Cinta Tetaplah Di Sini

Cinta Tetaplah Di Sini
Benih si Unyil


__ADS_3

Pagi buta Sekar telah bangun dari tidur singkatnya malam ini. Kini dirinya dan Bima telah tinggal di sebuah rumah sederhana milik Bima di sebuah kompleks perumahan rakyat.


Rumah 2 lantai dengan gaya minimalis itu telah dibeli Bima setahun lalu dan selama ini dia sewakan pada orang lain. Karena rumah itu akan ditempatinya, maka seminggu lalu orang yang menyewa rumahnya telah pindah ke kontrakan lain.


Sekar segera mandi dan bersiap untuk sholat shubuh. Ketika selesai mandi ia masih melihat suaminya bergelung dalam selimut tebal. Segera didekatinya Bima untuk membangunkannya.


"Mas, bangun udah subuh," kata Sekar seraya menggoyang tubuh suaminya agar lekas membuka matanya.


Tiba-tiba, "Aaaaaaa," jerit Sekar lantaran Bima menarik tangannya hingga wanita itu jatuh ke dalam pelukan sang suami.


"Yaaa, kan batal," keluh Sekar cemberut.


"Hahaha air banyak," celoteh Bima yang tengah menarik kepala istrinya ke dalam dada bidangnya. "Belum adzan, kan? ayo kita ulangi lagi," ujarnya membuat Sekar mencubit manja pada perut pria berhidung mancung itu.


"Ogah. Ayolah bangun," pinta Sekar seraya menarik tubuhnya dari pelukan hangat suaminya.


"Biarkan begini sebentar aja, aku rindu kehangatan tubuhmu," celotehnya.


"Gombal, kayak semalaman gak peluk aja," gerutu Sekar manja.


"Kurang," kini suara Bima yang terdengar manja seperti pria haus belaian wanita.


"Uwek." Sekar pura-pura muntah seolah ia tengah mual mendengar gombalan dari suaminya.


"Hahaha teganya ayang bebku," ucap Bima tertawa seraya mengecup pipi Sekar yang bersemu merah


"Ayolah bangun, mau berangkat kerja jam berapa?" ucap Sekar yang masih belum berhasil lepas sari pelukan suaminya.


"Aku mau libur, hari ini aku ingin kita berduaan, memakanmu sampai kenyang," jawab Bima.


"Dimakan? emang aku daging?" sahut Sekar cemberut.


"Daging yang empuk, hap." Tiba-tiba Bima membuka mulutnya dan pura-pura memakan pipi istrinya.


"Aaaaaa, bau jigong!" seru Sekar menjauh seraya menutup hidungnya.

__ADS_1


"Bau kasturi gini, kok bilang bau jigong?" gurau Bima.


"Kasturi apanya? kasturi dari goa maut?" sahut Sekar menimpali gurauan Bima.


"Yah, gagal romantis," gumam pria yang kini masih bertelanjang dada itu.


"Romantis tau tempat dan kondisi, dong. Lagian masih bau udah ngajak pacaran, mana tahan," ujar Sekar seraya tersenyum dan meninggalkan suaminya untuk wudhu kembali karena adzan subuh telah berkumandang.


******. ******


"Ini, mau diapakan kangkungnya?" tanya Bima yang menghampiri Sekar di dapur.


"Oh, itu mau ditumis dengan kecambah," sahutnya dengan tangan masih membuat bumbu untuk menggoreng ayam.


"Cara potongnya gimana?" tanya Bima lagi, kini tangannya tengah mengangkat seikat kangkung di depan wajahnya, mengamati sayuran hijau itu.


"Ya, dipotong biasa, pendek-pendek biar gampang makannya," jawabnya sedikit melirik suaminya.


Bima mengerti dan berlalu untuk mengambil pisau di tempat penyimpanan benda tajam itu. Dia buka tali bambu pengikat batang-batang sayuran yang membuatnya tercerai berai. Dengan gerakan sedikit kaku, pria itu mulai menyiangi dan memotong satu persatu batang kangkung yang ada di tangannya.


"Bantu kamu masaklah biar cepat selesai, kan kasian kamu masak sendiri," jawabnya tersenyum membuat hati Sekar merasa terharu dengan kebaikan suaminya.


"Kan, memang udah jadi tugasku masak buat kamu?"


"Seorang suami yang membantu pekerjaan rumah istrinya, nggak akan buat harga dirinya jatuh, sayang. Yang penting istrinya masih bisa memahami peran utamanya untuk melayani suaminya dengan baik. Rosul aja bantu pekerjaan rumah istrinya, masa aku nggak? kan gak bisa dapat pahala bantu istri?" jawab Bima membuat Sekar diam tak percaya jika suaminya akan mengatakan itu, kebiasaan Rosul ketika di rumah bersama dengan istri beliau.


"Emh...., suamiku so sweet," celetuk Sekar, tubuhnya bergoyang dengan kedua tangan memegangi pipinya, bahagia. Ya, dia bahagia punya suami yang tidak sungkan membantu istrinya di dapur dan dia berharap selamanya sang suami akan tetap mengerti kerepotannya di rumah.


*****. *****


"Ayo, kita berangkat," kata Bima kala mereka telah siap pagi itu.


"Iya, sebentar," sahut istrinya.


Keduanya keluar dari kamar dan menuruni anak tangga menuju lantai dasar dan kemudian pergi mengendarai mobil Bima. Sekar masih bekerja menjadi asisten pribadi mertuanya, Intan. Kinerja Sekar yang baik membuat sang ibu mertua menginginkan menantunya tetap bekerja sampai ia hamil dan fokus dengan status barunya nanti.

__ADS_1


"Sayang, kita kan belum bulan madu, gimana kalau kita bulan madu akhir bulan ini?" tanya Bima pada Sekar kala dalam perjalanan menuju butik.


"Kita udah nikah cukup lama, aku rasa udah gak perlu bulan madu segala," ujar Sekar.


"Bulan madu kan bisa kapan aja. Kalau nanti mau bulan madu tiap bulan malah bagus, biar tetap mesra sampai tua," bujuk Bima.


"Ngabisin duit aja itu mah, Mas." Sekar menggelengkan kepala heran dengan pemikiran suaminya.


Bagi Sekar yang hanya gadis desa sederhana, tentunya hal semacam itu termasuk pemborosan. Karena di desa, istilah bulan madu itu tidak ada. Semua pengantin baru akan menjalani indahnya surga dunia hanya di rumah saja, itupun rumah orang tua mereka.


Berbeda dengan Bima yang notabene memang berasal dari keluarga kaya yang tinggal di kota. Bagi orang kaya bulan madu sangat penting untuk menciptakan momen indah saat menjadi pengantin baru. Soal biaya besar, tidak akan jadi masalah. Selama mereka senang, bagi mereka itu hanyalah recehan yang entah mau dipakai buat apa. Beli cilok mungkin?


"Gimana mau, kan sayang?" tanya Bima lagi.


"Terserah kamu aja, Mas kan duitnya dari kamu." Sekar menyerah, tak apalah bulan madu sesekali ngabisin duit. Dirinya sudah cukup irit selama ini membuatnya tak pernah menikmati hadil jerih payahnya sendiri.


"Kamu mau pilih kemana?" tanya Bima.


"Kemana, ya?" Sekar berfikir dengan gaya jari telunjuknya di kepala seolah-olah tengah bicara seorang diri.


"Di kepulauan seribu aja deh, Mas," sahut Sekar setelah cukup lama berfikir membuat Bima yang tadi sudah memiliki ekspektasi tinggi merasa sedikit lesu. Kenapa hanya di Kepulauan Seribu?


"Kenapa pilih Kepulauan Seribu?"


"Yang dekat, biar nggak capek jalan nantinya ketika pulang setelah dari sana ," jawab Sekar.


"Hemh, iya deh iya," jawab Bima menyerah. Walau dia kurang suka, namun demi si belahan jiwa, ia rela. Bahkan jika itu hanya di rumah saja, itu bukan masalah baginya. Yang terpenting kekasih hatinya baik-baik saja.


"Kamu kenapa, Mas?" tanya Sekar yang mendapati wajah sang suami yang ditekuk seperti pakaian kusut.


"Nggak ada apa-apa, kok sayang," sanggah Bima.


"Apa Mas pikir aku nggak tahu? kita nggak pergi jauh karena sebaiknya kita menabung selama si Unyil belum ada supaya kita punya tabungan pendidikan yan cukup," kata Sekar menjelaskan.


'Ternyata itu maksudnya? hemh, semoga benih si Unyil sudah tumbuh di dalam rahimnya,' gumam Bima dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2