah berat sama anak ibu.Kalau bisa mah mau dikarungin aja disimpen didalam kamar saya" 


"Sayang" 


"Duh gusti" teriak kekasih dan calon mertuanya lagi karena ucapan yang ia keluarkan begitu tak tau malu. 


Chef Rendy terkekeh lalu menangkupkan kedua tangannya minta ampun pada kedua wanita berbeda usia yang tengah melotot tajam di layar ponsel miliknya.Hingga sang kekasih mematikan panggilan video membuat ia kelabakan. 


"Yah yah.. malah dimatiin"gerutunya lalu kembali mencoba menghubungi kekasihnya tapi sama sekali panggilan itu tak dijawab oleh Aurora.Ia kembali menghempaskan badannya pada sofa lalu menatap layar ponsel dan menampilkan foto gadis yang begitu ia cinta.


"Aaaaaaa sayang rindu"teriaknya bagai abege yang baru mengenal cinta. 


...……...


Sedangkan di belahan benua yang lain,pipi Aurora tampak memerah merona karena ucapan jujur kekasihnya atau bisa dikatakan ucapan tak tau malu kekasihnya di hadapan mama serta unclenya membuat ia malu setengah mati. 


"Gitu tuh kalau pacaran sama orang tua"ucap mami menggelengkan kepala masih membahas chef Rendy.Uncle Air terkekeh mendengar gerutuan kakak iparnya itu.


"Wajar lah kak,namanya juga lagi jatuh cinta.Mana jauh pula kan pasti dilanda rindu berat."timpal uncle Air membuat Aurora semakin merona.


"Ish,uncle ikut-ikutan deh.. Princess malu tau"Aurora menangkup pipinya yang semakin memanas.


"Malu malu tapi mau aja"ucap mami lagi lalu beranjak dari duduknya "Mami keluar dulu,abis ini turun kita sarapan."lanjut mami Rain keluar lebih dulu lalu disambut anggukan dari Aurora.


Aurora masih duduk kembali memegang dua tiket opera balet yang ia dapat dari uncle Air,tak bisa dipungkiri ia begitu bahagia.


"Nanti uncle jemput,kamu harus dandan cantik.Oke"ucap uncle Air tiba-tiba setelah sekian lama memperhatikan keponakan kesayangannya itu.Aurora pun mengangguk dengan semangat,lalu kembali menghambur ke pelukan unclenya.


"Terimakasih uncle,aku bahagia banget.Dulu kalau kesana selalu sama papi dan sekarang aku kesana lagi tapi sama duplikat papi.Makasih uncle,sayang uncle"ucap Aurora masih dengan penuh haru,jujur dari awal datang ia memang ingin sekali ke opera balet itu.Tapi ia tak ingin merepotkan siapapun,karena kondisinya saat ini yang tak memungkinkan.  


"Setiap kamu mau kesana,bilang langsung sama uncle.. Uncle selalu siap nemenin kamu.Karena kamu permata hati kami,kamu permata hati uncle"sahut uncle Air dengan penuh kasih sayang pada keponakan tersayangnya ini.Ia begitu tau bagaimana sayang mendiang kakaknya itu pada kedua anak kembarnya,ia sudah berjanji pada dirinya sendiri sebisa mungkin mendampingi kedua anak kakaknya tak ingin mereka sedikitpun merasakan kesepian.


............


......**Hay ......


...Kembali lagi bertemu sama Chef Rendy n Aurora ...


...Makasih yang udah mau nunggu kelanjutan cerita mereka ...


...Semoga kalian menikmati cerita mereka ya ...

__ADS_1


...Please Jangan boom like kalau kalian memang gak baca ceritanya ya ☺️...


...Makasih udah pengertian 😘**...


__ADS_2