
"Emh....emh...."
"Apa itu emh emh?" goda Bima lagi. Ia sudah tak kuasa menahan rasa geli di hatinya, namun tetap berusaha keras untuk membunyikannya.
"Aaaa gimana, ya?" Sekar tampak berfikir.
"Gimana apanya?" desak Bima lagi. Ia menghembuskan nafas hangatnya di telinga kanan istrinya membuat bulu roma wanita muda itu meremang.
"Aku...aku..." Sekar sangat gugup sampai menggigit bibir bawahnya agak kuat.
"Aku aku apa, sih?" tanya Bima lagi.
Kini wajahnya tepat berada di depan wajah istrinya. Hembusan nafasnya begitu terasa hangat membuat wanita yang kini hanya mengenakan kimono itu tidak lagi mampu menggerakkan tubuhnya saking gugupnya. Yang dilakukannya hanyalah menggigit bibir bawahnya dengan mata terpejam.
Grep!
Tiba-tiba tubuhnya terasa terhimpit, sesak. Ingin menggeliat pun sulit. Pria dengan potongan rambut cepak layaknya tentara itu menciumi pipi istrinya.
Cup!
Kali ini bibir tipisnya yang biasa dicirikan sebagai orang cerewet, dikecupnya pelan namun lama. Rasa hangat menjalar di tubuh keduanya. Pasangan suami istri itu merasakan jika di dalam aliran darah mereka ada glenyar-glenyar aneh yang belum pernah mereka rasakan.
Sekar diam tak membalas kecupan suaminya. Namun itu tak membuat Bima menyerah begitu saja. Ia mengulangi kecupannya. Hingga lambat laun Sekar membalasnya dan mengikuti irama gerakan lidah Bima di dalam rongga mulutnya.
Sekar mulai merasa kepanasan akibat detak jantung yang terus bertambah cepat memompa darah ke seluruh tubuhnya. Hingga tanpa sadar ia melepas sendiri tali yang mengikat handuk kimononya.Tentu saja Bima tidak akan melewatkan kesempatan ini. Baginya akan semakin mudah untuk menjamah tubuh mulus yang kini ada di bawah kungkungannya.
Semakin lama semakin liar. Niat awalnya hanya menggoda istrinya, kini justru dirinyalah yang tergoda oleh kemolekan tubuh wanita yang kini telah genap sebulan menjadi istrinya. Bima tak mampu lagi membendung hasratnya. Hasrat alamiah seorang pria berumur.
"Boleh, ya?" tanya Bima dengan nafas berat dan mata sayu pertanda jika nafsunya tengah memuncak.
__ADS_1
Sekar hanya mengangguk mendengar ucapan suaminya. Melihat itu Bima jadi semakin bersemangat untuk mengajak istrinya jalan-jalan naik ke langit menuju nirwana.
******* demi ******* menemani mereka melewati waktu, sisa malam itu. Hingga fajar menyingsing, mereka baru menghentikan aktifitasnya.
"Makasih, i love you," ucap Bima seraya mengecup kening istrinya sebelum akhirnya tepar karena kelelahan. Begitu juga dengan Sekar, ikut menyusul suaminya ke alam mimpi di akhir waktu malam.
******. *******
Cahaya matahari menyusup masuk melalui jendela kaca kamar hotel tempat sepasang suami istri itu menginap. Intensitas cahaya yang terang membuat keduanya mengerjapkan matanya. Mereka terkejut ternyata hari sudah siang.
Dengan cepat Sekar bangun dari tidurnya. Ia ingin cepat-cepat mandi dan kemudian pulang ke rumah mertuanya. Hingga ia tak menyadari jika ada yang terluka di bawah sana.
"Aghhh," jeritnya tertahan.
"Ada apa?" tanya Bima. Ia sangat terkejut dengan teriakan istrinya.
"Sakit," cicit Sekar.
"Nggak ada yang luka," ujar Bima. Pria itu belum menyadari akibat perbuatannya semalam.
"Di sini," sahut Sekar lirih seraya jarinya menunjuk ke bawah sambil meringis malu. Bima tertawa mendengar ucapan istrinya.
"Mana, biar kulihat," goda Bima. Tangannya hendak menyingkap selimut yang menutupi tubuh istrinya.
"Apaan, sih!" ketus Sekar menepis tangan suaminya, ia tengah menahan malu di hatinya.
Wanita itu tetap berusaha bangun sendiri meski suaminya hendak membantu. Ia tidak ingin dianggap manja oleh suaminya.
"Sayang, kok nggak ada bekas darah di sprei? kamu sudah nggak perawan?" tanya Bima setelah dirinya tidak mendapati noda darah perawan di sprei ranjang hotel itu.
__ADS_1
Sekar tersentak mendengar pertanyaan dari suaminya. Dia tidak menyangka jika suaminya akan seteliti itu. Sekar menghela nafas dalam sebelum berbicara. Ia tidak ingin adanya emosi di sana.
"Apakah darah perawan begitu penting bagimu??" tanya Sekar, matanya menatap tajam suaminya. Sisi sensitif seorang wanita muncul ke permukaan.
"Tentu saja. Bukankah itu pertanda jika si wanita mampu menjaga kehormatannya dengan baik? Apa kamu pernah berhubungan badan dengan orang lain?" Mendengar ucapan suaminya hati Sekar seolah mendidih. Ia merasa tersinggung dengan kata-kata yang keluar dari mulut suaminya.
"Jika perawan ku hilang bukan karena hubungan ****, kamu akan percaya?" Bima diam. "Tentu saja kamu nggak percaya, karena stigma bagi pria, jika wanita sudah nggak perawan pasti karena hubungan ****. Dan bukankah aku sudah bilang jika aku nggak sempurna? lalu sekarang kenapa jadi masalah?" cecar Sekar mengomeli pola pikir suaminya yang telah menganggapnya rendah.
"Bukan itu maksudku," ujar Bima dengan wajah penuh rasa bersalah.
"Lalu apa? kamu meragukan kesucianku, kan?" ucap Sekar seraya mengusap air matanya. Hatinya pedih karena suaminya meragukan kesuciannya.
"Kalau aku bilang perawanku hilang karena jatuh di sungai dan terkena ranting kayu, kamu akan percaya?"
"Katakanlah, sayang. Aku akan berusaha memahaminya," bujuk Bima. Pria itu tidak ingin masalah ini terus berlarut larut membuat hubungan mereka merenggang.
"Itulah nyatanya. Dulu saat aku masih berumur delapan tahun, aku ikut teman-teman ku mencari ikan di sungai. Air yang keruh menutup adanya kayu yang melintang di sungai. Aku terpeleset dan hampir tenggelam. Aku berjuang untuk bisa selamat, namun nggak dengan keperawanan ku. Karena di bagian itu terkena ranting kayu yang menyebabkan robekan dan harus mendapatkan jahitan. Sekarang kamu percaya?"
Bima tercengang mendengar cerita dari istrinya. Sekalipun hatinya ragu, namun ia juga tidak boleh egois. Ia bisa menanyakan ini pada ahlinya, begitu pikirnya.
"Maafkan aku. Aku janji nggak akan buatmu terluka karena keraguanku lagi. Seharusnya aku nggak perlu mempermasalahkan hal itu karena aku mengenalmu cukup lama dan aku tahu bagaimana dirimu. Sekali lagi maafkan aku," ucap Bima. Dipeluk dan diciuminya wanita pujaannya itu penuh kasih juga penyesalan.
"Tolong percaya padaku. Aku bukan wanita murahan," isak Sekar dalam pelukan Bima.
"Aku percaya kamu dan aku tahu kamu bukan wanita murahan. Tolong jangan diungkit lagi. Kita mulai dari awal lagi, ya?" Sekar mengangguk pelan. "Sekarang mandilah dulu setelah itu kita sarapan, ini udah siang."
Sekar pun segera mandi agar mereka tidak kesiangan untuk sarapan. Saat Sekar berada di kamar mandi, Bima menelepon sahabatnya yang merupakan seorang dokter spesialis kulit dan kelamin. Ia ingin mengkonfirmasi kebenaran cerita istrinya.
"Memang itu hal yang lumrah terjadi. Olahraga ekstrim pun bisa jadi penyebab hilangnya selaput dara seorang wanita. Jika kamu mengenalnya sebagai wanita baik-baik, tentu itu benar adanya," jawab dokter di balik sambungan telepon.
__ADS_1
"Terimakasih jawabannya, maaf sudah mengganggu." Bima memutus sambungan telepon setelah mendapat jawaban dari ahlinya.
"Ternyata aku yang udah su'udzon. Maafkan aku istriku. Aku mencintaimu," gumam Bima seraya menatap pintu kamar mandi.