Cinta Sang Balerina

Cinta Sang Balerina
APA!!!


__ADS_3

Aurora tampak menikmati pemandangan di jari manisnya,tanpa mengetahui kemana arah mobil itu melaju.


Hingga beberapa saat,matanya mulai mengamati deretan rumah elit yang hampir sama.Ia yakin berada di sebuah perumahan.Matanya seakan menelisik,menatap rumah-rumah yang belum pernah ia datangi sebelumnya.Sampai akhirnya,mobil Rendy berhenti tepat didepan rumah besar. 


"Kita kerumah siapa?"tanya Aurora bingung.


Tin


Tin 


Belum menjawab,Rendy malah membunyikan klakson agar gerban rumah itu dibuka.Akhirnya mobil miliknya terparkir dengan rapi didalam halaman rumah itu.


"Sayang.. Jawab,kita mau kemana?"tanyanya lagi pada Rendy. 


Rendy menoleh,lalu tersenyum. 


"Kamu gak mau nyematin cincin itu dijari aku?"tanyanya sambil menyodorkan tangan kanannya.


"Jawab dulu kita kemana" 


"Sematin dulu baru aku kasih tau"sahut Rendy tersenyum manis. 


"Sayang ih"rengeknya manja membuat Rendy gemas. 


"Iya,sematin dulu.. Ntar aku kasih tau" 


Aurora kembali membuka kotak miliknya,lalu meraih cincin couple itu dan menyematkan pada jari manis Rendy.


Cup 


"Gini dong,kan jadi enak dilihatnya"ucap Rendy setelah mencium punggung tangan sang kekasih.


"Sekarang jelasin" 


"Kita dirumah orang tua aku" 


"WHAT!!!"sahut Aurora kaget dengan berteriak,ia menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya. 


"Sayang,jangan teriak..Wah,teriakan kamu huh"ucap Rendy menggosok-gosokkan telinganya dengan tangan.Sungguh meskipun cinta mati ia masih waras untuk membandingkan mana lengkingan enak didengar dan tak enak didengar.Sungguh teriakan kekasihnya ini bisa membuat budeg seketika. 


"Kita mau ngapain kesini,jangan gila deh Om" 


"Jangan panggil om" peringatkan Rendy


"Kamu nekat sih"ucap Aurora "Aku gak siap"lanjutnya mulai ketar ketir, bahkan belum lewat satu hari bertemu dengan mama Rendy dan sekarang ia malah dibawa ke kediaman lelaki itu.Bisa gila Aurora.


"Apa yang bikin kamu gak siap?" 


"Status gantung kamu"ucap Aurora terang-terangan.Karena jujur,Rendy meskipun sudah meurus surat cerai tapi ia belum tau bagaimana final persidangan mereka.


Rendy tersenyum lalu membuka dashboard kembali. "Ini kamu baca"ucap Rendy menyerahkan amplop warna coklat.


Aurora menatap amplop itu,tulisan disana menandakan bahwa itu amplop dari pengadilan agama.Mata Aurora menatap semua kata demi kata yang ada di dalam sama 'Akta Cerai' 


Dengan itu,Rendy resmi dinyatakan sudah bercerai dari Nadia.


"Sayang ini bener?"tanyanya masih tak percaya.


"Iya, aku udah resmi cerai dari dia.Waktu kamu pulang dari rumah sakit sebenernya aku udah mau ngomong,tapi lupa waktu ketahuan eyang kita mesra-mesraan hehe"sahut Rendy lalu terkekeh mengingat ia mendapatkan tatapan maut dari nenek mertua.Eh.


"So,aku mau ngajak kamu kesini buat ngenalin kamu secara resmi sama mama papaku"lanjutnya menggenggam kedua tangan sang kekasih yang masih tampak keraguan dimatanya.


"Tapi..kamu tadi liat kan waktu di rumah sakit, mama kamu kayaknya gak suka sama aku deh.Aku takut"ucap Aurora terang-terangan.


Rendy menggeleng,ia membenarkan tatanan rambut sang kekasih lalu mengelusnya "Sayang,aku yakin.Mama bakal suka sama kamu,mama tadi cuma belum tau masalah aku sama Nadia yang sebenarnya.Dan wanita itu masih belum juga jujur sama mama tentang bayi yang ada didalam kandungannya"terang Rendy menjelaskan.


"Terus keadaan aku,apa mama papa kamu bakal terima aku yang cacat ini?"tanya Aurora kembali ragu. 


"Sayang,kamu gak cacat.. Kamu sempurna" 


"Jangan gombal deh"sahut Aurora kesal karena masih saja kekasihnya ini menggombal.


"Aku gak gombal,aku serius.Aku yakin kok mereka bakal suka sama kamu"Rendy kembali meyakinkan kekasihnya.Ia turun dari mobilnya lalu memutari mobil untuk meambil kursi roda dan membuka pintu penumpang.


"Siap ya sayang,aku angkat"pamitnya lalu dengan perlahan ia meangkat tubuh Aurora dan meletakkannya di atas kursi roda.


"Santai aja,aku ada disini sama kamu"bisik Rendy membungkuk.


Cup 


Ia mencium pipi Aurora supaya gadis itu relax.Sedangkan Aurora membuang nafas kasar,perasaan bingung,takut dan bahagia karena diperkenalkan pada keluarga kekasihnya bercampur aduk saat ini. 


Keduanya pun berjalan masuk kedalam kediaman Rendy. 


...….....


"ELANG AWAS!!!!"teriak mami Rain langsung berlari menghampiri Daddy Elang yang masih berdiri ditengah jalan.Sedangkan sebuah motor tengah melaju kencang kearah Daddy. 


Brrruuukkk 


Bbrruuukkk


Mami Rain melompat dan mendorong tubuh Daddy hingga terguling di pinggir jalan bersama tubuhnya yang juga ikut terguling. 


"Elang..Elang.. kamu gapapa?"tanya mami Rain menatap tubuh daddy yang mengerang kesakitan karena tubuhnya berbenturan dengan aspal.

__ADS_1


 Mami memeriksa tubuh daddy Elang dengan bergantian meangkat tanganya.Sedangkan daddy menatap mata yang masih terlihat di balik helm milik mami,mata itu menandakan bahwa wanita itu tengah khawatir.


"Kamu khawatir padaku Rain"batin daddy.


"Aawww.."erangan kesakitan kembali terdengar saat mami meangkat tangan kiri milik daddy.


"Sakit ya.. maaf"ucap mami,lalu melepas helm miliknya.


Masih ditempat yang sama,kembali motor yang sebelumnya sudah menjauh kembali menghampiri keduanya.


Mami Rain merasa silau karna lampu motor yang diarahkan tepat ditempat keduanya. 


"Kamu masih bisa berdiri?"tanya mami Rain khawatir pada daddy


Daddy meangguk pasti,ia tau situasi saat ini tak memungkinkan.Bahkan supir pribadinya berada jauh dari tempat mereka.


Bbbrrruuuummmm 


Bbbrrruuuuummmmm 


Suara motor yang di gas itu terdengar memekakkan telinga,hingga kembali motor itu mencoba untuk menabrak keduanya. 


Pengemudi motor itu melompat, menjatuhkan diri sebelum motor itu melesat jauh mencoba menabrak mami dan daddy.Dengan kekuatan yang masih ada mami Rain dan daddy bangkit lalu menghindar dari tabrakan motor itu.


Booommm 🔥🔥


Motor yang melesat itupun meledak saat tertabrak jerigen bensin yang berada tak jauh dari mereka.Kebakaran besar pun tak terelakkan.


Daddy langsung mendekap tubuh mami Rain agar tak terkena percikan api,mami mendongak dan kedua mata mereka saling memandang.Perlahan mami melepaskan dekapan Elang karena situasi aneh pada keduanya.Mereka ngos ngosan menatap kejadian yang sangat cepat terjadi begitu saja.Bahkan ia membiarkan pelaku yang mencoba menabraknya tadi melarikan diri.Ada yang lebih penting dibanding mengejar orang itu.Elang terluka.


"Ayo kita ke rumah sakit"ajak mami Rain. 


"Apa yang kamu lakukan tadi disini Rain?"tanya daddy menatap lekat wanita dihadapannya. 


"Aku?"tunjuknya pada diri sendiri.Ingatannya kembali pada suara seseorang yang membawanya bertemu di tempat ini.


...Flashback ...


Motor trail milik mami melaju cepat menembus kemacetan di ibukota,dengan arahan dari seberang telfon ia tak ingin mematikan panggilan seseorang yang mengaku sebagai 'suaminya'. 


Hingga motor itu pun berhenti ke dalam kawasan gudang kontainer.Ia turun masih dengan debaran dada yang tak bisa ditahan,ia berharap banyak jika ini bukan orang jail tapi benar suami yang ia rindukan.


^^^📞"Kamu dimana?"^^^


📞"Aku berada tak jauh darimu sayang" 


Mami Rain meedarkan pandangannya,tanpa ia melepas helm motocross miliknya.


Degh 


"Ray"panggilnya lalu mematikan panggilannya.


Lelaki itu berjalan terus menjauh tanpa menoleh kearahnya.Dengan cepat ia menghampiri lelaki yang terus menjauh itu.


"Ray.. tunggu" 


"Ray"panggilnya berteriak tapi lelaki itu semakin menjauh dan menghilang dibalik kontainer merah yang masih berjarak jauh dari tempatnya.


Ia berlari semakin kencang,melihat dibalik kontainer dan orang yang ia cari tak ada disana.


Kkkkrrrriinngg… kkkrrriinnggg…


Ponsel mami kembali berdering,dengan cepat ia meangkat panggilan itu.


^^^📞"Aku sudah memperingatkan kamu agar kemari sendiri,tapi kamu malah mengingkarinya dengan membawa lelaki itu"^^^


📞"Siapa?"tanya mami Rain bingung,belum juga mendapatkan jawaban dari seberang sana.Ia membalikkan badannya dan ia melihat Elang yang juga berjalan menghampirinya.Tak lama kejadian yang tak diinginkan terjadi.


...Flashback Off ...


Mami Rain masih melamun,mengingat kejadian tadi.Dan ia baru sadar jika seseorang yang ia anggap suaminya itu memang bukan suaminya.


"Rain"panggil Daddy menggoyangkan lengan mami. 


Mami tersadar lalu menatap lelaki disebelahnya,matanya berkaca-kaca. 


"Lang"panggilnya.


"Ya"


"Boleh aku memelukmu"pintanya dengan air mata yang sudah tergelincir membasahi pipi cantiknya.Tanpa menunggu jawaban dari daddy Elang,daddy lebih dulu menarik tubuh wanita itu untuk ia dekap.


Tangis mami pun pecah dalam dekapannya. 


"Lang,kenapa masih sakit? Sungguh aku ikhlas,tapi aku masih berharap ini memang dia Elang.Tapi,kenyataan memang menyakitkan.Bukan..bukan dia,dia bukan Ray Elang..Bukan huhu..."racaunya dalam pelukan.


"Bukan hanya kamu Rain,aku pun masih merasa kehilangan.Kita semua kehilangan"sahutnya,ia tau sekarang jika memang benar apa yang dikatakan oleh putrinya jika ada seseorang sering menghubungi maminya. 


"Huhu...huhu..huhu "tangis itu semakin tak terkendali,daddy mendekap sayang wanita malang itu.Mengelus pelan bahu wanita yang masih terguncang itu.Tak lama tubuh mami melemas dan akhirnya wanita itu pingsan dalam pelukan daddy Elang.


...……....


Sedangkan di tempat chef Rendy,Aurora tampak meremat dress miliknya.Menunggu Rendy yang membunyikan bel rumah orang tuanya.


"Om please kita pulang.Kayaknya aku pengen pup deh.Mules ini perut aku"ucap Ara lirih,ia gugup saat ini.Ia takut apa yang ada dipikirannya akan terjadi nanti.Ia belum siap. 

__ADS_1


Rendy terkekeh lalu menoleh ke arah kekasihnya,memutar kursi roda agar berhadapan dengannya dan berjongkok dihadapan Aurora.


"Ntar pup didalem ya.. "sahutnya terkekeh pelan "Yakin sama aku,gak akan terjadi apa-apa.Aku akan jelasin semua ke mama dan papaku agar semua jelas sayang.Percaya"lanjutnya menggenggam kedua tangan Aurora dengan tersenyum menyakinkan Ara jika yang ia takutkan takkan terjadi.


Cklek 


Pintu itu pun terbuka,keduanya menoleh kearah pintu.Dan disana terdapat mama Rendy yang mematung melihat adegan romantis putranya dengan gadis kecil itu. 


Rendy berdiri. "Assalamualaikum ma"salamnya lalu meraih tangan mamanya untuk bersalaman.


"Waalaikumsalam"sahut mama Rendy,raut wajahnya tampak memperhatikan Aurora yang menunduk takut itu.


"Sayang"panggil Rendy pada kekasihnya.


Aurora yang mendengar pun mendongak,melihat wajah Rendy yang tersenyum teduh membuat ia memberanikan diri menatap mama Rendy.


"Assalamualaikum tante" sapanya dengan senyum yang dipaksakan.Ia belum siap.


"Waalaikumsalam"sahut mama Rendy tanpa senyum di wajahnya.


Rendy menatap kekasihnya dengan tersenyum lalu beralih menatap mamanya "Mama gak menyuruh kami masuk?"tanyanya. 


Seakan baru sadar,mama Rendy menepi untuk mempersilahkan putranya mendorong kursi roda Aurora masuk kedalam rumah. 


"Papa mana ma?"tanya Rendy saat berada di ruang keluarga. 


"Papa di kamar"sahut mama Rendy yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik putranya itu.


"Sayang,pindah ke sofa mau?"tanyanya pada Aurora "Aku bantu"lanjutnya dengan perhatian.Menatap penuh kasih sayang pada Ara. 


Gadis itu mengangguk pelan,ia pun malu jika di tatap oleh orang lain dengan tatapan kesedihan jika menggunakan kursi roda. 


Akhirnya Rendy pun menggendong Ara untuk berpindah ke Sofa.Mama Rendy yang terus memperhatikan tingkah putranya tampak bingung,karena Rendy tak pernah menatap istrinya sendiri dengan tatapan kasih sayang seperti putranya menatap gadis itu.


"Lho,aku kira mama panggil papa"ucap Rendy yang baru sadar mama nya yang masih berdiri tak jauh darinya.


"Hah?"mama Rendy tampak gelagapan,ia tampak melamun sebelumnya "Kamu mau ketemu papa? Untuk apa?"tanyanya lagi.


"Ada yang perlu dijelaskan dan sekalian Rendy mau minta izin" ucapnya dengan sopan dan penuh hormat pada mamanya,tak seperti saat di rumah sakit tadi. 


Mama chef Rendy tampak mengerti lalu mengangguk. 


"Tunggu,mama panggil papa dulu"ucapnya,lalu pergi ke kamar yang tak jauh dari ruang keluarga.


...……...


"Aku takut"ucap lirih Aurora,tangannya tengah saling menggenggam dengan tangan Rendy.Keringat dingin tengah keluar dari telapak tangan gadis itu.


"Basah yank"sahut Rendy lalu terkekeh. 


"Ih.. aku gugup"ucap Aurora yang kesal dengan ucapan Rendy karena mengejeknya.Rendy hanya tersenyum lalu mencium punggung tangan Ara.


Tak lama,pembantu di rumah Rendy menghampiri keduanya dengan membawa minuman. 


"Den,diminum"ucap bibi membuat minuman kesukaan Rendy dan minuman satunya untuk Ara.


"Makasih bi" 


"Siap"sahut wanita gempal itu lalu pergi kembali ke dapur. 


"Diminum yank"ucap Rendy menyuruh Ara minum,dan dengan cepat Aurora menenggak jus jeruk yang berada di hadapannya dengan cepat.


Glek 


Glek 


Glek 


"Aahhh"ucapnya lega,seakan dehidrasi setelah berjalan ditengah padang pasir.


"Relax aja yank,mama sama papa gak bakal ngapa-ngapain kamu.." 


"Tetep aja aku takut" 


"Coba deh sini liat aku"pinta Rendy menyuruh Aurora memiringkan badan untuk menatap dirinya.


"Ganteng kan?"tanyanya dengan senyum manis dan lesung pipi yang tampak indah di pipi Rendy.


Plak 


"Gak lucu ya"kesal Aurora menabok paha Rendy yang bisa-bisanya bercanda di waktu yang tak tepat seperti ini.


Bukannya kesal,tapi lelaki itu malah tertawa melihat wajah cemberut kekasihnya.Ia tau jika sekarang kegugupan gadisnya berkurang karena keisengannya.


"Rendy"panggil lelaki paruh baya yang tiba-tiba memanggil namanya saat ia masih tertawa.Rendy yang merasa terpanggil berdiri dan menghampiri papanya yang berjalan menggunakan alat bantu tongkat.


"Pa"sahut Rendy lalu meraih tangan kanan papanya untuk mencium punggung tangannya.


"Kamu mencari papa?"tanya lelaki itu yang dibantu Rendy untuk duduk tak jauh dari Aurora,diikuti oleh mama Rendy di belakang.


Papa Rendy sempat melirik pada Aurora dan menatap kembali putranya yang tak habis mengumbar senyum itu.


"Iya pa..Rendy mau minta izin untuk bertunangan dengan kekasih Rendy"ucap Rendy dengan wibawanya.


"APA!!!!"Teriak semua orang yang berada disana,termasuk Ara.

__ADS_1


__ADS_2