Cinta Tetaplah Di Sini

Cinta Tetaplah Di Sini
Makanan Sisa


__ADS_3

Seharusnya Satya bisa mengerti Miranda dan dia juga harusnya terus menjaga kepercayaan yang wanita itu berikan. Tapi hatinya seolah berkata lain, ia terusik oleh sosok gadis jutek, Kirana.


Ia memang diberi kesempatan kedua oleh Miranda, namun ia masih belum bisa melupakan gadis berkulit hitam manis yang saat ini justru tidak pernah memikirkan dirinya sedikit pun.


Ini sudah minggu ketiga dari ia meminta pada Miranda untuk memperbaiki hubungan mereka. Tapi hari ini tangannya justru gatal ingin memencet nomor ponsel Kirana yang dia dapat dari Sekar beberapa minggu lalu. Ini pertama kalinya dia akan melakukan panggilan telepon pada gadis perawat itu.


Pada panggilan pertama, kedua dan ketiga tidak juga diangkat oleh nomor tujuan. Hingga mungkin karena bosan, Kirana pun akhirnya mengangkat panggilan telepon dari Satya itu yang tidak memiliki nama di ponsel Kirana.


"Hallo, ini dengan siapa?" Seketika jantung Satya berpacu dengan cepat begitu mendengar suara Kirana yang terkesan tegas.


"Ha-hallo, ini aku Satya adiknya Bang Bima," jawab Satya gugup.


"Hemh, ngapa nelepon aku? apa Mbak Sekar lagi kurang baik kabarnya? tapi kan harusnya Mas Bima yang telepon, kok kamu?" cecar Kirana langsung dengan nada juteknya begitu tahu jika yang menelpon dirinya adalah Satya. Entah mengapa gadis itu tidak bisa bersikap ramah pada Satya.


"Mbak Sekar sehat, kok," jawab Satya seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan wajah memerah.


"Terus untuk apa kamu telepon aku?" tanya Kirana kesal.


"Enggak, cuma mau tahu kabar kamu," kata Satya yang masih berjalan kesana kemari seperti setrika.


"Hah, ngganggu aja! Udahlah aku matiin gak penting!" seru Kirana kesal karena merasa dikerjai oleh Satya.


"Tunggu!" seru Satya setengah berteriak sampai membuat Kirana menjauhkan ponselnya dari telinganya karena pekak oleh suara berat pria itu.


"Ada apa lagi, sih?!" serunya bertambah kesal.


"Kamu gak kerja?" justru pertanyaan konyolah yang keluar dari mulutnya.


Kirana menarik nafas lalu menghembusnya kasar tanda jika ia tengah tidak ingin bercanda. "Satya, kamu pikir aku pengangguran sepertimu? Aku sibuk dan jangan ganggu aku, ada banyak pasien yang harus aku periksa," kata Kirana sebelum dia putuskan panggilan telepon dari Satya.


"Galak banget, nih cewek," gumamnya pelan seraya tersenyum. "Emh, tapi kok bikin kangen, ya?" gumamnya lagi.


Seharian Satya terus saja mengingat wajah Kirana sambil senyum-senyum sendiri. Ia kembali mengulangi kesalahan yang sama, mengkhianati kepercayaan Miranda. Jika Satya sibuk mengingat Kirana, tidak bagi gadis itu. Dia terus saja sibuk memeriksa kondisi pasien rawat inap di lantai 4 rumah sakit tempatnya bekerja. Hingga ia sama sekali tidak ingat dengan pria yang telah meneleponnya tadi.

__ADS_1


******. *****


Sudah jam lima sore, waktunya berganti sift dan itu artinya waktunya untuk pulang. Dengan wajah lelah dan langkah gontai, Kirana pun berjalan pulang ke kostnya.


"Kiran, udah pulang, Nak?" sapa Pak Mardan, penjual sate di pinggir jalan.


"Iya, Pak. Permisi udah sore," jawabnya seraya tersenyum.


"Kak Kiran!" suara anak kecil memanggilnya.


Ia menoleh ke arah sumber suara dan mendapati seorang gadis kecil tengah berlari ke tempatnya berdiri.


"Ada apa, Husna?" tanya Kirana saat gadis kecil bernama Husna itu sampai di tempatnya berdiri.


"Kak, lusa Husna ada iuran untuk acara amal di sekolah, teman Husna masuk rumah sakit karena ginjalnya bocor dan butuh uang banyak untuk biaya operasinya," tutur gadis kecil itu mengadu.


"Kamu ikut kakak sekarang atau besok pagi kamu datang ke rumah sakit?" tanya Kirana.


"Sekarang aja ya, Kak? besok takutnya nggak sempat," tolak Husna mengharap kebaikan hati Kirana.


Mereka pun melangkah bersama ke kost tempat tinggal Kirana selama ini. Husna adalah anak seorang pemulung dan ayahnya telah wafat setahun lalu. Pertemuan keduanya terjadi kala Kirana mendapati gadis kecil itu tengah berjalan sambil menangis mencari bantuan karena ibunya pingsan di pinggir jalan karena kelaparan. Kirana pun membantu merawat ibunya Husna hingga sembuh dan memberi mereka makan untuk beberapa hari. Sejak itulah Kirana menjadikan Husna anak asuhnya dan segala kebutuhan sekolah di luar beasiswa anak yatim yang diterima gadis kelas 6 SD itu.


Husna pun bukanlah anak yang bodoh. Anak itu tahu caranya berterima kasih pada kebaikan orang lain. Ia belajar dengan giat untuk bisa membuat mereka bangga padanya.


Setelah 10 menit berjalan kaki, mereka sampai di kost Kirana. Kirana segera membuka pintu dan masuk ke dalam diikuti oleh Husna di belakangnya.


"Ibumu sehat, kan?" tanya Kirana kala telah meletakkan tasnya di lantai kamar kostnya yang sempit itu.


"Sehat, Kak. Ibu tadi titip salam buat Kakak dan berpesan supaya Kakak jaga kesehatan," ujar Husna.


"Syukurlah jika ibumu sehat. Doakan aja supaya Kakak sehat dan rezekinya lancar biar bisa bantu kamu terus," jawab Kirana seraya mengelus rambut merah Husna.


"Iya, Kak," sahut gadis kecil itu.

__ADS_1


****. *****


Sementara itu di rumah milik Bima, tampak cukup lengang. Ya, tentu saja karena hanya ada Bima dan Sekar, istrinya. Setelah menikah beberapa bulan, Sekar belum menunjukkan tanda-tanda awal kehamilan. Ia masih datang bulan minggu lalu.


"Mas, aku nggak habis makannya," keluh Sekar manja pada sang suami.


"Sini," kata Bima lalu meraih piring milik Sekar.


Setelah mengambil piring milik Sekar, tanpa rasa canggung ataupun jijik, Bima melahap makanan sisa itu sampai habis. Sekar yang melihat itu melongo tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Mas, itu kan makanan sisaku, kenapa kamu makan?" tanya Sekar.


"Sayang kalau gak dimakan, mubazir," sahut Bima seraya membersihkan sisa makanan di mulutnya dengan santainya.


"Kamu nggak jijik, Mas?" tanya Sekar lagi.


"Buat apa jijik? kan makanannya bersih dan sehat," sahutnya lagi.


"Ya, itu kan makanan sisa," jawab Sekar masih ngotot.


"Sayang, walaupun itu makanan sisa, tapi itu masih sangat layak konsumsi, jangan dibuang. Kamu aja kalau dibuang nangis, makanan juga," ucap Bima membuat Sekar kesal.


"Aku bukan makanan, Mas!" ketus Sekar setengah berteriak.


"Hahaha, kamu lucu kalau marah, matanya mau keluar," ledek Bima menertawakan Sekar.


"Mas!!!!"


"Iya, sayang. Udah jangan marah, kamu tuh makanan aku, makanan pokok malah," ujar Bima bukannya membuat Sekar tenang malah semakin merah.


"Kamu nyebelin!" Sekar pun pergi dari sana tanpa membereskan bekas makan mereka. Ia biarkan begitu saja saking kesalnya. Bika pun hanya menggelengkan kepalanya sambil tertawa lirih.


"Hemh, latihan nyuci piring ...," gumam Bima.

__ADS_1


Dengan tangan kaku ia melakukan pekerjaan yang baru kali ini dia kerjakan seumur hidupnya. Walau sedikit kesulitan, Bima tidak menyerah walau itu hanya dalam pikirannya. Ia ingin menjadi suami yang selalu setia membantu pekerjaan rumah istrinya.


__ADS_2