
"Tahu dari Tante Intan," jawab Silvia membuat dua pria di hadapannya terkejut. "Tapi kenapa nggak buat acara resepsi?" tanyanya kemudian.
"Enggak tahu, mungkin nggak akan ada pesta," jawab Bima ragu.
"Kok, kamu nggak cerita sama aku?" protes Deri dengan wajah masam.
"Hemh, aku lupa. Tante Intan juga cerita tentang kamu yang menyukai Sekar." Hati Deri bagai tertusuk paku, nyeri mendengar ucapan istrinya itu. Itu memang salahnya, sepenuhnya.
"Maafkan aku," ucapnya tertunduk penuh rasa sesal yang mendalam. Ia sedih pernah mengkhianati kepercayaan Silvia.
"Nggak papa, itu cuma ujian orang yang akan menikah. Aku bersyukur kamu tetap bersikap baik padaku dan menyayangiku walau hatimu telah terbagi. Kamu juga suami dan ayah yang bertanggung jawab. Dan aku lega setelah mendengar mereka menikah. Aku harap kamu bisa melupakan gadis itu," jelas Silvia tenang walau hatinya cukup sesak untuk mengatakan itu. Biar bagaimanapun ia ingin menjadi satu-satunya di hati suaminya.
Deri sontak memeluk erat istrinya penuh rasa sesal yang menyesakkan dada. "Aku udah melupakan dia sejak kita sepenuhnya menjadi suami istri. Kamu benar, itu hanya ujian untuk orang yang akan menikah dan aku berhasil melaluinya. Terima kasih udah jadi istri yang baik untuk diriku yang bodoh ini. Aku janji akan selalu mencintaimu. Kamu wanita yang sungguh tulus mencintaiku," ucapnya, matanya berlinang mengingat kesalahannya saat akan menikah dengan Silvia.
Keduanya saling menerima segala kekurangan dan memaafkan kesalahan satu sama lain. Cinta di hati tetap menjadi penyejuk hidup mereka. "Cinta, tetaplah di sini menemaniku. Jangan pergi apapun yang terjadi. Aku akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu dan untuk anak kita nanti. Aku mencintaimu, Sayang," ucap Deri sepenuh hati. Dikecupnya pucuk kepala istrinya penuh kasih dan cinta. Bima pun sampai terharu melihat pemandangan yang membuatnya merasa baper itu.
"Kunjungilah Sekar, sampaikan salamku padanya semoga dia lekas pulih dan menjalani kehamilannya dengan baik dan persalinannya lancar," pinta Silvia pada Deri.
"Iya, aku akan ke sana bersama dengan Bima. Kamu istirahat, ya agar lekas pulih dan kita bisa pulang lebih cepat." Silvia mengangguk mendengar ucapan suaminya yang baru saja kembali mengecup keningnya lembut. Lembutnya kecupan itu merasuk hingga menghangatkan hatinya.
Wanita itu memandangi punggung suaminya yang perlahan pergi menjauh hingga hilang di balik pintu yang tertutup rapat. Ia tersenyum mengingat kata-kata romantis yang diucapkan oleh Deri dengan tulus. Disentuhnya pelan kening yang tadi sempat dicium suaminya, masih terasa hangat dan lembut. Dirinya tak mengira kesabarannya selama ini akan berbuah manis seperti hari ini. "Aku jatuh cinta lagi. Terima kasih hati, cinta ini masih tetap ada di sini."
******. *****
__ADS_1
"Sayang, bangun kita ada tamu," kata Bima seraya mengusap pelan bahu Sekar yang tengah terpejam.
"Siapa, Mas?" tanya Sekar seraya membuka matanya perlahan dan ia pun mendapati sosok Deri di hadapannya bersama sang suami. Hatinya sedikit was-was mengingat jika pria itu pernah mengejarnya sehari sebelum pernikahannya, beruntung saat itu mereka tidak bertemu.
"Deri. Tadi kami bertemu di depan. Kamu tahu? dia sekarang udah jadi ayah," bisik Bima di telinga Sekar namun dengan suara yang masih terdengar oleh Deri. Cukup lega hati Sekar mendengarnya dan kemudian tersenyum menyambut hadirnya Deri di sana.
"Benar itu, Der?" Deri tersenyum bahagia seolah mampu menjadi jawaban pertanyaan dari Sekar. "Selamat, ya. Anakmu cewek atau cowok?" tanyanya lagi.
"Alhamdulillah, cewek," jawabnya masih dengan rona ceria.
"Semoga jadi anak yang salehah, berbakti pada orang tuanya dan berguna untuk bangsanya," doa Sekar untuk bayi Deri tulus.
"Amiiin, terima kasih atas doamu semoga kamu pun diberi keselamatan dan kelancaran dalam proses kehamilanmu dan juga persalinanmu nanti." Kini Deri yang ganti mendoakan Sekar.
"Deri, kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Intan dengan menatap wajah Deri tajam namun dengan senyum sebagai penutup rasa kesalnya pada pria itu.
"Silvia baru aja lahiran dan tadi aku baru ketemu Bima di depan, katanya Sekar dirawat jadi aku sekalian mampir jenguk Sekar," jelas Deri. Pria muda itu tidak ingin ada kesalahpahaman di antara mereka.
"Oh, jadi Silvia udah lahiran? kapan?" tanya Intan kaget.
"Iya, Tante kemarin sore," jawab Deri.
"Nanti aku mampir ke sana, sekarang aku mau jenguk menantu dan calon cucuku. Dah sana balik lihat istrimu. Hush, hush!" kata Intan mengusir Deri seperti mengusir anak ayam. Sekar dan yang lain tersenyum melihat aksi konyol Intan pada Deri tadi.
__ADS_1
"Sekar, kok kamu sama Bima gak kabari Mama sih kalo lagi sakit?" tanya Intan setelah dirinya menghampiri sang menantu dan duduk di kursi yang ada di samping brankar.
"Hehehe lupa, Ma," jawab Sekar tersenyum kikuk. Ia merasa sedikit bersalah karena telah lupa untuk memberi kabar pada keluarga sang suami.
"Nanti kalo mau lahiran, lupa juga ngabari mertuanya?" sindir Intan membuat Doni dan Satya tersenyum.
"Nggak tahu nanti." Intan mencubit tangan Bima karena putera sulungnya menjawab dengan asal ucapannya tadi.
"Ashhh, au au sakit, Ma!" seru Bima mengaduh kesakitan.
Semua yang ada tertawa dengan keakraban yang tercipta di ruangan itu. Suasana kekeluargaan yang sangat indah dan hangat.
"Gimana kata dokter? udah berapa minggu katanya?" tanya Doni pada sepasang pengantin baru itu.
"Baru dua minggu, tapi keadaannya sangat lemah dan mengharuskan Sekar untuk bedrest. Sebenarnya baru mulai pagi tadi dia maboknya, tapi udah langsung parah dan pingsan aja. Kan aku jadi panik," cerita Bima pada orang tuanya.
"Keadaan setiap kehamilan itu berbeda-beda. Bahkan jika nanti Sekar hamil lagi sampai sepuluh kali pun akan berbeda juga bawaannya. Kamu harus jadi suami siaga, jangan mudah panik. Kalo kamu mudah panik yang ada istri mau lahiran, malah mbrojol di jalan. Kan nggak lucu," kata Intan menasehati puteranya.
"Iya, Ma. Ini aja udah bikin panik apalagi nanti ya, Ma. Hemh, kok aku nggak bayanginnya, ya?"
"Pokoknya kamu harus latihan untuk selalu siap siaga. Kamu adalah pemegang kendali keselamatan istri dan anakmu. Selamat atau tidaknya mereka bergantung pada kesigapanmu. Sekar jangan kerjakan apapun di rumah. Kalo perlu kamu pakai jasa asisten rumah tangga aja biar Sekar bisa istirahat total dan kamu bisa kerja dengan tenang karena udah ada yang menemani Sekar di rumah," saran Doni.
"Papa dulu suami siaga juga?" tanya Satya yang sejak tadi hanya menyimak pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Kalau Papa bukan suami siaga, Bima dan Mutia nggak akan selamat, Sat," tukas Doni agak kesal karena diledek oleh putera angkat yang amat disayanginya itu.