
New Delhi, India
Dua hari sudah Bima berada di India untuk mengikuti pameran produk ekspor unggulan. Bima mengikuti kategori produk pertanian. Bersama dua temannya Hadi dan Aziz mereka menginap di sebuah hotel yang tidak jauh dari lokasi pameran.
Malam hari cuaca cukup gerah di musim panas. Bima berdiri di balkon hotel untuk mencari udara segar. Polusi udara yang cukup parah membuat suhu udara semakin menyengat kulit. Hal ini membuatnya betah berlama-lama di tempat itu sambil menikmati pemandangan kota yang dipenuhi kilau lampu.
"Hei, Bim belum tidur?" tanya Hadi yang menghampirinya setelah terjaga dari tidurnya malam itu.
"Gerah. Ternyata gerahnya Jakarta masih kalah gerah dari New Delhi. Aku sampai kesulitan untuk bisa tidur malam ini," Bima mengeluhkan suhu udara yang kurang bersahabat dengan kulit orang Indonesia.
Walaupun Indonesia berada di garis khatulistiwa, ternyata New Delhi saat musim panas jauh lebih panas. Tentu saja ini membuat orang Indonesia yang baru berada di sana harus beradaptasi dengan lebih ekstra.
"Aku rasa bukan cuma gerah cuaca yang bikin kamu susah tidur. Sepertinya kamu merindukan sosok Sekar. Benarkan tebakanku?" Goda Hadi pada sahabatnya itu.
"Kamu bisa aja. Nahan rindu empat tahun bisa, masa cuma seminggu gak bisa, kan ini baru dua hari, Had?" kilah Bima.
"Kamu tahu aku lebih berpengalaman dari kamu. Seharusnya kamu bisa lebih berterus-terang tentang perasaanmu yang sebenarnya. Wanita butuh kepastian, bukan hanya angan-angan. Aku rasa dia juga sedang menunggu kabar darimu. Kalian tinggal serumah, pastinya akan ada yang terasa hilang bila salah satunya tidak ada." Hadi memberi saran pada sahabatnya yang kini masih betah menatap lampu lampu di kejauhan.
"Aku takut dia menolakku," jawab Bima pesimis.
Hadi mendekati sahabatnya dan menepuk pelan bahu kekarnya. "Kamu tidak akan pernah tahu kalau belum mencobanya. Lagipula aku bisa melihat binar cinta dari sorot mata Sekar untukmu."
"Darimana kamu tahu?" tanya Bima terkejut dengan ucapan sahabatnya.
"Ingat waktu kita jalan-jalan ke pantai Anyer beberapa bulan sebelum kamu kecelakaan?" Bima mengangguk pelan dan kembali menatap sahabatnya penuh rasa ingin tahu.
"Saat itu dia menatapmu penuh binar cinta di matanya. Bagi kami yang biasa memacari banyak cewek, paham dengan itu. Aku yakin dia juga mencintaimu hanya saja kamunya sangat lamban nanti malah keburu diambil orang baru kamu nangis kejer," Hadi mengejek sahabatnya yang sangat lamban itu.
"Apa sepulang dari sini aja, ya aku ke rumahnya di Lampung untuk menemui orang tuanya?"
"Harus. Kamu harus cepat kalau enggak, tunggu saja jandanya." Perkataan Hadi membuat Bima tersenyum kecut membayangkan dirinya disalip orang dan bila masih jodoh dia hanya bisa mendapatkan jandanya.
"Menurutmu apa dia juga bisa menerima kekuranganku?' tanya Bima ragu.
__ADS_1
"Kalau dia benar cinta, itu bukan masalah baginya dan tentunya kamu pun harus bisa menerima kekurangannya."
******. *******
Jakarta
"Hallo, Assalamualaikum Kirana ada apa telepon Mbak subuh begini?" suara Sekar menerima panggilan telepon dari adiknya.
"Walaikumsalam, Mbak. Ini aku disuruh ibu buat kasih kabar sama Mbak Sekar supaya pulang," suara adiknya di seberang sana.
"Suruh pulang, kenapa? Apa bapak sakit lagi?"
"Iya, Mbak. Malah sekarang bapak sedang dirawat di rumah sakit tempat aku kerja. Makanya mbak harus segera pulang karena bapak juga nanyain mbak terus," suara Karina terdengar sendu.
"Iya, Mbak akan bicara dulu sama atasan mbak mau minta cuti. Ya, udah Mbak mau sholat dulu nanti kalau ada apa-apa kabari Mbak." Sekar memutuskan panggilan telepon adiknya kemudian melaksanakan sholat subuh.
"Ya, Allah ampunilah dosa orang tua hamba, berikanlah kesembuhan untuk ayah hamba. Angkatlah penyakitnya. Berikanlah kekuatan, kesabaran, serta ketabahan bagi ayah untuk menjalaninya juga pada kami yang merawatnya dan jadikanlah
Selesai sholat Sekar segera mengemas barang-barangnya yang akan dibawanya pulang ke Lampung. Tidak banyak hanya satu koper mini dan sebuah tas ransel berukuran sedang yang biasa dibawanya ketika pergi jalan keluar.
Sekar gegas naik ke lantai 2 rumah itu menuju kamar Intan dan Doni.
Tok tok tok
Sekar mengetuk pintu kamar itu. "Siapa?" suara dari dalam kamar. "Saya, Bu Sekar," sahutnya masih berdiri di depan pintu kamar.
"Sekar? Kok tumben pagi-pagi gini panggil kita ya, Pa?" tanya Intan pada suaminya. Mereka baru saja selesai mandi pagi. Doni hanya menggeleng tidak tahu. Intan segera membuka pintu kamarnya untuk mengetahui ada perlu apa pagi-pagi Sekar sudah memanggil mereka.
"Maaf, Bu saya mau izin pulang ayah saya sakit," Sekar meminta izin pada Intan.
Mendengar itu semua menatap Sekar berharap penjelasan lebih.
"Tadi subuh adik saya kabari saya kalau ayah masuk rumah sakit di Bandar Lampung dan jika sudah dirawat di sana itu artinya sakitnya cukup parah. Ibu dan ayah meminta saya pulang segera. Bagaimana, Bu apa saya diizinkan pulang?" Sekar menjelaskan duduk masalah yang menimpanya.
__ADS_1
"Baiklah kamu bisa pulang, rawat ayahmu.Kalau ada apa-apa kabari saya. Nanti saya akan minta Satya unyuk mengantarmu."
"Terimakasih, Bu tapi saya bisa pulang sendiri saya tidak mau merepotkan siapapun. Kalau begitu saya akan segera bersiap-siap karena akan berangkat pagi ini juga," Sekar menolak tawaran Intan dan segera berlalu untuk bersiap-siap.
"Sarapan dulu, Sekar!" seru Intan. "Iya, Bu!"
sahutnya sambil terus berlari menuju kamarnya dan Intan hanya menggelengkan kepalanya.
"Ibu, Bapak Sekar pamit pulang dulu, ya. Assalamualaikum." Sekar berpamitan dengan mencium punggung tangan Intan dan Doni.
"Walaikum salam hati-hati di jalan kalau ada apa-apa langsung kabari kami," pesan Intan sambil memeluk asisten kesayangannya itu.
Gadis itu mengangguk kemudian berjalan ke arah gerbang pagar rumah.
Tin tin !!!
Sekar dikagetkan suara klakson mobil yang kini terparkir tepat di depan gerbang rumah mewah itu. Seorang pria nampak duduk di balik kemudi sedang tersenyum kepadanya.
"Kamu mau kemana?" tanya Sekar pada pria itu yang ternyata adalah Satya.
"Aku akan mengantarmu, ayo cepat masuk keburu siang," kata Satya sambil membukakan pintu mobil untuk Sekar.
"Tapikan itu jauh banget, Sat," Sekar tak percaya jika Satya akan mengantar dirinya pulang.
"Siapa yang mau antar kamu ke sana?" Satya terlihat mengerutkan keningnya seolah tak paham.
"Lha, tadi kata kamu?" tanya Sekar heran. 'Bukankah dia tadi bilang mau mengantarnya pulang?' pikir Sekar dalam hati.
"Aku cuma bisa antar kamu ke terminal. Kalau aku antar kamu ke Lampung, nanti yang ada aku dibunuh sama calon suamimu," celetuk Satya sontak membuat Sekar terkejut mendengar ucapan Satya.
"Siapa?" tanya Sekar penasaran karena setahunya dia belum punya calon suami.
"Ya, Mas Bima lah, siapa lagi?"
__ADS_1