
Dilain tempat,mami Rain tengah berada di ruangan tempat ia bekerja sebagai pemilik restoran.Matanya terus menatap laptop dihadapannya,membaca pembukuan yang baru saja di kirim oleh tangan kanannya.
"Alhamdulillah,ada peningkatan"ucap syukurnya melihat pemasukan restoran yang meningkat.Setelah hampir beberapa bulan belakangan restoran tak terurus karena kematian suaminya.
Tok
Tok
"Masuk"ucapnya,ada seseorang tengah mengetuk pintu ruangannya.
"Bu"
"Ya"
"Ada yang mau saya bicarakan"ucap lelaki sekitar umur 25 tahunan itu.
"Silahkan duduk"sahut mami Rain menyuruh salah satu karyawannya itu duduk di sofa tak jauh dari tempatnya,ia pun juga beranjak dan duduk di sofa single.
Mami Rain melihat gelagat tak nyaman pada karyawannya itu.
"Ngomong aja ada apa"ucap mami Rain santai,lelaki itu mendongak lalu seolah tak nyaman saat bertemu dengan mata mami Rain lalu kembali menunduk.
"Em-gini bu"lelaki itu terdiam lagi sejenak "Anak saya lagi sakit,saya butuh biaya rumah sakit.Bisa tidak jika saya meminta uang gaji saya lebih dulu bu?"tanya lelaki itu tampak tak enak hati.
"Anak kamu sakit apa?"tanya mami Rain.
"Demam tinggi dari tadi malam bu dan barusan istri saya menelfon kalau demamnya semakin tinggi,badannya juga banyak bintik merahnya.Takut kalau demam berdarah bu"sahutnya lagi.
Mami Rain langsung berdiri,beranjak dari duduk nya lalu pindah ke tempatnya tadi untuk meraih ransel miliknya.Ia meraih beberapa lembar uang miliknya,lalu berjalan kembali ke tempat karyawannya.
"Ini kamu bawa,gak usah ambil gaji kamu.Cepet kamu bawa anak kamu ke rumah sakit"ucapnya sambil memberikan uang.
"Gak bisa bu,saya gak enak kalau kayak gini.Saya ambil dari gaji saya aja bu.Ibu bisa potong gaji saya" tolaknya.
"Udah kamu bawa aja" sahut mami Rain memaksa.
"Wah bu,jangan bu..Saya gak enak sama yang lain kalau tau.Maaf bu,ibu potong aja ya" tolaknya lagi merasa tak enak hati.
"Ck..Malah ngajak debat"decak mami Rain lalu menggelengkan kepala "Udah buru kamu pulang,bawa uang ini dan antar anak kamu ke rumah sakit.Gak usah belibet,saya ngasih ikhlas"lanjutnya.Mami Rain memang tipe orang yang malas sekali banyak bicara.
"Benar ini bu" tanyanya tak percaya.
"Iya… ya Allah pake nanya lagi"gemas sendiri melihat lelaki muda itu.
"Terimakasih bu.. terimakasih,saya akan menyuruh istri saya kesini meambil uangnya bu"Senyum lelaki itu muncul dan matanya berkaca-kaca,ia beberapa kali membungkukkan badannya dan menangkup tangannya berterimakasih atas kebaikan majikannya itu.
"Iya sama-sama,ngapain kamu suruh istri kamu.Kamunya yang pulang sana ya Allah…"ucap mami Rain "Udah sono pulang,elah.. pake diem lagi"lanjut mami Rain melihat karyawannya yang masih kaget karena kebaikan bosnya.
Lelaki itu tampak menghapus air matanya,lalu tersenyum melihat mami Rain.
"Saya izin pulang ya bu"pamitnya.
"Iya,Hati-hati"sahut mami Rain sambil meangguk "Kalau butuh bantuan telfon kesini aja,mobil resto ada kalau kamu butuh"lanjutnya membuat lelaki itu kembali meangguk-angguk lalu pergi dari ruangan mami Rain.
Mami menjatuhkan badannya pada sofa,lalu menatap langit-langit ruangannya.
"Aus juga ya habis debat"gumamnya lalu terkekeh sambil mengelus lehernya.
Tiba-tiba ponsel milik mami berdering.
Ia menoleh,menatap pantulan dari bingkai foto yang berada dihadapan ponselnya tengah menyala-nyala.Foto dirinya dengan sang suami saat berpacaran dulu,tiba-tiba bibirnya tersenyum tipis.
"Berisik banget dah ah.. Ganggu orang santai"gerutunya kembali saat ponselnya bergetar, tapi tetap ia berdiri untuk meraih ponsel miliknya.
Matanya membulat sempurna menatap nomor yang tak asing baginya karena beberapa kali menghubunginya.Tangannya masih meremat ponsel yang terus menyala,perlahan tanda untuk meangkat panggilan pun ia geser.
Mami memejamkan mata sejenak "Hallo"
^^^📞"Sayang" panggil suara berat diseberang telpon,mami menarik nafas berat lalu ia hembuskan.^^^
📞"Ya"
^^^📞"Mari bertemu"ucap lelaki di seberang sana membuat mami Rain langsung terperanjat dari duduknya.^^^
📞"Kapan?"tanya mami penasaran.
^^^📞"Sekarang"ucapnya. ^^^
Mami Rain langsung meraih kunci motornya, sambil terus berbicara.Ia pun meraih helm motocross dan jaket jeans,sambil berlari keluar ruangannya.
📞"Tunggu aku disana,aku akan datang"ucapnya setelah mengetahui tempat ia akan bertemu dengan seseorang yang sering menghubunginya itu.
Mami berlari dari dalam resto menuju ke tempat parkir dengan tergesa,bahkan tanpa ia sadar tengah ada seseorang yang mengamati tingkah anehnya itu.
"Mau kemana kamu Rain"gumam lelaki paruh baya yang tak lain Daddy Elang,ia mengamati mami Rain yang menghidupkan motornya dengan tergesa lalu seperti biasa melajukan motor dengan kecepatan tinggi.
"Kita mengikuti nyonya tuan"ucap lelaki yang berada dibelakangnya.
"Kenapa kamu masih saja bertanya,bahkan kamu bisa menebak apa jawabanku"
"Maaf tuan"ucap lelaki itu tak dihiraukan oleh daddy Elang,lelaki paruh baya itu berbalik arah dan langsung masuk ke dalam mobil tanpa menghiraukan permintaan maaf dari supir pribadinya.
Tak lama,mobil milik daddy pun pergi meninggalkan resto untuk mengikuti kemana arah mami Rain membawa kuda besinya itu.
...….....
Kembali ke restoran milik chef Rendy.
Ara menoleh ke arah suara,tempat seorang laki-laki memanggil namanya.
"Ya.. anda kenal saya?"tanya Aurora menatap lelaki itu.
"Kamu memang sangat cantik,seperti mamamu dulu"monolog lelaki itu dengan terus tersenyum menatap Aurora.Tanpa ia sadar,Chef Rendy dan Aurora dapat mendengar ucapanya.
__ADS_1
"Maaf"sela Aurora.Ia melirik wajah sang kekasih yang mulai kembali tak bersahabat.
"Oh.. Aku teman mama kamu saat kuliah"ucap lelaki itu "Perkenalkan namaku Dewa,Dewatara senior mama kamu dulu"lanjutnya meulurkan tangan pada gadis yang masih tampak kebingungan itu.
Aurora semakin bingung saja,karena ia sungguh tak mengenal teman-teman maminya dulu kecuali Amel istri Omnya dan serta Niko yang juga sudah ia anggap seperti keluarga.
"Saya Aurora Om"sahutnya menyambut uluran tangan lelaki itu.Semakin merekah saja senyuman lelaki itu tapi tidak dengan lelaki satunya yang tak lain adalah kekasihnya,wajah Rendy tampak semakin kusut saja dengan mata yang seakan-akan bisa membunuh seseorang dengan tatapan tajam menusuknya itu.
"Kalau itu siapa?"tanya lelaki itu tampak penasaran melihat Rendy yang terus meamatinya,setelah gadis itu melepas jabatan tangannya.Aurora menoleh pada kekasihnya lalu kembali menoleh pada Dewa.
"In…"sahut Aurora.
"Saya Rendy,calon suami Aurora"sela Rendy berdiri dengan mengulurkan tangannya pada lelaki itu.
"Wah,kalian akan menikah?"tanyanya tampak penasaran "Bukannya kamu masih sekolah? Apa kamu yakin menikah dengan lelaki seumuran mama kamu?"lanjutnya bertanya.
Rendy mendengar ucapan lelaki itu tampak meradang dan mengepalkan tangan kirinya.
Aurora tampak terkejut dengan ucapan lelaki dihadapannya itu,sangat aneh terdengar mengingat ia tak pernah mengenal lelaki itu dan lelaki itu tau tentang dirinya.
"Maaf,om tau tentang aku? Om kenal dekat dengan mami?"tanyanya menatap penasaran.
Lelaki itu tampak terdiam sejenak,lalu ia tersenyum menatap Aurora.
Kkrriinngg….kkrriinngg
Belum sempat lelaki itu menjawab,suara panggilan ponsel milik lelaki itu terdengar membuat ia langsung merogoh kantong jasnya.
"Aku pergi dulu,titip salam untuk mamamu.. Katakan,aku merindukannya"ucapnya lalu melenggang pergi melanjutkan panggilannya tanpa mehiraukan tatapan bingung dari gadis itu.
"Lelaki aneh"ucapnya setelah kepergian Dewa tadi.Ia menatap kekasihnya yang masih berdiri dengan tangan masih terulur,karena Dewa enggan menyambut uluran tangan Rendy.
Aurora yang tau kekesalan kekasihnya langsung menyambut tangan kekasihnya yang masih terulur itu.
"Duduk Om"ucapnya lembut dengan tersenyum menatap kekasihnya.
"Ck.. siapa sih orang tadi"ucap Rendy berdecak kesal pada lelaki yang jelalatan memandang kekasihnya.
"Aku juga gak kenal Om,baru ini juga liat orang itu"sahut Aurora.
"Ck.. bikin mood ancur aja,aku gak suka cara dia liat kamu"
"Udah gak usah dipikirin,toh dia cuma basa basi tadi"sahut enteng Aurora.
"Gimana gak mau dipikirin sayang, dia bilang 'kamu yakin menikah dengan lelaki seumuran mami kamu' maksutnya apa coba bilang aku tua gitu"ucapnya kesal sendiri.
ssrrekk...ssrreekk
Dengan kuat ia memotong-motong steak dihadapannya,seakan menyayat mulut lelaki gila tadi.
Aurora mengulum bibirnya "Bukannya emang om udah tua ya.. Kok marah sih?"goda Aurora yang senang melihat wajah tertekuk kekasih tuanya itu.
Rendy langsung menghentikan gerakannya lalu mendongak,melotot menatap sang kekasih.
"Kamu bilang apa? Aku tua"sahutnya kesal.
Rendy meremat garpu dan pisau ditangannya "Kalau aku tua.. Kenapa kamu mau sama aku?"tanya Rendy kesal.
"Eemm,kenapa ya.."sahut Aurora,ia menekuk tangan kanannya dan bertumpu di tangan kiri.Menggosok jempol serta telunjuknya di bawah dagu seakan berfikir. "Karena aku khilaf kali,kalau dipikir-pikir juga Om udah tua banget ya"sahutnya.
Dduuaaarr
Seakan ada gunung berapi meletus di atas kepala Chef Rendy,wajahnya merah padam.Bukannya menenangkan hatinya,sang kekasih malah mendukung ucapan lelaki tadi.Apa katanya tadi 'khilaf' pikir Rendy.
Prraangg
Ia meletakan garpu dengan pisau kasar diatas meja membuat Aurora terperanjat.Rendy beranjak dari duduknya.
"Om mau kemana?"tanya Aurora menatap wajah seram Rendy.
"Kenapa kamu peduli?"
"Kan aku cuma tanya"
"Gak usah tanya-tanya.. Pikirin aja kekhilafan kamu mau jadi kekasihku" sahutnya ketus.
Pppfffttt
Aurora sudah tak tahan lagi "Hahaha…hahaha..hahaha.. Dih om marah beneran"
"Wajar lah aku marah"
"Aku bercanda om"
"Bercanda kamu gak lucu"sahutnya masih berdiri,tak peduli ia menjadi tontonan gratis di restorannya sendiri.
"Duduk dulu deh,malu diliatin orang"ucap Aurora masih tersenyum melihat wajah Rendy.
"Aku gak peduli"sahutnya masih kesal.
Aurora meulurkan tangannya "Sayang.. Duduk yuk,maaf ya"
Degh
Mata Rendy kembali menatap sang kekasih.Ia tak salah dengarkan kekasihnya tadi memanggil sayang,pikir Chef Rendy.
"Kamu tadi panggil apa?" Tanya Rendy masih tak percaya.
Aurora semakin tersenyum,ia tau Rendy akan luluh dengan satu kata "Sayang"panggil Aurora masih meulurkan tangan kanannya.
Tanpa pikir panjang,lelaki tua tak ingat umur itu menyambut uluran tangan sang kekasih kecilnya.
"Maaf,aku tadi cuma bercanda kok"ucap Aurora setelah Rendy kembali duduk tenang di kursinya.
__ADS_1
"Ulangi kata-kata kamu tadi"titah Rendy.
"Yang mana?"tanya Aurora seakan tak tau apa yang Rendy mau.
"Yang,please"ucap Rendy meeratkan genggamannya.
"Sayang"
"Lagi"
Sayang"
"Lagi"
"Sayang...sayang"panggil Aurora dengan manja membuat wajah kusut Rendy menghilang seketika,senyum dengan lesung pipi yang manis terlihat jelas dari wajah tampan chef Rendy.
Cup
Cup
Cup
Ia menciumi beberapa kali punggung tangan sang kekasih.
"Panggil aku terus dengan sebutan tadi,aku lebih suka"
"Gak bisa dong"
"Kenapa gak bisa?"
"Gak sesuai umur"
"Yank"panggil Rendy memperingatkan.
"Eh.. gak,gak,gak.Bercanda ih,gitu aja mau ngambek lagi"ucap Aurora kembali tertawa melihat wajah Rendy akan kembali kusut.
"Kamu suka banget bikin aku naik darah?"
"Awas cepet tua lho kalau sering naik darah"
"Yank,jangan ada kata tua"
"Oke,,oke,, Om dewasa"
"Yank" panggil Rendy.
"Apasih sayang,aku tau kok kamu sayang banget sama aku gitu kan"sahut Aurora kembali menggoda.
"Kalau itu udah pasti"
"Eh Om"
"Jangan panggil Om" peringatkan Rendy.
"Iya,SAYANG lupa hehe.."sahutnya menekan kata sayang kesukaan sang kekasih.
Meski sempat suasana tak nyaman tadi terjadi,tapi dengan bujukan Aurora suasana romantis kembali terjalin diantara keduanya.
...……. ...
"Kamu buka dashboard itu sayang"ucap Rendy setelah keduanya kembali dari restoran miliknya.
Cklek
Aurora melihat kotak kecil bludru kecil berwarna biru disana,serta sebuah amplop coklat di belakangnya.
"Ini?"tanya Aurora hanya menunjuk kotak itu.
Rendy melirik lalu terseyum dan kembali fokus dengan jalannya.
Tangan gadis itu meraih kotak biru dan meangkatnya.
"Aku udah bisa nebak,pasti isinya perhiasan lagi kan"tebaknya dengan senyum mengembang.
Rendy kembali menoleh,lalu dengan senyum manisnya ia mengangguk.
"Coba kamu buka"
Perlahan tangan Aurora membuka kotak mewah itu.
Klek
Sepasang cincin berlian berwarna silver terpampang indah didalam kotak.Aurora masih tersenyum menatap indah sepasang cincin dengan ukiran mewah itu.
Mobil Rendy yang berhenti pada lampu merah pun memiringkan posisi duduknya menghadap sang kekasih.Ia meraih cincin itu,menarik pelan tangan kanan sang kekasih untuk menyematkan cincin indah itu pada jari manis Aurora.
"Ini buat pengikat kita.. Jangan pernah kamu lepas,aku bakal tunggu sampai kamu kelak siap aku pinang"ucap Rendy setelah menyematkan cincin itu.
"Sayang"panggil lirih Aurora dengan mata berkaca-kaca.
Ia mengingat kejadian dulu,saat masih bersama Alan.Lelaki itu pernah menyematkan cincin yang ia rangkai dari tangkai bunga saat itu,Lelaki itu pernah berjanji akan menyematkan cincin yang indah juga pada jari manisnya saat melamar dirinya.Tapi sekarang ia mendapatkan lamaran dari seseorang yang mengisi hatinya setelah Alan.
Aurora menghambur kepelukan Rendy "Terimakasih"
Rendy membalas pelukannya. "Aku yang terimakasih sama kamu sayang"sahutnya.
Tin
Tin
Membuat kedua terperanjat kaget.Belum juga Rendy membubuhkan kecupan mesra di kening Ara,klakson dari beberapa mobil dibelakangnya membuat adegan romantis itu terhenti.
"Sial"gerutu Rendy,sedangkan gadisnya merona malu seakan ketahuan berbuat mesum didalam mobil.Mobil Rendy pun kembali melaju.
__ADS_1
...……...
"Kita ke rumah siapa?"tanya Aurora melihat rumah megah yang belum pernah ia lihat sebelumnya.