
"Bagaimana kabar keluarga di sana, Bu?" tanya Sekar pada ibunya di sambungan telepon. Ini sudah tiga minggu dia bekerja di sini. Ia rindu keluarganya walau keluarga Intan sangat menyayanginya tetap saja ia sangat merindukan ibunya.
"Alhamdulillah, Ndhuk semua sehat. Kamu juga sehat, kan?" Ibu balik bertanya.
"Bu, Sekar kangen." Ia mulai meremas ujung jilbabnya menahan air mata.
"Kalau kangen kenapa gak video call?"
"Takut nambah kangen." Air matanya kini mulai menetes.
"Apa bosmu gak baik? Apa kerjamu berat?" Ibu justru menanyakan hal yang berbeda membuat Sekar kesal.
"Mereka baik, Bu. Sekar sudah seperti keluarga sendiri," ucapnya sambil mengusap air matanya.
"Terus kenapa kangen?" Sekar kaget mendengar pertanyaan ibunya yang aneh itu.
"Ibu gimana sih masa Sekar gak boleh kangen?" Ia bahkan setengah berteriak saking kagetnya.
"Ya, aneh saja kok manjanya belum hilang juga padahal sudah dewasa, lho," kata-kata Ibu makin membuatnya sangat kesal.
"Ya, sudah deh kalau Ibunya gak mau dikangenin anaknya, Sekar matiin aja teleponnya. Assalamualaikum." Sekar langsung saja memutus panggilan teleponnya karena tak bisa mencurahkan kegundahan hatinya.
Ibu hanya menggeleng kepala sambil membalas salam dari putrinya. Ia tahu betul jika Sekar tengah galau. Namun Sekar cukup tertutup masalah perasaan pada siapapun membuat ibunya hanya menunggu ia cerita sendiri.
Sekar tipe orang yang tak mudah menceritakan perasaan di hatinya. Kemarin dia melihat Bima berjalan dengan seorang wanita di mall. Ia yakin jika itu bukan anggota keluarga Bima. Walau baru 3 minggu bekerja dengan Intan, Sekar sudah hafal semua anggota keluarga itu. Lalu siapa wanita itu?
Hatinya sungguh risau. Duduk di taman halaman belakang rumah mereka membuatnya sedikit tenang karena dipenuhi tanaman bunga yang indah dan cantik. Susana damai menghampiri hatinya.
Seminggu telah berlalu. Sekar pun sudah tahu siapa wanita itu. Dia adalah klien bisnisnya yang kebetulan bertemu Bima di mall dan meminta tolong untuk mengajarinya sesuatu hal yang penting sehingga terlihat jalan bersama seolah pasangan kekasih.
"Sekar, gajimu sudah saya kirim ke rekeningmu, ya," kata Intan saat makan malam di rumah bersama anggota keluarga Bima.
"Iya, Bu. Terima kasih," jawab Sekar dengan senyum manis.
"Wah, boleh minta traktir, dong," canda Satya membuat Bima kaget.
__ADS_1
"Masa cewek yang traktir, cowok dong," sahut Bima tidak terima membuat Satya semakin semangat menggoda Sekar. Satya sudah tahu perasaan Bima pada Sekar tapi ia kesal karena Bima tidak segera menembak Sekar.
"Ya, elah, Bang sekali-kalilah cewek yang traktir, lagian Sekar, kan jomblo jadi gak akan ada yang cemburu juga," sahut Satya membuat Bima panas.
"Muka ganteng, dompet tebal, tapi kok kere ya minta traktir cewek?" Bima menyindir Satya membuat adiknya itu semakin semangat menggoda kakaknya.
"Biarin." Satya menoleh pada Sekar dan menatap wajahnya membuat Sekar salah tingkah.
"Gimana Sekar, mau kan traktir aku?" Bahkan dengan menaik turunkan alisnya sebelah membuat Bima makin kepanasan.
"Boleh, sih kalau cuma cendol," jawabnya lirih dan ragu namun masih bisa didengar semua yang ada di situ dan itu tentu saja membuat mereka tersenyum tipis
"Yang bener aja cuma cendol? Sekar, gajimu kan lumayan dari Mama, masa cuma cendol?" protes Satya dengan wajah memelasnya.
"Hehehe, bukannya gak mau traktir yang mahal, tapi uang itu akan aku kirim ke kampung untuk biaya mengurus kebun dan sawah jadi aku gak bisa traktir yang mahal. Maaf." Sekar nyengir dibarengi wajah bersalah karena telah menolak untuk mentraktir Satya.
"Emang enak?" ejek Bima dengan wajah penuh kemenangan.
"Kalau gitu aku aja deh yang traktir." Ide usil lain muncul membuat Bima yang tadi sudah lega menjadi tegang kembali. Ia khawatir jika Sekar menerimanya.
"Okey. Kapan?" Kesal karena Bima diam saja, Sekar pun akhirnya menerima ajakan Satya.
"Besok malam, ya?" usul Satya membuat mata Bima melotot. Intan dan Satya melihat itu. Mereka yakin jika saat ini Bima sedang cemburu akut.
"Bolehkan, Ma Pa?" Satya meminta izin pada orang tuanya karena memang kini Sekar berada dalam tanggung jawab mama dan papanya.
"Boleh. Tapi harus jaga Sekar baik baik jangan sampai tergores atau lecet sedikitpun," pesan Intan pada Satya dan disanggupi olehnya. "Okey, Mama. Mama the best, deh," imbuhnya memuji sang mama dan mengangkat kedua jempolnya ke udara.
Jadilah keesokan malamnya Sekar dan Satya pergi makan malam di sebuah cafe.
Mereka tampak seperti pasangan kekasih. Terlebih usia mereka yang tidak jauh berbeda.
Mereka bercanda dan tertawa bersama membicarakan masa remaja yang penuh dengan kenangan. Tampak Sekar sesekali menutup mulutnya ketika tertawa. Sesekali pula ia membenahi letak hijabnya yang sedikit bergeser akibat banyak tertawa.
"Mereka asyik banget, sih!" gerutu kesal terdengar dari mulut Bima.
__ADS_1
Dia merasa cemburu dan memutuskan untuk membuntuti mereka. Maka di sinilah dia berada. Duduk dan mengamati dari kejauhan.
"Hah!" kesal sekali rasanya.
"Bagaimana aku bisa mengatakan jika aku mencintaimu? Aku sungguh tak berani mengatakannya," gumamnya sendiri.
"Huh, aku harus ke sana pura-pura kalau tak sengaja bertemu di sini," Ide brilian muncul setelah lama bergelut dengan egonya.
Bima pun berdiri hendak menghampiri keduanya. Namun belum sempat ia melangkah ia melihat mereka berdiri dan melangkah pergi dari tempat itu.
"Akan kemana mereka?" gumamnya penasaran.
Kembali ia mengikuti mereka dari kejauhan. Bima tak ingin tertinggal mobil mereka. Ia terus saja membuntuti seperti seorang body guard. Ternyata mereka langsung pulang ke rumah. Lega sekali rasanya Bima.
"Lho, darimana, Bang?" tanya Satya saat baru turun dari mobil dia melihat Bima juga turun dari mobilnya.
"Main!" ketusnya sambil berlalu masuk begitu saja meninggalkan keduanya yang bingung dengan sikap jutek Bima.
"Mas Bima kenapa, ya?" tanya Sekar.
"Entah. Lagi haid kali," tebak Satya asal.
"Hah????" Sekar merasa dua pria ini aneh.
Sekar langsung masuk ke kamarnya. Dia langsung membersihkan diri dan ganti baju. Ia pun segera tidur agar besok tidak terlambat bekerja.
Berbeda kini yang dirasa Bima. Dia hanya Membolak-balikkan tubuhnya resah. Dia yang membuat Sekar berada di sini namun dia juga yang resah karena Satya tampak mendekatinya.
"Ah, gak mungkin. Satya, kan sudah punya Miranda. Mereka belum putus jadi aku rasa dengan Sekar hanya berteman saja," pikirnya dalam hati.
"Tapi gimana kalau ternyata Satya juga inginkan Sekar?" Sisi lain hatinya berkata berbeda.
"Aku bisa gila memikirkan ini. Aku harus menanyakan langsung pada Satya," pikirnya kini.
Diliriknya jam di dinding sudah pukul 1 malam. Satya pasti sudah tidur. Biar besok saja, pikirnya. Akhirnya dengan susah payah ia bisa tidur juga. Ia sangat berharap Sekar hadir dalam mimpinya sebagai bidadari surganya dan dia berharap itu menjadi nyata.
__ADS_1