
"Sekar, bagaimana keputusanmu, Nak? Apa pacarmu bisa datang?" tanya bapak di pagi itu.
Ini sudah hari kedua dan Sekar harus menepati janjinya untuk memberikan keputusan atas syarat yang diminta ayahnya.Namun dirinya masih belum memiliki keputusan apapun. Sepertinya kini dirinya akan pasrah dengan keinginan bapak agar ia menikah dengan Abas agar bapak mau dioperasi.
"Sekar ikut bapak aja. Sekar gak bisa bawa pacar Sekar karena sekarang dia di luar negeri. Kalau nunggu dia, nanti bapak tambah sakit. Jadi Sekar nurut aja," jawab gadis itu dengan wajah menunduk.
Sesungguhnya hatinya sangat sedih. Impiannya selama 4 tahun menunggu Bima ternyata akan sia-sia. Dirinya akan menikah dengan Abas, pria yang belum sekalipun berjumpa dengannya 2 hari ini.
Kata ibu Abas pulang dari rumah sakit tepat sebelum Sekar datang karena harus mengurus sesuatu. Namun sampai saat ini dia belum juga kembali menjenguk ayahnya.
Berharap pada Bima pun sepertinya pupus. Dirinya sendiri yang telah menolak ajakan pria itu untuk menikahinya. Tidak mungkin dia akan menjilat ludahnya sendiri. Lagipula bila menunggu pria itu pulang akan terlalu lama. Dia ingin ayahnya segera dioperasi agar lekas sembuh.
"Sekar, kamu kenapa Nak kalau terpaksa jangan dituruti itu akan menyakitimu. Bapak juga minta syaratnya yang bikin anak susah. Apa nggak ada syarat lain?" ujar ibu pada suaminya.
"Memangnya kamu mau Bapak pergi tapi anakmu masih perawan tua?" celetuk bapak membuat hati Sekar bergetar sedih.
"Bapak kalau ngomong itu yang benar masa berharap anaknya gak laku," ketus ibu membela putrinya.
"Habis sudah hampir umur dua puluh tujuh masih sendiri, teman-temannya saja sudah punya anak semua. Masa Sekar belum nikah juga, pacar saja belum punya," gerutu bapak dengan wajah sedih.
"Tapi kalau maksa gini yang ada anak kita akan menderita, Pak" ujar ibu kesal. Ibu memang mudah terpancing emosi bila itu menyangkut anak-anaknya.
"Saya yang akan menikahi Arum, Pak, Bu. Maaf saya tidak sopan. Assalamualaikum" Tiba-tiba Bima masuk menyela perdebatan suami istri itu. Dia mendekat ke ranjang pasien kemudian menyalami kedua orang tua itu.
"Kamu siapa?" tanya bapak menyelidik. Diperhatikannya sosok Bima dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Saya Bima Arya Kusuma putra dari Doni Kusuma. Saya kekasih Sekar. Saya sudah berjanji akan menikahinya," jawab Bima mantap membuat Sekar dan kedua orang tuanya terkesima.
"Kamu pacarnya Sekar putri saya? Tapi kata Sekar pacarnya di luar negeri, kok bisa ada di sini?" Tanya bapak heran.
"Iya, benar saya memang sedang ke luar negeri untuk urusan pekerjaan dan rencananya baru akan kembali seminggu lagi. Tapi begitu saya mendengar bapak meminta Sekar untuk segera menikah, saya langsung terbang pulang. Saya tidak mau calon istri saya sedih menunggu saya kembali," kata Bima menjelaskan alasan perkataan Sekar tadi.
__ADS_1
"Apa kamu mencintai putri saya?" tanya ibu menatap Bima tajam.
"Tentu saja saya sangat mencintainya. Itu sebabnya saya ingin menikahinya," jawab Bima lembut namun tegas.
"Apa pekerjaanmu?" kini bapak yang bertanya.
"Saya seorang pengusaha cofee shop. InsyaAllah pendapatan saya halal dan bisa mencukupi untuk menafkahi putri bapak," jawab Bima yakin.
"Tapi saya tidak mengenal kamu, keluargamu juga tempat tinggalmu. Bagaimana saya bisa tahu kalau kamu itu baik atau tidak," ujar bapak menginterogasi Bima.
"Saya putra Ibu Intan pemilik butik tempat Arum bekerja. Kami tinggal bersama jadi Arum sudah mengenal keluarga saya dengan baik," ujar Bima.
"Apa, kalian tinggal bersama? Yang benar saja kalian belum menikah!" seru bapak marah mendengar putrinya tinggal serumah dengan pria yang bukan suaminya.
"Jangan salah paham dulu. Arum memang tinggal di rumah keluarga saya dan tentunya dia punya kamar sendiri di bawah dan keluarga saya di kamar atas. Tenang saja kami tidak pernah melewati batas," jawab Bima membela diri.
*******. ********
New Delhi
"Apa, Ma Sekar diminta menikah oleh ayahnya?" seru Bima terkejut dengan kabar yang disampaikan oleh Intan mamanya.
"Iya, dia disuruh nikah sama siapa tadi namanya, ya?" Intan mencoba mengingat nama itu tapi tetap saja tidak bisa.
"Ah, lupa! Pokoknya kalau kamu besok nggak pulang, mama pastikan kamu gagal menikahi Sekar! Oh, Mama lupa kamu juga dihapus dari daftar penerima warisan kalau sampai calon menantu kesayangan Mama diambil orang, titik gak ada koma!" Teriak Intan mengancam putranya.
Bima bingung. Jika dia pulang urusan pekerjaannya belum selesai, tapi jika tetap disini wanita pujaannya akan diambil orang.
Aghhh!!!!
Bima sangat kesal.
__ADS_1
"Pulanglah, Bim jangan sampai kamu menyesal kedua kalinya karena kehilangan dia. Dia mutiara bagimu. Urusan pekerjaan ada aku dan Aziz disini. Cepatlah bersiap, Arum mu menunggumu," ujar Hadi yang tadi sempat mendengar perbincangan Bima dan mamanya di telepon.
flashback off
*****. *******
"Kenapa kamu gak telepon aku, Rum malah ambil keputusan sendiri mau saja disuruh menikah dengan si gambas itu?" gerutu Bima memprotes Sekar yang tidak memberinya kabar penting itu.
"Kenapa Mas bilang ke orang tuaku kalau kita pacaran?" tanya Sekar. Kini mereka duduk di bangku taman dekat area parkir.
"Aku enggak rela kamu menikah dengan si gambas itu," ketus Bima kesal.
"Tapi Mas Bima jadi harus segera nikahi aku," protes Sekar.
"Kamu tahukan kalau itu memang mauku. Aku ingin kita menikah, Rum"
"Tapi hutangku masih utuh belum banyak berkurang. Masih butuh sepuluh tahun lagi."
"Aku kan sudah bilang lupakan hutang itu. Aku sungguh mencintaimu, Rum. Hutang itu gak ada. Aku lakukan itu hanya karena aku gak ingin kehilangan kamu lagi," ucap Bima dengan wajah sendu .
"Kamu tahu aku selalu merindukanmu. Aku ingin selalu di dekatmu. Itu kenapa ada hutang palsu itu. Maafkan aku yang sudah berbohong padamu. Sungguh aku lakukan itu demi kita bisa saling mengenal lebih jauh. Juga agar keluargaku mengenalmu hingga bila aku meminta restu pada mereka, mereka akan setuju."
"Kamu tega bohongi aku, Mas" ujar Sekar lirih. Dirinya tidak menyangka jika Bima tega melakukan itu.
"Ini aku lakukan demi cintaku padamu," ucap Bima dengan menggenggam erat kedua tangan Sekar.
"Ayolah, sayang waktu kita tidak banyak ayah butuh segera dioperasi dan aku yang akan tanggung seluruh biayanya." Bima menatap wajah yang kini terlihat sendu membuat hati Bima ikut merasa sedih. Dia ingin gadis itu tetap tersenyum seperti dulu lagi.
"Tapi sayangnya kalaupun kita bersatu, kamu tidak akan menemukan kesempurnaan di dalam diriku," lirih Sekar dan terlihat air matanya mengalir di wajah tirusnya.
"Tidak ada manusia yang sempurna, Rum. Aku akan terima kekurangan mu dan menjadikan kelebihanmu sebagai penyempurna diriku."
__ADS_1