
Ditinggal keluarga ke Rusia untuk mengurus pernikahan mami dan calon daddy nya itu tidak membuat Rafa santai-santai,banyak tanggung jawab yang harus ia selesaikan disini.Lelaki muda itu tengah duduk di bagian kemudi mobil setelah pulang dari restoran milik maminya.
"Ini Rafa di jalan pulang mi"sahut Rafa yang tengah menerima panggilan dari maminya. "Bagaimana terapi princess?"lanjutnya bertanya keadaan adik tercintanya.
"Terapinya lancar sayang dan mami lihat sudah menunjukkan perubahan pada princess" ucap mami Rain ceria.
"Syukurlah Rafa lega mendengarnya"sahutnya lagi.
"Yasudah,nanti mami telfon lagi.Hati-hati dijalan sayang dan jangan lupa makan malammu.Mami sayang Rafa" ucap mami Rain
"Heemm,Rafa sayang mami.Titip salam buat Oma Opa mih"sahutnya.
"Oke nanti mami sampaikan..Bye sayang"
"Bye mami"sahut Rafa mengakhiri panggilan itu.Matanya masih mengamati jalan yang mulai macet.Seperti inilah yang tidak ia suka jika berada dijalan saat malam,jalanan ibukota sering macet pada malam hari.
Berjalan yang terlalu pelan dan beberapa kali berhenti membuat Rafa bisa meedarkan pandangannya kemanapun ia mau.Tanpa sengaja matanya menemukan gadis aneh yang selalu membuatnya kesal,entah ia juga tak mengerti kenapa ia selalu kesal dengan gadis itu.Ia kembali menatap jalan,menghindari untuk tidak menengok kearah gadis itu.
"Ck..sial"rutuknya dalam hati.
Rafa menepikan mobilnya,menatap gadis yang clingak clinguk entah mencari atau menunggu apa dipinggir jalan.
Tin
Tin
Ia membunyikan klakson membuat gadis itu terjengkit kaget,ia membuka jendela mobilnya dan beberapa saat gadis itu menatap dirinya sebelum akhirnya gadis itu kembali menunduk.
Rafa meremas setirnya kencang,ia begitu tak suka melihat gadis itu selalu menunduk.
"Masuk"titahnya dengan tajam.
Gadis itu masih terus menunduk.
"Masuk atau kamu mau jadi tontonan banyak orang disini karena membuat jalanan semakin macet"suara Rafa semakin berat gadis itu mau tak mau menurut padanya.
Duduk di sebelahnya dengan terus meremas tas miliknya membuat Rafa kembali geram.Badannya maju membuat jarak keduanya semakin dekat meraih seatbelt untuk dipakai gadis disebelahnya itu,tanpa sadar Ayu juga mendongak dan mata mereka bersirobok.Sejenak keduanya terdiam.
Tin
Tin
Klakson dari mobil yang berada di belakang membuat Rafa tersadar lalu memasangkan kembali seatbelt untuk Ayu hingga berbunyi.
Klik
Akhirnya mobil Rafa kembali masuk ke jalan padat itu,keduanya tenggelam dalam pikirannya masing-masing.Hanya ada admotsfer dingin didalam mobil sedan BMW series 8 itu.
...……...
Setelah lewat dari macet yang berkepanjangan,akhirnya mobil milik Rafa sampai pada bangunan lama yang bertuliskan Panti Asuhan atas gerbang berkarat itu.
Gadis berambut gelombang itu takut-takut untuk mendongak,entahlah apa sebenarnya yang membuat ia selalu takut berada didekat Rafa.
__ADS_1
"K-kak te-rimakasih"ucapnya lirih bahkan hingga memejamkan mata.
"Ck"Rafa berdecak. "Sebenarnya apa yang menarik dibawah sana hingga kau terus menunduk"lanjut Rafa berbicara.
Gadis itu mendongak dan pandangan keduanya kembali bertubrukan.Hingga ia kembali menunduk,karena tatapan Rafa yang masih meintimidasinya.
"I-itu k-kak… Em…ti-ti-tidak ada apa-apa kak"sahutnya tergagap hingga peluh dingin keluar dari tangannya.
"Lalu,kenapa kau selalu menunduk saat aku berbicara.Tatap orang yang mengajak kamu berbicara,bukan malah menunduk..Itu tidak sopan"ucap Rafa.
"Tatapan kak Rafa membuatku takut"batin Ayu tanpa bisa menjawab ucapan Rafa.
"Em..maafkan a-aku kak"jawab Ayu.
Saat Rafa ingin kembali mengomel,suara pecahan kaca membuat keduanya terjengkit kaget.Bahkan wajah Ayu sudah pucat pasi.
"Ibu"ucapnya lirih dengan khawatir,tanpa izin lebih dulu pada Rafa ia segera membuka pintu mobil dan langsung masuk ke dalam panti asuhan.
Rafa hanya diam terpaku melihat tingkah gadis aneh itu,lalu ia kembali menghidupkan mesin mobilnya.
...…….....
Bugh
Bugh
"Aaaa…"teriak Ayu dan beberapa anak kecil didalam sana.Melihat seniornya beradu pukul dengan beberapa lelaki bertubuh besar diahadapannya membuat tubuh Ayu bergetar.
"Berdiri Ayu"teriak Rafa yang masih mencengkram leher lelaki dihadapannya.
"AYU!!!!"Bentak Rafa lebih keras dan menatap tajam Ayu yang masih setia berlutut dihadapan wanita bertubuh gempal dihadapannya membuat Rafa marah.
Teriakan Rafa membuat tubuh Ayu bergetar hebat,ini lebih menyeramkan daripada hari biasa.
"Percuma anak muda,meskipun kamu membuat anak buahku babak belur takkan membuatku mengurungkan niat untuk mengusir mereka semua"ucap wanita gempal itu kembali dengan menatap nail Art di kukunya.
"Tolong Nyonya,beri kami waktu lagi…Kami akan mendapatkan donatur tetap untuk panti asuhan ini,jangan usir kami.Kami mohon"timpal ibu asuh Ayu yang tak lain keturunan dari orang yang mendirikan panti asuhan itu,wanita itu juga tengah ikut bersimpuh dihadapan wanita gempal.
"Aku sudah muak dengan memberi waktu,waktu,waktu.. Aku sudah cukup memberi banyak waktu untuk kalian,jika kalian tak bisa mendapatkan donatur.Aku bisa menjual tanah serta bangunan ini.Aku juga perlu duit"ucap kembali wanita gempal itu.
Hati Rafa terluka,terluka melihat wanita tua yang harus memohon dan menangis dihadapan orang lain.Pikirannya melanglang membayangkan jika itu maminya,cengkraman Rafa pun mengendur pada lelaki di depannya.Berjalan mendekati si Gempal.
"Aku akan menjadi donatur tetap untuk panti asuhan ini.Pergilah"ucap Rafa.Semua mata tertuju pada lelaki muda itu,Ayu dan ibu panti itu bahkan mendongak lalu membulatkan mata mereka.
Sebenarnya ia belum tau duduk masalahnya,saat mobilnya kembali ia mundurkan tadi tanpa babibu ia menghajar lelaki kekar itu karena melihat Ayu yang didorong hingga gadis itu terjerembab.
Wanita gempal itu terkekeh,menatap lelaki muda di hadapannya dengan tatapan mengejek. "Heh,lelaki muda.. Kau jangan bercanda,ini bukan tempat bermain.Jika ingin bermain,sana kembali kerumah dan main masak-masakan.Sepertinya kamu lagi menghayal jadi milyader ya sekarang"cibir wanita gempal itu.
Tatapan mata elang yang tak biasa Rafa perlihatkan,sekarang tengah menatap sengit wanita gempal yang mengejeknya.Kedua tangannya mengepal keras,jika di depannya ini bukan wanita mungkin ia sudah menghujani orang itu dengan pukulan mematikan.
"Sialan"geramnya tertahan.
Ia merogoh sakunya,mengeluarkan kartu nama miliknya,lalu melemparkan tepat diwajah wanita gempal yang sigap meraihnya.
__ADS_1
"Kau bisa mencariku disana,jika memang aku hanya membual.Sekarang pergi dan jangan tunjukkan wajahmu kembali disini"ucap dingin Rafa,emosinya kembali berkobar karena ucapan wanita tadi.
Wanita itu mengernyit,menatap kartu nama itu lalu kembali menatap Rafa.
"Aku akan tunggu kabar dari kalian atau aku akan kembali dengan membawa buldoser untuk meruntuhkan bangunan tua ini"ucapnya sebelum pergi meninggalkan panti asuhan itu.
...……...
"K-kak"panggil lirih Ayu.
Ia menatap Rafa yang ikut membersihkan kekacauan yang tadi terjadi didalam panti asuhan.Semua piring berserakan karena saat terjadi kegaduhan tadi,para anak panti tengah bersiap untuk makan malam mereka.Ibu panti berkali-kali mengucapkan terimakasih pada Rafa dan Rafa berjanji akan segera mengurus semuanya membuat ibu panti itu semakin menangis dengan rasa syukur yang mereka dapat.
Rafa menoleh,ia pun berdiri menatap gadis yang tangannya saling meremas dan tertaut itu.
"Ck…Tatap lawan bicaramu"ucap Rafa.
Dengan susah payah Ayu mendongak
Degh!
Pandangan keduanya pun saling mengunci.
"Bi-bisa ki-kita bicara kak"ucapnya dengan tergagap,memberanikan diri menatap manik Rafa meskipun saat ini jantungnya seakan ingin meledak.Astaga,ditatap seperti ini membuat kaki Ayu bahkan gemetaran.
"Hhmmm" sahut Rafa dan mengikuti langkah Ayu yang keluar dari panti,menuju kursi panjang yang berada di teras depan.
Keduanya duduk di kursi itu,dengan Ayu yang masih gugup disana.
"Apa yang ingin kau bicarakan?"tanya Rafa membuat Ayu terjingkat kaget.
Rafa menggelengkan pelan kepala,kembali gadis di hadapannya ini bertingkah aneh.
"Em-em..Itu kak,Te-te-terimakasih sudah membantu Ayu dan adik-adik"ucapnya tergagap lagi,bahkan ia mengucapkan itu dengan mata tertutup.
Rafa menghembuskan nafas kasar.
"Sudah sewajarnya manusia harus saling membantu"sahutnya.
"Tetap saja,Ayu berterimakasih sekali pada kak Rafa"ucapnya "Em-tapi maaf,sebaiknya kakak urungkan untuk menjadi donatur di panti asuhan ini.Aku bisa mencari donatur lain"
Rafa langsung menoleh pada empunya suara,ia meremas tangannya sendiri tak suka dengan apa yang diucapkan gadis itu.
"Kau menolak?"
Gadis itu mengangguk pelan.
"Aku akan berusaha lebih lagi untuk mendapatkan donatur untuk panti asuhan ini kak,aku tak mau menyusahkan kak Rafa lagi"ucapnya lirih sambil menunduk "Kakak sudah terlalu banyak menolongku"lanjutnya lagi meremas kembali tangannya sendiri.
Sejak Aurora tak masuk sekolah,ia yang dikenal saat itu dekat dengan Aurora menjadi santapan nikmat bagi pada pembully atau pembenci Aurora.Siapa lagi jika bukan geng Rissa.Beberapa kali ia dibully oleh orang-orang itu,disiram dengan kuah bakso panas,dilempar dengan bola basket dan sengaja didorong dari lantai kelasnya hingga terjerembab di lantai satu sudah ia rasakan.Bak dewa penolong Rafa selalu berada disana saat ia kesusahan,meski tatapan mata lelaki itu juga sinis kepadanya tapi ia tau jika Rafa memiliki hati yang lembut.Rela membawanya ke UKS dan mengobatinya,tapi untuk sekarang sudah cukup untuk Rafa membantunya.Ia tak ingin semakin membebani Rafa.
Lamunannya tersadar saat kursi panjang itu berdecit,Rafa berdiri dari duduknya.
"Simpan omong kosongmu,aku tidak menolongmu tapi aku menolong ibu panti dan anak-anak yang lain."ucap Rafa lalu berjalan menjauh dari Ayu yang terdiam ditempat.
__ADS_1
Ayu hanya bisa menatap Rafa dari jauh yang berpamitan dengan ibu panti yang juga menyerahkan berkas untuk Rafa dan lalu Rafa pergi tanpa pamit dengannya.Ia pun membuang nafas kasar,semakin bertumpuk saja rasa bersalahnya.