Cinta Tetaplah Di Sini

Cinta Tetaplah Di Sini
Ikut Denganku


__ADS_3

Sebulan telah berlalu. Sekar menjalani hidupnya dengan tenang tanpa notifikasi dari Bima atau tentang kesehatan ayahnya. Pun dengan Kirana gadis itu baru dua hari lalu wisuda dan kini dia telah berhasil jadi karyawan tetap di sebuah rumah sakit daerah sebagai seorang perawat. Sedang si bungsu Puspa kini tengah libur usai menjalani ujian nasional tinggal menunggu pengumuman kelulusan.


Seperti biasa gadis itu melayani setiap pengunjung toko dengan baik dan ramah. Wajah ceria dengan senyum manis selalu menghiasi wajahnya.


Derttt derttt derttt getar ponsel di sakunya. Segera ia melihat notifikasi. Ada pesan di WhatsApp. "Temui aku di cafe Mentari saat makan malam nanti jangan sampai terlambat apalagi tidak datang. Kupastikan hidupmu tidak akan tenang," begitu tulisannya dengan pengirim Bima.


Jantung Sekar seakan berlompatan berpacu tak karuan pikirannya pun entah kemana. Yang dikhawatirkan dan juga dirindukan akhirnya muncul juga.


"Iya," hanya itu yang mampu ditulisnya.


Setelah mendapat pesan itu tentu saja dia jadi gelisah namun sebisa mungkin ditutupinya agar tak ada yang menyadarinya.


"Sudah lama, Mas?" tanya Sekar begitu ia sampai di meja yang ditempati Bima.


"Baru lima menit," seraya diliriknya jam di tangan kirinya.


"Bagaimana kabarmu sebulan ini pasti senang karena aku menghubungimu lagi."


"Hah???" ekspresi terkejut dan tegang di wajah Sekar terlihat sekali.


"Tidak perlu terkejut begitu aku tahu kamu rindu kamu senang, kan bertemu denganku lagi."


'Narsis sekali,' batin Sekar.


"Makan dulu, aku tadi sudah pesankan makanan untuk kita," kata Bima begitu pelayan cafe datang dengan membawa makanan.


Mereka pun makan dalam diam. Keduanya memikirkan hal berbeda entah itu apa. Entah mengapa pengunjung cafe malam ini cukup sepi, menambah tegang suasana.


"Apa kabar Mas Bima selama ini?" Sekar mencoba memulai pembicaraan mereka.


"Sehat."


'Singkat sekali,' gerutu Sekar dalam hati.


"Apa kamu bahagia jauh dariku?"


Uhuk uhuk. Sekar tersedak mendengar pertanyaan aneh itu.

__ADS_1


"Apa maksud, Mas?" dahinya berkerut.


"Kamu bahagia, kan setelah lepas tanggung jawab begitu saja? Kamu pergi tanpa kabar melalaikan diriku dalam ketidakberdayaan. Aku rasa kamu bisa hidup dengan tenang setelah peristiwa itu," jelas Bima membuat Sekar sangat terkejut. Tak tahukah dirinya begitu menderita setelah mereka berpisah? Bahkan hingga detik ini dia belum bisa move on.


"Kamu salah, Mas. Setelah aku sadar aku langsung mencarimu. Tapi kata Mas Rafa Mas Bima dirawat di Singapura. Tiga Minggu kemudian aku menyusul mencari di rumah sakit yang dimaksud Mas Rafa tapi ternyata Mas Bima sudah dibawa ke Jerman. Tentu saja aku tidak bisa menyusul kesana. Apa mas tahu kalau aku tak pernah bisa tidur nyenyak selama ini? Tega sekali Mas bicara seperti itu. " Sekar sedikit mengeluarkan isi hatinya mencoba menjelaskan peristiwa yang telah berlalu. Mendengar itu hati Bima sedikit terkejut. Namun segera disembunyikannya.


"Kamu tahu kerugian yang aku alami sangat besar. Mobilku yang rusak itu baru kubeli sebulan dan kamu membuatnya hancur tak tersisa belum lagi biaya berobat yang sangat mahal. Seharusnya kamu yang membayar semua itu. Tapi tak apa aku cukup minta ganti setengah dari harga mobilku." Bima menatap Sekar yang hanya diam mendengarkan.


"Berapa?"


"Satu milyar"


"Astaghfirullahaladzim!!!" seru Sekar kaget bukan main sambil memegangi dadanya dengan wajah tegang.


"Itu hanya setengahnya Sekar, mobilku masih baru. Beruntung tidak sepenuh harganya juga biaya berobat yang harus kukeluarkan yang benar benar mahal," jawab Bima masih dengan mode serius tapi santai.


'Beruntung katanya? Ya Allah. Ya, memang beruntung hanya setengah harga mobilnya, bagaimana jika semuanya? Tapi dengan apa aku membayarnya? Tolong aku ya, Allah...,' bisiknya dalam hati berkeluh kesah.


"Itu angka yang sangat besar, Mas bagaimana aku membayarnya?" tanyanya lesu


"Mas pikir saya wanita murahan?" teriak Sekar dengan nada tinggi.


"Hei, siapa yang suruh dengan jual diri?" pertanyaan yang sukses membuat Sekar melongo.


"Ya tadi, kan mas yang bilang bayar pakai tubuh saya," lirihnya.


Hahhhh


"Begini, kamu kerja jadi asisten Mama gajinya lumayan lima belas juta. Tujuh juta dari Mama langsung dan delapan juta dariku tapi yang dariku, kukalkulasikan langsung sebagai pembayaran hutangmu. Dan dari Mama adalah gaji bersihmu sebab kamu tinggal di rumah keluargaku sehingga tidur dan makanmu gratis. Dalam jangka waktu sepuluh tahun lima bulan akan lunas.kecuali ...," Bima menggantungkan kata katanya membuat Sekar penasaran. "Kecuali apa mas?"


"Kecuali kamu menikah dengan orang kaya maka dia yang akan membayar hutangmu, tapi mana ada yang mau, ya?" ucap Bima meremehkan.


"Mas bima seriuskan gak akan jual aku, kan?" jawaban yang sukses membuat Bima terkekeh.


"Aku serius." Diambilnya ponsel lalu ditekannya ikon hijau disana.


"Halo sayang... .Asalamualaikum," suara wanita di seberang sana.

__ADS_1


"Ma, orangnya gak percaya kalau Bima beneran ajak dia jadi asisten Mama," Bima mengadu pada ibunya seperti seorang anak kecil.


"Mana orangnya Mama mau bicara." Bima pun memberikan ponselnya pada Sekar. Dengan ragu diterimanya ponsel itu dan dia melihat ada sosok wanita paruh baya berada di sana.


"Halo, Nak saya Mamanya Bima. Benar kamu ragu?" sapa wanita itu dan sekar hanya mengangguk.


"Namamu Sekar, kan?" Sekar kembali mengangguk.


"Yang dikatakan Bima benar bahwa saya memang sedang butuh tenaga asisten pribadi yang baru karena asisten yang lama meninggal dunia tiga hari yang lalu karena sakit demam berdarah. Pekerjaan kamu ringan kok hanya mengikuti kemana saya pergi dan menyiapkan segala keperluan pekerjaan saja. Untuk makan dan tempat tinggal gratis," Mamanya Bima yang bernama Intan menjelaskan.


"Maaf, Bu pekerjaan Ibu apa, ya?" tanyanya penasaran.


"Saya desainer. Bagaimana kamu mau?" tanya ibu Intan masih dengan wajah ramah sejak tadi.


"Iya, Bu saya mau tapi saya minta waktu seminggu untuk berpamitan pada orang tua saya juga persiapan segala sesuatunya."


"Iya, baiklah tapi pasti ya agar saya tidak cari orang lain lagi," tanya ibu Intan memastikan.


"Iya, Bu InsyaAllah." Panggilan pun diputus oleh Bima setelah sedikit berbincang dengan mamanya.


"Bagaimana saya tidak bohong, kan?"


"Iya. Tapi mas jangan beritahu siapapun terutama keluargaku tentang hutang ini biar aku saja yang menanggungnya jangan libatkan orang lain." Bima pun mengangguk setuju.


"Tapi kamu juga jangan pertanyakan gajimu yang dariku pada Mama cukup kita yang tahu ini urusan antara kita," ujar Bima menambahkan poin perjanjian tidak tertulis mereka.


"Besok saya gajian jadi mau sekaligus mengundurkan diri setelah itu saya akan pulang ke rumah untuk pamitan. Mungkin saya akan berangkat hari sabtu. Bagaimana?"


"Baiklah bagaimana kamu saja mengaturnya agar tidak merepotkan nantinya."


"Hemh... Mas, " Sekar ragu untuk bicara.


"Kenapa?" sahut Bima dingin.


"Apakah Mas belum memaafkanku?" tanya Sekar lirih dengan menatap wajah Bima penuh harap.


"Aku sudah memaafkanmu. Tapi hutang tetaplah hutang yang harus dibayarkan. Walau tidak ada perjanjian tertulis saya harap kamu tidak lari dari kenyataan ini," jawaban yang membuat Sekar sedikit lega. Ia pun hanya mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


__ADS_2