
Kicauan burung tampak saling bersahutan disebuah taman bunga,disana tampak seorang gadis memejamkan mata dengan menengadahkan wajahnya keatas menikmati suasana.
"Princess"panggil seseorang padanya.Lelaki pertama kali memanggilnya dengan sebutan 'princess' yang begitu ia kenali dan takkan pernah ia lupakan.
Gadis itu membuka matanya,menurunkan pandangannya dan menoleh tepat disebelahnya.
"Papi"ucapnya lirih dengan tatapan berkaca-kaca.
Ia menghambur kepelukan lelaki yang sangat ia cintai,cinta pertamanya.
"Kenapa lama sekali.."ucapnya membenamkan wajahnya didada sang papi.
Tampak papi Ray dengan senyum teduhnya membelai lembut punggung sang putri dengan sayang.Ia juga merindukan pelukan sang putri.Ara masih menangis dalam pelukan.
"Maafkan papi,papi terlalu lama"ucap papi Ray setelah lama terdiam.
Ara merenggangkan pelukannya,menengadah menatap wajah papi yang masih tampak tampan dengan bibir pucatnya.
Tangan papi perlahan menghapus air matanya. "Aurora Putri papi, putri yang sangat papi cintai.."ucap papi dengan air mata yang tengah menganak disudut matanya. "Tetaplah menjadi kesayangan papi,tetaplah menjadi gadis paling kuat selain mami… Jaga mami dan Rafa untuk papi.. Papi yakin Ara kuat,Ara lebih hebat dari apa yang Ara bayangkan.. "lanjutnya dengan air mata berlinang.
Ara menangis melihat kesedihan dalam setiap kata dari papi kepadanya.
"Ikut Ara pulang ya pi.. Mami pasti senang liat papi datang"ucapnya dengan tersenyum menatap papi Ray.Ia menggenggam tangan papi yang tengah membelai pipinya.
Papi menggeleng sambil tersenyum.
"Kenapa??" Tanya Ara bingung.
"Kelak akan ada saatnya kita berkumpul.. Terimakasih karna telah menjadi putri papi.Papi menyayangi Ara"sahut papi Ray mengecup sayang kening sang putri tercinta lama hingga Ara pun memejamkan matanya.
Hampa
Beberapa saat ia merasakan hampa,tangan yang tadi memeluknya tak lagi terasa.Kecupan di keningnya pun hilang.
"Aurora"
Suara-suara beberapa orang terdengar jauh dari telinganya.Ara terus memejamkan matanya,menolak untuk membuka kembali matanya.Tanpa diminta air matanya terus mengalir deras.
Hingga suara seseorang masuk ke gendang telinganya membuat hatinya berdebar.
"Aurora"panggil seseorang padanya.
Perlahan matanya mulai terbuka,sinar lampu terang menerpa pandangannya.Bau-bau yang tak asing tercium jelas dalam penciumannya.Ia yakin berada didalam ruangan rumah sakit.
"Ara"
"Aurora"
Panggil beberapa orang yang berdiri disebelah ranjangnya.Ia melihat satu per satu orang yang berada disana.
Mami dan Rafa tampak menggenggam tangan kanannya dengan mata mami yang terus berlinangan air mata.Tampak juga daddy berada disebelah mami dengan menatap dirinya penuh kesedihan.
"Akhirnya kamu sadar dek"ucap mami mengecup berkali-kali tangannya yang tengah tertusuk jarum infus itu.Sudah seharian setelah Ara ditemukan,Ara tak sadarkan diri.
Ia merasakan genggaman juga ditangan sebelah kirinya hingga ia menoleh pada seseorang yang tengah menggenggamnya.
Degh
Air matanya kembali luruh,lelaki itu tampak kacau dengan luka di sudut bibir nya serta memar di pelipisnya.
"Om"batinnya melihat lelaki yang ia cinta.Entah mengapa mulutnya sangat susah untuk berbicara,bahkan untuk terbuka pun tak bisa.
Ia hanya bisa menatap sekeliling dengan linangan airmatanya.
"Papi"batinnya lagi karna ia sadar jika papinya hanya hadir dalam mimpinya.Dan seakrang ia kembali di hadapkan oleh kenyataan jika papi sudah tak berada di dunia yang sama sepertinya.
Rafa pun memecet tombol merah yang berada tepat diatas bankar untuk memanggil dokter.
……
Setelah beberapa menit,dokter pun keluar dari ruangan.
"Bagaimana keadaan putri saya dok?"tanya mami berdiri ikuti oleh Rafa dan lainnya.
Dokter perempuan itu menatap sesaat mami Rain yang sangat menyedihkan itu.
"Silahkan ikut saya keruangan"ucap dokter itu.
Mami dan Rafa saling pandang lalu mengikuti arahan dokter wanita itu.Diikuti oleh Daddy yang juga ingin tau keadaan putri kesayangannya.
"Jaga Ara chef"pinta mami pada chef Rendy sebelum pergi.Chef Rendy langsung meanggukan kepalanya lalu masuk kedalam ruangan tempat Ara masih terbaring lemah.
Dan ketiganya pun ikut masuk ke dalam ruangan dokter itu.
"Jadi dokter,bagaimana keadaan putri saya?"tanya mami penuh kekhawatiran.
__ADS_1
"Keadaannya sekarang sudah stabil,tapi…"sahutnya terputus dengan menghela nafas berat. "Aurora masih syok dengan apa yang terjadi padanya hingga mengganggu saraf dalam tubuhnya,membuat ia tak dapat menggerakkan badannya serta suaranya.Apalagi patahan di pergelangan kakinya sangat parah juga salah satu pemicunya"lanjutnya menuturkan pada mami dan daddy yang juga duduk di hadapan dokter itu.
Tangis mami pecah mendengar penuturan dokter,hati nya sudah hancur saat melihat putrinya malam itu dalam keadaan tak sadar didalam pelukan chef Rendy.Dan sekarang kenyataan kembali menghantam dengan keadaan putrinya yang semakin menyedihkan.
Rafa memeluk tubuh maminya dari belakang,ia pun ikut hancur dengan apa yang terjadi pada saudara kembarnya.Ia tak menyangka kejadian pahit seperti ini menimpa Aurora.
Daddy tampak mengepalkan tangannya.
"Tolong…"ucapnya dengan suara beratnya "Tolong selamatkan putri saya,, bagaimanapun caranya,tolong selamatkan dia"lanjutnya dengan suara berat itu menahan sesak didadanya.
Dokter wanita itu menatap daddy Elang lalu meanggukkan kepalanya "Sudah tugas saya tuan sebagai dokter"sahutnya yakin.
Daddy pun berdiri.
"Jaga mami kamu,Daddy pergi sebentar"lanjutnya lagi pada Rafa yang hanya bisa meanggukkan kepalanya.
Daddy berjalan menyusuri lorong rumah sakit mewah itu dengan keadaan menahan emosi yang memuncak.Ia merogoh sakunya lalu melakukan panggilan pada seseorang.
"Bawa dia ke tempat putriku disekap"ucapnya dengan dingin.Lalu melanjutkan jalannya menuju mobil yang sudah stanby didepan rumah sakit.
……..
Kembali ke dalam ruangan tempat Ara di rawat.Chef Rendy tampak berjalan menghampiri bankar dimana Ara berada.
Rendy menarik kursi yang tadi di duduki oleh mami Rain,lalu ia meraih tangan Ara untuk ia genggam.
"Sayang"panggilnya pada Ara yang kembali memejamkan matanya.
Ia mengecup pelan punggung tangan itu.
"Maafkan aku,maafkan kebodohanku"ucapnya lagi,air matanya pun ikut menetes.
Rendy baru tau kenyataannya jika semua yang terjadi di restoran itu adalah jebakan yang disusun oleh seseorang.Asisten Elang waktu itu menjelaskan semuanya saat Ara tak sadarkan diri.
Meuraiakan semua retetan kejadian yang menimpa Rendy dan Ara secara bersamaan.Dan baru menyadari jika inisial seseorang yang tak asing berada di tubuh lelaki yang membuat kekacauan di dalam restoran,sama dengan inisial beberapa orang yang waktu itu membuat ulah dengan daddy Elang.Mereka baru menyadari semua itu.
Ara tak berani untuk membuka mata,suara-suara bisikan seorang lelaki waktu itu menghantuinya.Tiba-tiba badannya bergetar hebat membuat Rendy langsung berdiri dan memeluk tubuh Ara.
"Sayang...sayang…. Kenapa,sadarlah"ucap Rendy ketakutan dan lengsung memencet kembali tombol merah di atas bankar.
Beberapa saat kemudian dokter bersama perawat serta mami dan Rafa berbondong-bondong masuk untuk melihat keadaan Ara.
Setelah memberikan suntikan penenang oleh dokter,perlahan tubuh Ara kembali tenang dan kembali terlelap dalam tidurnya.
"Sama-sama nyonya.. saya permisi"sahut dokter itu lalu keluar ruangan bersama perawat.
……
"Apa yang terjadi chef?"tanya mami yang berjalan mendekati bankar.
Chef Rendy menggeleng lemah,ia ikut sedih melihat keadaan kekasihnya sangat memprihatinkan seperti ini.
"Pulanglah chef, kau terlihat lelah"ucap mami lagi melihat keadaan kekasih dari putrinya yang sama menyedihkannya.
"Benar kata mami, pulanglah om.. Om terlihat kacau"timpal Rafa yang juga melihat kekacauan diri Rendy.
Chef Rendy menggeleng "Maafkan saya, tapi saya takkan pergi dari sini sampai Ara benar-benar sadar"sahutnya lemah menatap kekasihnya.
"Setidaknya ganti bajumu.. Ara akan kembali sedih melihat penampilan kacau mu ini chef"ucap mami Rain lagi berharap lelaki yang dicintai putrinya ini mau mendengarkan kata-katanya.
Rendy perlahan menurunkan pandangannya,melihat penampilannya sendiri.Dan benar,dirinya terlihat kacau dengan baju kaos berkerahnya yang penuh dengan darah serta robekan di lengan.
Ia menghembuskan nafas kasar.
"Ah, Anda benar.. maafkan saya"ucapnya lalu merapikan rambutnya "Saya tinggal sebentar, tolong kabari saya jika terjadi sesuatu pada Ara.Saya gak akan lama"lanjutnya lalu membungkuk sebentar dan keluar ruangan setelah mendapat anggukan dari mami Rain.
…….
Beberapa saat kemudian,setelah kembali ke ruamh sakit.Alih-alih turun ke lantai dimana ruangan Ara berada,chef Rendy kembali menutup lift dan memencet tombol paling atas gedung.
Pikirannya kembali melayang tentang apa yang terjadi pada malam itu.
...Flashback on ...
Saat bawahan Elang mengepung tempat dimana Ara disekap, dengan komando jentikan tangan saja dari Elang mereka seketika langsung menyerang tempat yang dijaga ketat oleh beberapa orang disana.
Dor
Dor
Dengan santai Elang menarik pelatuk pistol yang entah dari mana dia dapat.Rendy dan Rafa tampak tercengang dengan gerakan cepat dari Elang membuat beberapa orang sudah terkapar di lantai dengan lubang di kepala mereka.
Bugh
Bugh
__ADS_1
Bugh
Mereka saling pukul,saling tendang pada musuh.Bahkan yang membuat Rendy kembali tercengang,Raina yang notabene seorang wanita sangat lihai meayunkan tangannya untuk memukul beberapa orang disana.Membanting orang bak karung beras.
Elang dan Raina saling membantu seolah membuat kelompok dadakan untuk menyerang secara bersamaan.
Semakin mereka masuk suasana didalam gudang tak terpakai semakin mencekam.Digelapnya malam itu ternyata orang didalam gudang itu semakin banyak.Rendy dan Rafa berkelahi dengan keahliannya,semua jurus yang mereka punya pun mereka pakai untuk melumpuhkan para manusia sampah dihadapannya.
Brak
Bruk
Brak
Pyar
Sebuah jendela kaca pecah karna Raina membanting seorang lelaki bertato hingga tertancap pada jendela kaca yang pecah.
Erangan kesakitannya pun terdengar nyaring.
Dor
Dor
Kembali pelatuk pistol itu terdengar nyaring,bukan dari Elang.Tetapi dari Raina yang melihat seseorang tengah meendap-endap dibelakang kerumunan yang terlihat akan menusuk Elang dari belakang.
Seketika lelaki itu tewas dengan darah terkucur deras dari dada dan kepalanya.
"Buka semua ruangan"perintah Elang pada semua bawahannya.Karna semua orang yang menyandra Ara sudah dibabat habis oleh mereka.Terdapat 3 ruangan dalam gudang itu dan daddy pastikan putrinya berada di salah satu ruangan itu.
Raina,Rendy dan Rafa pun ikut mengecek ketiga ruangan itu.
NIHIL
Ara tak ada di satupun ruangan.
Mata Rendy menelisik lebih dalam bekas gudang itu,ia berjalan dan diikuti oleh Rafa dibelakangnya.
"Om itu"tunjuk Rafa pada ruangan disudut sana,sangat jauh dari ketiga ruangan tadi.Tempat itu tertutup oleh peti-peti bekas tempat penyimpanan buah yang tersusun tak beraturan disana.
Tanpa pikir panjang Rendy langsung berlari ke arah belakang tempat ruangan itu berada dan tanpa sengaja ia melihat bayangan seseorang masuk kedalam sana.
Krek
krek
Ia mencoba membuka dan ternyata pintu itu terkunci.
"Kita dobrak"ucapnya pada Rafa yang langsung menyetujui.
Brak
Sekali dobrakan pintu itu terbuka.Pemandangan yang sangat menyakitkan bagi Rendy kembali hadir,ulu hatinya sakit melihat sang kekasih tengah disandra oleh seseorang dengan menodongkan pisau di leher Ara.Rendy memikirkan cara agar bisa meambil Ara tanpa membuat Ara dalam bahaya tapi....
Dor
Tembakan dari orang dibelakang mereka seketika membuat lelaki yang menyadra Ara langsung terjatuh,begitupun Ara.
Rendy langsung berlari menghampiri Ara,memeluk tubuh kekasihnya yang tampak basah.Tqk peduli siapa yang menembak orang itu,sekarang fokusnya hanya pada Ara.Keringat bercucuran sangat tampak disana.Bahkan ia dapat mendengar erangan kesakitan serta tangisan kekasihnya.
"Om"lirih Ara yang dapat Rendy dengar dan dengan cepat ia membuka belitan kain di mata Ara.
"sayang"ucapnya bergetar,Ia terus memeluk tubuh Ara.Jantungnya seakan ditikam saat Rafa mencoba melepas tali pengikat kaki Ara, dan saat itu juga ia dan Rafa terdiam melihat keadaan kedua kaki Ara mengalami robekan parah dengan luka menganga disana.
Ia melihat mata kekasihnya mengerjap-ngerjap pelan dan Ara menangis dalam pelukannya sebelum akhirnya Ara pingsan.
Dengan sekuat tenaga ia meangkat tubuh ringkih itu keluar dari tempat terkutuk itu,berpapasan dengan wanita yang tak lain adalah mama dari kekasihnya yang masih memegang pistol tak jauh dari tempatnya.
"Bawa Ara cepat chef"perintah mami pada Chef Rendy dan langsung diangguki oleh Chef Rendy yang berlari lebih dulu dengan menggendong Ara.
"Sebaiknya mami ikut"ucap Rafa yang masih bisa Rendy dengar.
"Tidak, mami akan disini sebentar..Pergilah kak,jaga Ara"sahut mami Rain.Rafa hanya bisa mengangguk patuh,karna pikirannya sekarang hanya keselamatan adik kembarnya. Ia pun bergegas menghampiri Rendy untuk ikut ke Rumah sakit.
...flashback Off ...
Asap membumbung tinggi diudara,dengan rokok yang kembali Rendy selipkan di bibirnya.Ia masih tak menyangka,jika kejadian semenyeramkan ini bisa terjadi pada kehidupannya.Sejak dulu bahkan ia tak pernah berurusan atau adu pukul dengan orang lain.Tapi sekarang, ia bahkan merasa dirinya dalam sebuah film action.
"Apa keluarga Ara mafia?"monolognya lalu terkekeh dengan pemikirannya sendiri.
Ia meedarkan pandangannya, melihat rooftop yang tak asing baginya.Tempat dimana melihat gadis cantik yang tengah menari dengan penuh kesedihan disana.Gadis yang tanpa sengaja mengikat hatinya.Ia tersenyum.
"Disini,pertama kali kita bertemu"batin Rendy "Aku sangat mencintaimu"lanjutnya .Ia pun menjatuhkan rokoknya,lalu meinjak hingga rokok yang sebelumnya masih menyala pun mati.
Ia tak ingin kembali lengah,ia harus menjaga kekasihnya bagaimanapun caranya.Pelaku utama yang masih belum bisa diungkap membuatnya kembali khawatir dengan keadaan sang kekasih,Ia pun bergegas kembali turun.Tak ingin sesuatu yang tak menyenangkan kembali terjadi.
__ADS_1