Cinta Sang Balerina

Cinta Sang Balerina
Om Encum beraksi


__ADS_3

"Apakah penerbangan ini masih lama?"tanyanya gelisah pada salah satu pramugari yang bekerja dengannya.Pramugari yang tengah menyajikan minuman untuknya pun menoleh. 


"Sekitar 5 jam lagi tuan kita akan mendarat"sahutnya sopan dengan senyuman terbaiknya,berharap lelaki dewasa itu meliriknya barang sedikit.


"Kenapa sangat lama sekali"gumamnya lalu kembali menyandarkan badannya pada kursi.Ia kibas-kibaskan tangan agar pramugari itu segera pergi dari hadapannya.


Senyum yang terukir indah dari pramugari sedari tadi lantas surut karena sikap angkuh Elang.Sebenarnya bukan penerbangannya yang lama,bahkan pesawat take off sesuai perintah tak ada delay karena cuaca cerah yang sangat mendukung untuk penerbangan.Hanya saja lelaki dewasa itu sudah lama menahan rindunya membuat ia tak sabar lagi untuk mendarat di negara kelahirannya.


Matanya masih tak ingin kembali terpejam,bayangan wanita saat ia tidur tadi sungguh membuatnya terusik.


"Rain,jangan lagi Rain.Jangan lagi"ucapnya dalam mimpi.Ia melihat Raina tengah menggunakan kebaya dengan menggandeng tangan seorang laki-laki,tampak disana semua tengah bahagia karena pernikahan itu.Bahkan kedua putra putrinya terlihat sangat bahagia dan hanya dia yang bergumam menahan rasa sakit yang ia rasa.Melihat wanita yang begitu ia cinta kembali pergi dengan pendamping barunya.


Ia kembali membuka matanya,demi apapun ia tak ingin kembali memejamkan mata.Bayangan itu akan selalu menghantuinya.


...Flashback On...


Setelah kejadian Raina waktu itu,ia harus terpaksa kembali ke New York karena panggilan meeting disana.Malam itu juga ia akhirnya pergi.


Tak seperti biasanya saat rapat pikirannya benar-benar kacau,bayangan wanita yang waktu itu ia peluk dan mengingat masa lalu mereka berdua membuatnya terusik.Hanya dengan membayangkan dadanya berdegup dengan kencang,ia tersenyum seketika.


"Tuan" 


"Tuan"panggil Roy lagi,asisten pribadinya.


"Ah,iya Roy"ucapnya terkejut saat semua mata tertuju pada dirinya.Seakan jatuh harga dirinya saat ketahuan tengah menghayal dan senyum-senyum sendiri,para dewan direksi disana terkejut melihat tingkah aneh CEO tampan itu.Tak pernah mereka melihat lelaki dingin itu tersenyum,ini pertama kalinya.


"Ehem,lanjutkan rapatnya.Kau bisa memimpin Roy,aku percayakan padamu.Aku permisi"ucapnya lagi lalu berdiri dan langsung diangguki oleh Roy.Ia tak bisa menolak perintah tuannya itu.


Didalam ruangan kerjanya,ia membuka jas miliknya lalu menyandarkan badannya pada kursi kebesarannya.Memandang foto di pigura mejanya membuat ia kembali tersenyum.Demi apapun ia benar-benar dibuat gila oleh wanita yang ada di foto itu.


Foto saat keduanya masih bersama pun ia keluarkan kembali saat suami dari wanitanya pergi.Ia meraih foto itu,mengelus wajah di foto itu seakan mengelus pipi wanitanya.



...(Anggap posisi foto mami n daddy kayak gini ya☺️🤭)...


"Aku masih mencintaimu,sampai saat ini Rain."gumamnya tersenyum manis.Ia letakkan foto itu pada dadanya,seakan mendekap tubuh wanitanya.


Tok


Tok


"Masuk"tanpa mengubah posisinya dan matanya pun masih terpejam.


"Tuan"panggil Roy 


Ia pun lebih dulu berdiri,meletakkan kembali pigura foto itu "Siapkan pesawat,aku akan kembali ke Jakarta"ucapnya tegas.


"Tapi tuan,ada pertemuan dengan…" sahut Roy terkejut, belum selesai kembali dipotong oleh Elang.

__ADS_1


"Kau bisa menggantikanku Roy" perintahnya.


Roy bingung dengan sikap tuannya ini,baru saja ia sampai dan melakukan meeting dengan tingkah aneh lalu sekarang apa? Ia ingin kembali ke Jakarta,yang benar saja.Apalah daya ia hanya seorang pegawai yang tak ada hak untuk membantah ucapan tuannya.Dengan segala tanggung jawabnya ia pun mengangguk mematuhi perintah Tuan Elang.


...Flashback Off....


...……...


Di dalam mobil hitam milik Rafa tampak keheningan disana,tak ada suara dari kedua manusia yang berada didalam.Setelah mendapat omelan saat berangkat tadi,Ayu memutuskan untuk diam tanpa mengganggu konsentrasi sang pengemudi.Masih bisa ia ingat suara serak Rafa dengan kata-katanya yang tak kalah menyakitkan.


"Kau pikir aku supirmu.. kedepan cepat"ucapnya dengan nada ketus dan lirikan mata tajam.Jika saja hanya dengan tatapan bisa membunuh seseorang,mungkin Ayu sudah terbunuh dengan tatapan Rafa.Membayangkannya saja membuat ia bergidik ngeri.


"Em-A-aku turun di gang depan kak"ucap tergagap setelah lamunannya tadi,matanya menatap jendela tanpa menoleh kearah Rafa berada.Hingga mobil hitam itu berhenti didepan gang yang dimaksut,Ayu dengan segera membenarkan letak tasnya.


"Te-terimakasih Kak"ucapnya menunduk sebelum membuka pintu mobil.


Cklek 


Srettt


"Aaa!!!"pekiknya terkejut karena tangannya yang tengah ditarik.Ia menoleh menatap Rafa yang juga tengah menatapnya tajam.


Degh!


"Ya Tuhan tolong cobaan apa ini"batin Ayu,darahnya berdesir antara takut dan terpesona.Tak bisa dipungkiri Rafa memiliki paras yang menawan.


"Aaaa,ma-maaf kak"sahut Ayu menunduk kembali,setelah beberapa saat terdiam karena jarak dirinya dan Rafa terlalu dekat.Jantungnya seakan lompat dari tempatnya,ia memundurkan badannya dan memberanikan diri menatap Rafa.


"Te-te-terima kasih kak"ucap Ayu kembali tergagap.Sungguh lelaki dihadapannya ini sangat menakutkan dengan tatapan dingin membunuh itu.


Rafa pun melepaskan cekalannya setelah puas mendapat ucapan terima kasih dari gadis yang dianggap aneh itu.Dengan kecepatan turbo Ayu turun dari mobil dan lari terbirit-birit ketakutan.


Wajah Rafa kembali memerah menahan marah "Sialan,dia kira aku hantu.Sampai lari cepat seperti itu,awas saja kau gadis aneh"gumam Rafa sambil mencengkram setir mobilnya.Lalu kembali menjalankan mobilnya untuk pulang.


...……....


Kembali ke kediaman Sanjaya.


"Sayang,bisa kau hentikan senyumanmu itu.Astaga ini benar–benar memalukan."ucap Aurora menutup mukanya dengan kedua tangannya.Ia malu sendiri melihat tingkah kekasihnya yang sejak kepulangan Ayu terus menatapnya dengan pandangan memuja.


"Kenapa? Kamu gak suka? Aku lagi mengagumi mahakarya Tuhan yang begitu sempurna"sahut Rendy,ia menyandarkan kepalanya pada dinding sofa sambil menoleh menatap kekasihnya dengan tatapan memuja.Dari sudut manapun kekasihnya memang sempurna,Ah..ia semakin dibuat jatuh kedalam cinta gadis kecilnya.


Blush 


Aurora kembali merona.


"Hentikan,kamu bikin pipiku panas terus tau"rengeknya mengguncang lengan sang kekasih.Sungguh ia malu.


"Astaga,pasangan ini bener-bener ya...Dari dapur sampai mami mau masuk kamar,masih aja kedengaran gombalannya.Aish.. sakit telinga mami terkontaminasi ini"gerutu mami tapi masih dapat keduanya dengar sambil berjalan menuju kamar.Mami menggelengkan kepala sambil tersenyum,kembali ingat saat masa berpacaran dengan sang suami.

__ADS_1


"Ish.. mami"rengek Aurora kembali. "Liat kan,jadi digodain mami"lanjutnya,tolong diingat dirinya ini gadis baperan.Ia tak bisa dibuat seperti ini,hatinya sudah mleyot lebih dulu karena sikap manis kekasihnya.


"Biarkan saja sayang,mami kamu pun pernah muda"ucap Rendy dengan senyumannya.Matanya menatap dalam dari mata sang kekasih hingga terpusat kearah bibir mungil berwarna merah muda itu.


"Sayang"panggilnya tanpa mengalihkan pandangan.


"Hhmmm"sahut Aurora masih merasa malu.


"Itu,bolehkah aku menciummu"pinta Rendy,lalu matanya kembali menatap mata sang kekasih dan ternyata Aurora juga tengah menatapnya.


Degh! 


Dada mereka berdegup kencang hanya dengan menatap dalam,menyelami perasaan masing-masing.Perlahan Rendy mencondongkan badannya,semakin dekat dengan sang kekasih hingga sisa hanya beberapa inci dari wajah sang kekasih yang sekarang tengah memejamkan matanya.Rendy tersenyum.


Hembusan nafas Rendy menerpa wajah Aurora membuat gadis itu semakin gugup dengan apa yang akan terjadi,ia meremat dress miliknya untuk mengurangi kegugupan antara takut ketahuan maminya dan tergoda dengan apa yang akan dilakukan kekasihnya.Akhirnya benda kenyal itu mendarat tepat di bibirnya,matanya kembali terbuka.


Degh! 


Kekasihnya tengah mencium dirinya dengan penuh cinta,tak menggebu-gebu membuat ia terhanyut dan akhirnya matanya pun kembali terpejam.Keduanya tersenyum disela ciuman mereka.


Rendy yang sudah berpengalaman dengan adegan ciuman terus membimbing kekasih kecilnya agar bisa mengimbangi ciumannya.Tangan Rendy pun tak tinggal diam,ia merangkul pinggang Aurora membuat keduanya semakin merapat,ciuman itu semakin dalam hingga keduanya saling m*****t dan m******p seakan tak ada hari esok untuk memenuhi dahaga keduanya.Setelah beberapa menit keduanya merasa pasokan udara habis,akhirnya Aurora perlahan memundurkan badannya,melepas pagutan bibirnya.


Keduanya tersenyum,hingga pipi nya kembali merona karena tatapan penuh damba sang kekasih.


Tangan Rendy terulur,kembali mengelus bibirnya yang bengkak karena ulahnya tadi.


"Aku suka dia bengkak karena ulahku"ucapnya lirih.


"Kamu bener-bener om mesum"sahut Ara yang kembali merona karen kata-kata sang kekasih.


"Apa? mesum?"ucapnya tak terima,alisnya menungkik tajam.


"Ya benar kamu mesum,lelaki tua mesum yang sialnya begitu aku cinta"sahut Aurora,membuat bibir cemberut Rendy berubah kembali menjadi senyuman.Dan mereka kembali saling pandang,melempar senyum sejuta cinta.


"Aku ingin mengikatmu sayang,aku ingin segera meminangmu"ucapnya sungguh-sungguh.Demi apapun dia lelaki matang,ia bukan ingin bermain-main dalam hubungan ini.Ia ingin segera menjadi pemilik Aurora seutuhnya.


"A-aku em-aku.."Aurora tergagap dengan ucapan serius kekasihnya.Belum selesai ia menjawab,tiba-tiba suara salam dari luar membuat mata Aurora membulat.


"Daddy"cicitnya pada sang kekasih.


Rendy yang juga mengenali suara lelaki itu pun mengangguk


"Untung saja datang setelah kami berciuman"batin Rendy lega,mungkin jika ketahuan tak taulah nasib nya seperti apa.Yang pasti akan mendapat bogeman dari ayah angkat kekasihnya.Dengan segera ia angkat sang kekasih kembali duduk di kursi rodanya untuk menghampiri pusat suara.


Belum sampai mereka berjalan ke arah ruang tamu,Rendy kembali menarik kursi roda sang kekasih untuk bersembunyi di balik tembok penghubung.


"Sayang ada apa? Aku sampai kaget?"ucap Ara terkejut dengan gerakan tiba-tiba dari kekasihnya,bahkan ia mencengkram erat kursi roda karena gerakan mendadak itu.Tapi kembali Rendy menutup mulut kekasihnya,mengisyaratkan agar gadisnya itu diam lalu menunjuk ke arah suara tadi.


Senyum Aurora merekah melihat adegan yang terjadi,tak jauh dari tempat keduanya bersembunyi. 

__ADS_1


__ADS_2