
Suasana di rumah keluarga Harun sangat ramai. Semua anggota keluarga berkumpul. Mereka mencoba pakaian seragam keluarga di tubuh masing-masing berdasarkan nama yang ada di kemasan pakaian itu.
Beruntung mereka merasa sangat puas akan hasil pakaian yang mereka pesan. Mereka pun tampak berterimakasih pada Sekar.
Di antara mereka Sekar tidak melihat calon mempelai pria. Mungkin sibuk bekerja, pikir gadis itu. Hingga ketika akan berpamitan pulang seorang pria turun dengan wajah menunduk lesu dari lantai 2 rumah mewah itu. Rumah mewah yang jelas hanya dimiliki kaum jetset saja.
Entah mengapa wajah pria itu terlihat murung seolah tak bersemangat untuk menikah. Apa mereka dijodohkan, tapi inikan zaman modern mana mungkin masih ada yang seperti itu.
Ketika pria itu mengangkat wajahnya betapa kagetnya Sekar mengetahui jika pria itu adalah Deri.
'Jadi ini rumah keluarga Deri? Keluarganya ramah dan terlihat baik masa iya kalau Deri itu orangnya ambisius? Mungkin saja, dalamnya hati orang mana tahu,' gumam Sekar dalam hati lalu mengangkat kedua bahunya. Ia pun berjalan keluar. Sesampainya di depan pintu ia mendengar keributan di dalam rumah itu.
Deri terlihat malas untuk mencoba pakaian pengantinnya. "Pa, pernikahan ini dibatalkan saja, ya?" celetuk Deri membuat semua tersentak kaget bukan main.
"Apa-apaan kamu? Pernikahan kalian tinggal dua hari lagi, sudah terlambat untuk mundur. Bukannya kamu yang pingin pernikahan ini disegerakan??" bentak Harun sangat marah mendengar ucapan putranya.
"Apa yang membuatmu ingin mundur? Kamu yang melamar dia, lalu sekarang kamu batalkan begitu saja?" Kini Sofia istri Harun yang bicara dengan nada tinggi. Tampak Deri hanya menunduk menyembunyikan wajahnya.
"Aku mencintai wanita lain." Akhirnya setelah didesak cukup lama ia mau mengakui alasannya ingin mundur dari pernikahan yang justru dulu dia yang inginkan.
Plakk !!!
Sofia menampar keras wajah tampan putranya. "Siapa? Siapa gadis itu?" teriak Sofia dengan mengguncang tubuh Deri kuat.
"Dia dari Lampung. Tapi aku kesulitan menghubunginya. Dia hilang tanpa kabar," jawab Deri masih menundukkan kepalanya.
"What? kamu mengharapkan wanita yang justru lari darimu? Siapa namanya? Aku ingin tahu wanita seperti apa dia sampai membuatmu berpaling," Sofia masih bicara dengan emosi yang meluap-luap.
__ADS_1
"Namanya Sekar, dia asisten pribadi Bu Intan," jawab Deri dengan mengangkat wajahnya menatap ibunya.
Sekar yang sempat menyaksikan keributan itu dan mendengar namanya disebut-sebut segera melarikan diri. Dia tak ingin penyamarannya sampai terbongkar dan Deri berbuat nekad demi cinta sesaatnya.
"Apa karyawan butik tadi sudah pulang?" tanya Sofia pada anggota keluarga yang lain.
"Sudah, Kak," sahut salah seorang adik Sofia.
"Siapa nama wanita tadi?" tanyanya lagi.
"Dewi dia asisten baru Bu Intan karena asisten yang lama sudah risaign katanya," sahut sepupu Deri yang menggunakan dress berwarna hitam.
"Dengar, dia sudah risaign mau kemana kamu cari dia, hah? Kamu benar-benar tidak bersyukur dengan yang kamu punya. Belajar dari mana kelakuan buruk mu itu?" Masih dengan berapi api Sofia memarahi kebodohan putra sulungnya itu.
"Aku akan mencarinya, Ma." Deri semakin memancing emosi ibunya lebih buruk lagi.
Plak !!!
"Dimana hatimu sampai tega berbuat seperti ini, hah??? Kamu lupa jika ibumu seorang perempuan? Kamu lupa punya adik perempuan? Bagaimana jika aku yang diperlakukan seperti kamu melakukan ini pada Silvia? Sadar sadar, woy!" teriak Dira penuh emosi yang memuncak memaki kakaknya yang saat ini tengah dilanda kegalauan.
"Sadarlah, Deri ini adalah ujian orang yang akan menikah. Jangan sampai kerikil kecil seperti ini menghancurkan rencana besar yang sudah dibuat sebelumnya." Harun coba menasehati putra kesayangannya dengan sabar dan tenang.
"Tapi aku sungguh mencintainya. Akan lebih menyakitkan bagi Silvia jika ini masih berlanjut, Pa," bantah Deri dengan wajah memelas memohon keluarganya mengerti dirinya.
"Tidak, Nak. jika kamu nekad Papa tidak hanya tidak merestuimu tapi juga mencoretmu dari daftar pewaris keluarga ini," Harun mengancam Deri dengan cukup keras.
"Beri aku waktu dua hari. Jika aku tidak berhasil membawanya kemari maka aku akan meneruskan pernikahan ini. Tapi jika dia aku berhasil membawanya kemari dan dia mau menikah denganku, maka aku mohon batalkan pernikahan ini," pinta pemuda itu gigih tak dapat ditolak siapapun.
__ADS_1
"Baiklah, Mama harap dia akan menolaknya dan kamu tetap melanjutkan pernikahan ini," ketus Sofia kesal dengan permintaan putranya yang dia pikir sangat keterlaluan.
"Terimakasih tolong jangan halangi jalanku," ujar Deri berjalan membelah kerumunan keluarga yang tengah diliputi rasa penasaran dan kemurkaan.
"Bagaimana ini, Ma?" tanya Dira menggoyang lengan mamanya penuh kecemasan.
"Hubungi Jeng Intan segera!" perintah Intan yang kini tengah duduk di sofa dengan jari tangannya memijit keningnya yang terasa sakit.
"Ini, Ma sudah diangkat." Dira memberikan ponsel mamanya yang sudah terhubung panggilan telepon dengan Intan.
Sofia pun menjelaskan tujuannya menghubungi Intan saat itu. Dengan segala daya dan upaya ia harus berusaha meneruskan pernikahan ini.Tentu bukan tanpa alasan. Keluarga mereka bukan hanya bekerjasama secara sah, namun juga karena ia yakin sesungguhnya mereka masih saling mencintai. Ini semata terjadi karena cinta sesaat saja.
Intan langsung panik begitu mendengar kabar dari Sofia. Segera ia panggil Sekar dan menyuruhnya pulang bersama Romi. Dia pun berpesan pada Romi untuk tidak mengatakan apapun pada orang lain.
Sekar tiba di rumah bertepatan dengan Deri yang tiba di Butik Intan. Ia berpesan pada satpam di depan agar mengatakan tidak ada gadis bernama Sekar jika ada yang mencarinya, begitu pula pada para art di rumah ini dan semua patuh karena itu memang pesan dari majikan mereka. Sebelum Sekar sampai rumah Intan sudah menelpon mereka.
"Permisi, Bu saya mau bertanya tentang Sekar," kata Deri pada Intan.
"Apa yang mau kamu cari?" tanya Intan dengan tangan bersedekap di dadanya dan menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya.
"Saya mau tanya alamat Sekar di Lampung," ujar Deri.
"Maaf itu rahasia personalia yang harus dijaga. Untuk apa lagi kamu mencarinya, bukankah aku sudah bilang jika Sekar adalah calon menantuku? Kamu tidak bisa seenaknya saja merebut jodoh orang lain. Lagipula lusa kamu akan menikah, Deri. Ini semua tidak baik, ini akan menyakiti semua pihak," jawab Intan panjang lebar.
"Saya mencintainya, Bu. Tolong beritahu saya dimana Sekar," ucapnya geram kali ini dengan menahan amarah.
"Kamu pikir anak saya tidak mencintainya? Cinta anakku jauh lebih besar darimu. Yang kamu rasa sekarang bukan cinta tapi obsesi untuk memilikinya," tukas Intan membantah keinginan Deri.
__ADS_1
"Berhentilah melakukan hal bodoh yang akan merugikanmu. Kalian memiliki jodoh masing masing. Cintai dan hargai pasanganmu agar hidupmu lebih bahagia," saran intan pada Deri dengan lembut namun mengena.
..."Aku akan tetap mencarinya"...