
Sekar tak hentinya berjalan mondar mandir dengan menggigit ujung jarinya. Kebiasaan yang selalu dilakukannya setiap kali ia merasa gelisah. Kamar kos yang sempit membuat sang adik Kirana merasa sesak melihat tingkah kakaknya.
"Ada apa sih, Mbak?" tanya Kirana sambil membuat sup untuk sarapan mereka. Ia merasa heran tak biasanya kakaknya itu pagi pagi sudah gelisah.
Sekar menoleh sesaat, "Ah, tidak ada apa apa. Lanjutkan masaknya aku mau mandi dulu," jawabnya lalu masuk ke kamar mandi untuk segera bersiap berangkat bekerja.
Hari ini di toko pun Sekar tak bisa konsentrasi. Otaknya serasa buntu. Entah bagaimana selanjutnya yang akan dilakukannya dengan sosok bernama Bima.
Berkali kali dilihatnya ponsel dari sakunya, tak ada panggilan atau pesan dari Bima. Ah, memikirkannya sungguh membuatnya merasa frustasi. Mengapa ia merasa galau? 'Oh, ya ampun Sekar move on, move on,' berkali kali ia berteriak dalam hati namun berkali pula hatinya menolak. Akhirnya ia malah menangis sendiri dalam hati.
Seminggu telah berlalu mamun tetap hening tak ada notifikasi dari Bima. Sekar sedikit merasa tenang.
"Mau makan apa kita malam ini?" tanya Kirana sore itu.
"Terserah kamu aku lelah ingin mandi," jawabnya seraya berjalan masuk ke dalam ruang pengap dan lembab itu.
"Dek, gimana kuliahmu apa sudah akan selesai segera?" tanya Sekar saat mereka makan malam.
"Aku sudah gak perlu ke kampus lagi, Mbak. Sekarang tinggal fokus kerja sambil nunggu wisuda," jawab Kirana setelah menelan makanan dalam mulutnya.
"Kerja dengan baik agar hasilnya memuaskan dan kamu bisa meraih impianmu selanjutnya," nasehat sang kakak yang disambut anggukan dan senyum penuh keyakinan dari sang adik.
Kirana tahu jika kakaknya sedang mengalami masalah. Sayangnya sang kakak tak pernah mau membagi masalahnya padanya dengan berbagai alasan.
"Mbak, kata ibu, ibu butuh uang untuk biaya berobat bapak. Kemarin bapak habis dirawat di rumah sakit, jadi ibu butuh obat yang tidak ditanggung asuransi kesehatan dari pemerintah, beli obatnya pun mahal," Karina menyampaikan pesan dari ibu mereka yang menelpon siang tadi saat Sekar sedang bekerja.
Huftt dihelanya nafas dengan berat, baru seminggu yang lalu ia mengirimkan uang untuk ibunya dan kini harus mengirimkan uang lagi.
"Apa kamu tak punya uang, Dek?"
"Ada sih, Mbak. Tapi untuk biaya hidup kita sehari hari, kan aku gajiannya masih lama Apa Mbak lagi tak punya uang?" tanya Kirana hati hati.
__ADS_1
"Ada kok cuma tidak banyak. Ya sudah nanti Mbak kirimkan."
Ayah mereka sakit jantung bengkak akibat masa mudanya dihabiskan untuk melakukan kerja berat untuk menghidupi mereka. Kini ayah mereka harus sering berobat dan istirahat agar sakitnya tidak kambuh.
Orang tua mereka ada di kampung. Kirana di sini untuk kuliah dan Sekar untuk bekerja. Hidup di kota sungguh jauh berbeda dari di desa. Disini segalanya harus pakai uang sehingga membuat mereka harus ekstra hemat demi bisa mengirimkan uang untuk orang tua di desa.
"Bu, uangnya sudah Sekar kirim. Gimana kabar ibu dan ayah?" tanya Sekar setelah mengirimkan uang pada ibunya.
"Alhamdulillah sehat semua. Maaf ya, Nak Ibu dan Bapak sudah merepotkanmu," ucap tulus Ibu di ujung telepon.
"Tidak kok, Bu. selagi ada pasti Sekar beri," ucap Sekar membuat air mata mengalir di pipi keriput Ibunya.
"Terima kasih, Nak. Semoga Allah akan segera memberimu jalan bahagia dan kamu akan menjadi wanita yang beruntung di dunia ini," terucap doa tulus ibu.
"Amiiinnn," hanya itu yang mampu terucap di bibir Sekar.
"Kapan pulang?"
"Entahlah, Bu Sekar belum dapat cuti,cuti bulan ini sudah diambil untuk pulang di bulan lalu jadi sekarang Sekar belum punya waktu cuti lagi."
Karena tidak adanya tanda tanda Bima akan menghubunginya membuat Sekar dilema. Satu sisi ia merindukan Bima satu sisi dia pun khawatir bila bertemu lagi dengannya. Cinta dan takut menjadi satu.
Dipandanginya selembar foto yang dipegangnya. Seutas senyum tergurat di bibirnya. Foto yang menampilkan gambar beberapa orang anak muda di dalamnya. Dia rindu saat saat itu.
"Assalamualaikum, Mas Rafa apa kabar?" tanya Sekar saat panggilan telepon tersambung.
"Walaikum salam, Sekar. Kabar mas baik. Bagaimana denganmu?" Jawab Rafa dari seberang "Alhamdulillah mas ini masih bisa teleponan sama mas Rafa," diam sejenak.
"Mas Rafa masih di Austri?"
"Iya. Kenapa?"
__ADS_1
"Apa mas Rafa tahu kabar Mas Bima?" Akhirnya modusnya menelpon mantan majikannya terungkap
"Oh, jadi ini tujuanmu telepon, Mas?" tanya Rafa dengan nada menggoda membuat wajahnya merona
"Kupikir kamu sudah move on ?" Hening.
"Aku dengar dia telah kembali ke Indonesia lima bulan lalu. Kenapa, masih rindu?"
"Seminggu lalu aku bertemu dengannya. Dia meminta nomor ponselku tapi sampai sekarang tak menghubungiku," Sekar mulai bercerita.
"Cie cie yang lagi berharap," lagi lagi Rafa menggodanya. Rafa memang majikan yang baik. Dia sudah menganggap Sekar adiknya, sedang Bima adalah sahabatnya saat mereka kuliah.
"Ih, Mas," Sekar mulai kesal
"Iya iya," akhirnya mau serius juga.
"Aku takut dia akan menuntutku," dia pun mengutarakan isi kepalanya.
"Kalau dia menuntutmu ya tanggung jawab, kan dulu kamu belum sempat tanggung jawab."
"Aku takut."
"Tidak perlu takut semua akan berjalan sesuai takdir meskipun kita menolaknya takdir itu akan tetap berjalan. Hadapi saja apapun maunya, mungkin memang itu jalan cintamu." Terdengar tawa diseberang dia tahu Rafa menertawakannya.
Huffft Sekar menarik dan membuang nafas.
"Sekar, apapun itu jangan pernah lari dari kenyataan. Bila takdirnya kalian berpisah tetap akan berpisah, bila takdirnya kalian bersatu maka biar bagaimanapun jalannya kalian akan tetap bersatu. Mas yakin dia belum melepasmu karena mas tahu bagaimana dia. Dia pasti akan mengikatmu lebih erat setelah ini," urai Rafa sudah seperti peramal.
Sekar yang mendengar kata kata Rafa hanya mampu terdiam tak tahu harus bicara apa akhirnya ia pun menutup panggilan itu.
'Ya, dia harus menghadapinya walau bagaimanapun itu. Dia bersalah jadi dia harus bertanggung jawab, apapun itu,' tekadnya dalam hati.
__ADS_1
Setelah berbicara dengan Rafa hatinya lebih kuat. Menerima bukan berarti pasrah, bisik sisi lain hatinya. Ia mulai menjalani waktunya kembali dengan tenang.
Bekerja bekerja bekerja bukan hanya mencari cuan tetapi juga untuk mengalihkan perhatiannya pada segala sesuatu yang mengganggu pikirannya .