
Sepanjang jalan menuju mansion milik daddy Elang,Aurora terus gelisah dengan meremat kuat tangannya sendiri.Beberapa kali Rendy memanggil pun tak dihiraukan.
"Sayang,mami kamu gak akan kenapa napa"ucap Rendy saat dilampu merah,digenggamnya tangan sang kekasih.
Ia pun menoleh "Sungguh? Aku takut mami pergi kayak papi"sahutnya,kejadian kehilangan papinya bahkan masih melekat dalam ingatannya.Ia tak mau jika terjadi sesuatu juga dengan maminya.
"Hhmm,yakin sama aku..Kamu tenang ya"ucap Rendy,ia tersenyum teduh.Meyakinkan kekasihnya agar lebih tenang dan tak memikirkan hal-hal aneh.
Aurora pun tersenyum tipis lalu mengangguk dna kembali mobil milik Rendy pun berjalan.
...….....
Sampai pada gerbang tinggi yang hanya beberapa kali Ara datangi,ia juga melihat sebuah mobil yang tak asing baginya berada disana.
"Itu mobil Rafa kan?"tanyanya pada sang kekasih.
"Iya sayang"sahut Rendy.
"Jadi daddy juga memanggil Rafa"ucap Ara masih dapat Rendy dengar.Dan kedua mobil itu akhirnya masuk beriringan ke dalam mansion.
"Princess"panggil Rafa sudah turun dari mobil dan menghampiri mobil milik Rendy.
Ia membuka pintu penumpang dan Rendy meambilkan kursi roda milik kekasihnya.
"Biar aku gendong princess om"ucap Rafa yang ingin menggendong adiknya agar tak menyusahkan kekasih adiknya itu.
"Gak usah.. Biar aku aja"tolak Rendy,sifat posesifnya bahkan dengan kembaran kekasihnya pun ia tak mau mengalah. "Sebentar"lanjutnya,ia mengangkat kursi roda itu ke atas teras.
Ara hanya bisa geleng kepala dengan sikap Rendy.
"Gitu amat pacar kamu dek"bisik Rafa yang masih berada disebelah Ara.
"Ya gini lah,kalau punya pacar cantik paripurna kayak gue.. Gak mau pacarnya lecet,meskipun yang mau bantuin lo kembaran gue"sahut narsis Ara lalu menjulurkan lidahnya mengejek Rafa.
"Dih"ucapnya merinding sendiri melihat tingkah keduanya.Yang satu narsis dan satunya posesif, cocok.
"Sirik ya,makanya cari pacar dong.Biar ada yang perhatiin"cibirnya.
"Gak minat, yang perlu aku perhatiin cuma kamu sama mami"sahutnya.
"Gitu ya.. Eh,btw Raf.. Lo normalkan?"tanya Ara dengan wajah polosnya.
Ia menatap tajam Aurora"Dek.. Apa-apaan kamu,jelas lah aku normal" sahut Rafa tak terima.
Ara hanya nyengir tak berdosa lalu meangkat tangan kanan melipat tangan V itu.
"Sayang,ayo"tiba-tiba Rendy dengan senyuman indah berlesung pipi itu pun menghampiri.Aurora dengan senang hati mengalungkan tangannya pada leher sang kekasih saat Rendy menggendongnya ala bridal style.
"Gak berat Om angkat dia?"tanya Rafa berdiri tak jauh dari adiknya.
Aurora membulat sempurna,sedangkan Rendy tersenyum lalu menggeleng.
"Lu apa-apaan sih Raf,emang gue gendut"tak trima dirinya dikatakan gendut.
"Ya kan dari badan kamu,kamu kayak melar gitu lho princess.Makan kamu sekarang kan banyak"semakin getol Rafa menggoda sang adik.
"Gak ada ya.. Jangan ngadi-ngadi deh"sahut marah Aurora dengan menatap tajam sang kakak.
"Sayang,emang aku gendut ya?"tanyanya sekarang pada kekasihnya,wajah memelas ia tampilkan dihadapan Rendy.Seakan sedih dengan ucapan Rafa.
Rendy dengan penuh kasih sayang mengelus rambut sang kekasih "Gak kok,kamu gak gendut.Rafa cuma godain kamu aja"sahutnya.
"Tuh dengerin Raf,kata cowok gue aja gak kok"
"Jelaslah..Om kan antisipasi,ntar lu ngamuk lagi sama dia kalau Om chef bilang lu gendut.Gak dapet jatah kan gawat"ucap Rafa sambil tertawa.
"Rafa!!!"teriak Ara membuat Rafa lari lebih dulu dari pada kena amuk adiknya itu.Sambil tertawa ia lebih dulu masuj ke dalam mansion.
Sedangkan Rendy yang merasa pijakan kakinya seakan tak berada ditempat karena teriakan cempreng sang kekasih,hanya bisa menggelengkan kepala karena langsung mendapat serangan sakit kepala.
__ADS_1
"Sayang jujur deh, aku beneran gemuk?"
"Gak sayang,serius deh.. Rafa tu cuma godain kamu,kamu kurus gini dibilang gemuk darimananya.Malah kalau bisa tambahin makan kamu biar ada isinya dikit,disini..disini.. disini...biar montok hehe"sahut Rendy terkekek dengan menunjuk-nunjuk bagian tubuh kekasihnya.
Bugh
Aurora memukulkan shoulder bagnya pada Rendy.
"Om Mesum"ucap kesal Aurora,menatap tajam sang kekasih.
"Aduh..aduh..maaf sayang,cuma bercanda kok"
"Bodo, aku ngambek"
"Kok gitu sih,bercanda ayank"
"Tau ah, ngambek"sahut Aurora lalu menutup dadanya dengan kedua tangannya.
Rendy tertawa karena bisa menggoda kekasihnya ini,sedangkan Aurora yang kesal hanya diam saat Rendy mendorong kursi roda untuk masuk ke dalam.
...…….....
Saat memasuki mansion itu,seperti biasa mereka disambut dengan beberapa pelayan yang menjaga mansion milik daddy Elang.
"Selamat datang chef"ucap salah satu pelayan disana.
"Bertemu lagi kita Dita"sahut Rendy ramah.
Aurora langsung menatap tajam kedua orang yang saling tegur sapa itu,mata seakan mengintimidasi keduanya karena mereka berdua saling melempar senyum.Dilihat dari penampilan dan wajah wanita itu mungkin berumur sekitar 30 tahunan.
Seakan terbakar cemburu,ia memegang roda kursinya itu lalu ia dorong sendiri untuk masuk.
"Sayang tunggu"cegah Rendy
"Lanjutin aja ngobrolnya,kayaknya seru banget.Aku mau masuk"sahutnya jutek,ia kesal dengan kekasihnya itu seolah tebar pesona.
Rendy yang mengira kekasihnya masih kesal karena ulahnya diluar tadi memilih cari aman,tak mendebat gadis kecilnya lagi.Ia pun membantu mendorong kursi roda itu untuk masuk.
Gadis itu melirik tajam pada kakaknya yang santai duduk di sofa.
"Lepas om,aku mau ke tempat daddy.Aku bisa sendiri"pinta Aurora karena ingin mendekati ayah angkatnya itu.
"Udah kamu tenang aja,aku antar"sahut Rendy "Enak aja,meskipun sama daddy kamu pun.Kamu harus berada di pantauanku sayang"batin lelaki tua tak ingat umur itu.
Aurora hanya bisa berdecak,ia masih kesal dengan kekasihnya.
Daddy Elang menghampirinya,memeluk putrinya itu dengan sayang."Gimana keadaan kamu sayang?"tanya daddy.
"Ara baik-baik aja dad.Gimana keadaan mami?"tanyanya masih dalam pelukan daddynya.
"Mami masih istirahat sayang"sahutnya.
"Eheemm" deheman sengaja Rendy membuat daddy mengurai pelukan keduanya.Aurora memutar mata malas karena posesif Rendy mulai tak ingat tempat.
Daddy kembali duduk di Sofa dan Aurora yang di bantu oleh Rendy pun duduk di sebelah daddy atas permintaannya.Karena berada diwilayah atasannya,ia hanya bisa mengikuti kehendak kekasihnya.Meski dalam hati tak terima gadisnya berada di sebelah lelaki lain.
Tatapan permusuhan masih ia layangkan pada kakaknya,sedangkan Rafa tampak acuh karena sekarang ia ditugaskan oleh daddynya melacak nomor yang sering menghubungi mami hingga kejadian tadi terjadi.
"Mami mana dad?"tanya Aurora.
"Mami kamu masih di kamar,dia belum siuman.Tapi tadi dokter udah periksa dan untung tak terjadi apa-apa.Hanya pikirannya yang masih kacau"sahut daddy.
"Apa yang sebenarnya tadi terjadi dad?"tanyanya.
Daddy Elang pun menjelaskan semua yang ia ketahui dari Raina sebelum pingsan.Aurora menyimak dan sesekali menghapus air matanya,gadis ini memang tau keanehan maminya.Dan saat mengetahui keanehan maminya ada hubungan dengan mendiang papinya,membuat hatinya berdenyut sakit.Tak mudah memang ditinggalkan orang yang kita cinta.
"Maaf daddy membaca semua chat mami kamu dengan lelaki itu"ucap daddy tak enak hati.Ia pun meraih ponsel milik mami Rain,lalu membuka sebuah voice note dari lelaki itu.
"Papi"ucap Aurora karena itu memang suara papinya,ia pun masih ingat suara itu. "Dad,itu papi"lanjut Aurora mulai berkaca lagi.
__ADS_1
"Daddy juga mengira seperti itu sayang,jika memang Ray ada daddy akan sangat bersyukur.Setidaknya mami kamu gak akan sedih seperti ini,daddy sakit melihat mami kamu seperti ini"ucap lelaki itu "Tapi sayang,jika memang itu Ray..Ray gak mungkin mencoba mencelakai mami kamu."lanjutnya menjelaskan yang tadi terjadi.
Aurora mengangguk mengerti,meski tak ia pungkiri suara lelaki itu sedikit mengobati rasa rindunya pada mendiang sang papi.
"Rafa dapat identitas lelaki itu dad"ucap Rafa tiba-tiba membuat kedua orang itu langsung menatap Rafa yang berada di sofa seberang mereka. "Dia buronan polisi dad"lanjutnya melihat wajah lelaki itu yang kontras sekali dengan daddynya dan beberapa berita yang menjelaskan jika dia seorang buronan tersangka pembunuhan.
Daddy menerima tab yang diberikan oleh putranya,matanya membulat sempurna karena lelaki itu orang yang sudah beberapa tahun yang lalu ia jebloskan ke penjara karena pembunuhan kanan tangannya.
"Sialan,berarti dia kabur.Kenapa tak ada yang memberitahukan kabar ini padaku"batin daddy mengepalkan tangan hingga buku-buku tangannya memutih.
Daddy meraih ponselnya miliknya,mendial nomor seseorang.
^^^📞"Cepat kesini"teriak daddy dalam panggilan.Ketiga manusia yang berada disana bahkan terjingkat kaget suara menyeramkan daddy Elang.^^^
^^^📞"Atau hari ini jadi hari terakhirmu di dunia ini"teriak daddy lagi dengan nada ancaman yang menyeramkan membuat Aurora menciut,baru kali ini ia melihat wajah menyeramkan daddynya itu.^^^
Wajah yang memerah menahan amarah serta ucapan menakutkan tadi membuat Aurora sadar jika daddynya ini bukan orang sembarangan.
"Elang"panggil seseorang dengan langkah kaki tergesa-gesa membuat semua orang yang berada di ruang keluarga itu menoleh pada pusat suara.
Bugh
Dengan cepat wanita itu memeluk daddy "Kamu baik-baik saja?"tanyanya saat memeluk erat daddy,tak melihat manusia-manusia yang juga berada disana.
Wajah merah padam daddy karena amarah yang sebelumnya seakan ingin tumpah,langsung berubah drastis saat mami Rain berlari menghampirinya lalu memeluk erat dirinya.
Mami mengendurkan pelukannya, menatap wajah lelaki yang tadi dalam mimpinya sedang bertaruh nyawa karenanya.
"Lang jawab aku,kamu gapapa?"tanyanya lagi.
"Kamu mengkhawatirkan aku Rain?"tanyanya balik,seakan tak percaya.Ini kejadian kedua setelah tadi saat berada di tempat kejadian.
"Sudah pasti,kamu luka karena aku"sahut mami menatap khawatir lelaki itu.
Bukannya menjawab,daddy malah menarik wanita itu untuk kembali ia peluk.Untuk sekarang biarkan ia egois,tak mengapa ia terluka jika akhirnya wanita ini khawatir dengan keadaannya ia rela.
Senyum tampak terpancar dari wajah lelaki tua itu,matanya tampak berkaca karena wanita dipelukannya.
"Terimakasih.. Terima Kasih sudah mengkhawatirkanku Rain"
Wanita itu tampak terdiam,ia hanya bisa menepuk pelan punggung lelaki itu.Hingga, ekor matanya tanpa sengaja melihat sosok gadis yang tengah duduk menatap dirinya dengan pandangan tak terbaca.
Degh
"Princess"batinnya dengan mata membelalak kaget,Dengan cepat mami Rain melepas pelukannya.
"Princess"panggilnya,lalu kembali ia mendapati putra nya yang berada tak jauh darinya "Kakak"panggilnya lagi.Kedua anak kembar itu bukannya sedih,keduanya malah tersenyum melihat maminya.
"Kalian ada disini?"tanyanya "Eh,sebentar.. Kita dimana?"lanjutnya yang baru sadar jika ia tak berada dikediamannya,matanya meamati setiap interior rumah yang tak asing baginya.
Mami Rain mendekati Aurora yang duduk tepat di belakang Elang,lalu memeluk putrinya.
"Aku kira mami kenapa-napa karena telfon daddy sebelumnya mengatakan mami tak baik-baik saja,Ara sampai takut.Melihat mami sekarang Ara lega,Bahagialah mi"bisik gadis itu tepat di telinga maminya.
Mami langsung mengurai pelukan mereka,menatap gadisnya yang mengatakan hal aneh untuk ia dengar.
"Apa maksut kamu princess?" Tanya mami
"Princess cuma mau mami bahagia"sahutnya memeluk lengan mami tersayangnya itu.
"Benar apa yang dikatakan princess mi,mami berbahagialah"timpal Rafa.
"Mami selalu bahagia memiliki kalian dihidup mami"sahut mami Rain.Kedua anak kembarnya itu mengatakan hal yang ambigu baginya,ia tak paham dengan maksut keduanya.
"Aw.."erang Elang tiba-tiba
"Kenapa Lang,ada yang sakit.. Kita perlu memeriksanya ke rumah sakit,cepat"ucap khawatir mami langsung berdiri dan melihat kondisi tangan kiri daddy yang sebelumnya cedera.
Kedua anak kembar itu pun tersenyum melihat kekhawatiran maminya pada ayah angkat mereka.Melihat wajah ayah angkatnya yang tak bisa dipungkiri memang tengah bahagia melihat raut wajah khawatir mami mereka.
__ADS_1
"Papi,tanpa melupakan papi.Tolong restui mami,agar mami bahagia.Kami sangat mencintai papi"batin Aurora menatap keduanya.
"Pi,izinkan daddy untuk menemani Rafa menjaga mami dan Aurora.Kami mencintai papi"batin Rafa juga menatap keduanya.