Cinta Tetaplah Di Sini

Cinta Tetaplah Di Sini
Kembali bertemu


__ADS_3

Brukk!!!


Suara benturan dua tubuh manusia di sebuah toko pakaian di mall Pelangi sebuah pusat perbelanjaan di kota Bandar Lampung.


"Shhh, ahhh," desis Sekar seraya bangkit dari lantai dengan memegangi pinggangnya yang ngilu karena terjatuh tadi.


"Hei, apakah kamu tidak bisa berhati hati jika berjalan?" sentak seorang pria yang tadi bertabrakan dengan dirinya. Untuk sesaat Sekar mematung mengingat pemilik suara bariton itu.


'Suara itu? Mungkinkah?' gumamnya dalam hati. Perlahan ia menoleh, mengamati dengan seksama pria di hadapannya saat ini.


'Oh, bagaimana mungkin? Benarkah ini dia? Sungguh?' batin Sekar tak percaya dengan pengelihatannya.


"Maaf," ujar Sekar mununduk tak berani menatap wajah pria di hadapannya. Hatinya terlalu takut untuk berjumpa dan berbicara dengan pria itu. Tapi ia tak bisa menyembunyikan rasa penasaran yang menghantuinya selama ini.


"Bagaimana kabarmu? Apakah lukamu sudah sembuh?" Sekar nekad memberanikan diri bertanya.


"Apa pedulimu? Bukankah kamu tak peduli padaku? Bahkan saat aku berjuang di antara hidup dan mati kamu gak peduli? Lalu mengapa sekarang kamu bertanya kabarku? Pasti saat ini kamu terkejut tak mengira jika aku masih hidup dan sehat," jawab pria itu sinis.


'Mas, aku begitu mengkhawatirkanmu,' Ingin ia mengatakan itu, sayang hanya di dalam hati saja.


"Kenapa? Kenapa diam saja? Tentu karena itu benar maka kamu tak berani bicara," tuduh pria itu lagi.


"Mas Bima, di sini ada perlu apa? Saya pelayan di sini jadi apa ada yang bisa saya bantu?" susah payah ia berbicara pada pria yang ternyata bernama Bima tersebut.


"Oh, jadi untuk melarikan diri dariku kamu


sampai rela jadi pelayan di toko seperti ini? Apa gelar sarjanamu tak berguna?" ujar Bima dengan wajah mengejek. Pedas sekali kata-katanya.


"Sekar, apa yang terjadi? Mengapa kamu diam saja? Layani yang benar pelanggan kita," tegur seorang wanita paruh baya pada Sekar.


"I-iya, Bu" sahut Sekar dengan gugup.

__ADS_1


"Maaf, Mas saya sedang bekerja jadi tidak bisa berbicara banyak. Silahkan Mas Bima mau cari apa biar saya bantu," ucap Sekar dengan wajah menunduk tak berani ia menatap mata coklat gelap yang dirindukannya selama ini.


Yang ditanya bukannya menjawab malah menyodorkan ponsel miliknya di depan wajah sekar. "Masukkan nomor ponselmu. Ingat jangan berani memberi nomor palsu!" ucap Bima memberi perintah.


Dengan ragu ragu Sekar menerima ponsel itu dan mengetikkan nomor ponselnya. Setelahnya diberikannya ponsel itu pada Bima. Tak lama ponsel di sakunya pun berbunyi menandakan adanya panggilan masuk.


"Ingat jangan berani kabur lagi. Kemanapun kamu pergi pasti akan kukejar," ucap Bima lalu ia meninggalkan Sekar dalam keadaan termangu.


Dihelanya nafas dalam dalam, "Ternyata waktu telah mengubah segalanya," gumamnya dalam hati.


Seharian sejak perginya Bima hatinya risau tak karuan. Bahkan untuk tersenyum dan ramah pada setiap pengunjung toko pun dilakukannya dengan sangat berat dan sulit.


Semua itu tak lepas dari pengelihatan Devina teman kerjanya. 'Tak biasanya dia seperti itu,' gumamnya dalam hati.


Waktu telah beranjak sore saatnya ia pulang dan berganti shift dengan rekan kerja yang lain karena toko ini memang buka hingga tengah malam.


Sekar berjalan keluar dengan langkah gontai tak bersemangat. Devina yang berjalan di belakangnya pun akhirnya menghampirinya ingin menuntaskan rasa penasarannya tentang keadaan gadis itu.


"Ada apa, say?" tanya Devina seraya menepuk pelan pundak sahabatnya itu.


"Hemh...." Devina menghela nafas. "Siapa pria itu?"


"Pria mana?" eh, yang ditanya malah balik nanya.


"Pria tadi pagi yang sudah membuat moodmu seharian hancur," sahut Devina sambil terus berjalan menuju pintu keluar.


Dengan ragu Sekar menjawabnya namun kembali diurungkannya karena sulit sekali bibirnya menjawab pertanyaan sahabatnya.


"Apa dia?" berhenti sejenak. "Apa dia pria yang telah mengobrak abrik hatimu selama empat tahun ini?" sahut Devina menebak. Melihat Sekar yang hanya bungkam dia sudah tahu jawabannya.


"Apa yang terjadi tadi?" rupanya masih penasaran dia. Eh, yang ditanya malah diam seribu bahasa makin penasaranlah si calon pengacara ini.

__ADS_1


Melihat sahabatnya yang masih saja bungkam membuatnya berinisiatif untuk mengajaknya masuk dalam sebuah cafe di dekat mereka berdiri. Tanpa persetujuan si pemilik tubuh ia menyeretnya masuk dan memaksanya untuk duduk di kursi salah satu meja.


Tanpa aba aba dia telah memesan minuman untuk mereka berdua.


"Ceritakan. Ceritakan apa yang terjadi. Aku sahabatmu, kamu bisa membagi segala beban hatimu padaku. Bukankah sebagai sahabat seharusnya aku berguna untuk itu? Hemh...atau jangan jangan kamu masih menganggapku orang asing padahal kita sudah berteman sejak SMP?" cecar Devina mendesak sahabatnya untuk bicara.


Huft...ia menghela nafas lalu meminum es teh segar yang ada di meja itu. Ya, saat gelisah seperti saat ini es tehlah penawarnya dan Devina sudah tahu betul tentang kebiasaan sahabatnya ini.


"Ya dia pria itu," jawabnya singkat.


"Sudah kuduga," gumam Devina.


"Apa yang dikatakannya tadi?" tanyanya.


"Dia mengira aku lari dari tanggung jawab." Sekar menunduk lesu dengan air mata yang mulai memenuhi mata teduhnya.


"Lalu kamu diam saja tanpa menjelaskan?" tanya Devina lagi.


"Aku ingin menjelaskan tapi sulit karena sedang bekerja. Dia pergi setelah meminta nomor ponselku."


"Kamu beri?" Sekar mengangguk.


"Bagus. Jika nanti ia menghubungimu jelaskan padanya apa yang sebenarnya terjadi. Jangan biarkan masalah ini berlarut larut yang pada akhirnya akan mengganggu hidupmu dan jiwamu. Kamu berhak hidup tenang," ujar Devina seraya menggenggam tangan sahabatnya yang dingin karena terlalu gugup. Sekar hanya menggangguk pelan.


"Ayo pulang bersama biar kuantar. Saat ini keadaanmu sedang tidak baik." Tangan Devina langsung saja menarik tangan Sekar. Yang ditarik hanya diam pasrah dengan semua perlakuan sahabatnya.


Devina mengantar pulang Sekar menggunakan sepeda motor maticnya. Dia biasa membawa 2 helm setiap pergi karena sewaktu waktu bisa membonceng siapapun yang membutuhkan tumpangan termasuk Sekar yang paling utama.


"Terima kasih sudah mengantarku pulang. Terima kasih sudah menjadi sahabat terbaikku," ucap tulus Sekar setelah mereka sampai di depan kamar kostnya. "Mampirlah dulu," lanjutnya lagi.


"Ini sudah sore sekali aku khawatir ibuku menunggu," tolak Devina halus. "Salam buat Kirana." Sekar mengangguk seraya tersenyum. Sahabatnya juga dekat dengan Kirana adiknya.

__ADS_1


Ia pun segera masuk ke dalam kostnya untuk segera membersihkan diri dan beristirahat hari ini cukup melelahkan baginya.


"Aku harus kuat. Aku harus mampu mengalahkan ketakutan dan kecemasan dalam hatiku agar hidup ku bisa terus berjalan dengan lebih baik. Demi ibu demi ayah dan demi masa depanku," doktrin yang selalu diucapkannya saat ia dalam keadaan terpuruk seperti saat ini. Doa selalu berharap hidupnya berjalan sesuai dengan impiannya selalu dipanjatkannya. Hingga matanya terpejam malam itu ia selalu berdoa mengharap yang terbaik dari Tuhan untuk dirinya.


__ADS_2