
Suasana terasa sangat tegang dan mencekam. Sekar yang sudah tahu kondisi ayahnya yang tidak baik-baik saja mulai merasa khawatir. Ia mencengkram ujung hijabnya dan meremasnya.
Tidak berbeda dengan Sekar, Kirana pun terlihat begitu tegang. Berjalan mondar mandir seperti setrika di depan ruang rawat ayahnya. Terlihat sekali wajah tegang mereka bahkan air mata pun sudah tidak mampu dikendalikan.
Bima mendekati Sekar lalu merangkul bahu istrinya. Perlahan dipeluknya tubuh yang tengah gelisah itu hangat dan diciumnya pucuk kepala istrinya berharap memberikan semangat dan kekuatan.
"Yang tenang, sayang berdoalah untuk kesembuhan bapak. Percayakan pada dokter mereka akan melakukan yang terbaik," kata Bima menenangkan istrinya.
"Bapak, Mas Bapak," isak Sekar di dada suaminya.
"Iya, Mas tahu. Kita berdoa aja minta Allah beri yang terbaik untuk bapak. Yakinlah Allah Maha Tahu mana yang terbaik untuk umatnya."
Bima hanya berusaha menenangkan istrinya, namun hatinya juga tidak kalah gelisah. Ia takut kemungkinan terburuk akan terjadi. Bagaimana nanti hati istrinya bila itu benar terjadi. Dia begitu kalut, namun sebisa mungkin ditutupinya agar suasana tidak bertambah tegang.
"Duduklah, Kiran," kata Satya. Kirana hanya menoleh tanpa berbicara apapun lalu menyandarkan tubuhnya di dinding. Gadis itu tahu betul apa yang terjadi selanjutnya, tapi dia takut mengatakannya.
Satya menatap iba pada Kirana, ingin dia melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Bima. Tapi tentu saja dia tahu diri. Dirinya bukan siapa-siapa bagi gadis itu. Bahkan mereka baru kenal beberapa hari saja.
Dokter keluar setelah cukup lama melakukan tindakan medis pada ayah mereka dengan wajah muram. Dihelanya nafas dalam-dalam sebelum mengatakan apa yang harus dikatakan.
"Bagaimana keadaan bapak, Dok? Bapak saya baik-baik saja kan, Dok?" tanya Sekar mencecar dokter itu dengan raut wajah penuh harap.
"Maafkan kami. Kami sudah melakukan berbagai cara, namun Allah lebih sayang pada ayah anda. Saya turut berduka. Saya harap keluarga bisa sabar dan tabah dengan kenyataan ini. Permisi." dokter pun pergi setelah mengabarkan kondisi pasien.
"Bapak...."
Tangis Sekar dan Kirana pecah seketika. Tubuh keduanya luruh ke bawah dan Bima dengan sigap menangkap tubuh istrinya lalu mendudukkannya di kursi tunggu. Ia tarik tubuh itu dam dekapannya dan membiarkannya menangis.
Tiba-tiba Kirana pingsan. Satya langsung mengangkat tubuh Kirana dan membaringkannya di kursi yang sama dengan Sekar.
__ADS_1
"Kiran, bangun Kiran." Satya menepuk pipi Kirana berkali-kali namun gadis itu tak bergeming masih tak sadarkan diri.
"Kalian kenapa?" tanya Ibu yang baru saja tiba bersama Tiwi dan Puspa. Wanita tua itu nampak heran melihat Sekar yang menangis tersedu dan Kirana yang pingsan dalam waktu yang bersamaan.
Ibu mendekati Kirana dan menepuk pelan pipi anak perempuannya. "Nak, Kiran bangun, Nak," ucapnya lembut tanpa tahu penyebab gadis itu pingsan.
"Ada apa, Bim?"tanya Tiwi pada Bima karena kedua adiknya tidak menjawab pertanyaan ibu.
"Bapak meninggal, Mbak baru saja," jawab Bima lirih.
Brukk !
Kali ini tubuh ibu yang jatuh terkulai di lantai. Mereka kebingungan tubuh ibunya mau dibaringkan di mana. Puspa melihat kursi panjang yang tidak jauh dari sana dan meminta Satya dan Bima membawa kursi itu ke dekat mereka untuk membaringkan ibu.
Bima tidak ingin jenazah ayah mertuanya terlalu lama menunggu. Ia memutuskan untuk segera mengurus kepulangan jenazah ayah mertuanya.
Sekar pun segera menelepon Sayid kakak iparnya.
"Oh, iya Mas bapak akan dikubur habis sholat jum'at jadi minta warga gali lubang kubur segera," kata Sekar.
"Iya lebih cepat lebih baik."
Kirana dan Ibu sadar dari pingsannya. Ibu begitu histeris ingat jika suami yang menemaninya selama ini telah tiada. Sekar dan Tiwi terus berusaha menahan tangisannya karena takut ibunya bertambah histeris.
Sejam kemudian jenazah bapak bisa segera dipulangkan. Ibu, Kirana dan Satya ikut masuk dalam mobil jenazah. Kirana duduk di kursi penumpang di sebelah supir sementara ibu bersama Satya di samping jenazah bapak. Satya dengan sabar .memegangi tubuh tua itu dan itu tidak lepas dari pandangan Kirana.
Kirana meminta agar sirene mobil jenazah tidak dibunyikan agar tidak semakin membuat ibunya sedih.
"Bang, tolong jangan dibunyikan kasihan ibu," ucap Kirana pada supir dan supir itu menghormati keinginan Kirana.
__ADS_1
"Bapaknya sakit apa, Mbak?" tanya supir itu untuk memecah kesedihan yang tercipta di dalam mobil jenazah.
"Sakit jantung. Kemarin sempat dioperasi tapi gagal, ada komplikasi pembuluh darah ke otak. Bapak koma selama tiga hari dan akhirnya bapak menyerah. Mungkin ini yang terbaik untuk bapak," cerita Kirana.
"InsyaAllah khusnul khotimah apalagi meninggalnya di hari baik, hari jum'at," kata supir.
"Amiiin."
"Sepertinya saya pernah lihat Mbaknya pakai seragam perawat rumah sakit tadi, ya?" supir itu menebak sambil mengingat-ingat kembali kejadian yang membuatnya melihat Kirana.
"Iya, saya perawat di sana dan saya juga ikut operasi bapak kemarin," kata Kirana membenarkan.
"Wah, Mbak luar biasa lho bisa ikut operasi bapaknya sendiri. Jarang lho yang bisa," kata si supir memuji kekuatan hati Kirana dan gadis itu hanya tersenyum tipis.
Sepanjang perjalanan Kirana terus mengirimkan doa untuk sang ayah. Terputus hanya ketika supir menanyakan jalan yang harus dilalui. Kirana memilih melewati jalan pintas agar lebih cepat sampai.
Sementara itu Sekar, Bima, Puspa dan Tiwi pulang dengan naik bus. Tidak banyak yang mereka katakan sepanjang perjalanan. Hanya doa yang terus menerus dilantunkan oleh keempatnya.
Hingga sampai di persimpangan mereka turun dari bus. Tidak jauh dari jalan masuk menuju desa mereka yang berjarak 6 km dari jalan raya itu telah terparkir sebuah mobil yang telah menunggu mereka datang. Sayid yang mengutus orang untuk menjemput mereka.
"Pelan-pelan Bang jalannya rusak," kata Kirana pada supir.
"Iya, Mbak."
Jalan ini masih sama seperti ketika dirinya pulang bersama Sekar beberapa bulan lalu. Jika tidak hati-hati bisa saja jasad ayahnya akan terbentur dinding mobil.
Posisi desa yang ada di ketinggian membuat jenazah bapak ikut melorot ke belakang. Satya dengan sigap memegangi tubuh bapak agar tetap pada posisinya.
Sungguh bukan perjalanan yang mudah. Jalanan naik turun yang cukup ekstrim ditambah kondisi berlubang di sana sini cukup menguras emosi yang tengah berkabung. Entah sampai kapan kondisi jalan ini akan membaik.
__ADS_1
Jarak 6 km yang ditempuh selama setengah jam itu akhirnya selesai, mereka sampai. Tampak banyak pria menunggu kedatangan jenazah bapak di depan rumah Pakdhe Suraji. Iya, ini karena rumah ibu berada di belakang dan kendaraan roda 4 tidak bisa masuk.
Dengan sigap mereka menggotong jasad bapak. Sebagian lagi dari mereka membantu membawakan barang yang dibawa di mobil jenazah itu.