Cinta Sang Balerina

Cinta Sang Balerina
Kedatangan teman


__ADS_3

Beberapa hari pun berlalu,setelah kejadian yang membuat kedua si kembar gempar karena kabar dirinya terluka.Jam masih menunjukkan pukul 6 pagi,hanya beberapa orang dirumah itu yang sudah memulai aktivitasnya.


Seorang wanita tampak termenung di taman belakang kediamannya,segelas kopi hitam dengan asap mengepul di udara tampak menemani paginya. 


"Huh"beberapa kali ia menghembuskan nafas kasar "Bagaimana bisa dia menyimpan semua itu selama ini"gumamnya.Pikirannya kembali menerawang kejadian waktu itu. 


...Flashback...


Mami tampak terperangah melihat isi dari kamar yang ia buka,suara dua orang yang begitu familiar di telinganya terus terdengar dengan layar proyektor yang terus menyala. 


Mami semakin masuk ke dalam,beberapa barang tertata rapi disana.Matanya menatap pigura besar yang berada diatas ranjang,foto dirinya dan Elang tampak serasi dengan gaun putih dan tuxedo berwarna navy. 


Tangannya menggapai beberapa barang dan ia kembali ingat jika barang-barang mewah itu pemberian Elang dulu. 


Sampai pada akhirnya ia melihat sebuah ponsel yang berada di nakas.


"Bukankah ponsel ini milikku dulu"monolognya.Ia meraih ponsel itu dan saat ponselnya menyala,ia dapat melihat foto dirinya kembali bersama Elang yang tengah berfoto selfie berdua disana.


Elang tampak mencium punggung tangannya bersama dengan dirinya yang bersandar dibahu Elang.Ia membuka aplikasi yang ada disana,matanya membesar saat melihat percakapan pesan disana dan ia tak mengingat ucapan janji itu berada disana.


"Janji jangan pernah tinggalkan aku sayang,jangan pernah" 


"Aku berjanji,aku takkan pernah meninggalkan anda tuan Elang" diikuti dengan emoticon love disana,chat terkahir dirinya dan Elang sebelum ia kembali mengingat semuanya.Meskipun itu janji sepele yang ia katakan dulu saat Elang berada jauh darinya,Elang masih mengingat janji itu mungkin sampai sekarang.


Dada nya kembali sesak,ia meraup oksigen sebanyak-banyaknya lalu ia hembuskan kasar.


"Apa karena ucapanku itu kamu tak mau menikah Lang"monolognya.


Belum selesai ia membuka isi ponsel,suara proyektor kembali mengganggu pendengarannya.Layar disana yang menampilkan dua manusia yang tengah bersantai di paviliun.


"Untuk apa kamu merekam semua ini?"tanya gadis itu.


"Supaya bisa aku kenang saat kita tak bersama" 


"Ck.. Selalu,selalu kamu selalu berbicara tentang perpisahan.Jangan pernah berbicara tentang perpisahan sayang,aku gak suka"


"Kita tak tahu takdir tuhan seperti apa,aku hanya antisipasi" sahut lelaki itu merengkuh tubuh kecil kekasihnya.


"Kita takkan terpisah" 


Lelaki itu tertawa "Berjanjilah" 


"Aku berjanji,asal kamu membawakan ribuan bunga lily untukku"sahut Audrey dulu kembali tersenyum.Keduanya tampak saling memandang disana dan beberapa saat video itu terhenti. 


Mami terdiam menatap rekaman tadi,otaknya mulai tak sinkron dan ia hanya diam mematung ditempat.


Cklek


Pintu kamar itu terbuka,mata mami kembali membulat setelah sebelumnya terperanjat mendengar bunyi pintu. 


"Elang"panggilnya lirih.


Lelaki itu tampak diam tanpa menjawab,tapi berjalan mendekati mami.Mata keduanya saling memandang,saat daddy tepat di hadapannya.


"Kau ingat tempat ini Rain?"tanya daddy.Mata yang sering memandang tajam pada orang lain,selalu terlihat teduh jika berhadapan dengan mami. 


"Kamarku dulu bukan,saat aku amnesia"sahut mami dengan terkekeh,ia tak ingin terlihat canggung.


Elang mengangguk,lalu tersenyum "Terimakasih"


"Untuk?" 


"Semuanya,semua kenangan indah"sahutnya "Dan maaf tentang kejadian dimasa lalu,aku sungguh menyesal"lanjutnya,teringat bagaimana dulu ia merusak mami Rain.


"Aku sudah melupakan kenangan buruk itu Lang,jangan ungkit lagi" 


"Maafkan aku Rain"


Mami mengangguk,lalu merasa suasana di kamar begitu canggung "Turun yuk,anak-anak akan memikirkan hal-hal aneh jika kita tidak cepat turun"Mami berjalan mendekati pintu. 


Greb 


Daddy memeluk tubuh mami dari belakang,hingga badan mami terdorong.Untung saja daddy erat memeluknya,mata mami membulat sempurna.


"Aku harap kamu memberi kesempatan untukku,sungguh aku akan gila jika kamu bersama orang lain lagi.Dulu mungkin aku mengalah karena Ray orang terbaik buat kamu dan cinta kalian begitu besar,tapi sekarang mungkin aku gak bisa lagi Rain.Aku masih sayang kamu dan cinta ini masih sama Rain.Selalu sama"ucap pilu lelaki yang bahkan tak pernah menampakkan wajah sedihnya,rapuhnya pada orang lain.Tapi saat ini seakan lelaki itu tengah rapuh serapuh-rapuhnya,hingga tanpa sadar air matanya mengalir dan jatuh tepat di bahu mami. 


...Flashback Off ...


"Aku selalu berharap kebahagiaanmu Lang,tapi kenapa harus ada aku disana.Aku tak mau semua hancur berantakan"batinnya menerawang.Ia menghembuskan nafas berat. 


Ia menatap ke atas,langit begitu cerah dengan sinar matahari tampak terang.


"Aku sungguh masih mencintai Ray,bagaimana bisa aku membuat orang lain bersamaku jika hatiku masih tetap disana.Aku merindukannya"batinnya lagi.Tak ada lagi air mata,hatinya sudah mulai menerima dengan semua yang ada.Insiden sebelumnya membuat ia sadar jika memang suaminya tak ada lagi di dunia yang sama.Tapi untuk kembali membuka hati,mami belum sanggup.


...….. ...


"Permisi nyonya, ada seseorang mencari nona"ucap bibi 


Mami yang sebelumnya melamun,terperanjat karena panggilan bibi. 

__ADS_1


Mami menoleh "Siapa bi? Rendy?"tanyanya,karena siapa lagi yang datang ke kediamannya jika mencari putrinya itu kalau bukan calon menantu nya. 


"Bukan tuan Rendy Nya" 


"Lalu siapa bi?"tanya mami lagi.


"Seorang gadis Nya,katanya teman nona" 


"Mita ya?" Tebak mami lagi.


"Bukan Nya.. Siapa ya tadi,saya lupa juga tanya namanya"sahut bibi tersenyum.


"Dasar si bibi.. Ya Udah,biar saya keluar.Dia udah masuk?"tanya mami lagi.


Bibi tersenyum "Gak mau Nya,dia menunggu di teras depan" 


Mami mengernyit,lalu berjalan menuju keluar menuju teras rumahnya. 


...…….....


"Cari siapa ya?"tanya mami saat keluar.Ia melihat gadis berpenampilan sederhana,ia tampak diam menatap taman depan.


Gadis itu menoleh,berdiri dihadapan mami dengan kantong plastik hitam yang ia bawa.Melihat wajah cantik mami yang terlihat masih muda membuat gadis itu berdecak kagum.Ia jadi tau sekarang,wajah cantik Aurora didapat dari mana. "Sa-saya Ayu nyonya,mau cari kak Ara.. Apa ada?" 


"Nyonya?"beo mami Rain karena baru kali ini ia mendengar seorang gadis memanggil dia dengan panggilan seperti itu. 


"Gak perlu panggil nyonya,saya bukan majikan kamu"sahut mami terkekeh,ia melihat bagaimana gugupnya gadis dihadapannya.


"Temen princess ya?"tanya mami "Em,maksut saya Aurora?"lanjutnya.


Gadis itu mengangguk "Saya adik kelas kak Ara Nyonya em-maksut saya mami, sudah lama kak Ara gak masuk sekolah.Saya jadi khawatir"sahut gadis itu,tangannya saling bertautan gugup.


Mami tampak tersenyum,ia belum pernah menemui gadis seperti ini selain Mita.Malah Mita yang notabene sahabat sang putri seakan hilang ditelan bumi semenjak kejadian mengenaskan yang menimpa sang putri. 


"Masuklah nak,Ara masih tidur.Kita bangunin sama-sama"sahut mami ramah,ia bahkan menggandeng tangan gadis itu membuat empunya terkejut hingga membulatkan matanya.


"Aku belum pernah merasakan dekapan hangat seperti ini selain dari ibu panti"batin gadis yang tengah di dekap mami untuk dibawa masuk kedalam rumah.Matanya menatap kagum dengan interior rumah yang terluhat elegan itu,beberapa bingkai foto besar berada disana membuat ia tau wajah orang tua senior yang ia sayangi.Matanya kembali berkaca-kaca melihat mami Ara yang masih setia menggandengnya.


"Sampai"ucap mami saat sudah berada di ruang keluarga,gadis yang berada di dekapannya tak merespon dan hanya berdiam.


"Kamu menangis nak?"tanya mami saat melihat beberapa tetes air mata gadis itu membasahi pipi. 


Ayu gelagapan,ia langsung menyeka air matanya lalu tersenyum canggung menatap mami. 


"Maafkan saya Nyonya"ucapnya tak enak hati bahkan hingga membungkuk. 


"Jangan terus-terusan memanggil aku Nyonya nak,panggil mami saja.Oke" 


"Tidak pantas kenapa?" 


"Saya bukan siapa-siapa nyonya,saya kesini hanya ingin menjenguk kak Ara."ucapnya. 


Mami tersenyum lagi "Kalau kesini,sudah pasti kamu teman putriku.Dan teman putriku sudah kuanggap seperti anakku,berarti kamu juga.Gak mungkin kan kamu kesini kalau kamu musuh princess?"tanya mami lalu terkekeh. 


Gadis itu hanya terdiam melihat tawa kecil wanita paruh baya yang masih tampak ayu itu.Ia kembali terpesona. 


"Mi"


Panggilan seseorang itu membuat kedua wanita itu menoleh ke belakang,dimana seseorang itu memanggil mami.


Gadis itu membelalakkan matanya,terkejut karena harus bertemu dengan orang yang ia hindari.Ia melupakan itu.Sedangkan Rafa terus berjalan menghampiri maminya,ia belum begitu jelas melihat gadis yang berada di belakang maminya itu.Hingga matanya menemukan wajah tak asing baginya.


"Gadis aneh"tunjuk Rafa pada Ayu yang menyembunyikan wajahnya dari pandangan Rafa.


"Hus..Kakak tangan kamu"timpal mami yang tak suka dengan panggilan anaknya tadi.


Rafa langsung menurunkan tangannya "Maaf mi"ucap sesal Rafa. 


Cup 


"Morning mami"ucap Rafa setelah mengecup pipi sang mami. 


Ayu terkejut melihat sikap lembut lelaki itu dengan orang tuanya,ternyata dibalik dingin sikap lelaki itu ada sikap hangat dan penuh kasih sayang.Tanpa sadar ia merona. 


"Sayang tak perlu malu,kakak Rafa baik kok"ucap mami melihat gadis disebelahnya tampak takut dengan Rafa.


"I-iya nyonya.. "sahutnya tak enak hati. 


"Panggil mami,jangan nyonya"titah mami pada gadis itu dengan senyum cantiknya.


"Ada urusan apa kamu kesini?"tanya Rafa,meski nada nya santai.Ucapannya masih tak enak didengar.


"Kak ada apa sih, santai dong"ucap mami tak suka. "Dia kesini mau cari princess bukan kakak"lanjut mami.Rafa tampak terdiam,ia menatap gadis yang menunduk itu dengan tajam.Sudah lebih dari seminggu gadis ini selalu muncul di sekitarnya,bahkan ia sering mendapati gadis ini mengikutinya.Makanya ia menjulukinya 'gadis aneh'. 


"Kita ke kamar princess yuk,sini mami anter"ajak mami menggandeng kembali gadis disebelahnya itu untuk ke kamar putrinya. 


Ayu hanya bisa meikuti dengan sesekali menoleh dan mendapati mata Rafa yang masih meikuti arah kemana ia pergi membuat Ayu memalingkan wajah lalu kembali menunduk. 


Tok

__ADS_1


Tok


"Princess"panggil mami.


"Princess.. Sayang,ada temen kamu nih"panggil mami lagi masih mengetuk pintu kamar Aurora. "Sayang mami buka ya"ucap mami lagi karena tak ada jawaban dari dalam.


Cklek 


Ia masuk membawa Ayu bersamanya.Wajah Ayu kembali berdecak kagum dengan ornamen di dalam kamar Aurora,meski cahaya hanya masuk dari celah gorden tapi ia masih bisa melihat kemewahan di dalam kamar itu. 


Mami mendekati ranjang putrinya,meelus rambut panjang sang putri dengan sayang. 


"Princess bangun sayang"ucap mami pemuh kasih sayang.Sesekali mencium kening kening Aurora,semua dapat Ayu lihat.


"Keluarga harmonis,andai saja.."batinnya menatap iri pada adegan dihadapannya. 


Eeerrgggg


Aurora menggeliat dan beberapa saat matanya mengerjap-ngerjap dan terbuka. 


"Mami"suara serak Aurora lalu menaikkan kepalanya pada paha mami dan membelit perut mami dengan tangannya. 


"Bangun sayang, ada yang nyari kamu nih"sahut mami kembali membelai rambut panjang putrinya "Kamu ini kayak anak kecil aja,malu tau diliatin temen kamu"


"Temen?"gumam Aurora masih bisa mami dengar.Ia pun mendongakkan kepalanya lalu menoleh ke belakang.  


"Ayu ya"panggil Aurora dengan mata menyipit,mencoba mengingat wajah gadis dihadapannya.


Gadis itu tersenyum lalu mengangguk "Iya kak,kakak masih mengingat namaku"sahutnya senang.


Aurora mencoba bangun dan menyandarkan badannya pada ranjang. 


"Kenapa harus gak ingat,kita kan teman"ucap Aurora dengan senyum cantiknya.


Gadis yang berada di hadapannya tampak semakin mengembangkan senyumnya karena ternyata Aurora menganggapnya sebagai teman.


"Duduk nak"ucap mami yang merasa kasian gadis itu terus berdiri. 


"Emm.. terima kasih nyonya,saya berdiri saja"sahut gadis itu "Ini ada buah buat kakak,maaf kalau cuma ini yang bisa Ayu bawa"lanjutnya menyerahkan kantong plastik hitam digenggamannya. 


"Wah makasih lho.. Gini aja aku udah seneng kamu perhatian sama aku"ucap Aurora,bahkan ia semangat membuka kantongan hitam pemberian Ayu tadi. 


Ayu tampak ikut bahagia karena ia merasa dihargai oleh seniornya itu,tak salah ia mengagumi Aurora. 


Tok


Tok


"Rafa masuk mi"ucap Rafa yang masuk setelah mengetuk pintu kamar Aurora.


Mami,Ara dan Ayu menoleh pada lelaki yang berjalan menghampiri mereka.Ketika mata Rafa menatap Ayu,dengan cepat gadis itu menurunkan pandangannya.


Rafa menoleh sejenak lalu mengalihkan pandangan pada adik serta maminya.


"Morning princess"ucap Rafa mencium kening adiknya lalu mengacak gemas rambut Aurora.


"Morning Raf"sahut Aurora membalas senyuman Rafa.


"Ada apa kak?"tanya mami. 


"Laper mam,sarapan bareng yuk"ajak Rafa tak seperti biasa. 


"Tumben,biasanya juga nunggu mami yang ngajak"sahut mami ikut berdiri.Ia menatap jam,memang sudah waktunya mereka sarapan bersama.Rafa tak menjawab ucapan maminya,hanya diam dengan gaya cool nya. 


Rafa yang melihat adiknya tengah membuka selimut seakan kesulitan langsung mendekati "Sini gue bantu"ucapnya mencoba membantu Aurora. 


"Makasih Rafa"sahut Aurora dan lelaki itu langsung menggendong adiknya untuk pindah ke kursi roda. 


Gadis di hadapannya tampak terkejut dengan keadaan Aurora,gadis itu terdiam. 


"Apa yang terjadi sama kakak?"tanya Ayu mendekat pada Ara,wajah gadis itu tampak khawatir melihat Aurora. 


Ara tersenyum getir,ia menatap gadis yang juga cemas menatapnya. "Inilah aku sekarang,aku sekarang gak bisa jalan",sahutnya dengan memaksakan senyum.Mencoba kuat,jujur saja ia masih belum sanggup melihat orang lain melihat dirinya dengan keadaan seperti ini dengan tatapan sedih.


Mata Ayu membulat sempurna,ia tau jika Ara sakit dari gosip yang beredar di Sekolah.Tapi keadaan Ara yang seperti ini,Ayu benar-benar tak menyangka. 


"Ma-maafkan aku kak..Em,aku gak bermaksut"ucapnya merasa tak enak hati dengan Aurora,saat mendengar jawaban Aurora tadi dengan wajah memaksakan senyum.


"Santai aja"sahut singkat Ara mencoba tersenyum dihadapan adik kelasnya itu.


"Yaudah,ayo kita sarapan bareng"tiba-tiba suara mami memecahkan kecanggungan disana. 


Ayu yang tadinya berdiri didekat Aurora pun menoleh pada mami. "Saya permisi dulu Nyo em-mami.. Saya sudah lega sekarang liat kak Aurora baik-baik saja"pamitnya pada mami Rain. 


"Kok pulang?"tanya Ara "Disini aja,kan hari ini hari minggu.Main disini aja temenin aku"lanjutnya pada Ayu.Gadis itu menunduk merasa tak enak. 


"Iya disini aja,biar princess ada temennya"timpal mami.


"Ta-tapi…"sahutnya belum selesai,mami malah menggadengnya untuk mengajak makan bersama.Dan di susul oleh Rafa yang mendorong kursi roda adik kesayangannya.

__ADS_1


"Jangan menolak ajakan mami Ay,kamu gak bakal menang"cletuk Ara dari belakang lalu terkekeh,Ayu menoleh sebentar dan tersenyum tipis.Tapi saat ia menemukan wajah lelaki yang juga menatapnya membuat nyalinya ciut dan langsung menunduk. 


__ADS_2