Cinta Sang Balerina

Cinta Sang Balerina
Audrey (mami daddy)


__ADS_3

Mendadak suasana menjadi canggung antara mami dan Daddy Elang,keduanya masih berdiri dan tak ada dari satu pun yang ingin beralih. 


"Eheeemm"dehem Ara geli melihat tingkah kedua orang tua itu. 


Mami tampak gelagapan,tapi tangannya masih saja memegang lengan daddy yang tadi cidera. 


"Mami ambilkan minum buat kamu"ucap mami Rain pada putrinya.


"Biar pelayan yang meambilkan minum Rain"cegah daddy seakan tak ingin wanita itu menjauh darinya.


"Biar aku saja"ucap mami tak ingin di cegah.


"Kamu masih tampak lelah,sebaiknya kamu duduk saja.Akan ku panggilkan pelayan" 


Mami terkekeh "aku tidak apa-apa Lang,kamu berlebihan"ucap mami lagi,lalu tanpa menunggu sahutan dari daddy ia pun pergi dari hadapan mereka.


Daddy tampak menarik nafas panjang lalu ia hembuskan sedikit kasar,ia duduk disebelah putrinya.Tapi masih tak menyadari jika mereka yang ada disana tengah menatapnya.


"Dad,berjuanglah.. Aku yakin mami akan luluh jika daddy terus menempel padanya"goda gadis itu lirih.Mencondongkan badannya pada Daddy Elang seraya berbisik tadi. 


Lelaki tua itu pun menoleh kesamping,menatap manik mata berwarna coklat yang mirip sekali dengan mendiang sahabatnya Ray tengah tersenyum manis padanya. 


"Apa yang ada dipikiranmu princess?"tanyanya sambil mencubit hidung mancung sang putri.Ia tau jika putrinya mengatakan seperti itu karena gadis itu sudah mengetahui tentang apa yang terjadi di masalalu,tapi untuk putranya.Ia malah takut jika putranya tau malah membencinya,mengira ia mencurangi mendiang papinya.


"Sama seperti apa yang ada dipikiran daddy"sahut Aurora menggoda.


"Kita sangat tak keberatan jika daddy memang ingin menjalin hubungan lebih serius dengan mami dad"cletuk lelaki muda dihadapannya membuat daddy Elang terkesiap. 


Lelaki tua itu menatap lekat putra angkatnya yang juga tengah tersenyum menatapnya.Kembali,manik mata coklat itu menyapanya.Lelaki itu terdiam.


Prang 


Suara pecahan terdengar dari arah belakang,membuat semau orang yang berada disana terkesiap. 


Rafa dan daddy Elang langsung berlari menghampiri pusat suara,sedangkan Ara yang kesusahan dibantu Rendy untuk kembali duduk di kursi roda.


"Maaf aku selalu merepotkan" 


"Tidak pernah,tak ada kata merepotkan untuk semua yang bersangkutan denganmu sayang.Aku mencintaimu"sahut serius Rendy dengan tersenyum


Blush 


Pipi gadis itu seketika merona.Rendy pun terus mendorong untuk mengikuti langkah Rafa dan daddy Elang tanpa tau gadis nya yang tak bisa berkutik karena ucapannya.


...….....


Beberapa saat setelah mami berada di dapur bersih.


Ia melihat semua ornamen yang berada disana,desain mewah dengan gaya eropa itu tampak begitu familiar. 


"Kenapa semua seperti pernah ku lihat" gumamnya.Ia meneguk air dingin yang berada didalam kulkas setelah menuangnya ke gelas.


"Nyonya" sapa salah satu wanita dengan berpakaian seperti pelayan.


Rain yang terkejut pun terperanjat lalu memutar badannya menatap wanita yang tadi menyapa.Sapaan dengan bibir yang terus melengkung dari wanita paruh baya itu membuat Rain juga membalas dengan senyuman yang sama.


"Ada yang anda butuhkan Nyonya?"tanyanya sopan


"Tidak,aku hanya ingin minum"sahutnya.


Wanita tua itu tersenyum lalu meangguk "Saya senang karena bisa kembali melihat anda.Saya kira takkan pernah melihat anda lagi setelah kejadian dulu"


Degh


Dada mami seakan berdegup kencang,lalu ia kembali mengedarkan pandangannya tapi masih saja belum mengingat dengan jelas tempat ini.


Mami tersenyum lalu ia berpamitan untuk kembali ke ruang keluarga dengan membawa segelas air putih untuk putrinya.


"Permisi,saya mau ke depan"ucapnya pada wanita itu,ia berlalu melawati wanita yang tengah membungkuk hormat padanya.

__ADS_1


"Silahkan nyonya AUDREY"sahut wanita itu yang masih dapat Rain dengar meskipun sudah berjalan melewati meja makan yang tak jauh dari tempatnya semula.


Ia terdiam ditempat,kembali menatap benda-benda diahapannya.Matanya membulat sempurna,ia baru sadar jika ini mansion yang Elang belikan dulu untuknya.


Prang 


Gelang yang ia pegang pun terjatuh tanpa sadar.


"Kenapa aku baru sadar sekarang"ucapnya lirih.


Bayangan saat ia mengingat semua nya dulu kembali hadir,bahkan amukan Elang yang menakutkan hadir di pikirannya saat ini.Semua seakan hening tanpa suara,hanya bayangan-bayangan masalalu yang terlintas disana.


Sampai ia merasa tubuhnya ada yang mengguncang membuat ia terkesiap lalu tersadar dari lamunannya.


"Mami baik-baik saja?"tanya khawatir putra tampannya.


"Astaga, apa yang terjadi Rain?"lanjut tanya lelaki yang berada dalam ingatannya tadi,Daddy mendekati dan melihat wanita yang juga tengah menatapnya lekat.


"Mami gapapa kak"sahutnya menoleh ke arah putranya lalu tersenyum "Maafkan aku,memecahkan gelasmu Lang"lanjutnya kembali ekarah lelaki yang juga menatapnya.Mami berjongkok mencoba membersihkan pecahan gelas disana.


"Biar pelayan membersihkannnya Rain,nanti kamu terluka"cegah daddy.


"Gapapa biar aku aja"sahut mami Rain masih mencoba membersihkan.Rafa pun berjongkok ikut maminya membersihkan serpihan kaca.


"Aww.."erang mami saat tanpa sengaja ia tertusuk kaca gelas itu.


Daddy langsung menarik tangan mami "Sudah ku katakan jangan membersihkan ini Rain,aku mempunyai banyak pelayan yang tugasnya membersihkan semua yang ada di mansion ini.Ini tugas mereka,bukan tuganmu.Berapa kali aku harus mengatakannya.Lihat sekarang kamu terluka"ucapnya marah,rasa khawatir yang berlebihan membuat Daddy tanpa sadar meninggikan suaranya berbicara dengan mami. 


 "Aku bisa mencabutnya sendiri"sahut mami tak enak melihat Elang yang mengamuk seperti ini.Ia mencoba menarik tangannya.


"Diam,atau luka ini semakin parah Rain" ucap daddy dengan tatapan mata tajam menatap wanita dihadapannya.Dengan perlahan ia mencoba mencabut pecahan kaca itu dari ibu jari milik Raina. 


Erangan kembali terdengar saat daddy menarik serpihan itu. "Apa begitu sakit?"tanyanya sekarang melemah,dengan tatapan khawatir.


"Tak lebih sakit dari melahirkan Lang,kau begitu berlebihan."sahut mami mencoba mencairkan suasana.


"Tak pernah aku melakukan hal yang berlebihan jika menyangkut tentang kamu Rain,semua murni memang seperti apa yang aku ingin lakukan.Kau tau itu dan selalu ingat itu"ucap lelaki itu membuat mami terdiam.


Tak jauh dari mereka,Aurora tampak menghentikan laju kursi roda yang didorong sang kekasih.


"Lihatlah,mereka berdua begitu menggemaskan bukan?"ucapnya pada sang kekasih.


"Kamu benar sayang"sahut Rendy.


"Aku yakin papi takkan marah pada kami karena ingin menyatukan mami dengan daddy.Aku yakin papi bahagia,bukan begitu Om?"tanyanya mendongak pada Rendy lagi.


Rendy meangguk "Kamu benar,pak Rayyan pasti juga setuju dengan rencana kalian.Aku juga tau bagaimana beliau sangat mencintai istrinya itu.Mungkin sekarang dia gelisah karena harus meninggalkan istri yang ia cinta sendiri dan dengan rencana kalian,aku juga yakin dia disana sangat lega dan tenang."sahutnya merengkuh tubuh kekasihnya dari belakang."Aku tau kegelisahanmu sayang,aku yakin papi kamu bahagia sekarang."lanjutnya mencium puncak kepala sang kekasih. 


Aurora mengelus lengan sang kekasih yang memeluknya,hatinya kembali tenang.Kekasihnya ini begitu tau apa yang membuatnya gelisah.


"Makasih selalu ngertiin aku Om" 


"Hhmm, harus berapa kali aku meingatkan agar jangan memanggil dengan panggilan itu.Jika terus seperti itu,jangan marah kalau aku menciummu di hadapan mereka"bisiknya tepat di sebelah telinga Ara membuat gadis itu merinding dan matanya membulat sempurna.Ia tau kekasih tuanya ini tak pernah main-main dengan ucapannya.


"Aku masih belum terbiasa"sahutnya tanpa melihat ke sebelah,padahal dengan melirik pun ia dapat melihat hidung kekasihnya yang begitu dekat dengan wajahnya.


"Semua akan menjadi biasa kalah kamu membiasakan sayang" 


"Oke..Oke.. aku coba nanti" 


"Sekarang" 


"Sekarang apa?" 


"Panggil sayang" 


Aurora menghembuskan nafas kasar,lalu menggelengkan kepala.Ia harus sabar menghadapi lelaki yang sepertinya mengalami puber kedua itu. 


"Sayang"panggilnya. 

__ADS_1


Dapat ia lihat,senyum kekasihnya kembali merekah dengan lesung pipi manis bertengger di pipi milik Rendy.


"Ceh,hanya seperti itu sudah membuatnya bahagia.Dasar tua"batin Aurora tapi tak ia pungkiri jika ia bahagia dengan sifat manja kekasihnya itu.


...…… ...


Setelah tragedi tadi,sekarang mereka kembali duduk di ruang keluarga.Menunggu salah satu pelayan yang  daddy untuk mengambil p3k.


"Ini tuan"ucap wanita itu dna menyerahkannya pada daddy.


"Lang,jangan konyol.Ini hanya luka kecil,gak usah sampai di perban seperti ini"sahut mami melihat daddy yang mengeluarkan perban dari dalam kotak itu.


"Luka kecil pun bisa jadi besar jika tak lekas ditangani Rain,bisa saja luka ini infeksi"ucap daddy yang kembali serius."Ini akan sakit,jadi tahanlah"lanjutnya menarik tangan mami dan meneteskan obat merah pada luka yang sangat kecil itu.Bahkan melupakan jika tangannya juga tengah cidera.


"Aawww….aaawwww….aaawwwwww….."teriak mami Rain histeris membuat semua bingung dan khawatir. 


"Rain,sangat sakitkah? Perlu kita bawa ke dokter?"tanyanya khawatir.


"Mami,apa begitu sakit?"timpal Rafa juga khawatir.


"Kita ke rumah sakit dad,mami sepertinya kesakitan"timpal kembali Aurora yang juga terlihat panik menatap wajah maminya yang seakan menahan sakit.


Mami masih menunduk dan


"Buahhahahahahaaaa…. Ada apa dengan wajah kalian? Kalian kira aku cengeng,hanya karena luka ini kesakitan.Bahkan ini tak sebanding sakitnya dengan dulu saat kecelakaan sampai membuat kakiku patah"ucap mami dengan terus tertawa.Membuat orang di sekitarnya panik membuat mami memulai aktingnya.


"Mami membuat kami khawatir"sahut Rafa mendekati maminya,merengkuh wanita paruh baya dari belakang.Ia sandarkan kepalanya pada bahu maminya.


Mami mengelus tangan putranya "Salahkan daddy kamu yang selalu berlebihan.. Kau lihat kak,wajahnya seperti manusia tanpa darah.Seperti itu saja sudah pucat"ucap mami pada putranya,lelaki dihadapannya memang tengah terdiam dengan pandangan yang sulit diartikan.Rafa pun sekarang menatap daddynya dan benar lelaki tua itu nampak pucat.


"Hey Lang,hentikan wajah menyedihkan mu.."guncang mami yang melihat tak ada pergerakan dari lelaki dihadpannya.


Daddy Elang terkesiap,lalu tersenyum kaku melihat tingkahnya sendiri. 


Mami pun mulai beranjak dari duduknya,lalu melihat sekitar ruang keluarga yang cukup luas.Bahkan ia baru sadar jika tempat ini bisa dijadikan lapangan futsal saking luasnya.


Ia menatap beberapa vas rangkaian bunga lily berada disana,di meja tv,di sudut sofa, di jalan penghubung antara ruang tamu pun ada.Tanpa sadar bibirnya melengkung. 


Mami menatap jam tangan mewahnya,matanya membulat menyadari sudah jam berapa sekarang.


"Astaga,aku harus kembali ke resto"ucapnya,lalu clingak clinguk mencari beberapa benda miliknya. 


"Ada apa mam?"tanya Aurora melihat kebingungan maminya.


"Lang dimana dompet,kunci motor dan ponselku?"tanyanya.


"Dompetmu ada di dalam kamar yang kamu tempati Rain,ponselmu ada disini"sahut daddy,menunjuk ponsel yang berada di meja itu.


"Kau apakan ponselku?"tanya mami menyelidik.


"Tidak ada..Hanya ada yang perlu di diselidiki sedikit" 


"Aku tak pernah menyangka kau selancang itu Lang" ucap mami marah.


"Mi,jangan marah pada daddy.Rafa yang meminta Daddy mencek ponsel mami"timpal Rafa tak ingin maminya marah pada ayah angkat mereka.


Pandangan mami beralih pada Rafa,mimik wajah putranya begitu serius.Ia pun terdiam kembali. 


"Aku akan meambil dompetku"mami mealihkan pembicaraan,tak ingin lagi membahas hal tadi yang membuat kecanggungan semakin terasa disana. 


"Kamar sebelah pintu warna putih Rain"ucap daddy melihat mami Rain yang mulai menaiki tangga.Mami menoleh sebentar lalu mengangguk dan melanjutkan jalannya.


Matanya menatap seluruh ruangan yang ada beberapa pintu dengan warna senada,tapi pandangannya tertuju pada pintu warna putih yang berada di paling ujung. 


"Berarti ini"gumamnya menatap pintu warna emas yang berada di sebelah pintu warna putih.Saat hendak membuka,mami malah melirik pada pintu disebalahnya.


"Kenapa mataku terus menatap pintu itu.Lupakan,lupakan.. kenapa kau ingin tau urusan orang Rain"monolog nya lalu masuk kedalam dan meambil dompet yang ia cari.Ia menatap ornamen disana,sangat seperti pribadi Elang yang berpenampilan mewah setiap saat. 


"Semoga kau gak marah padaku Lang,maaf aku lancang dan amat sangat penasaran"monolognya saat keluar dan menutup kembali pintu itu,lalu bergeser ke pintu sebelahnya. 

__ADS_1


Cklek 


Matanya membulat sempurna dengan menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya melihat isi dari kamar itu. 


__ADS_2