Cinta Sang Balerina

Cinta Sang Balerina
Bertemu


__ADS_3

Setelah dibujuk oleh kedua senior serta om dan Rafa,akhirnya Ara mau kembali masuk kedalam rumahnya.Tampak ia terus berada disebelah om nya,bahkan daddy nya digeser tempat duduknya oleh Ara. 


"Om,berapa hari om di Indonesia?"tanya Ara.


Air yang tengah berbicara dengan Elang serta Rafa menoleh saat sang keponakan menanyakan hal yang sangat sulit Air jawab.Jujur saja ia sebenarnya ingin,tapi banyak pertimbangan yang harus ia pikirkan.


"Liat nanti ya sayang" dahut Air sambil mengelus rambut panjang sang keponakan.


"Tinggallah lebih lama om,banyak yang mau Ara ceritain sama Om"pinta Ara.Entah kenapa ingin sekali ia terus berdekatan dengan adik dari papinya ini.Sifat om nya hampir mirip dengan papinya dan ia merasa dekat dengan papinya jika bersama Air. 


"Bagus princess"bisik Vella cekikikan di sebelah Ara.Ia pun menginginkan seperti itu,kekasihnya itu selalu sibuk dengan karirnya.Padahal disini pun kerjaan Air takkan terbengkalai.


"Kan,aku tau apa yang kakak mau"balasnya berbisik pada seniornya dengan mengedipkan mata genit.Lalu keduanya tertawa,membuat Air dan yang lain menatap bingung.


"Kalian kenapa?"tanya Air.


"Mau tau aja deh..urusan perempuan nih Om"sahut Ara.


"Tau,,bisnis ini yank"timpal Vella pada Air lalu terkekeh.Lelaki itu hanya bisa tersenyum dengan menggelengkan kepala.


"Ayo semua,kita makan.. Eyang sudah menyiapkan makanan buat kita semua"Eyang yang berjalan pelan dari arah dapur menyuruh semua untuk makan.Dengan dibantu oleh Rafa,Ara pun ikut makan bersama dengan yang lain. 


……


Matahari terus naik hingga senja pun datang menyapa,setelah kembali nya kedua seniornya Ara memilih duduk di ruang tengah.Ia masih ragu untuk terus menyusahkan kakaknya atau yang lain.


"Sayang,kamu gak lelah? Mau tidur dikamar mami aja?"tawar mami Rain saat keluar dari kamarnya.Ia duduk disebelah putrinya,lalu mengelus rambut panjang nan indah milik sang putri.


Ara menggeleng lalu tersenyum "Ara masih pengen disini mih"sahutnya. 


"Ini sudah senja dan kamu dari tadi belum istirahat"ucap mami,memang benar adanya.Ia pun merasa lelah,tapi sungguh ia tak ingin menjadi beban untuk keluarganya.Karena harus meangkat dirinya kemana-mana. 


"Rafa kemana ya mih?"tanya Ara mengalihkan pertanyaan mami nya.


"Rafa ikut daddy sama Om Air ke perusahaan.Katanya ada yang mau diurus,mami gak tau lah sama kakak kamu itu.Masih muda bukannya mikir yang ringan-ringan,malah suka mikir masalah perusahaan."sahut mami.


"Kakak lagi investasi untuk masa depan mih" 


"Tumben dukung kakak kamu,biasanya juga kamu paling ngeluh kalo Rafa sibuk sama perusahaan" 


"Karena Ara sudah merasakan gimana rasanya terlalu menyia-nyiakan kesempatan mih..Ara gak mau kakak merasakan apa yang Ara rasa sekarang" sahut Ara sendu,mami langsung menoleh karena sahutan dari sang putri.Ia rengkuh tubuh kecil sang putri. 


"Maafkan mami,maafkan mami gak bisa lindungin kamu sayang." Ucap mami Rain.


Ara menggeleng "Benar kata om,mungkin semua ini sudah takdir dan jalan dari Tuhan mih.. Ara akan mencoba ikhlas dengan semua yang terjadi pada Ara.Ara tak ingin menyalahkan siapapun mih" 


Mami Rain sedih mendengar kata-kata sang putri,jika bisa..Ingin sekali mami Rain mengganti kesakitan yang putrinya terima agar dilimpahkan kepadanya saja.Ia tak sanggup melihat kesedihan pada putrinya yang dulu sangat ceria ini. 


"Mih"panggil Ara. 


"Ya sayang" 


"Ok Air tadi bilang, Om juga pernah terpuruk kayak aku saat dulu dia tau siapa dia sebenarnya.Sebenarnya ada apa sih mih?"tanya Ara yang memang kepo dengan ucapan Air. tadi


Degh


Mami Rain tampak kebingungan menjawab ucapan putrinya,apa ia dia harus menceritakan masa kelam keluarga Almarhum sang suami pikir mami.


"Nanti ya sayang, kamu tanya sama Om kamu aja.. Mami gak berhak jawab itu semua"sahut mami Rain memberi pengertian pada sang putri dan di balas anggukan oleh Ara.Mami mendekap tubuh putrinya dari samping,mendekap dengan penuh kasih sayang.Ia baru sadar jika tubuh sang putri semakin kurus saja.


"Mih"panggil Ara lagi


"Ya sayang"sahut mami lagi


"Em…. Om chef.."ucap Ara lalu mami melonggarkan pelukannya karena sang putri menyebut nama lelaki yang putrinya itu cintai. 


"Iya sayang" 

__ADS_1


"Dia dimana mih? Apa dia gak mau ketemu Ara lagi?"tanya Ara hati-hati,karna ia ingat kata-kata terakhir yang ia keluarkan pada lelaki itu sungguh kejam. 


Mami Rain tersenyum "Kamu mau bertemu dia?"tanya mami


Dengan malu,Ara menganggukIa merindukan kekasihnya itu.Eh salah,mantan. 


"Tapi pasti om gak mau ketemu Ara lagi ya mih, Ara udah menyakiti hati om waktu itu"ucapnya sendu. 


Mami Rain kembali mengelus rambut sang putri "Ikut mami yuk sayang" 


"Kemana mih?" 


"Paviliun" 


"Mih,tapi.. Ara gak bisa kesana mih"sahutnya putus Asa.


"Bisa sayang,ayo"ajak mami lagi,dengan sekuat tenaga ia meangkat tubuh sang putri ke kursi roda.


"Maafin Ara mih,menyusahkan mami"ucap Ara sedih sampai maminya harus meangkat tubuhnya.Sungguh tak berguna. 


"Gapapa sayang,dulu waktu kecil kan kamu juga sering mami gendong..Gak ada bedanya sama sekarang, badan kamu juga kecil.Bahkan mami seperti menggendong bantal,ringan sekali"gurau mami Rain agar putrinya tak kembali sedih. 


Akhirnya dengan pelan mami mendorong kursi roda itu melewati teras belakang dan tanpa Ara tau,jalan ke paviliun telah diubah untuk dilewati kursi roda. 


"Kapan jalanan ini diubah seperti ini mih?" tanya Ara.


"Saat kamu dirumah sakit" 


"Makasih mami,maafin Ara yang gak berguna ini"sahut Ara kembali sedih. 


"Sayang,gak boleh ngomong gitu.. Ara berarti buat mami,Ara kesayangan mami sama papi.Ara permata hati kami.Jangan pernah bilang Ara gak berguna lagi ya sayang,mami sedih dengernya"ucap mami dengan terus mendorong kursi roda itu. 


Cklek 


Mami membuka pintu paviliun.


Mata Ara masih belum bisa mefokuskan dengan apa yang ia lihat,karna lampu di ruangan baletnya tengah mati.Mami meninggalkannya tanpa ia ketahui dan tiba-tiba lampu menyala dengan sosok laki-laki yang berdiri tak jauh dengannya.Lelaki yang tengah ia rindukan. 


"Hiks...hiks...hiks…"tiba-tiba Ara menunduk dan menangis tersedu.


Rendy perlahan mendekati Ara "sayang"panggilnya pelan.


Ara masih menangis,bahunya turun naik karna isakannya.Rendy takut untuk sekedar menggenggam tangan kekasihnya,penolakannya waktu itu masih membekas dihatinya.


"Hiks.. Om gak mau- hiks… gak mau peluk aku"ucap Ara terisak-isak mendongak menatap wajah dewasa kekasihnya. 


Tanpa pikir panjang,Rendy langsung merengkuh tubuh kecil sang kekasih yang masih duduk di kursi roda itu.Mengecup puncak kepala sang kekasih dengan penuh kasih sayang.Tangan Ara terulur untuk membalas pelukan sang kekasih.Keduanya menangis. 


"Maafin ucapan Ara yang menyakiti hati om,maafin kelabilan Ara" ucapnya dengan sesegukan.


Rendy menggeleng "Bukan kamu yang salah sayang,memang semua salahku.Salahku yang tak becus menjaga kamu.Maaf karena aku kamu jadi begini" 


Ara mengeratkan pelukannya. "Ara mencintai Om" 


"Aku lebih mencintai kamu sayang" balas Rendy yang bahagia dengan ungkapan cinta dari kekasihnya.Pelukan keduanya mengendur,keduanya saling pandang.Tangan Rendy terulur menyapu air mata Ara yang terus mengalir dipipi cantiknya.Lalu ia tersenyum.


"Aku mencintai kamu Aurora"ucap nya lagi dan perlahan wajahnya pun mendekat dengan wajah sang kekasih,tanpa aba-aba Ara pun memejamkan matanya saat bibir Rendy dan bibirnya bertemu.Benda kenyal itu pun saling memagut mesra dengan semua perasaan yang keduanya miliki.Kerinduan yang dalam dan perasaan cinta yang besar membuat ciuman itu begitu indah. 


…….


Keduanya masih berada di paviliun,dengan Rendy yang masih berjongkok sambil menggenggam kedua tangan sang kekasih setelah ciuman mesra itu berakhir.Pandangan matanya seakan tak bisa beralih dari wajah cantik Aurora. 


"Om,om gak capek jongkok?"tanya Aurora kasihan melihat Rendy yang terus berjongkok itu.


Rendy tersenyum sambil menggeleng. "Aku takut ini cuma halusinasiku aja, cuma angan aku yang terlalu tinggi bisa liat wajah cantik kamu dari dekat" 


Ara melepas genggamannya lalu membelai pipi Rendy pelan dengan punggung tangannya "Semua ini nyata,aku ada didepan Om.Maaf udah nyakitin hati Om lagi waktu itu"ucapnya sedih. 

__ADS_1


Rendy memejamkan matanya,menikmati belaian tangan sang kekasih.Menenangkan. 


"Aku mengerti tentang keadaan kamu waktu itu,aku juga salah sayang.Maafkan aku"ucap Rendy menatap lembut mata bermanik coklat indah itu. 


Keduanya pun kembali berpelukan,entah mereka masih tak menyangka bisa kembali lagi.Bahkan Rendy saat itu hanya pasrah dengan keputusan sang kekasih yang membuatnya syok berat.


Meski ia tak diizinkan melihat Ara karena takut Ara akan menyakitinya kembali dengan ucapannya,ia tetap menjaga gadisnya di luar ruangan tempatnya dirawat.Memantau semua yang dilakukan gadisnya itu,terkadang saat tengah malam ia berjalan masuk ke ruangan atas izin Rafa untuk menemui sang kekasih yang sudah terlelap.


"Om,om tau darimana aku pulang hari ini?"tanya Ara yang bingung atas kehadiran Rendy hari ini. 


Rendy merenggangkan pelukannya,lalu sesaat ia kecup kening sang kekasih. 


"Kan aku gak pernah pergi dari tempat kamu dirawat sayang.Jadi aku tau kapan kamu pulang,kapan waktu dokter visit ke ruangan kamu.Kapan kamu minum obat,aku tau semua itu"sahutnya dengan tersenyum.


"Sungguh?"tanya Ara yang terkejut. 


Rendy mengangguk pasti. "Tadi kan kamu pulang,aku ngikutin di belakang mobil kalian.Bahkan makanan yang kamu makan setiap harinya itu buatan aku,sengaja aku pindahin dari tempat nasi aku ke tempat nasi rumah sakit.Takut kamu tau"sahutnya lagi lalu terkekeh. 


"Pantesan aku betah banget di rumah sakit,karena makanan juga yang enak gak kayak biasanya"ucap Ara baru sadar. "Makasih ya Om,om udah jaga Ara terus"lanjutnya kembali melow. 


"Udah ah,dari tadi makasih terus maaf terus.. Yang penting sekarang,kamu udah sehat dan kembali sama aku lagi.Itu aja aku udah seneng"sahut Rendy dengan pandangan penuh cintanya menatap gadis kesayangannya itu. "Kita kedepan yuk.. mami kamu pasti nungguin"lanjut Rendy berdiri lalu berpindah dibelakang Ara untuk mendorong kursi roda sang kekasih. 


….. 


Saat keduanya masuk kembali ke dalam rumah,terlihat disana mami Rain tengah berbicara dengan seseorang di telfon.Beberapa kali wajahnya menegang dan tampak kebingungan.Ara yang melihat keanehan maminya mengajak Rendy untuk mendekati maminya. 


"Mih,ada apa?"tanya Ara lalu menggenggam tangan kanan maminya. 


Mami tampak terkejut lalu menoleh menatap Ara dengan berkaca-kaca,ponsel yang digenggamnya tampak masih menyala dan seseorang masih berbicara disana.Ara melirik nomor di ponsel mami ternyata nomor asing tengah menelfon.Mami yang sadar Ara tengah menyimak langsung cepat-cepat ia matikan panggilan itu. 


Greb 


Mami Rain memeluk Ara dengan mengelus rambut sang putri. "Mami gapapa sayang,kamu gak usah khawatir"bisiknya membuat Ara semakin bingung.Bahkan Rendy yang berada di belakang Ara juga ikut bingung dengan tingkah aneh sang calon mertua. 


"Mami kekamar dulu ya sayang"pamit mami setelah melerai pelukannya dengan Ara "Chef,tolong temani Ara dulu ya,saya mau istirahat"lanjutnya pada Rendy. 


"Baik bu,saya akan dengan senang hati menjaga Aurora"sahut Rendy membuat senyuman tipis terbit di bibir mami Rain.


Akhirnya mami Rain pun pergi. 


"Mami kenapa ya Om? Seperti ada yang disembunyikan sama mami"tanya Ara setelah duduk kembali di Sofa dengan bantuan sang kekasih.


Rendy menoleh pada kekasihnya "Hemm,aku juga ngerasa gitu.. Tapi sayang,untuk sekarang biarkan dulu,mungkin ada sesuatu yang belum bisa mami kamu ceritakan ke kamu"sahut Rendy lalu meelus rambut panjang sang kekasih dibalas anggukan oleh Ara mengerti.Dengan pelan Rendy mearahkan kepala Ara agar bersandar di bahunya. 


"Nyaman sekali"ucap Rendy lagi. 


"Nyaman apa?"tanya Ara mendongak membuat jarak wajah keduanya hanya beberapa inci saja. 


"Bisa kembali kayak gini,kamu ada dipelukan aku"ucap Rendy dengan tersenyum hingga lesung pipinya tampak dengan jelas.


Ara ikut tersenyum "Ara juga senang"sahut Ara,dengan jail ia menusuk-nusukkan telunjuknya pada lesung pipi sang kekasih membuat ia terkekeh lucu.


"Kenapa sih yank?"tanya Rendy.


"Gemes banget sama lesung pipi Om,pengen gigit deh"ucap Ara gemas. 


"Sok gigit Aja,aku rela kok" 


"Dih.. dikira aku kayak Om,suka gigit-gigit" 


"Emang kamu tau aku suka gigit?"balas jail Rendy 


"Dilihat dari wajah Om kelihatan lagi.. "sahut Ara dengan terus menusuk-nusukkan tangannya. 


"Oh gitu,yaudah sini.. aku gigit aja kamu sekalian" Rendy mendekap sang kekasih dengan mulut menganga seakan-akan ingin mengigit Ara membuat Ara memberontak dengan tertawa.


"Haha...haha… Om lepas om, aaaaa no Om..hahaha"Ara terus tertawa dalam pelukan Rendy,menggoyangkan kepala ke kanan dan ke kiri. 

__ADS_1


"Gak bakal aku lepas.. tunggu aja kalo udah aku gigit"ucap Rendy mearahkan wajahnya pada telinga Ara,semakin dekat wajahnya membuat Ara mematung.Tapi meski begitu Rendy masih terus dengan kejahilannya mendekat dan.. 


"Astagfirullah ahhh"teriakan nyaring dari arah belakang membuat keduanya terjengkit kaget. 


__ADS_2