
Meja makan panjang itu kembali meriah meski tak seperti dulu,tapi sekarang lebih terasa hangat dari pada beberapa bulan belakangan.
Gadis sederhana bernama Ayu itu tampak terus tersenyum mendengar mami dari Aurora yang menceritakan tentang masa mudanya.Lalu saat jatuh cinta dengan papi Ray.Seakan ia sekarang tengah berkumpul dnegan keluarganya sendiri.
"Seperti ini kah jika memiliki keluarga"batinnya menatap bergantian beberapa orang yang berada disana.Tapi ia langsung menundukkan kepala saat matanya bertatapan dengan mata elang milik Rafa,seakan tengah mengulitinya.
"Ara bingung deh,mami udah tau papi itu kan lemah gemulai..Kenapa jadi suka sih? Kan kalau cowok modelan ager-ager kemayunya nauzubillah mi"tanya Ara meskipun ia tau jawabannya,tapi seakan belum puas dengan semua jawaban dari maminya.Bahkan dulu saat papi Ray masih ada,mereka sering membahas ini.
"Mami dulu waktu papi kamu masuk ke dalam kamar Tante kalian...Dada mami langsung jedag jedug jedag jedug kayak ada disko disini (mami meletakkan tangan kanannya pada dada kirinya ambil tersenyum) meleleh mami liat senyuman papi kamu,gak pake lama mami sat set sat set ngasih label ke papi kalau papi bakal jadi jodoh mami."cerita mami dengan bangganya.
"Dih,mami ganjen dong.Katanya tomboy,kok nembak duluan"cibir Aurora.
"Apa salahnya kalau cewek nembak duluan.Emansipasi wanita bestie"sahut mami santai.
Aurora memutar mata malas,selalu saja kalah bila berbicara dengan maminya itu.Mereka yang masih asik berbincang pun terdiam saat suara seseorang yang mengucap salam terdengar sampai di ruang makan.
"Hedehh,drama mulai"gumam mami lalu menenggak air mineral dihadapannya "Ayu kamu jangan muntah ya kalau liat drama yang sebentar lagi terjadi"lanjut mami pada Ayu,sedangkan gadis itu hanya bisa memandang bingung pada mami Rain,lalu kembali menatap tingkah seniornya.
Aurora memundurkan kursi rodanya lalu menghampiri pusat suara dengan cepat.
"Sayang"panggil mereka berdua bersamaan "Kangen"lanjut mereka berpulukan bak teletubbies.
Mata Ayu membulat sempurna melihat wajah lelaki yang tengah memeluk seniornya itu.Sedangkan Rafa,lelaki itu tampak meneliti perubahan raut wajah gadis dihadapannya.
...…….....
Kedua orang yang tengah berpelukan itu seakan melupakan jika mereka disana tak sendiri,tapi masih banyak orang disana.
Cup
Rendy mengecup mesra puncak kepala Ara.
"Sehari aja gak liat kamu rasanya kaya seabad"ucap Rendy tersenyum hangat pada kekasih kecilnya.
"Hhuueeekkk.. Pengen muntah woy"teriak mami dari ruang makan,karena jarak mereka tak jauh dari tempat mami berada.
Rendy kembali menegakkan badannya,lalu tersenyum salah tingkah sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Mami sirik amat deh"gerutu princess yang duduk cantik dengan Rendy memutar kursi rodanya untuk menghampiri calon mertuanya.
"Berat banget bu rindunya sama anak ibu mah,gak bisa ditahan.Makanya sehari aja kayak seabad"ucap Rendy bersalaman selayaknya teman dengan mami Rain.Keduanya canggung jika bersalaman bagai anak dan mertua,karena umur chef Rendy tak begitu jauh dari mami.
Mami menggelengkan kepalanya,ada rasa aneh melihat lelaki seumuran dirinya berbicara manis menuju ke gombal itu.Seakan ingin muntah mendengar.
"Kak panggilin polisi"titah mami pada sang putra.
"Buat apa mih?"tanya Rafa bingung.
"Nih ada manusia bucin,geli mami liatnya.Biar dipenjara sono"sahut mami santai membuat putranya ikut geleng kepala denga ucapan maminya
"Astagfirlloh bu,jahat banget dah"
"Kalau gitu cepet halalin dong,biar gak ditikung orang.Ngegombal mulu,dihalalin gak"sahut mami menepuk pundak calon menantunya itu.
"Kalau saya mah hayuk bu,tinggal Aurora aja gimana"ucap Rendy,ia belum sadar ada seseorang yang menatapnya.
"Princess gak mau nikah muda ya mih,lulus juga belum."sahut Aurora "Tampil di Balet Marinsky (tempat opera balet terkenal di dunia) juga belum"lanjutnya,lalu terdiam sesaat.Ia baru sadar jika ucapannya salah,sesuatu yang gak akan pernah terjadi padanya.Karena kenyataan dirinya tak bisa lagi melanjutkan mimpinya itu membuatnya terdiam.
Rendy yang merasakan itu pun menoleh pada sang kekasih,menggenggam tangan Aurora lalu tersenyum teduh dengan mengelus punggung tangan sang kekasih.
"Bengek,lupa lagi kalau gue cacat.Kan,kan mereka jadi sedih"batin Aurora membalas tatapan Rendy dengan senyum terpaksa.
...……....
__ADS_1
"Lho Ayu" ucap kaget Rendy setelah sekian menit melupakan semuanya jika menatap wajah sang kekasih.Saat ia mengedarkan pandangannya,ia baru sadar jika ada orang yang ia kenal berada disana.
Ayu yang memang memandang dirinya dan sang kekasih masih diam di tempat.
"Kamu ngapain disini?"lanjutnya bertanya.
Gadis itu pun tersadar lalu beberapa kali mengerjap. "Em-itu Ayu jenguk senior Ayu"sahutnya tak enak hati.
"Dia temanku"timpal Aurora yang memicingkan alisnya saat Ayu yang menjawab tergagap tadi.Aneh pikirnya.
"Kalian kenal?"tanyanya lagi.
"Kenal" Rendy
"Gak" Ayu bersamaan.
Semakin tajam saja Aurora bergantian menatap keduanya.Kenapa gadis yang ia anggap teman itu memberi jawaban berbeda,sedangkan sang kekasih ternyata tau nama gadis itu.
"Haha.. Kalian aneh,masa jawabannya beda sih.Kan jadi makin curiga akunya"tawa Aurora,jujur ia bukan orang yang suka basa basi.
Rendy pun merasa aneh pada gadis yang ia kenal itu.Merasa sedang diperhatikan semua orang,gadis itu menghembuskan nafas berat.
"Em-gini kak.. Aku kenal sama chef Rendy,tapi gak begitu dekat.Jadi maksut aku gak kenal sama Chef Rendy karena itu dan aku cuma anak panti.Beliau sering ke panti untuk memasak bersama anak-anak panti,aku rasa gak pantas jika aku mengenal chef Rendy.Takut mereka malu"terangnya lalu menunduk.
Semua orang memandang Ayu,Rafa terus menelisik ucapan gadis itu.Takut jika niat busuk dibalik tingkah menyedihkan gadis yang belakangan menguntitnya.
Mami mengernyit mendengar ucapan gadis yang tak jauh darinya itu. "Kita diciptakan Tuhan dengan senyumannya dan semua yang diciptakan Tuhan itu sama,gak ada bedanya antara kamu dan kami derajat kita sama.Jangan pernah merasa rendah nak,kita semua sama"ucap lembut mami menggenggam tangan kiri gadis itu.
Ayu menoleh pada mami yang tengah menatapnya,matanya berkaca-kaca.Ia terharu dengan kata-kata mami.
"Nyonya baik sekali"batinnya.
Tak ia sangka juga,jika Aurora sudah menjalankan kursi rodanya untuk mendekati gadis yang beberapa saat lalu ia anggap sahabat itu.
Makin mendung saja mata Ayu,bahkan beberapa tetes air matanya meluncur begitu saja mendengar ucapan seniornya.
"Sini,peluk mami"ucap mami merentangkan tangannya,melihat wajah gadis polos dihadapannya dengan keadaan yang mungkin sering membuat gadis itu minder membuat hatinya sakit.Ia tak bisa membayangkan jika yang berada di posisi gadis itu adalah dirinya.Apakah bisa setegar itu.
"Ayo peluk mami Ay"timpal Aurora yang tersenyum juga menatap Ayu yang tengah bingung.Gadis yang masih bingung itu hanya bisa pasrah saat Aurora menarik tangannya untuk memeluk snag mami.Dan tanpa Ayu sadari,Aurora senior populer di Sekolahnya itu ikut menghambur jadi satu untuk berpelukan.
Tangis bahagia pun terjadi,Ayu benar-benar tak menyangka akan menemukan keluarga sebaik ini selain ibu di panti asuhan tempat ia tinggal.
...……....
Jika di kediaman tengah ramai dengan kedatangan seorang gadis yang langsung mami anggap seperti keluarga,beda halnya dengan rumah kakak tertuanya.Leonardo.
"Ceraikan aku"teriak wanita seumuran mami Rain,suaranya bahkan menggelegar hingga kelantai bawah dimana putrinya tengah menikmati sarapan paginya.
"Kita bisa membicarakan semua baik-baik ma"ucap lelaki tua yang tak lain suaminya sendiri.
"Apa yang perlu kita bicarakan,dengarkan aku tuan Leonardo yang terhormat.Sudah lebih dari sepuluh tahun kita membangun rumah tangga ini dan dari dulu aku sudah meminta agar kamu menurunkan egomu.Egomu kau mengerti,sampai sekarang pun Egomu tetap masih diatas semuanya.Bahkan sekarang kau turunkan sifat gilamu itu pada putriku satu-satunya"teriaknya dengan terus menangis,ia mengusap air matanya lalu beranjak dari duduknya.Berjalan menghampiri walk in closet untuk meraih koper lalu memasuk-masukkan semua baju miliknya disana.
Suaranya masih sangat terdengar jelas sampai lantai bawah,karena pintu kamar mereka berdua terbuka sangat lebar.Gadis itu tampak bergetar saat meangkat sendok miliknya,bahkan untuk menyuap makanan dihadapannya pun ia tak sanggup karena teriakan mamanya tadi.
Air matanya mengalir deras,karena tak sanggup lagi.Ia meletakkan sendok kasar dan beranjak dari duduknya lalu meraih kunci mobil miliknya untuk meninggalkan kediaman mewah miliknya yang hampir satu tahun lamanya bagai neraka karena pertengkaran kedua orang tuanya yang tak kunjung usai.
Kembali kekamar utama.
"Apa yang kau lakukan Amellia Angelica Syahreza"panggil papa Edo dengan menekan nama sang istri.
"Pergi.. Pergi jauh dari lelaki egois sepertimu"sahut kalah sengit mama Amel dengan air mata yang terus menetes. "Aku sudah tak sanggup lagi hidup bersama manusia yang tak pernah memikirkan perasaan orang lain"lanjutnya setelah menutup koper miliknya dan menariknya untuk keluar kamar utama.
Degh
__ADS_1
Detak jantung papa Edo tengah berdetak dengan cepat mendengar ucapan wanita yang sangat ia cintai itu,ia juga bingung dengan dirinya sendiri kenapa sifat kepala batu dan egoisnya sangat susah untuk ia buang.
"Tidak.. tidak,kau tak boleh meninggalkanku.Aku bisa mati"batin papa Edo nanar melihat sang istri yang sudah menjauh darinya.
Dengan cepat ia berlari menghampiri sang istri.
Greb
Papa Edo mendekap tubuh mama Amel dari belakang,mendekap erat tubuh wanita yang begitu ia cinta.
"Maafkan aku,maafkan aku,maafkan lelaki bodoh ini.Jangan tinggalkan aku,ku mohon"ucap papa Edo melemah.Isakan tangis mama Amel masih terdengar jelas,ia tak menjawab ucapan suaminya.
"Mungkin ini yang terbaik untuk kita.Kita berpisah" akhirnya mama Amel menjawab.
Dengan cepat papa Edo berpindah kedepan tubuh mama Amel,bertumpu dengan kakinya.Memohon pada sang istri agar berbelas kasih padanya.
"Tidak..tidak,jangan tinggalkan aku.Aku bisa gila"ucapnya menggenggam kedua tangan sang istri.Mama Amel masih enggan melihat wajah lelaki yang masih ia cinta itu.
"Kalau dengan ini bisa membuatmu sadar akan kesalahan yang kau buat,aku akan dengan senang hati melepasmu"
"Tidak sayang,jangan..Aku akan mati bila tanpamu,tolong maafkan aku"air mata papa Edo sudah tergelincir keluar,sungguh ini pertama kalinya pertengkaran terhebat bagi keduanya.Bahkan kata-kata cerai dari bibir istrinya baru kali ini terdengar setelah sekian lama keduanya perang dingin.
"Aku sudah memohon padamu sekian lama untuk menurunkan egomu,harus seperti apa lagi aku mas"sahut mama Amel melemah.Mendengar ucapan suaminya dengan suara bergetar karena tangis membuatnya tak tega.
"Maafkan aku,maafkan aku.Aku janji akan berubah sayang,beri aku kesempatan"
"Bukan padaku kamu meminta maaf,tapi pada saudara kandungmu sendiri yang tak kamu anggap itu kamu seharusnya meminta maaf"
"Baiklah,aku akan meminta maaf pada Rain.Tapi tolong jangan tinggalkan aku"ia kembali memohon pada sang istri.
"Bukan karena aku kamu minta maaf,tapi harus dari hatimu.Kamu harus intropeksi dan sadar akan apa yang kamu lakukan pada keluarga adikmu sendiri"
"Iya sayang,aku mengaku.Aku salah,aku egois.Temani aku berubah untuk menjadi yang lebih baik lagi"
"Baik,aku pegang kata-katamu"sahut mama Amel "Kamu minggir aku mau pergi"
"Sayang,kamu belum memaafkan ku…Jangan pergi" cegah papa Edo.Ia kira istrinnya tidak akan pergi,tapi pemikirannya salah.
"Aku sudah memaafkanmu mas,tapi aku perlu menyendiri untuk menenangkan pikiranku"
"Tidak,kumohon..Aku tak bisa hidup tanpa kamu,biar aku yang pergi.Kamu disini,kumohon"
"Tidak,kamu tetap disini"
"Gak,gak.. Biar aku yang pergi,kamu tetap disini"
Mama yang masih berpegang teguh dengan keinginannya membuat papa Edo semakin frustasi.
"Oke,begini saja.. Kamu bisa tetap dikamar,aku akan tidur di kamar tamu.Tapi aku mohon jangan pergi"
Mama Amel masih berdiam diri.
"Ayo kita ke tempat Rain"ucap papa Edo lagi membuat mama Amel menatap wajah sang suami.Mata merah serta bekas air mata dari lelaki yang ia cinta masih terlihat jelas,hatinya sedih melihat itu.Tapi untuk menyadarkan keegoisan suaminya ia perlu melakukan satu ancaman.
Mama Amel menurunkan egonya demi sang suami,ia melemah.Tubuhnya berangsur turun,mensejajarkan dengan tubuh sang suami.
"Kenapa sangat sulit buat kamu mengakui itu mas,apa kamu lupa dengan kejadian yang lalu.Kita pernah kehilangan Raina dulu mas,apa kamu ingin kembali semua itu terulang"ucap mama Amel lembut,menangkup wajah sang suami dengan jari yang mulai bergerak menghapus lelehan air mata sang suami. "Kamu tau,Rain bukan hanya adik ipar bagiku..Dia orang yang sangat aku sayang mas,dia sahabatku,dia saudaraku.Tolong jangan lagi seperti ini,disini dia hanya memiliki kita..Kehilangan suami yang begitu dia cinta dan kecelakaan Aurora benar-benar membuatnya terpukul mas.Bukankah seharusnya kita merangkulnya dan mengatakan jika ada kita disini dan dia tak sendiri.Lukanya belum sembuh sempurna,aku mohon turunkan egomu mas.Aku sangat sedih melihat yang terjadi sekarang pada keluarga kita"lanjutnya lalu memeluk tubuh jangkung sang suami,air matanya kembali menetes deras.Ia begitu sedih saat suami dan putri kesayangannya tak ada empatinya sama sekali dengan apa yang terjadi pada Aurora waktu itu.Hanya dia yang datang untuk menjenguk keponakan kesayangannya itu.Bahkan saat ia tiba di rumah,suami dan putrinya sama sekali tak ada yang menanyakan kabar tentang keadaan Aurora.Hatinya begitu sakit saat itu.
"Maafkan aku sayang,maafkan aku.Aku hanya tak ingin putriku bersedih,tolong maafkan aku"
"Tanpa kamu sadari,semua yang kamu lakukan membuat putriku menjadi monster mas.Hentikan semua ini,dia terlalu kecil untuk memilih masa depannya.Biarkan semua berjalan sewajarnya hhmmm"tuturnya lembut.
Lelaki itu tak lagi menjawab,hanya anggukan yang mewakili jawabannya.Ia mengeratkan pelukannya pada sang istri.
__ADS_1