
Satya tampak tersenyum sendiri sambil menggigiti ujung penanya di dalam ruang kerjanya. Dirinya tengah terkenang momen di saat berdebat dengan Kirana ketika dirinya berada di Lampung bersama sang kakak, Bima.
Gadis manis berkulit sawo matang itu seringkali menunjukkan sikap jutek kepadanya, namun ramah pada orang lain. Hal ini mengusik jiwa keponya.
Tanpa disadari tangan kanannya meraih ponsel miliknya yang berada di meja kerjanya lalu membuka fitur galeri. Fitur penyimpan album foto. Tangannya dengan lincah menscrool mencari foto yang dulu pernah dia ambil secara diam-diam.
Wajahnya tersenyum melihat foto Kirana yang terlelap di sofa ruang rawat almarhum ayahnya. Gadis itu tampak sangat kelelahan mengurus ayahnya dan mulutnya yang sedikit terbuka membuatnya terlihat semakin imut.
Sejak pulang dari Lampung, Satya kerap teringat sosok gadis jutek itu. Entah apa yang membuatnya merasa tertarik hingga terus memikirkan dan memandangi foto lucu Kirana.
Bahkan dia pun seringkali lupa untuk menghubungi Miranda, kekasihnya selama ini. Biasanya sebelum tidur dia akan menelepon Miranda. Namun sudah hampir seminggu dia melupakan rutinitasnya itu. Tentu saja hal itu membuat Miranda kesal dan marah. Hati wanita mana yang akan tenang bila kekasihnya yang biasanya selalu menghubunginya, kini tidak ada kabarnya sama sekali bahkan ditelepon pun tidak diangkat.
Satya masih asyik memandangi foto Kirana kala tanpa disadarinya sosok Miranda telah berada di dalam ruang kerjanya, menatap penuh rindu dan marah. Ia rindu sosok yang dicintainya, namun marah begitu melihat pria yang dicintainya itu tengah tersenyum seraya memandangi ponselnya.
Perlahan Miranda mendekati Satya yang masih sibuk dengan ponselnya. Pria itu tidak menyadari jika telah ada singa betina yang siap menerkamnya saat ini. Padahal nyali pria itu pasti akan menciut bila melihat betapa besarnya amarah yang tengah ditahan oleh kekasihnya. Ya, Miranda telah melihat foto itu tanpa Satya tahu.
"Diakah alasanmu melupakan hadirku?" tanya Miranda lirih namun mampu menusuk hati Satya yang sangat terkejut dengan kehadiran Miranda yang tiba-tiba.
Miranda menatap Satya tajam hingga menembus netra pria itu. Sementara Satya merasa gugup telah ketahuan memandangi foto gadis lain di ponselnya.
"Diakah gadis itu? gadis yang membuatmu melupakanku?" tanya Miranda lagi masih dengan suara lirih.
Ya, Miranda adalah gadis yang sangat lembut dan penuh kasih sayang. Bahkan wanita itu seolah sempurna tanpa cela. Namun gadis sempurna itu ternyata telah bergeser posisinya di hati Satya, pria yang sangat dicintainya.
__ADS_1
"Tidak, Miranda. Dia hanya gadis desa biasa, dia bukan siapa-siapa," jawab Satya gugup. Pria bertubuh besar itu segera mendekati kekasihnya untuk menenangkan hati yang tengah bergejolak dalam balutan kelembutan.
"Jika bukan siapa-siapa, lalu kenapa kamu tersenyum sendiri melihat fotonya?" tanya Miranda menginterogasi Satya.
"Aku hanya kebetulan melihat-lihat album foto dan menemukan foto yang diambil karena iseng saat menunggu almarhum ayah mertua Bang Bima," jawab Satya.
"Aku bisa melihatmu berbohong, Satya. Apa kamu lupa jika aku bisa membaca gestur seseorang?" Satya diam tak mampu menjawab ucapan Miranda yang benar adanya.
"Tidak, sayang, aku tidak melupakanmu aku hanya sedang sibuk akhir-akhir ini," kembali Satya beralasan yang justru membuat citranya semakin jatuh di mata Miranda.
"Kamu kembali berbohong." Tanpa mengatakan apa-apa lagi Miranda meninggalkan ruang kerja milik Satya. Ia pergi membawa luka dan kekecewaan terhadap pria yang dipercayanya selama dua tahun ini.
"Miranda," panggil Satya dan langsung meraih tangan Miranda lalu memeluk tubuh langsing itu tanpa aba-aba.
Miranda melepaskan diri sekuat tenaga dan menampar wajah tampan Satya, hal yang tidak pernah dilakukan gadis itu kepada siapapun sebelumnya.
Satya hanya termenung tanpa tahu harus berbuat apa. Ia seperti pria bodoh yang tidak mampu merayu gadis yang teramat berharga untuknya. Dirinya justru hanya diam tanpa berusaha menenangkan hati yang tengah bergejolak marah.
Miranda. Gadis cantik dengan kelembutan dan kesantunan yang tidak bisa ditemukan dengan mudah dalam diri wanita manapun. Gadis yang berprofesi sebagai guru itu sangatlah pandai dalam banyak hal. Melukis adalah hobi dan dia sangat berbakat untuk itu. Telah banyak karya yang telah ia goreskan dalam lembaran kanvas. Meskipun bukan pekerjaan utamanya, namun ternyata penghasilannya lebih besar bila dibandingkan dari profesi guru. Terapi rasa cintanya pada anak-anak membuatnya terus bertahan menjadi guru tk.
Satya tampak frustasi dalam ruang kerjanya. Berjalan mondar mandir sambil meremas rambutnya kasar dan sesekali berkacak pinggang dengan wajah kusut tak ada binar ceria seperti saat sebelum Miranda datang.
"Haduh, Miranda ngamuk, diobatin pake apa, ya?" gumamnya sendirian.
__ADS_1
"Bunga? coklat? pantai? Aghhh, andai dia gadis biasa, gak akan sulit merayunya. Miranda gadis yang berbeda, dia gak mudah luluh. Aduh...., gimana ini?" Ia terus saja berbicara sendiri dan dijawab sendiri seolah ada yang menemani dirinya saat ini.
*****. *****
Tok tok tok
"Assalamualaikum," suara Satya saat mengetuk pintu rumah Miranda malam itu.
Satya mendatangi rumah Miranda di malam harinya setelah insiden kecil di kantornya siang tadi. Ia sangat berharap sang kekasih mau memaafkan dirinya.
Terdengar suara langkah seseorang dari dalam rumah mendekati pintu depan. Langkahnya terdengar lembut sehingga bisa dipastikan jika itu langkah seseorang wanita. Tidak lama pintu pun terbuka lebar.
"Oh, Nak Satya mari masuk," ucap seorang wanita paruh baya yang ternyata adalah Firda, ibunya Miranda.
"Miranda ada, Tante?" tanya Satya setelah mencium tangan Firda takzim, kebiasaan yang selalu dilakukan saat berkunjung ke rumah minimalis bercat hijau itu.
"Ada, silahkan duduk biar Tante panggilkan," jawab wanita itu seraya meninggalkan Satya sendiri di ruang tamu.
"Ada apa kamu kemari, bukankah kamu sedang banyak pekerjaan?" tanya Miranda yang tengah berjalan menghampiri Satya. Ia berjalan mendekat lalu duduk di sofa tepat di depan Satya. Tidak biasanya, karena ia lebih suka duduk di sebelah kekasihnya. Tapi kali ini ia ingin sedikit menjaga jarak.
"Aku ingin minta maaf, aku nggak bermaksud untuk melupakan dirimu. Aku memang sibuk sampai lupa mengabarimu," kata Satya mengulangi alasan siang tadi.
"Satya, aku bukanlah orang bodoh. Kamu salah jika berfikir alasan itu tepat untuk kamu beri buatku. Aku bukan wanita yang mudah percaya begitu saja pada orang lain dan kamu sudah melunturkan percayaku pada mu," sahut Miranda membuat Satya terkejut meski ia sudah menduga jika ini akan terjadi.
__ADS_1
"Tolong beri aku kesempatan lagi, Miranda," pinta Satya memohon dengan wajah penuh rasa bersalah.
"Aku memaafkanmu tapi aku nggak yakin kamu akan kembali mencintai diriku seperti dulu," jawab Miranda kembali membuat Satya terkejut.