
"Satya!" Bima memanggil adiknya yang akan pergi keluar menjemput Miranda untuk jalan bareng.
"Iya, Bang ada apa?" Satya menutup kembali pintu mobil yang tadi sudah dibukanya.
"Mau kemana?" tanya Bima menyelidik.
"Jemput Miranda, Bang" jawabnya.
"Kamu sama Miranda baik-baik saja, kan?" pertanyaan yang membuat Satya mengerutkan keningnya.
"Iya, kami baik-baik saja. Kenapa?" Satya balik bertanya.
"Kamu gak lagi naksir Sekar, kan?" tanya Bima sedikit ragu sehingga menurunkan intonasi suaranya.
Satya tertawa, "Ada yang cemburu, nih" ledeknya yang langsung mendapat cubitan keras di lengannya membuat Satya semakin keras tertawa.
"Pelankan suaramu!" bentak Bima sedikit menahan suaranya.
"Kalau memang suka dekati dan tembak jangan sampai keduluan orang," saran Satya masih dengan tertawa.
"Kamu beneran mau dekatin dia?"
"Bukan aku tapi ada cowok lain lebih muda juga lebih ganteng dari Abang. Beberapa hari lalu aku lihat dia ngobrol bareng Sekar di taman waktu Sekar mampir habis beli sesuatu." Satya menceritakan apa yang dilihatnya beberapa hari yang lalu.
"Siapa?" tanya Bima namun Satya hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu.
"Sebaiknya dekati dia secara intens coba ambil hatinya terus tembak. Gemes aku lihat Abang lemot gini," ujar Satya memberi saran.
__ADS_1
Dengan langkah cepat Bima menuju dapur dimana letak kamar Sekar berada. Diketuknya pintu kamar itu. Namun tak ada sahutan padahal ini sudah jam 8 pagi. Dia pun pergi ke arah halaman belakang. Maka tampaklah sosok yang dicarinya sedang menjemur cuciannya.
"Arum," panggil Bima membuat Sekar menoleh seketika. Jantungnya berdebar cukup kuat melihat penampilan Bima yang terlihat sangat tampan pagi itu.
"Arum," Sekar pun tergagap saat Bima kembali memanggilnya.
"I-iya kenapa?" jawabnya gugup sambil meremas pakaian basah miliknya.
"Kamu hari ini mau kemana?" Dia beranikan dirinya untuk bertanya.
"Aku di rumah aja gak kemana-mana." Sekar sudah bisa menguasai perasaannya, kembali menjemur cuciannya.
"Aku mau ajak kamu ke taman. Mau?" ajak Bima dengan ragu membuat Sekar gembira luar biasa seorang Bima yang dicintainya dalam diam selama 4 tahun lamanya akan mengajaknya jalan. Ini luar biasa, pikirnya.
"Tapi bagaimana dengan Ibu?" tanya Sekar ketika teringat Mamanya Bima.
"Tetap saja. Aku sudah jadi tanggung jawab orang tua Mas Bima. Jadi kemana pun aku harus pamit." Sekar memberi pengertian akan posisinya di rumah itu.
"Ya, aku telepon Mama dulu." Bima pun menelepon mamanya untuk minta izin membawa Sekar keluar. Dan tentu saja Intan mengizinkan karena dia ingin putranya menjadi lebih dekat dengan Sekar.
Selama perjalanan hanya musik pop yang menemani sementara keduanya sibuk dalam pikiran masing-masing. Baik Bima maupun Sekar sama-sama gugup dengan jantung berdebar dengan kedekatan ini.
"Mas, aku beli es krim dulu ya. Mas mau titip apa?" tanya Sekar saat baru tiba di taman.
"Belikan yang sama denganmu." Sekar pun pergi ke stand es krim berada dan segera membeli es krim 3 rasa dengan wadah cukup besar.
"Ini, Mas." Sekar meletakkan wadah es krim itu di bangku taman. "Aku gak tahu mas duka rasa apa jadi aku beli aja yang tiga rasa biar bebas mau rasa apa," tambahnya dengan tangan membuka tutup wadah es krim.
__ADS_1
"Enakkan, Mas?" tanya Sekar dengan tangan memegang sendok. Bima mengangguk setuju.
Bima melihat ada es krim di bibir Sekar. Dengan segera dia mengusap bibir pink itu dengan lembut. Sesaat pandangan mata mereka terkunci, menatap penuh cinta satu sama lain. Saat mereka menyadari hal itu, jantung keduanya berdegup kencang. Baik Bima maupun Sekar sama-sama malu dan canggung
Sekar menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. Ia malu setengah mati, ia begitu malu jika Bima tahu perasaannya. Hal yang sama pun dirasakan Bima. Namun gengsi benar-benar membuat keduanya tak berani mengungkapkan perasaan yang ada.
"Rum," panggil Bima setelah cukup lama mereka diam. Sekar menoleh, "Ya, ada apa Mas?"
"Maaf sudah membuatmu harus terikat hutang denganku dan bekerja keras untuk itu," ucap Bima tanpa menatap Sekar dengan kedua tangan saling bertaut di antara kedua kakinya.
"Seharusnya aku yang minta maaf. Akibat kecerobohanku, Mas Bima hampir meninggal sampai harus berobat ke Jerman. Aku sungguh menyesal karena tidak bisa merawat Mas Bima kala itu. Padahal semua karena aku penyebabnya. Sepulang dari rumah sakit, aku tanya ke Mas Rafa tentang keadaan Mas Bima. Kata Mas Rafa, Mas Bima dirawat di Singapura. Setelah urusan dokumen selesai aku menyusul ke Singapura dan ke rumah sakit tempat Mas Bima dirawat. Tapi ternyata Mas Bima sudah dibawa ke Jerman. Aku gak bisa pulang begitu saja. Jadi aku putuskan untuk bekerja saja di sana selama empat tahun ini sebagai guide dan aku baru pulang enam bulan lalu sampai akhirnya kita bertemu lagi. Aku sangat lega melihat mas Bima sehat dan baik-baik saja. Sekali lagi maaf."
Sekar menceritakan bagaimana dirinya setelah kecelakaan parah itu. Kecelakaan akibat kecerobohannya yang tiba-tiba menyeberang untuk menyelamatkan seekor kucing. Dia tak menyangka akan begini akibatnya. Beruntung Bima masih selamat walau harus dirawat sangat lama akibat koma yang diakibatkan luka parah di kepalanya.
"Aku sungguh tak pernah semalam pun tidur nyenyak setelah peristiwa itu. Baru setelah tinggal di rumah keluarga Mas Bima aku bisa tidur pulas karena keadaan Mas Bima sungguh sudah baik baik saja," Sekar berbicara panjang lebar dengan mata berkaca kaca dan akhirnya tumpah juga.
Bima mengusap air mata gadis yang duduk di sampingnya. Dia sungguh terharu dengan semua yang Sekar ceritakan. Bagaimana gadis itu sampai menyusulnya ke Singapura, padahal dia tahu jika gadis itu tak punya banyak uang. Tapi demi tanggung jawab dia rela melakukannya.
"Jangan menangis aku sudah memaafkanmu. Sudahlah, jangan pikirkan hutang itu lagi anggap sudah lunas dan bekerjalah pada mama dengan tenang. Beliau senang dengan cara kerjamu jadi pertahankan," ujar Bima dengan penuh kelembutan.
Ingin Bima menggenggam tangan Sekar. Namun dia takut Sekar akan menolaknya. Maka ia pun hanya mampu duduk dan sesekali menoleh dan menatap wajah manis Sekar.
Sekar memang tak secantik gadis kota. Tapi dia sangat manis dengan lesung pipi di sebelah kiri pipinya dan gigi gingsul di sebelah kiri pula. Keduanya menambah nilai plus bagi seorang Sekar. Cara berpakaian Sekar di pun sangat sopan. Ia selalu memakai pakaian tertutup dan berhijab. Dia juga berkepribadian baik.
"Bagaimana kabar orang yang kamu cintai?"
Sekar benar-benar malu harus jawab apa karena orang itu sesungguhnya adalah pria yang sedang bersamanya.
__ADS_1