
"Mbak, suamiku Mbak, udah nggak ada," suara tangis ibu meledak begitu sampai rumah. Ia menubruk tubuh gempal kakak iparnya. Sang kakak ipar hanya bisa mengelus punggung adiknya yang tengah terpukul oleh kepergian sang suami yang sangat dicintainya itu.
"Mbak.....aku gagal, Mbak...." Tangis ibu semakin terdengar memilukan. Saat di rumah sakit ibu tidak sehisteris itu. Mungkin karena saat di rumah sakit ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan anak-anaknya. Namun ketika sampai di rumah tumpah sudah duka yang ditahannya sejak pagi tadi.
PP ayahnya. Hanya karena menunggu dirinya menikah sang ayah harus terlambat mendapat penanganan medis yang seharusnya dilakukan secepatnya. Namun harus tertunda karena ia meminta waktu dua hari untuk berfikir. Padahal seharusnya ia langsung saja menerima syarat itu walau harus menikah dengan Abas, pria yang pernah menorehkan luka di hatinya. Kini semua sudah terlambat, ayahnya takkan kembali.
"Ibu....maafin Sekar, Bu. Karena Sekar bapak tidak tertolong." Sekar berlari memeluk ibunya, ia menangis tersedu-sedu hingga hilang suaranya. Sementara ibunya masih dengan tangisnya sendiri.
"Ibu ... maafin Sekar, Bu. Sekar egois...harusnya Sekar langsung setuju saja saat bapak minta Sekar untuk menikah bukan meminta waktu untuk berpikir...huuuu," dengan sesenggukan ia mengucapkan kata-kata yang menyesakkan hati termasuk Bima yang ikut mendengarnya.
"Dia menyesal menikah dengan ku. Ya Allah sabarkan hatiku semoga ia baik-baik saja," gumam Bima lirih dengan wajah tertunduk, tak terasa air matanya mengalir. Kesedihan mendalam hinggap di hatinya yang rapuh.
"Jangan bicara seperti itu, ndhuk semua sudah takdir," nasehat Budhe Halimah menenangkan Sekar seraya mengelus punggung gadis itu.
"Kalau bukan karena menunggu Sekar nikah, bapak pasti selamat, Budhe...," masih dengan tangis sedu sedannya. "Harusnya Sekar terima saja siapapun jodoh Sekar bukan menunggu Mas Bima pulang huuuuu...," ucapan Sekar tanpa disadarinya telah melukai hati suaminya yang masih diam termangu di belakang tubuhnya yang sedang bersimpuh.
Mereka larut dalam tangis yang menyesakkan dada. Begitupun dengan Bima, hati pria itu begitu terluka mendengar penyesalan istrinya yang menunggunya pulang. Seharusnya Sekar tidak bicara seperti itu, bagaimana pun kini dia suaminya. Tapi sebisa mungkin ia berusaha memahami perasaan istrinya yang tengah berkabung.
Pakdhe Suraji yang mendengar ucapan Sekar segera membawa pria muda yang malang itu ke depan untuk menemui tamu yang melayat ke rumah itu. Pria tua itu turut merasa pedih terbayang bila dirinya di posisi Bima.
"Sabar, Nak Sekar hanya sedang berduka. InsyaAllah secepatnya ia akan kembali menyadari kesalahannya. Jangan berkecil hati, gadis itu hanya butuh waktu untuk menguasai emosinya," ujar Pakdhe seraya menepuk pundak Bima pelan.
"Iya, Pakdhe saya mengerti," hanya itu yang mampu terucap dari bibirnya yang terasa kelu.
__ADS_1
Ayah Sekar adalah seorang yang cukup dikenal dan dihormati di desa itu. Sehingga pelayat yang datang hampir dari seluruh warga desa itu. Rumah kecil keluarga Sekar penuh sesak oleh pelayat yang datang di sore yang gelap itu.
Sore menjelang maghrib pemakaman selesai dilakukan. Saatnya Bima dan Satya mandi selepas dari makam. Ia begitu kaget ketika disuruh untuk mandi di rumah Pakdhe Suraji. Ia bingung harus bagaimana. Pakdhe yang tahu kebingungan kedua kakak beradik itu pun langsung menghampiri keduanya.
"Ayo, ke rumah saya keburu Maghrib ini. Ba'da Isya nanti akan ramai orang berdatangan untuk tahlilan." Satya dan Bima hanya menuruti pria tua itu dan mengikuti langkahnya menuju rumah kediamannya.
"Ini mandi di sini dan sholatnya bisa di masjid depan atau di rumah juga bisa di ruangan itu," kata pria beruban itu seraya menunjuk sebuah ruangan di salah satu sudut rumah.
"Iya, Pakdhe terimakasih," ucap Bima lalu ia pun masuk ke kamar mandi untuk mandi dan bersiap untuk sholat.
****. *****
"Aku tidur di mana ini, Bang?" tanya Satya usai tahlilan. Kepalanya berputar mencari tempat untuk merebahkan diri.
"Ada binatang melata nggak, ya?" tanya Satya cemas. Dirinya membayangkan jika saat dia tidur ada hewan melata merayap di tubuhnya yang terlelap lalu binatang itu masuk dalam ubang hidung atau telinganya.
"Nanti kalau ada kan tinggal makan mulai dari otak kamu," sahut Bima kesal.
"Jahat bener jadi abang," gerutu Satya. Matanya jelalatan mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk bantalan kepalanya.
"Mas Satya ini bantalnya. Mas akan tidur di sini bersama dengan Mas Sayid dan anak-anaknya. Mas Bima juga," kata Kirana seraya memberikan beberapa bantal pada Satya.
"Dimana istriku?" tanya Bima mencari sosok wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya.
__ADS_1
"Ada di kamar, tapi malam ini belum bisa tidur bareng soalnya belum ada tempatnya," sahut Kirana.
"Tak apa. Apa aku boleh menemuinya? Hanya ingin bicara sebentar," tanya pria berbaju putih itu.
"Iya, silahkan."
Bima pun masuk ke dalam kamar Sekar. Betapa miris hatinya melihat kamar Sekar yang begitu mungil. hanya ruangan sempit berukuran 3×2 m saja. Sebuah dipan single, sebuah lemari kayu dan sebuah dipan kecil di bawah untuk sholat yang di depannya banyak terdapat tumpukan buku.
Tidak ada meja rias apalagi spring bed ataupun kamar mandi. Lantainya pun masih tanah. Dipan sempit itu pun dipergunakan untuk 2 orang. 'Rasanya pasti sesak,' ujarnya dalam hati.
Dilihatnya sang istri yang sedang berbaring seraya menatap langit-langit kelambu tempat tidurnya. Didekatinya dan diusapnya pipi istrinya yang baru sah 3 hari yang lalu.
"Sayang, tidurlah ini sudah malam kamu kurang istirahat selama beberapa hari ini," ucap pria itu lembut.
"Andai aku tidak meminta waktu untuk berpikir dan langsung menuruti permintaan bapak yang terakhir mungkin bapak sampai saat ini masih ada," ujar gadis itu lirih.
"Aku anak durhaka yang tidak bisa menyelamatkan nyawa bapak. Pria yang begitu berjasa dalam hidupku dan menjadi cinta pertamaku. Rasanya usahaku memberikan pengobatan untuk bapak sia-sia bapak tetap tidak bisa diselamatkan," imbuhnya lagi dengan mata terpejam dan air mata mengalir membasahi bantal yang menjadi alas kepalanya.
Hati suami mana yang tidak akan perih mendengar ucapan seperti itu dari mulut istri yang begitu dicintainya. Namun ia masih waras, istrinya hanya sedang berkabung dan butuh waktu untuk berdamai dengan kenyataan.
"Tidak sadarkah kamu istriku, umur adalah takdir. Kematian adalah sesuatu yang tidak bisa dimajukan atau dimundurkan. Andai pun saat itu bapak langsung dioperasi tidak ada jaminan bapak akan bisa hidup lebih lama. Apa kamu lupa kuasa Tuhan? Jika kamu menyalahkan diri sendiri karena pernikahan kita, itu artinya kamu menyalahkan Tuhan yang menyayangi bapak sehingga memanggilnya lebih cepat. Jangan terus menangis, melihat air matamu hatiku begitu sakit."
Sekar hanya diam mendengarkan semua ucapan suaminya. Ia menyadari satu hal, suaminya terluka dengan ucapannya tadi. Wanita itu mengalihkan pandangannya dan menatap wajah suaminya menyelami perasaan yang tersembunyi di balik wajah sendu itu.
__ADS_1
"Maafkan aku yang melukai hatimu. Aku mencintaimu lebih dari yang kamu tahu," ucap wanita itu seraya mencium punggung tangan suaminya.