Cinta Sang Balerina

Cinta Sang Balerina
Tak bisa menerima kenyataan


__ADS_3

Jangan dikira pengusiran Rendy itu membuatnya menyerah, lelaki itu malah duduk di bangku depan ruangan Ara menginap. 


Ia duduk merenungi semua kata-kata yang keluar dari mulut gadisnya.Bahkan ia masih mendengar tangisan menyayat hati dari kekasih kecilnya. 


"Maaf…maaf"rapalnya lalu mengusap wajahnya kasar. 


Tak lama kemudian seseorang tengah menepuk bahunya,membuat ia pun mendongak. 


"Minum om"ucap lelaki yang tak lain saudara kembar dari kekasihnya.Rendy pun menerima air mineral itu dan meneguknya.


Rafa pun duduk disebelah Rendy berada. 


Hening.


"Maafkan sikap Ara tadi ya om"ucap Rafa dengan tatapan lurus kedepan.


Rendy menoleh. "Saya yang salah,tak bisa menjaga Ara"sahutnya sendu.


Rafa menghembuskan nafas kasar. "Bukan saatnya saling menyalahkan, aku pun ikut andil bersalah disini.Karena aku saudara laki-lakinya yang seharusnya menjaga dia."ucap Rafa ikut merasa bersalah. 


Rendy hanya bisa menyandarkan badannya pada dinding. 


"Bagaimana dengan keadaannya Raf?"tanya Rendy.


"Alhamdulillah dia sudah tenang"sahut Rafa "Tapi, mungkin dia gak bisa jalan lagi.Karena, luka di pergelangan kakinya cukup parah"lanjut Rafa membuat badan Rendy menegang.


Degh!


Jantungnya berpacu cepat.Ia langsung menatap Rafa,memastikan ucapan Rafa itu hanya bohong.Tapi tak ada kebohongan disana.Lelaki muda itu bersungguh-sungguh dengan kata-katanya.


Tanpa bisa ditahan,air mata Rendy pun mengalir deras.Ia membayangkan bagaimana terpukulnya sang kekasih karna kenyataan ini.


"Huhuhu….huhuhu…Ya Tuhan"tangis Rendy,menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. 


Rafa menepuk-nepuk pelan bahunya,mencoba menenangkan Rendy yang terpukul itu. 


"Semua salahku.. semua salahku,ya Tuhan sayang"racau Rendy masih menangis. 


"Gak om,semua sudah takdir dari Tuhan.. Tolong om kuat,aku takut Ara semakin terpuruk kalau kita semua sedih dihadapan dia"ucap Rafa.Bukan hanya Rendy yang terpukul tapi dirinya,mami dan Daddy pun terpukul dengan keadaan Ara yang seperti ini. 


Rendy tak merespon ucapan Rafa,ia masih menangisi kemalangan yang terjadi pada kekasihnya. 


Tak lama kemudian,suara derap kaki beberapa orang terdengar membuat Rafa menoleh pada arah suara.


"Om,tante"ucapnya lalu berdiri dari duduknya.Ia melihat Tante Ines dan Suaminya datang tergopoh-gopoh setelah mendengar kemalangan yang terjadi pada keponakan kesayangan mereka.


"Rafa"panggil tantenya dan langsung memeluk keponakannya itu. "Yang sabar ya kak"lanjut tante Ines menangis dipelukan Rafa.Ia tak menyangka kejadian menyakitkan seperti ini kembali terjadi pada keluarga adiknya itu,lebih tepatnya pada keponakannya.


"Iya tante,sudah takdir dari tuhan untuk keluarga kami."sahut Rafa,membuat tante Ines kembali meneteskan air matanya.Keponakannya ini memang memiliki sikap lebih dewasa dan selalu bisa menyembunyikan perasaannya.Om Willy pun menepuk pelan punggung keponakannya itu bersama sang istri,mencoba memberi kekuatan untuk sang keponakan.


Tiba-tiba ekor mata Om Willy menemukan sosok laki-laki yang tengah menutup wajahnya.Isak tangisnya terdengar lirih dan masih bisa didengar oleh ketiganya.


"Siapa dia Raf?"tanya Om Willy penasaran.Jika dilihat dari penampilannya,lelaki itu tak mungkin seumuran dengan kedua keponakannya.


Rafa mengurai pelukannya dengan sang tante,Ia menoleh menatap Rendy yang masih terpukul itu bersama dengan tante Ines.


"Dia kekasih Ara"ucap Rafa membuat kedua orang tua itu menatap lekat Rendy. "Biarkan dia dulu Om,Tan… Kita masuk dulu"lanjutnya karna tak ingin membuat Rendy malu dengan keadaannya jika dikenalkan dengan keluarganya dalam keadaan buruk seperti ini. 


Kedua orang tua itu hanya mengangguk setuju dan berjalan masuk kedalam ruangan tempat Ara dan mami berada. 


...…….....


Tangis mami pecah saat kakaknya itu masuk kedalam ruangan,mami berlari menghampiri mbak Ines dan langsung memeluk kakak keduanya itu dengan erat.


"Hiks...hiks...mbak,kenapa semua ini terjadi sama keluargaku..hiks..kenapa harus Ara,kenapa gak aku aja hiks..hiks…"mami terus menangis dengan racauannya dalam dekapan sang kakak.Sungguh ia sangat terpukul tapi harus terlihat tegar disaat yang bersamaan.Ini sungguh menyesakkan.


Akhirnya kedua wanita dewasa itu menangis bersama dengan saling berpelukan.Sedangkan Rafa yang masih dirangkul oleh Om Willy berada di belakang kedua wanita itu.Dan Ara masih damai didalam tidurnya,karna pengaruh obat penenang yang diberikan oleh dokter tadi.


...…...


Setelah beberapa saat kedua wanita itu tenang,mami mengajak kakaknya itu lebih mendekat agar bisa meluhat kondisi putrinya.

__ADS_1


"Ya Tuhan,kesayangan tante.. "ucap tante Ines dengan bibir bergetar menahan tangisnya.Mata bengkak karna tangisan Ara tadi masih tercetak jelas disana,tangan tante Ines terulur untuk merapikan anak rambut sang keponakan.


Sedangkan mami lebih tenang,duduk disebelah bankar dengan menggenggam tangan sang putri. 


"Besok emak sama bapak datang,kamu sama Rafa bisa istirahat sekarang.. Biar mbak sama mas mu yang jaga Ara"ucap mbak Ines pada mami Rain.


"Aku gapapa mbak"sahut mami "Kakak kamu istirahat aja,besok sekolah kan.."lanjut mami menyuruh sang putra untuk istirahat. 


"Aku gak akan ke sekolah mih,aku temenin mami disini"ucap Rafa.


"Kak…" 


"Mih,cuma aku yang bisa mami andalin.. Aku cowok satu-satunya,biarin aku berguna buat keluarga kita sebagai pengganti papi"sela Rafa.


"Makasih ya kak"Mami Rain terharu melihat putranya yang begitu menjaga sang adik bahkan rela izin tak masuk sekolah.Padahal ia murid teladan di sekolah.


"Sudah tugas Rafa jaga mami sama Ara mih.. mami gak usah bilang makasih sama aku"ucap Rafa memeluk mami Rain dan dibalas pelukan oleh mami Rain.Tante Ines terharu melihat kasih sayang yang diperlihatkan oleh keluarga adiknya itu.


Tiba-tiba mami mengingat sesuatu.


"Apa chef masih ada didepan kak?"tanya mami pada Rafa membuat tante Ines menatap adiknya itu.


Rafa mengangguk.


"Kasian dia,pasti dia tertekan dengan ucapan Ara"sahut mami membuat tante Ines mengernyit.Ia penasaran dengan lelaki dewasa tadi.


"Siapa dia Rain? Benar kata Rafa,dia kekasih Ara?"tanya tante Ines pada mami. 


Mami Rain mengangguk.


Tante Ines ikut terdiam,tak ingin melanjutkan lagi obrolan ini.Karena ia tau keponakannya ini juga mengalami kegagalan percintaan dan dirusak oleh sepupunya sendiri.


"Malangnya kamu sayang"batin tante Ines kembali mengelus rambut sang keponakan.


...….....


Seminggu berlalu,Ara yang dirawat intensif oleh dokter pribadi yang diutus oleh daddy Elang akhirnya bisa kembali pulang.


Suara putaran dari kursi roda yang ia gunakan terdengar nyaring ditelinganya,Rafa dengan setia menjadi pengganti kaki miliknya yang sudah tak berguna lagi. 


"Selamat datang kembali dirumah adikku"ucap Rafa saat berhenti ditengah rumah.Ia memeluk bahu sang adik dengan penuh kasih sayang.Mengecup puncak kepala sang adik.


Mata Ara berkaca-kaca,bibirnya melengkung dengan bergetar.


"Mau ke kamar?"tanya Rafa.


Ara menggeleng,membayangkan bagaimana caranya ia naik ke lantai dua membuat hatinya kembali sedih.


Mami Rain yang tak berada jauh dari kedua putra putrinya itu pun mendekati keduanya.Ia pun berjongkok dihadapan Ara. 


"Maafkan mami ya sayang"ucap mami menatap sang putri.


Ara menggeleng dengan menarik kembali bibirnya keatas.


"Ara ikhlas mih,mami gak salah"sahut Ara.


Mami memaksakan bibirnya tersenyum dengan mengangguk,ia tau saat ini putrinya tengah berbohong.Ara sepertinya saat dulu,ia melihat dirinya di diri putrinya itu.Ada kesedihan yang mendalam dan rasa trauma berat disana.


Tapi sang putri selalu menolak untuk terapi dengan psikiater.


Mami memeluk tubuh putrinya,berkali-kali mendaratkan kecupan penuh kasih sayang dan rasa syukur masih bisa bersama permata hatinya.


Prok.. prok...prok… 


"Ayo udah yuk sedih-sedihnya, selamat datang cucu eyang yang cantik"suara wanita tua yang masih terdengar cempreng meskipun di umurnya yang sudah menginjak 70 tahun itu.Jiwa muda emak masih melekat di diri emak.


Keduanya menoleh pada wanita tua yang berjalan dengan pelan menghampiri mereka.Mami pun bangkit dan tersenyum ramah melihat emak Jenab kesayangannya. 


"Cucu eyang mau makan apa?"tanya Emak yang berdiri disebelah kursi roda sang cucu.Tangannya tengah di genggam oleh tangan Ara. 


Ara menatap wanita tua itu lalu tersenyum "Ara gak mau makan eyang,mau santai aja teras belakang"suara serak Ara dengan bibir kering itu menjawab.

__ADS_1


"Serius nih.. Kan makanan di rumah sakit gak enak tuh? Katanya cucu eyang ini kangen masakan eyang? Ntar nyesel lho kalo dihabisin sama Rafa" ucap eyang lagi sambil tersenyum.


"Ck.. gak mungkin, kan Rafa sekarang udah sayang sama Ara.Gak mungkin Rafa habisin"sahut Ara lagi mulai tersenyum dengan gaya manjanya. "Iya kan Raf?"tanyanya menoleh pada Rafa yang berada di belakangnya.


Rafa tersenyum lalu mengangguk teduh melihat adiknya.


Mami Rain tersenyum melihat kedua putra putrinya yang tampak saling menyayangi itu.Tapi hatinya juga sedih melihat keadaan sang putri seperti ini. Bukan hal mudah bagi mami menerima semua kejadian yang begitu memilukan untuk keluarganya,setelah kehilangan sang suami sekarang keluarganya kembali ditimpa musibah dengan kejadian sang putri.


"Yaudah, Ara kesana ya mih.. Eyang"pamitnya pada keduanya. 


"Biar aku anter Ara dulu"ucap Rafa.


"Gak usah Raf, aku bisa sendiri"sela Ara saat Rafa ingin mengantar dirinya. 


"Biar aku yang antar dek.."paksa Rafa,karna ia tau jika Ara sama sekali belum bisa dan belum terima dengan keadaannya yang sebenarnya. 


"Raf.. aku bisa sendiri,oke.. please"pinta Ara mengiba pada sang kakak.


Rafa yang hendak kembali menjawab ucapan Ara langsung dicekal tangannya oleh sang mami agar berhenti mendebat ucapan Ara.Dan Rafa hanya bisa menghembuskan nafas kasar membiarkan adik kesayangannya menjalankan sendiri kursi roda yang menemani gadis itu semingguan ini. 


Akhirnya Ara dibiarkan untuk sendiri,air mata mami tanpa sadar kembali mengalir melihat betapa tertatihnya sang putri dengan bantuan kursi roda menuju ke teras belakang dekat dengan kolam renang keluarganya. 


...……....


Beberapa kali Ara menghembuskan nafasnya,setelah sampai pada teras dekat taman Ara memberhentikan langkahnya.Karena ia sadar jika tak bisa turun ke taman untuk mendekat dengan kolam. 


Semingguan ini bukan waktu yang singkat,semingguan ini sangat panjang ia lalui.Apalagi ia harus menghindari orang-orang yang ia sayang.Ia malu akan keadaannya. 


Ia menengadahkan tangannya,melihat telapak tangannya yang masih mulus dan punggung tangan yang masih ada bekas infus itu. 


"Maafkan tangan,aku saat ini akan terus menyusahkanmu"monolognya melihat kedua tangan miliknya.


Kenyataan pahit ini sungguh membuat Ara hancur, impiannya dan papi untuk bisa menjadi sosok giselle pun sirna begitu saja dalam sekejap mata.


"Maafkan Ara pih, Ara tak bisa mengabulkan impian papi.Maaf"batinnya kembali sedih,air matanya kembali menetes.


Kembali dengan cepat ia menghapus bekas air matanya,ia tak ingin keluarganya tau ia lemah.Ara pun mengedarkan pandangan,melihat tempat-tempat yang biasa ia jadikan tempat bersantai tak bisa lagi ia jangkau.Melihat paviliun yang biasa ia dan keluarganya berkumpul saat papi masih ada.Melihat pintu ruangan yang biasa ia gunakan untuk latihan dan sekarang tak bisa lagi ia gunakan untuk latihan.


Ia pun kembali menghembuskan nafas kasar,pandangannya pun teralihkan pada kursi panjang yang pernah ia gunakan untuk memeluk sosok yang dalam semingguan ini bak hilang ditelan bumi itu pun terlihat dimatanya.


"Huh.. bahkan aku masih merindukannya"gumamnya,tiba-tiba ia merasakan nyeri yang hebat di dadanya.Bukan hal yang mudah baginya untuk menghilangkan perasaannya pada orang yang sangat ia cinta itu,bahkan cintanya semakin bertambah setiap harinya meski ia sendiri yang mengakhiri kisah cinta mereka.


Mengingat begitu kejamnya ia menyalahkan kesalahan yang bahkan tak pernah dilakukan lelakinya.


"Maafkan aku.. hiks.. hiks.."tangisnya kembali pecah,perasaannya sekarang semakin kacau mengingat kejadian yang ia lakukan waktu itu. 


...……...


Satu jam berlalu, Rafa,mami dan Eyang sudah berulang kali membujuk Ara untuk istirahat.Tapi Ara menolak,gadis itu tetap pada keinginannya untuk menyendiri.


"Princess"panggil seseorang yang masih Ara ingat suara itu dan tepukan seseorang di bahunya membuat Wra memejamkan sejenak matanya.


Ia menoleh.


"Kak Vella"panggilnya memaksakan senyum,sungguh ia saat ini tak ingin bertemu dengan siapapun.Tapi pandangannya beralih pada seseorang yang tangannya tengah tertaut dengan senior baletnya itu. 


Degh!


"Om"panggilnya lirih dengan mata berkaca-kaca "Kalian…"lanjutnya tak dapat melanjutkan kata-katanya tapi dapat Vella tangkap ucapan Ara. 


Gadis itu mengangguk dengan senyum manisnya.


... 💙💙💙💙💙...


...Selamat Tahun Baru ya semua 💙...


...Maafin amma udah lama ngilang,doain ya mood nya kembali balik buat nulis 🥰...


...Terimakasih yang masih setia sama cerita Ara sm Om Rendy 💙...


...Amma sayang kalian 💙💙...

__ADS_1


__ADS_2