Cinta Sang Balerina

Cinta Sang Balerina
Pertemuan kembali


__ADS_3

Rafa kembali ke rumah setelah selesai menjemput Ara,ia berjalan membantu Ara yang masih lemas untuk berjalan masuk ke dalam rumah.Sedangkan bibi mengikuti dari belakang untuk masuk juga kedalam rumah.


"Assalamualaikum"ucap salam Rafa dan mendapat sahutan salam dari dalam rumah.


"Daddy"panggil Rafa dan Ara bersamaan saat melihat lelaki dengan wajah awet muda dan badan atletis tengah duduk di ruang tamu bersama mami dan mama mereka. 


Ara berjalan lebih cepat untuk menghampiri lelaki paruh baya kedua setelah papinya yang ia sayangi.


"Daddy"ucap Ara lagi langsung masuk ke dalam pelukan sang ayah angkat.Menumpahkan semua kesedihannya yang amat sangat menyakitkan.


"Maafkan daddy baru datang sekarang"ucap daddy Elang mencium puncak kepala putri angkatnya dengan sayang.


"Hiks...hiks.. daddy,papi… papi… "


"Jangan diteruskan,daddy tau.. Daddy tau apa yang kalian rasakan"selanya sebelum Ara menyelesaikan ucapannya.Ia sudah tau berita kecelakaan itu dan hari itu tau jika salah satu penumpang adalah suami dari wanita yang sampai saat ini masih ia cinta.Tapi karna kesibukannya yang sangat padat membuatnya hanya bisa memantau dari jauh dengan Air adik dari Rayyan sendiri yang menjalankan bisnis di New York bersamanya.


Daddy Elang terus memeluk putri kesayangannya ini,membiarkan gadis ini menumpahkan tangisnya di dada bidangnya.Sungguh ia merasakan sakit yang sama,biarlah untuk hari ini biar gadisnya menangis untuk terakhir kalinya.


"Kamu harus kuat Rain,Rafa dan Ara butuh kamu"ucap daddy Elang melihat mami Rain yang melamun dihadapannya.


"Gairah hidupku hilang,separuh jiwaku hilang Lang"sahut mami Rain pelan dan langsung mendapat pelukan dari sang sahabat sekaligus kakak iparnya yang juga datang untuk menemaninya.


"Mi"panggil Rafa tiba-tiba.Rafa berjalan menghampiri sang mami dan duduk bersimpuh dihadapannya. 


"Ini"Rafa dengan berkaca-kaca memberikan satu-satunya yang tersisa dari kepergian papinya.Topi hadiah dari sang mami.


Huhuhuhuhuhuhu… Terdengar tangis mami Rain langsung pecah,kenyataan sekarang sudah benar-benar membuat setengah jiwanya melayang.Harapan kecil yang ia selipkan sirna dengan bukti yang berada di hadapannya.Suaminya telah tiada.


"Sayang"panggilnya dalam hati dengan terus menangis,ia mendekap erat topi itu.Lelaki yang sangat ia cinta telah meninggalkannya bersama separuh hidupnya ikut pergi dengan kepergian sang suami. 


Mama Amel mendekap tubuh sang sahabat sedangkan Rafa ikut menangis dengan mendekap kaki sang mami.Sedangkan Ara semakin menangis dipelukan ayah angkatnya.Kembali tangis pilu menggema di kediaman Rayyan Sanjaya.


Wuussh


Prang 


Lelaki gagah yang baru membuka pintu kamar itu langsung mendapat hadiah lemparan botol parfurm dari sang istrinya.


"Kamu udah gila Nad"teriak marah lelaki itu dengan mata menyalang.


"Kamu yang gila,kamu tega ninggalin aku tadi dan pura-pura kayak orang gak kenal.. Tega kamu"sahut sang istri dengan berteriak.


Lelaki itu melipat lengan kemejanya sampai siku dan berjalan masuk ke kamar,meanggap semua omelan sang istri itu angin lalu.


"Kamu masih anggep aku gak sih Ren?"tanya sang istri dengan air mata yang hampir menetes.Mood ibu hamil itu naik turun sekarang.


"Cih.. kalau aku sudah tak menganggapmu mungkin sekarang kamu gak ada disini"sahutnya berdecih.Sangat konyol pertanyaan yang diajukan sang istri.


"Tapi sikap kamu sama sekali gak menunjukkan itu semua" sahut wanita dengan rambut digelung berumur 35 tahun itu.Ia sangat marah pada sang suami saat tadi tak sengaja bertemu dengannya di Restoran tempat ia dan teman-temannya arisan.Disapa pun sang suami malah melengos pergi tanpa menghiraukan dirinya,membuat dia malu dan menjadi bulan-bulanan teman-teman arisannya yang lain.


"Aku capek..Bisa berhenti berbicara"ucapnya dingin lalu merebahkan dirinya di ranjang king sizenya.


Entah apa yang ada dibenak seorang lelaki Rendy Pramudya,pernikahan yang hampir 10 tahun lamanya seakan tak ada peningkatan hubungannya dengan sang istri.Istrinya terlalu sibuk dengan Arisan sana sini tanpa mau melayani dirinya menjadi istri yang baik.Seakan dirinya hanya mesin pencetak uang untuk menghidupi kehidupan istrinya yang semakin hedon.


Mata dengan bulu mata lentik itu tengah mengerjap-ngejap.Ternyata omelan sang istri malah menjadi lagu penggiring tidur,ia dapat tidur dengan omelan sang istri yang terus terdengar. 


Rendi duduk bersandar pada ranjang lalu menatap lurus kedepan. 


"Cih.. hamil konyol"monolognya masih teringat kata-kata dokter kandungan saat beberapa hari yang lalu meantarkan sang istri ke dokter karna sakit. "Bahkan jatahku sudah 6 bulan yang lalu terakhir menjamahnya.Bagaimana kecebong itu bisa ada diperutnya berumur 4 minggu.Konyol sekali"lanjutnya lalu menyugar rambut cepaknya dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tak 


Tak

__ADS_1


Tak 


Ia menuruni tangga dan pandangannya langsung bersirobok dengan wanita yang juga tengah menatapnya di ruang makan.Siapa lagi jika bukan sang istrinya Nadia.


"Bangun juga kamu"ucap wanita itu masih melanjutkan makannya dengan roti coklat di tangannya.


"Hhmmm"sahut Rendy berdehem lalu berjalan menuju kulkas untuk memasak sesuatu.


"Tunggu sampai aku selesai makan,baru kamu masak.Aku pengen muntah cium bau bawang"seru sang istri lagi. 


Rendy tak menghiraukan hanya berjalan melewati sang istri dengan kotak yang berisi udang akan ia bersihkan.


"Kamu gak denger kata-kataku Ren" 


"Sialan.. kamu bisa diam,sudah berapa jam kamu terus mengomel tak jelas.Sekarang pergilah,mending kamu pergi dengan teman-temanmu daripada mengomel tak jelas disini"ucap marah Rendy yang tak tahan istrinya terus marah tak jelas.


"Kamu lupa,aku begini karna anak yang aku kandung.Anakmu" sahut lantang sang istri.


"Ya...ya...ya.. anakku"sudah sahut final Rendy tanpa mau melanjutkan.Moodnya anjlok sekarang,ia meurungkan niatnya untuk masak dan memilih pergi duduk di balkon Apartemen miliknya. 


"Sampai kapan pernikahan neraka ini berakhir"monolognya menatap langit malam yang begitu indah dihiasi bintang-bintang.


Ia merogoh sakunya untuk mengeluarkan rokok seperti biasa,disaat seperti ini hanya lintingan tembakau ini yang dapat menenangkannya.Ia menyelipkan rokoknya lalu.


Tek 


Rendy terdiam,ingatannya tiba-tiba kembali saat hujan sebulan yang lalu.Bayangan gadis berambut lurus dengan pakaian rumah sakit tengah menari terlintas dibenaknya.


"Sialan,dia sangat cantik.Tapi menyedihkan"gumamnya lalu menghidupkan kembali rokoknya dan menghisap dalam-dalam lalu membumbungkan asapnya ke udara.


Ara tengah berjalan masuk ke dalam Mall ibukota dengan mententeng tas baletnya,ia memutuskan untuk mengikhlaskan kepergian sang papi setelah di rilis di televisi bahwa semua penumpang dan semua kru dalam pesawat telah meninggal dunia.Meski tak semudah mengucapkannya tapi Ara terus berusaha demi sang mami.Mami Rain terus menerus drop dan sekarang tengah dirawat intensif dirumah atas utusan daddynya.


Setelah latihan balet,Ara memutuskan untuk mencari kado untuk sang keponakan yang besok berulang tahun.Putri dari sepupunya kakak Aira anak dari tante Ines.


Beberapa kali Ara menoleh kebelakang,merasakan ada seseorang yang tengah menatap dan mengikutinya.


"Penguntit kah?"gumamnya pelan lalu menoleh lagi dam dapat ia lihat ada salah satu laki-laki yang tampak salah tingkah.


"Gila beneran penguntit"gumamnya lagi langsung mempercepat langkahnya,naik sampai ke lantai tiga,tepatnya masuk kedalam toko mainan anak.


"Huh,untung udah pergi"ucapnya lagi saat melihat kearah ekskalator tak ada yang mengikutinya.


Degh! 


"Setan Alas"umpatnya kaget sambil memegang dada kirinya saat ada laki-laki dihadapannya saat ia berbalik badan.


Lelaki itu mengrenyit "Apa kamu bilang..Setan alas"ucapnya mengulangi kata-kata Ara.


"Siapa kamu? Kamu yang ngikutin aku tadi ya? Kamu penguntit ya?"cerocos Ara terus bertanya. 


"Heh bisa diam sebentar,kau tak ingat aku?"tanyanya menunjuk dirinya sendiri.


Ara memiringkan kepalanya lalu menegakkan kembali. "Apa kita pernah ketemu om?" 


"Om?"tanyanya dengan mata membulat.Baru kali ini ia dipanggil dengan panggilan om.Astaga bahkan keponakan-keponakannya lebih suka memanggilnya Ahjussi.Macam orang korea,padahal artinya juga sama sih.Tapi terdengar keren jika diucapkan.


"Iya om,emang kita pernah ketemu?"


Lelaki itu menatap Ara dari atas sampai bawah lalu kembali lagi meedarkan pandangannya.


"Ah.. om ini om mesum ya,enak aja pake liatin aku gitu segala"teriak Ara saat sadar ia tengah diamati seakan ia santapan makanan.Ia langsung memukulkan tas baletnya pada lelaki seumuran maminya itu.


"Aduh...aduh...hey,hey tenang gadis menyedihkan"ucap lelaki itu tak terima ia dipanggil dengan sebutan mesum.Apanya mesum,ia hanya ingin melihat keadaanya karna ia bertemu dengannya saat gadis itu sangat menyedihkan.

__ADS_1


"Om liatin aku gitu banget,om pasti om om mesum kan"ucap marah Ara lagi dengan mata menyalang.


Rendy gelagapan,beberapa orang yang mendengar kata-kata Ara langsung menghentikan langkahnya bahkan menunggu apa yang akan terjadi.


"Dasar gadis menyedihkan,kamu lupa kamu sudah ku selamatkan.Gak tau terima kasih"ucap pelan lelaki itu dengan membulatkan matanya.


"Emang kapan?"tanya Ara.


"Princess"tiba-tiba seseorang memanggil Ara dari belakang tubuh Ara.Ia mengenali suara itu.


Degh!


Pandangannya bertemu dengan mata bermanik hitam,tatapan mata itu masih saling mengunci dan memancarkan kerinduan yang sangat dalam.


"Apa yang kalian lakukan"ucap Airin yang berada disebelah Alan.Bahkan kata-katanya membuat Ara langsung memutuskan pandangannya.


Pyar


Bak kaca pecah,hati Ara seakan berbunyi nyaring saat melihat lengan yang biasanya ia peluk sekarang tengah dipeluk sepupunya sendiri. 


"Sadarlah Ara dia tunangan sepupumu"batin Ara mencoba untuk sadar. 


"Apa yang kamu lakuin disini princess?"tanya Alan lagi tanpa menghiraukan keberadaan Airin.


"Stop manggil dia princess Al"sela Airin yang tak suka dengan panggilan itu.


"A...aku mau cari kado"sahutnya tergagap.


"Mau aku antar"tawar Alan entah ogeb atau bagaimana yang pasti lelaki itu sepertinya mencari masalah.


"Al kamu apa-apaan sih,kamu itu tunangan aku.Kenapa mau nganterin dia"ucap cemburu Airin pada sepupunya sendiri.Dasar bocah.


"Ha..ha..ha..gak usah,aku bisa sendiri.Kalian kalau mau pergi silahkan"


"Aku tau kamu bohong.Princess,tatap mata aku.Kamu masih cinta kan sama aku?Tolong jawab pesan dan telfon aku,jangan diemin aku terus"tiba-tiba saja Alan mendekati Ara dan malah menanyakan hal yang seharusnya tak ia ucapkan pun akan tau jawabannya.


"Alan"teriak tertahan marah Airin,ia menarik lengan Alan.


"Al jangan gini"Ara tak nyaman mulai banyak yang menatap dirinya.Jika biasanya tatapan mereka terkagum-kagum dengan kecantikannya ia tak mau saat ini ditatap karna berebut lelaki.Ah.. tak elegan sekali.


Degh! 


Ia pun menoleh dan pandangannya bertemu dengan tatapan lelaki yang ia lupa ada disebelahnya.


"Kenapa ni orang masih disini"batinnya melihat lelaki dewasa itu masih berdiri disebelahnya.


"Al,please..hargai perasaan cowok aku"entah setan darimana yang nemplok di badanya Raina malah menggandengan tangan lelaki dewasa di sebelahnya dan mengatakan lelaki itu adalah kekasihnya. "Pikir nanti lah kalo si om marah"batinnya.


"Cih,aku gak nyangka seorang Aurora doyan dengan om-om"cletuk Airin bahkan mengejek pada sepupunya.


Alan membulatkan matanya.


"Jangan bohong princess"ucap marah Alan.Ia murka melihat tangan wanita yang ia cinta menggenggam tangan lelaki lain.


Bahkan matanya tak lepas melihat tangan Ara yang menggenggam erat tangan lelaki itu. 


"Alan" panggil Airin lagi.


"Ada baiknya kekasihmu,kau bawa pergi nona.Karna aku tak suka melihat cara kekasihmu memandang wanitaku"Tiba-tiba suara berat lelaki itu terdengar.Bahkan tangannya membalas genggaman tangan Ara.Ara langsung menoleh menatap lelaki yang tadi bicara. 


Bruk


Tas Ara tiba-tiba langsung jatuh saat lelaki itu tersenyum dan terlihatlah lesung pipi yang menawan dari wajahnya.

__ADS_1


"Anjir..ganteng parah"batin Ara berteriak.


__ADS_2