Cinta Tetaplah Di Sini

Cinta Tetaplah Di Sini
Apa itu penting?


__ADS_3

"Sekar, saya boleh tanya sesuatu padamu?" tanya Intan di suatu pagi setelah semua berangkat bekerja.


"Bertanya apa, Bu?" Sekar menatap wajah atasannya yang kini duduk di sebuah kursi kayu di teras belakang rumah mereka.


"Emh... ini tentang kamu dan Bima," ucap wanita berkemeja putih itu dengan sedikit ragu.


Sekar masih menunggu Intan meneruskan kata-katanya. Sesekali dilihatnya Intan sedikit gelisah. Dia sendiri ikut gugup setelah melihat gestur tubuh Intan yang tidak biasa.


"Tolong jawab yang jujur, ada hubungan apa sebenarnya antara kamu dan anak saya?" tanya Intan dengan menatap wajah gadis desa itu.


Sekar bingung harus jawab apa tapi ia juga tak mungkin jujur dengan semua kerumitan perasaan di antara mereka. Tetapi mau tidak mau ia harus menjawab dengan jawaban yang masuk akal.


"Kami berteman, Bu," jawabnya singkat sambil menunduk.


"Teman? Tapi kenapa saya melihat Bima begitu perhatian padamu seakan dia kekasihmu sampai dia rela susah payah merawatmu?" Intan tidak bisa menerima begitu saja jawaban Sekar. Dirinya tahu betul besarnya perhatian Bima pada Sekar.


"Iya, Bu itu benar. Kami berteman sejak saya masih bekerja di rumah keluarga Mas Rafa. Dulu Mas Bima sering ke sana dan kita beberapa kali pergi bersama dengan teman-teman Mas Rafa yang lain. Itu sebabnya kami bisa berteman. Dan kalau kenapa Mas Bima merawat saya, itu Ibu tanyakan saja pada Mas Bima karena saya juga tidak tahu pasti alasannya apa."


Dengan susah payah dan berfikir keras gadis itu menjawab pertanyaan Intan.


"Kamu ada rasa untuk Bima?" Sekar sangat terkejut mendengar pertanyaan itu. Ini kali kedua Intan menanyakan pertanyaan yang sama.


Sekar lagi-lagi bingung harus jawab apa. Dia hanya menundukkan kepalanya dengan tangan saling meremas di pangkuannya. Telapak tangannya terasa dingin membeku.

__ADS_1


Dirinya takut jika dirinya salah bicara dan itu bisa membuat kesalahpahaman di antara mereka.


"Saya melihat kamu dan Bima cukup dekat jika dibilang itu hanya sebatas teman biasa.


Saya rasa kalian saling mencintai. Saya mengenal putra saya, dia tidak pernah melihat wanita seperti melihatmu. Saya juga menyukaimu jadi bila kamu juga mencintainya sebaiknya kalian segera menikah. Melihat perlakuannya padamu membuat saya takut jika kalian tidak mampu menjaga diri."


Intan mengungkapkan pendapatnya tentang apa yang dilihatnya selama ini juga tentang kekhawatirannya melihat hubungan keduanya. Sekalipun ia menyukai gadis itu, dia tidak ingin jika keduanya melampaui batas.


"Saya dengar dia mengajakmu untuk menikah tapi kamu menolaknya. Tapi saya lihat kamu tidak menolak saat dia memperlakukanmu secara spesial. Saya jadi bingung dengan sikapmu. Apa alasan sebenarnya yang membuatmu menolaknya?" Intan menatap Sekar menanyakan keseriusan Sekar yang terbilang plin plan baginya.


"Saya punya alasan yang tidak bisa saya katakan pada siapapun," jawab Sekar dengan mata menatap jauh ke depan berbenturan dengan tembok pembatas di ujung halaman belakang dengan tatapan yang entah apa artinya hanya gadis itu yang tahu.


"Tentang apa?" Intan merasa sangat penasaran ingin tahu lebih jauh tentang keduanya.


Rupanya Sekar salah paham dengan semua ucapan Intan. Ia mengira jika Intan tidak menyukai kedekatannya dengan Bima. Dia tidak tahu jika sebenarnya Intan ingin Sekar segera menjadi istri Bima.


Sekar pamit untuk masuk ke dalam kamar untuk membersihkan bekas luka dan memberinya obat penghilang bekas luka. Sejak tangannya sudah bisa bebas bergerak ia selalu menolak ketika Bima ingin membantunya. Dirinya tidak ingin terus merepotkan orang yang dicintainya. Karena dia tahu jika pria itu sangat sibuk dan selalu pulang dalam keadaan lelah.


*****. ******


Bima kini sedang sibuk di dalam ruang kerjanya di sebuah cofee shop miliknya. Dirinya disibukkan dengan persiapan keikutsertaan dirinya dalam pameran produk ekspor unggulan yang akan diadakan di India seminggu lagi.


Produk unggulan yang disiapkan oleh Bima adalah kopi Robusta dari Lampung, Bengkulu dan beberapa daerah lain di Indonesia. Ia melihat potensi besar hasil perkebunan warga tersebut. Peminat kopi di dunia sangat tinggi dan tidak semua menyukai jenis kopi Arabika yang bercitarasa lebih asam dari kopi Robusta.

__ADS_1


Bukan hanya kopi yang dipetik langsung dari pohon, tetapi juga kopi yang berasal dari kotoran hewan musang yaitu kopi luwak pun diperkenalkan oleh Bima. Kopi jenis ini justru jauh lebih mahal harganya namun ketersediaannya sangat terbatas. Hal ini membuatnya hanya menyediakan sedikit produk jenis ini.


"Bima, barangnya sudah berangkat kemarin dan kemungkinan akan sampai di sana tepat waktu. Kita akan berangkat hari apa?" tanya Hadi sahabat sekaligus rekan kerja Bima.


"Baguslah. Kita akan berangkat empat hari lagi untuk menyiapkan segala yang diperlukan selama pameran berlangsung," jawab Bima sambil terus mengetik di komputer entah itu apa.


"Apa calon istrimu akan ikut?" tanya Hadi lagi.


"Calon istriku biar memulihkan kesehatannya saja dulu, nanti kalau sudah lebih baik akan kuajak keliling dunia sekalian," jawab Bima dengan wajah berseri membayangkan manisnya senyuman Sekar.


"Kapan mau nikahnya, anak orang digantung terus?" Hadi meledek teman yang masih belum menikah itu sementara dirinya sudah memiliki 2 orang anak.


Bima menghela nafas berat. Wajah yang tadi berseri kini berganti sendu. "Entah harus seperti apa untuk membuatnya yakin dengan cintaku. Kamu sendiri tahu sejak pertama kali bertemu dengan gadis itu aku sudah menaruh hati padanya. Berkali-kali aku mengajaknya menikah, namun selalu ditolaknya. Kini aku berharap ada keajaiban yang membuat dia mau menikah denganku atau jika tidak aku pasti akan mendapatkannya saat sudah jadi perawan tua," Bima berkeluh kesah mencurahkan kegalauan hatinya.


"Mungkin usahamu kurang maksimal. Coba temui langsung orang tuanya. Mungkin dengan peran orang tuanya kamu bisa meluluhkan pendiriannya," Hadi memberikan saran untuk sohibnya yang sedang galau agar lebih bersemangat mengejar cintanya.


"Oh, iya apa kamu sudah bilang cinta sama dia?" tanya Hadi sambil bersandar di dinding dengan sebelah kaki terangkat menekuk ke belakang menapak di dinding.


Bima menggelengkan kepalanya dan itu sontak membuat Hadi gemas dan memukul meja dengan keras membuat Bima melonjak kaget.


"What ??? Bagaimana dia mau nikah sama kamu kalau kamu gak bilang cinta? Pantas saja dia selalu menolakmu, dia pikir kamu cuma main-main," ucap Hadi setengah berteriak merasa sangat kesal karena memiliki sahabat yang begitu bodoh.


"Benarkah? Apakah itu penting?" Bima bertanya dengan wajah yang terlihat begitu serius membuat sahabatnya bertambah gemas dan pergi dengan bergumam

__ADS_1


"Pertanyaan macam apa itu? "


__ADS_2