Cinta Tetaplah Di Sini

Cinta Tetaplah Di Sini
Rindu dan Sayang


__ADS_3

Seperti biasa Bima masih dengan telaten mengurus Sekar. Membawakan makanan ke kamar, memberi obat, dan menemaninya saat sendiri. Bahkan seandainya sudah halal ingin rasanya ia tidur di sisi gadis itu, memeluknya erat hingga pagi menjelang.


Semua keperluan Bima bantu. Selama beberapa hari ini Sekar merasa sangat merepotkan Bima.


"Mas, maaf aku sudah bikin kamu kerepotan. Seharusnya aku melakukan semua sendiri, tapi nyatanya masih butuh banyak bantuan dari orang lain," ucap Sekar malam itu usai Bima membersihkan dan mengobati luka-lukanya.


Bima yang akan keluar kamar kembali berbalik menghadap Sekar yang tengah duduk di pinggir ranjang. Dia berjalan pelan dan duduk di hadapan wanita itu.


"Aku tidak pernah merasa direpotkan. Aku senang kamu mengizinkan aku merawatmu walau kamu menolak untuk kunikahi," kata Bima sambil menggenggam tangan Sekar. Sekar meneteskan air mata mendengar ucapan Bima.


"Aku dulu yang seharusnya merawat Mas Bima waktu kecelakaan itu tapi aku gak bisa menyusul Mas begitu jauh. Tapi kini saat kita dekat, justru Mas yang selalu melindungiku juga merawatku saat ini," ucap Sekar dengan linangan air mata.


"Jangan ungkit itu lagi semua sudah takdir. Kita tetap bersama seperti saat ini sudah cukup untukku. Terimakasih sudah mau bertahan di sini bersamaku. Maaf, aku sudah memaksamu berada di sini, jangan pergi dariku. Kamu tahu, aku begitu takut kehilanganmu."


Bima tak kuasa menahan rasa, dipeluknya tubuh ringkih itu erat meski wanita itu meminta untuk dilepaskan.


"Biarkan sebentar saja seperti ini. Sungguh aku ingin kamu buatku tenang. Arum sayang, ku mohon terima aku untuk jadi suamimu. Aku akan menunggumu sampai kamu yakin meskipun itu harus menunggumu jadi perawan tua," ucap Bima dengan mata berkaca-kaca mengungkapkan betapa serius keinginannya.


Sekar menangis tergugu dalam pelukan hangat Bima. Rasa trauma oleh hutang yang dibuat oleh Bima membuatnya ragu untuk menerima ajakan Bima untuk menikah. Dia begitu takut jika Bima tidak tulus padanya dan dirinya berakhir menjadi budak dalam hidup Bima.


Di luar pintu kamar Intan, Doni dan Satya mendengar semua ucapan mereka. Mereka tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi diantara keduanya. Mereka tampak saling mencinta. Bahkan ketika Bima memanggil Sekar sayang, gadis itu tidak menolaknya. Tetapi ketika Bima mengajaknya menikah, gadis itu menolak. Apa yang sebenarnya terjadi? pertanyaan yang sama dalam pikiran mereka.


Tadinya mereka akan menyusul Bima yang sedang merawat Sekar saat mereka sedang makan malam. Namun begitu sampai di pintu, mereka justru dikejutkan oleh perbincangan misterius mereka.


"Ma, aku rasa Mas Bima itu jatuh cinta pada Sekar sudah sangat lama. Mereka bertemu lagi dan Mas Bima membawa Sekar bekerja pada Mama untuk membuat gadis itu selalu dekat dengannya. Satya yakin jika mereka saling mencintai tapi entah alasan apa yang membuat Sekar menolak Mas Bima. Menurut Mama apa alasannya?"

__ADS_1


Satya mengutarakan pendapatnya dan mengharap pendapat mamanya. Saat ini mereka sudah duduk di ruang keluarga untuk membicarakan masalah Bima dan Sekar.


"Mama rasa gadis yang mencari Bima di Singapura waktu itu Sekar, deh. Sayangnya kita tidak bertemu dengannya karena hari itu kita sudah terbang ke Jerman. Andai gadis itu lebih cepat dua jam, pasti dia bisa bertemu Bima," ujar Intan menerka dan diiyakan oleh Doni dan Satya.


"Sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka. Kesalahan apa yang dilakukan Bima sampai Sekar menolaknya padahal dia mencintainya?" tanya Intan dengan tangan bersedekap di dada berfikir untuk mencari jawabannya namun ia masih belum bisa menebaknya.


"Apa kesalahan Mas Bima sangat fatal, ya sampai mereka jadi seperti ini? Mama Papa tadi sempat melihat 'kan mereka berpelukan penuh emosional?" Satya kini yang bertanya dengan tangan sebelah di dada dan sebelah mengusap janggutnya yang ditumbuhi rambut halus. "Kita harus membantu mereka untuk bersatu" imbuhnya kemudian.


"Mulai besok kita mata-matai mereka. Gimana, Okey?" celetuk Satya memberi ide.


"Eh, Bim. Kamu sudah selesai ngurus calon istrimu?" tanya Doni sambil tertawa ketika putranya itu bergabung bersama mereka.


"Ish, Papa sukanya meledek," sahut Satya menimpali papanya membuat Bima bingung.


"Pada kenapa sih, semuanya kok pada aneh?" tanya Bima tambah bingung.


"Sudah kok, Ma. Sekarang dia malah sudah tidur," jawab Bima.


"Kamu lama, ngelonin dia dulu, ya?" tanya Satya meledek.


"Ngawur kamu!" ketus Bima sambil mengacak kasar rambut Satya.


Mereka berkumpul dan berbincang sampai larut malam. Mereka memang sudah lama tidak seperti ini.


Bima yang baru merebahkan tubuhnya di atas ranjang miliknya merasa hatinya begitu merindukan sosok Sekar. Dia merasa ini sudah tidak wajar. Dia lelaki normal, dia takut jika dia tidak mampu menahan hasratnya. Mungkin mulai besok dia akan mengurangi kedekatan di antara mereka.

__ADS_1


*****. ******


Seperti biasa setiap pagi Bima akan merawat wanita pujaannya. Namun baru saja akan mengetuk pintu, Sekar sudah akan keluar kamar dengan tertatih-tatih. Bima yang mengetahui itu akan menuntunnya ke meja makan untuk bergabung dengan anggota keluarga yang lain.


Namun dia juga baru ingat jika kepala Sekar belum bisa memakai kerudung dengan rapat seperti biasa. Sehingga Bima menariknya masuk kembali kedalam kamar.


"Kenapa, Mas?" tanya Sekar setelah kembali duduk di tepi ranjang.


"Apa kamu lupa bagaimana dengan kerudungmu?" tanya Bima mengingatkan Sekar.


Sekar mengangkat tangan kanannya merasai jika memang kerudungnya belum bisa serapi biasanya. Dan jelas itu memperlihatkan keadaan kepalanya yang sesungguhnya. Akhirnya gadis itu mengurungkan niatnya untuk bergabung dengan yang lain.


Wajah gadis itu tampak murung dan itu membuatnya ingin kembali memeluk tubuh itu. Sekuat mungkin dia menahan rindunya. Melihatnya baik-baik saja seharusnya sudah jauh lebih baik. Bila dia nekad, akan besar kemungkinan Sekar tidak akan tetap tinggal di sisinya. Dan dia tidak ingin itu terjadi.


Bima kembali mengobati luka di kepala gadis itu karena hanya tinggal luka itu yang masih butuh perhatian sedang yang lain sudah mengering. Rambutnya pun sudah mulai tumbuh menghitam. Sepertinya tidak lama lagi dia sudah bisa berkerudung seperti biasa.


"Lihat, sudah cukup kering lukamu. Ini hanya tinggal menunggu sedikit lagi kamu sudah bisa keluar. Sabar ya, sayang," ucap Bima membuat Sekar tertegun.


Biasanya Sekar tidak merespon panggilan itu dengan sadar. Tapi kini ia merasa dadanya bergetar mendengar panggilan itu.


"Sudah selesai. Nah, iya aku lupa. Lihat aku bawa apa?" tanya Bima memecah lamunannya menunjukkan sesuatu di tangannya.


"Apa itu, Mas?" tanya Sekar.


"Tara!!! Ini obat penghilang bekas luka. Untuk luka yang sudah sembuh bisa kamu aplikasikan langsung. InsyaAllah akan bisa membantu menyamarkan bekas lukamu agar kamu bisa kembali seperti dulu, seperti yang kamu inginkan." Bima mulai mengoles obat itu di kulit wajah Sekar.

__ADS_1


"Terimakasih."


__ADS_2