Cinta Tetaplah Di Sini

Cinta Tetaplah Di Sini
Bukan Kamu


__ADS_3

Miranda terlihat murung belakangan ini. Ia memikirkan bagaimana kelanjutan kisah cintanya dengan Satya yang kini tidak ada lagi namanya di hati pria itu. Hatinya terasa pilu dan hampa. Bertahun lamanya ia menjaga dan memupuk cinta di hatinya untuk satu pria, namun pengkhianatan yang dia dapat.


Wanita itu menghela nafas. Di bawah pohon yang tumbuh rindang di halaman depan rumahnya, ia berkali-kali menghentikan aktivitas menyiram tanaman yang tumbuh di sana. Lelah hatinya membuatnya benar-benar berhenti dan memilih duduk di ayunan panjang yang memang ada di tempat itu sejak lama.


Duduk di benda panjang yang bergantung pada tali rantai itu mengingatkan dirinya akan sosok Satya. Kekasihnya itulah yang telah membelikan ayunan itu dan meletakkan benda itu di sana. Biasanya setiap Satya mengantarnya pulang atau sengaja main ke sana, dia akan selalu duduk berayun di tempat itu.


Miranda menunduk lalu sebentar kemudian mendongak menatap dahan-dahan pohon di atasnya. Hati Satya seperti dahan itu, bercabang. Semakin berat hatinya bertahan. Ini terlalu menyakitkan baginya. Kisah cintanya menggantung tanpa kejelasan tertiup angin bagai awan kelabu di angkasa.


Sekarang, jangankan bertemu untuk sekedar say hello, di what's up pun tidak lagi pernah Satya lakukan. Dia chat pun tidak pernah dibalas. Ia merasa benar-benar diabaikan dan dilupakan begitu saja. Hatinya teriris, terluka dan berdarah namun tak tampak wujudnya.


Apa yang harus dia lakukan? Cinta terasa begitu membelenggunya. Ingin pergi, namun hati menolak. Ingin bertahan, namun hati terluka. Keduanya pahit untuk dia rasakan dan dia pilih. Ingin rasanya ia menemui gadis itu untuk memberitahunya jika Satya telah memiliki seorang kekasih. Namun, lagi-lagi ia urungkan karena dia juga tidak tahu siapa dan dimana gadis berada.


Dirinya tidak memiliki informasi apapun tentang gadis yang ada dalam album foto di galeri ponsel Satya. Ia bingung, sangat bingung. "Aku harus bagaimana?" gumamnya berkeluh kesah.


Gadis itu pun menelepon Bima untuk meminta bantuan. Dirinya ingin hubungan antara dia dan Satya tetap bertahan walau sakit ia rasakan. Ternyata Bima bersedia membantunya. Pria itu juga ingin adiknya tidak salah dalam mengambil keputusan.


*"****. ******


"Kamu lagi apa, Sat?" tanya Bima saat ia berkunjung ke rumah papanya tanpa ditemani Sekar. Pria itu menghampiri adiknya yang tengah duduk santai di teras belakang dekat kolam renang.


"Ah, enggak lagi ngapa-ngapain, Bang," jawabnya seraya memperbaiki posisi duduknya yang kurang nyaman.


"Aku pinjam hapemu, dong punyaku kehabisan pulsa, kuota internet pun nggak ada," kata Bima pura-pura agar bisa melihat isi ponsel Satya.

__ADS_1


"Bos besar kok nggak punya pulsa," ejek Satya pada kakaknya.


"Namanya juga orang sibuk, mana sempat buat cek pulsa. Mana? boleh nggak?" kilah Bima dan kembali meminta izin untuk memakai ponsel milik Satya.


"Ni." Satya memberikan ponsel miliknya yang ia sudah buka kunci layarnya dan ia pun pergi masuk ke dapur untuk makan siang padahal waktu sudah menunjukkan jam 2 siang.


Merasa aman, Bima segera membuka galeri foto milik Satya dan mencari foto gadis yang dimaksud oleh Miranda. Dan betapa terkejutnya Bima setelah mendapati jika foto yang dimaksud adalah fotonya Kirana yang tengah tertidur di sofa ruang rawat rumah sakit. Ia segera mengirim foto-foto itu ke ponselnya lalu menghapus riwayat pengiriman.


Setelah selesai, ia beranjak berjalan sambil menelepon Sekar agar kebohongannya terlihat nyata. Tidak lama, hanya untuk basa-basi ia menelepon selama 5 menit saja. Tetapi tidak ia tutup segera, sehingga bertambah waktunya hingga 10 menit. Dirasa cukup, Bima mengembalikan ponsel bercasing biru itu pada pemiliknya yang masih belum juga selesai menikmati makan siangnya.


"Ada apa sih, Bang sampe lama bener nelepon istrinya?" tanya Satya setelah menelan makanannya.


"Itu tadi aku lupa kasih tahu kalau ada orang kirim barang, suruh bawa masuk sekalian dan udah kubayar lunas. Dan kalau minta tips jangan dikasih," kata Bima beralasan.


"Ada, udah pernah waktu itu," sahut Bima cepat takut jika kebohongannya terbongkar.


"Matre bener tuh kurir," celetuknya percaya begitu saja bualan kakaknya.


"Iya, makanya aku telepon Sekar biar dia nggak ditipu kurir lagi," bohong Bima lagi. Bima menghela nafasnya, kebohongan akan terus berlanjut jika tidak diakhiri, pikirnya.


"Aku mau ke kamar dulu ada yang perlu aku periksa masih tertinggal atau memang udah hilang," ujar Bima lalu bangkit dari duduknya kemudian berjalan naik ke lantai 2 tempat kamarnya berada.


"Apa?" tanya Satya.

__ADS_1


'Tuh, kan jadi bohong lagi,' keluh Bima dalam hati. "Bajunya Sekar!" sahutnya lalu segera pergi dari sana agar tidak terus berbohong.


"Dasar wanita, urusan baju aja ribet bener sampe nyuruh suaminya ngecek ke rumah mertuanya," gumam Satya pelan lalu beranjak jalan ke depan untuk menikmati suasana taman depan rumah yang cukup asri.


"Hemh, Kirana lagi ngapain, ya?" gumamnya seraya membuka daftar kontak di ponselnya dan menekan nomor yang memiliki nama "Si Jutek" di sana.


Berkali-kali ditekannya nomor itu namun tidak juga diangkat hingga 10 kali dia melakukannya. Namun tidak juga tersambung padahal jempolnya sudah terasa pegal. Hatinya galau dan resah, mengapa Kirana bersikap begitu padanya.


"Kiran, angkat dong aku rindu," gumamnya dengan wajah kusam.


Semua itu tidak lepas dari pandangan mata Bima yang tengah berdiri di balkon kamarnya. Ia bisa melihat bagaimana resahnya sang adik karena panggilan telepon darinya tidak diangkat oleh seseorang yang ia yakini jika itu adalah Kirana.


Satya kembali melakukan panggilan suara pada nomor ponsel Kirana. Dia sangat berharap jika panggilan kali ini akan berhasil dan Kirana bersedia berbicara padanya. Dirinya sungguh rindu nada suara tinggi yang selalu dilontarkan itu padanya.


Apa yang diharapkan hatinya selama berminggu-minggu ini akhirnya terkabul juga. Kirana mau mengangkat panggilan darinya. Hatinya bergetar begitupun jantungnya berdebat cukup kuat begitu mendengar suara ketus yang terdengar dari seberang sana.


"Ada apa kamu telepon-telepon terus? kurang kerjaan kamu?" Suara ketus dari seberang sana terdengar nyaring memecah gendang telinga Satya. Pria itu sampai menjauhkan ponselnya sesaat dari telinganya.


"Kiran, bisa nggak sih kamu nggak teriak-teriak kalau bicara denganku? aku nggak budeg!" oceh Satya.


"Ngapain ngomong lembut sama kamu? nggak mutu!" ketus gadis itu lagi.


"Aku tuh calon suami kamu, bersikaplah yang lembut dan sopan." Satya kembali membuat gadis berprofesi sebagai perawat itu kembali meradang.

__ADS_1


"Aku kasih tau ke kamu, ya aku bukan calon istri kamu dan selamanya aku nggak mau nikah sama kamu!" tolak Kirana mentah-mentah lalu sesaat kemudian dia mematikan sambungan telepon secara sepihak membuat Satya kecewa. Diam-diam Bima tertawa melihat apa yang terjadi pada Satya.


__ADS_2