
Dengan langkah gontai Kirana mendekati Sekar dan keluarga yang lain.
"Ibu, Mbak Tiwi, Mbak Sekar juga kamu Puspa," diam sejenak sambil menghembuskan nafas dalam-dalam, " Kemungkinan bapak untuk sadar sangat kecil. Ada masalah dalam pembuluh darah ke otak. Jadi sebelum dokter mengatakan jika itu benar, aku ingin mengatakan pada semua terlebih dulu agar kita bisa sabar dan tabah. Aku dan juga tim dokter akan berusaha semaksimal mungkin," ucapan Kirana membuat semua yang ada di sana terkejut.
"Maksudmu operasi bapak gagal?" tanya Sekar menerka
"Kemungkinan besar iya. Tapi kita harus tetap berdoa semoga Allah memberikan keajaiban pada bapak," jawab Kirana lirih.
Bruk!
"Ibu." Semua dikejutkan dengan ibu yang tiba-tiba ambruk. Ibu pingsan.
Dengan sigap Bima dan Satya mengangkat tubuh wanita tua itu dan menidurkannya di bangku tunggu depan ruang rawat bapak.
Kirana berlari mengambil alat medisnya dan berusaha menyadarkan ibunya. Semua panik tak terkecuali Satya dan Bima. Kirana mengoleskan minyak angin aromatherapy di beberapa bagian tubuh ibunya.
"Ibu, Ibu udah sadar?" tanya Kirana pada ibunya setelah melihat tangan ibunya bergerak juga mata yang terlihat mengerjab.
"Bapak, Ndhuk?" lirih ibu menanyakan keadaan bapak.
"Bapak lagi istirahat, Bu. Ibu yang tenang jangan banyak pikiran," kata Sekar menenangkan ibunya.
"Iya, Bu. Ibu harus tenang supaya bapak juga kuat. Kalau Ibu lemah, nanti bapak jadi gak semangat buat bangun." sesak rasanya hati Sekar melihat ibunya bersedih. Dia juga sedih namun harus kuat.
Begitu banyak kata-kata penyemangat untuk ibu. Perlahan ibu pun mulai bisa menguasai perasaannya.
Benar kata Kirana, beberapa jam kemudian dokter memanggil perwakilan keluarga. Kirana, Sekar dan Bima yang menemui dokter.
"Keadaan pasien cukup mengkhawatirkan. Ada komplikasi yang terjadi di pembuluh darah menuju otak mengakibatkan kesadaran pasien menurun drastis. Saat ini keadaan pasien dinyatakan koma."
Sekar spontan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia tak menyangka apa yang dikatakan dokter justru lebih dari yang Kirana katakan. Ia menggelengkan kepala tak percaya. Ia menangis dalam diam. Tak mampu lagi ia mengeluarkan kata apapun. Lidahnya terasa kelu. Terasa kaku tak mampu digerakkan.
"Apa yang terbaik lakukanlah, Dok. Masalah biaya saya yang akan tanggung." Bima mengambil alih pembicaraan karena Sekar terlihat syok.
__ADS_1
"Kami akan terus melakukan yang terbaik Kirana saksinya. Dia akan selalu ikut dalam menangani pasien. Bahkan dia yang akan merawat pasien. Tapi demi kondisi kesehatan Kirana terjaga sebaiknya keluarga bergantian berjaga," saran dokter.
Kini mereka kembali masuk ke ruang rawat bapak. Kirana pun membagi tugas jaga untuk mereka.
"Dari subuh sampai jam satu siang Ibu, Mbak Tiwi dan Puspa. Jam satu sampai jam sembilan malam aku dan Mas Satya. Sedangkan seterusnya sampai subuh Mbak Sekar dan Mas Bima. Bagaimana?"
"Iya, Mbak setuju. Setidaknya untuk waktu siang sampai pagi ada laki-laki yang bisa dimintai tolong cepat. Kalau pagi kan ada Puspa yang lincah," jawab Sekar.
"Maksudnya lincah?" tanya Puspa tak mengerti.
"Di antara kamu, Mbak Tiwi dan Ibu kan kamu yang paling muda. Dan kamu anak yang gesit jadi bisa diandalkan jika bapak butuh bantuan tenaga medis segera," sahut Kirana.
"Karena sekarang jadwal Mbak Tiwi dan Puspa, kami akan ke kost Kirana dulu untuk menyiapkan keperluan sekaligus istirahat sebentar. Bolehkan?" kata Kirana.
"Ibu juga sebaiknya ikut kami untuk istirahat sebentar. Mari, Bu" kata Sekar seraya menarik tangan ibunya pelan.
"Kami pergi dulu kalau ada apa-apa segera hubungi kami," kata Bima.
*****. ******
Sesampainya di kamar kost, ibu langsung istirahat. Tubuh tuanya sudah mulai melemah. Wanita tua itu tidak ingin keegoisannya untuk terus menjaga suaminya 24 jam justru membuat anak-anaknya kerepotan. Karena sudah bisa dipastikan jika dia pun akan ikut sakit akibat kurang istirahat.
Kirana dan Sekar memasak untuk makan siang mereka. Hanya sayur kacang panjang dan telur dadar. Cukup sederhana karena keadaan tidak memungkinkan bagi mereka untuk berbelanja ke pasar.
Baik Bima maupun Satya ikut tertidur di sisi lain kamar kost itu. Sedikit agak jauh dari ibu mertuanya. Keduanya semalaman tidak tidur karena harus berjaga mengingat semua wanita dalam keadaan kurang baik.
Sejak awal memang dokter menyarankan agar seluruh anak bapak bergantian berjaga. Ini dikarenakan dokter telah membaca keadaan buruk pasien. Itu sebabnya semua ada di rumah sakit. Bahkan Tiwi sebagai anak sulung harus rela meninggalkan anak bungsunya yang masih berusia 3 tahun demi bisa merawat bapak di rumah sakit.
*****. ******
Kini giliran Satya dan Kirana yang berjaga. Keduanya duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Sebelumnya Kirana sudah memeriksa keadaan bapak dan masih belum ada perkembangan berarti.
"Kamu sudah lama kerja di sini?" tanya Satya memulai perbincangan karena sejak tadi mereka diam seribu bahasa.
__ADS_1
"Baru beberapa bulan," jawab Kirana singkat.
"Kakakmu Sekar dulu kerja dimana?"
"Dia sekarang sudah jadi kakak iparmu jadi dia sudah jadi kakakmu juga," ketus Kirana.
"Iya, aku lupa. Kamu belum jawab pertanyaanku," sahut Satya sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Dulu sebelum ikut Mas Bima ke Jakarta, Mbak Sekar kerja di toko pakaian di mall dekat sini selama enam bulan. Sebelumnya kerja di Singapura sebagai guide selama empat tahun. Kenapa kamu tanya itu?"
"Sepertinya dia sangat menyayangi keluarganya karena di sana dia juga menyayangi kami."
"Iya, dia kakak terbaik. Dia bekerja keras untuk biaya kuliahnya sendiri. Lalu ke luar negeri untuk biaya berobat bapak dan membelikan bapak sawah dan sebidang kebun. Dari situlah bapak bisa biayai kuliahku. Aku salut pada Mbak Sekar. Dia peduli keluarga melebihi dirinya sendiri bahkan kalau bukan dipaksa bapak, mungkin sampai Puspa lulus kuliah baru dia akan berpikir untuk menikah."
"Jadi perawan tua, dong," celetuk Satya.
"Iya. Di desa teman sepermainannya sudah menikah semua bahkan ada yang sudah punya anak tiga. Itu sebabnya bapak paksa Mbak buat nikah."
"Calon yang dijodohkan oleh ayahmu orangnya seperti apa?"
"Namanya Abas. Dia mantan pacar Mbak Sekar tapi cuma sebentar. Katanya gak kuat LDR makanya Abas selingkuh. Aku juga gak setuju dengan Abas, untung Mas Bima datang tepat waktu. Kalau enggak? Hemh, aku gak bisa bayangkan bagaimana hati keduanya."
"Sebenarnya Mas Bima udah ajak Mbak Sekar nikah, tapi gak tahu kenapa selalu ditolak. Padahal kami tahu kalau mereka saling mencintai. Untung mereka akhirnya bersatu. Aku ikut bahagia melihatnya."
"Hei, kamu siapa kok aku bisa ngomong panjang lebar gini sama kamu?"
"Hei, Kirana aku ini calon suami kamu sopan dikit dong kalau ngomong."
"What???"
"Hehehe aku cuma tiruin Mas Bima sama Mbak Sekar waktu dulu berantem. Peace,"
sahut Satya dengan mengangkat dua jarinya ke atas sambil nyengir kuda.
__ADS_1