
"Ini Sekar?" tanya Mita tak percaya dengan tamu yang datang siang itu dan Sekar pun mengangguk dengan wajah berbinar bahagia.
"Oh...my friends....kangen...,"
seru Mita seraya memeluk erat tubuh Mita dan menggoyang goyangkannya kuat.
"Mama Papa!!!!" Mita berteriak memanggil orang tuanya.
"Ada apa sih, Mita?" tanya Murni mamanya Mita yang berjalan dari dapur.
"Lihat siapa yang datang." Mita masih berlonjak kegirangan.
"Ya, Allah Sekar apa kabar? Kapan datang ke Jakarta, Nak? Loh kok sama Bima?" cecar Murni tak sabar.
"Kabar Sekar sehat, Bu. Sekar baru sampai tadi pagi dan akan bekerja jadi asistennya Ibu Intan. Makanya ke sininya diantar Mas Bima." Sekar pun menjelaskan dengan baik pertanyaan Bu Murni dan menyerahkan oleh-oleh yang sama dengan yang diberikan pada keluarga Bima.
Cukup lama mereka bercengkrama. Keluarga Herman memang memperlakukan Sekar dengan baik layaknya keluarga sendiri. Dan Mita, jangan ditanya dia sangat akrab bahkan menjadikan Sekar teman curhatnya karena kepandaiannya menjaga rahasia.
Waktu telah petang Sekar pun pamit pulang. Namun Bima justru mengajaknya ke mall malam itu untuk jalan jalan dan berbelanja keperluan Sekar bekerja besok.
"Arum, kita makan dulu sebelum belanja, ya" ajak Bima dengan langkah mendahului Sekar tanpa menunggu jawaban dari gadis itu.
"Arum?" Sekar merasa heran dan asing dengan panggilan itu menggelengkan kepala tak mengerti.
"Mas, kok Arum panggilnya?" tak bisa lagi ia menahan rasa penasaran memilih untuk bertanya ketika mereka telah duduk di sebuah cafe di dalam mall.
Tampak Bima tersenyum manis semanis gula senyum yang selalu membuat jantung Sekar tak sehat bila melihat dan mengingat senyum itu. "Biar hanya aku yang memanggil mu berbeda jadi jika kamu dengar seseorang memanggilmu Arum itu artinya aku," jawaban yang membuat hati gadis manis manapun yang mendengarnya akan melambung setinggi awan.
"Kamu mau makan apa?"
"Apa saja yang penting pakai nasi." Bima tertawa mendengar jawaban Sekar. "Ndeso," ejeknya dengan kepala yang bergoyang ke kanan dan ke kiri.
"Orang Indonesia, Mas. Belum kenyang kalau belum makan nasi," Sekar menirukan semboyan kebangsaan warga +62 yang populer itu.
__ADS_1
Lagi-lagi Bima tertawa dengan gaya santainya semakin menampilkan keelokan rupanya membuat Sekar yang sejak tadi jantungnya berdebar semakin berdebar tak karuan. Tapi bukan Sekar namanya kalau tak bisa menguasai mimik dan gestur tubuhnya.
"Rum." Sekar pun mendongak menunggu Bima meneruskan kata katanya.
"Untuk gaji yang dariku itu urusanku dan kamu jadi jangan beritahu siapapun," pinta Bima dengan wajah serius mengharap jawaban Sekar.
"Tapi Mas juga janji, ya jangan beritahu keluargaku soal hutangku sama mas Bima. Entah bagaimana caranya aku akan berusaha melunasinya sebelum aku menikah karena tak mungkin membebankan hutang itu pada orang lain," kini Sekar yang meminta.
'Cukup menikah denganku, Sekar,' bisik hatinya ingin mengatakan itu tapi tak cukup keberanian pada dirinya mengatakan itu semua.
Sebenarnya hutang itu hanya akal-akalan Bima saja untuk menjerat Sekar agar dekat dengannya dan menjadikannya asisten pribadi Mamanya juga agar keluarganya mengenal gadis pujaan hatinya lebih dalam.
Dia tak ingin terpisah lagi dengan Sekar dan ingin selalu memantau dan menjaganya, namun bibirnya kelu untuk mengatakannya. Dan tentunya mobil yang kecelakaan waktu itu pun sudah diasuransikan jadi tak ada kerugian yang berarti bahkan mobil penggantinya sudah ia jual untuk modal membuka usah cofee shop miliknya. Dasar modusnya saja agar Sekar tetap berada di sisinya namun gengsi masih lebih besar dari rasa cintanya. Ya ampun....
"Nonton yuk, Rum," ajaknya setelah keluar dari cafe.
"Gaklah, Mas besok mau kerja masa hari pertama sudah telat kan gak lucu," tolak Sekar. "Langsung belanja saja, ya biar cepat pulang." Bima pun mau tak mau menurutinya karena tak mungkin memaksanya bisa bisa ilfeel lagi Sekarnya.
"Kamu sudah punya pacar, Rum?" akhirnya keluar juga unek-uneknya sambil mengendari mobilnya membelah jalanan ibukota.
"Kenapa? Kan kamu manis mana mungkin belum punya pacar?" selidik Bima sangat kepo. Merah meronalah pipi Sekar disebut manis oleh pria yang dicintainya.
"Pingin langsung nikah saja biar gak ada masalah nantinya."
"Bukannya dulu kamu pernah pacaran sama siapa tuh namanya teman kamu yang di desa itu? Sambas, ya?"
"Abbas, Mas emang nama kota, Sambas?" Sekar memperbaiki nama yang ucap asal oleh Bima. Bima hanya terkekeh mendengarnya.
"Sudah lama itu mah, Mas sebelum semester tiga juga sudah putus."
"Kenapa? Ada yang lebih ganteng, ya?"
"Apa hubungannya?" tampak Sekar mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Mungkin saja ada yang lebih ganteng jadi dia kamu tinggal." Sekar tertawa tanpa suara dengan gelengan kepala tanda ia merasa lucu dengan ucapan Bima.
"Dia yang selingkuh, gak betah ldr-an kata temanku," jawabnya dengan senyum mengembang di bibirnya seakan tak ada luka di sana.
"Kamu patah hati makanya gak cari lagi?" tebak Bima makin kepo.
"Bukan. Aku gak patah hati karena memang tak ada yang perlu disesali. Kini aku hanya ingin menggapai mimpiku saja dan menikah dengan orang yang dengan tulus mencintaiku. Itu saja."
"Lebih pilih dicintai atau mencintai?"
"Dicintailah, mencintai sendirian itu pahit," ucapnya dengan senyum miris.
"Ada yang kamu suka? Siapa?" bukannya menjawab Sekar malah diam saja. 'Tak tahukah betapa gugupnya aku ditanya begitu? Kamu, Mas orangnya yang bikin aku gak bisa move on,' gumamnya dalam hati dengan menggigit bibir
bawahnya.
Setelah pembicaraan itu perjalanan pulang mereka hanya ditemani kesunyian. Tak ada lagi pembicaraan diantara mereka yang seharusnya bisa menecah kesunyian. Mereka justru sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Kalian dari mana saja jam segini baru pulang?" Intan langsung mengintrogasi keduanya begitu memasuki rumah. Sekar hanya menunduk tak berani menjawab.
"Tadi sepulang dari rumah Om Herman Bima ajak Sekar makan dan belanja keperluan untuk bekerja besok, Ma" Bima pun menjelaskan alasan mereka pulang terlambat.
"Benar begitu, Sekar?" kini Sekar yang dipinta jawabannya.
"Iya, Bu. Maaf sudah pulang terlambat." Sekar masih menunduk tak berani menatap wajah Intan ia merasa bersalah dan khawatir jika Intan akan marah padanya.
"Ya, sudah kalau begitu Mama kira kalian kemana sampai malam begini kok baru pulang." Sekar melongo mendapati jawaban bos barunya ia pikir akan dimarahi ternyata tidak.
"Masuk dan istirahatlah, Arum besok kamu harus bangun pagi sekali agar tidak terlambat," perintah Bima dan Sekar pun langsung masuk kamarnya setelah berpamitan pada Intan.
"Jangan marahi Sekar, Ma. Bima yang sudah membuatnya pulang terlambat," pinta Bima pada mamanya setelah Sekar masuk ke dalam kamarnya.
"Kamu itu harusnya bisa menjaga anak gadis dengan baik, pulang larut malam adalah tindakan yang buruk Mama harap kamu bisa mengerti," nasehat Intan pada Bima.
__ADS_1
"Iya, Ma."
Intan berlalu menuju kamarnya dengan senyum terukir di bibirnya. Ia tak menyangka putranya telah membuka hati untuk seorang wanita. Intan dapat melihat dengan jelas bagaimana cara Bima memandang Sekar bahkan putranya punya panggilan khusus pada gadis desa itu. "Semoga saja mereka berjodoh," gumamnya pelan.