
Dari balik kemudi Sekar memanggil seorang anak yang berusia sekitar 10 tahun. Anak itu tampak tengah menjajakan barang dagangannya di hari yang masih pagi. Dimana pagi adalah waktu untuk seorang anak menuntut ilmu. Sekar merasa sangat terenyuh.
"Ya, kak. Kakak mau beli apa? " tanya gadis kecil itu dengan senyum ramah.
"Apa yang kamu jual?" tanya Sekar.
Gadis itu pun menyebut beberapa nama barang dagangannya. Ternyata gadis itu menjual beberapa jenis makanan tradisional.
"Apa daganganmu masih banyak?" tanya gadis bermata hitam itu dan gadis itu mengangguk.
"Kenapa kamu tidak sekolah?" Intan yang sedari tadi melihat dan mendengar perbincangan mereka ikut buka suara.
"Ibuku gak punya biaya karena bapak meninggal tiga bulan lalu karena kecelakaan," gadis itu mulai terisak mengingat kematian ayahnya yang tragis.
"Maaf saya tidak tahu," sesal Intan. "Lalu apa ibumu tidak bekerja?" tanya Intan lagi tapi kini mereka berbicara di dalam mobil karena kasihan bila gadis kecil itu terus berdiri.
"Ibu baru melahirkan adikku seminggu yang lalu. Sejak bapak meninggal ibu kelelahan bekerja jadi harus melahirkan adik lebih cepat. Itu sebabnya saya harus berjualan supaya kami bisa makan." Gadis itu masih terus menangis.
"Siapa namamu?" tanya Sekar. "Nabila," jawabnya dengan menarik ingusnya kembali ke dalam hidung mungilnya.
"Berapa umurmu dan dimana sekolah serta rumahmu?" tanya Intan yang ikut menangis mendengar kisah sedih Nabila.
"Apa kakak dan tante akan menculik saya?" Nabila kini memasang mode waspada ia khawatir kedua orang dewasa di depannya itu adalah penjahat.
Sekar dan Intan tertawa mendengar pertanyaan lugu anak berpakaian sederhana itu. Anak itu dididik untuk tidak mudah percaya pada orang lain.
"Tenang sayang. Tante dan kakak bukan orang jahat. Kami ingin membeli semua daganganmu dan kakak ingin menjenguk ibumu. Itu saja jadi jangan takut. Okey?" jawab Sekar tersenyum.
"Kakak serius mau beli semua ini, ini masih sangat banyak, Kak?" Nabila bertanya dengan setengah berteriak tak percaya dengan apa yang didengarnya.
__ADS_1
Gadis yang kini terlihat lebih cantik dari pertama dia datang ke jakarta 6 bulan lalu itu mengangguk membuat Nabila sangat senang.
Nabila ikut bersama mereka mengendarai mobil menuju tempat tinggalnya.
"Assalamu'alaikum.... Bu, ada tamu!" teriak Nabila setengah berlari masuk kedalam rumah kontrakan mereka. Kontrakan sederhana berukuran kecil.
"Walaikumsalam tamu siapa, Nak?" tanya si ibu yang baru keluar dari kamar dengan langkah sangat pelan.
"Mereka yang beli semua dagangan Nabila, Bu?" Gadis kecil itu menceritakan kejadian tadi yang membuatnya sangat gembira.
"Benarkah itu?" tanya si ibu dengan menatap tak percaya pada tamunya dan hanya dijawab anggukan kepala.
"Maaf sebelumnya kenalkan saya Intan dan ini calon menantu saya. Tujuan kami kemari untuk menyampaikan jika kami sudah membeli dagangan Nabila tapi sepertinya gadis ibu kesulitan untuk menghitungnya, jadi biar ibu yang menghitung nya." Intan meminta ibunya Nabila untuk menghitung jumlah harga semua makanan itu.
Si ibu pun menurut melakukan apa yang diminta tamunya. Wanita yang masih muda itu pun menyusun makanan itu di meja tamunya dan menyelesaikan dalam waktu yang cukup singkat.
"Semuanya seratus tujuh puluh ribu," jawab ibunya Nabila kemudian.
"Saya lulusan SMK Akuntansi saya cukup bisa membuat kue," jawabnya dengan suara lirih karena dia masih belum sehat. Keterbatasan ekonomi membuatnya enggan membeli vitamin dan obat untuk ibu pasca bersalin.
Mereka berbincang cukup lama. Intan dan Sekar sedikit banyak mengerti keadaan Nabila dan ibunya.
Sekar membawa makanan yang dibelinya tadi dan masih menyisakan sebagian untuk keluarga malang itu. Sebelum pergi Intan meninggalkan sedikit uang untuk biaya control kesehatan ibunya Nabila. .
Wanita itu tidak ingin jika ibu muda itu sampai komplikasi dan membahayakan nyawanya. Sebab wanita yang baru melahirkan rentan terhadap penyakit yang bisa saja terjadi bila kurang perhatian dan perawatan.
******. *********
"Maaf, kalau boleh saya tahu apa maksud kedatangan ibu berdua kemari?" tanya kepala sekolah. Ya, kini Intan dan Sekar sedang berada di kantor guru sekolah dimana Nabila belajar.
__ADS_1
"Ini ada oleh-oleh dari saya untuk para guru di sini." Bukan menjawab Intan justru menyerahkan sekantong plastik berisi makanan yang dibelinya dari Nabila tadi.
"Kue? Dalam rangka apa ya, Bu?" kepala sekolah dan beberapa guru yang ada di dalam ruangan itu mengernyit heran saling berpandangan satu sama lain.
"Kue itu barang dagangan murid anda Nabila Aina yang duduk di kelas empat," jawab Intan sinis.
"Nabila jualan? Anak itu sudah hampir dua Minggu tidak masuk sekolah. Jadi dia memilih berdagang?" ucap salah seorang guru wanita.
"Ck. Jadi selama ini anda semua tidak ada yang menjenguknya? Mengunjunginya? Melihat bagaimana keadaannya?" tanya Intan dengan nada cukup tinggi karena kesal bagaimana bisa sekolah bisa tidak peduli dengan keadaan muridnya.
Semua guru terdiam, tidak ada yang berani bersuara membuat Intan semakin yakin jika Nabila memang tidak disukai karena miskin.
"Harga kue ini sangat murah. Dan dia hanya mendapatkan uang tiga puluh sampai empat puluh ribu saja sehari padahal dia harus menghidupi ibunya yang baru saja melahirkan. Mengapa guru disini tidak bersimpati dengan kondisi Nabila? Cobalah bersikap baik padanya. Beli dagangannya atau setidaknya biarkan ia tetap sekolah sambil berjualan agar mereka tidak kelaparan. Lagi pula ia berhak pula mendapatkan beasiswa anak yatim. Jadi saya harap besok Nabila sekolah lagi dan untuk biaya apapun itu minta pada saya. ini kartu alamat saya. Kami permisi."
Intan dan gadis yang selalu diakui sebagai calon menantu itu pun akhirnya bisa bernafas lega setelah membantu menyelesaikan masalah Nabila dan ibunya.
"Ibu hebat," puji Sekar setelah mereka kembali melaju di jalan raya.
Ponsel Intan berdering tanda panggilan masuk.
"Oh, iya jadi, Bu. Tadi saya ada keperluan mendesak jadi maaf saya terlambat. Tunggu sebentar saya akan segera sampai." Intan pun menutup panggilan telepon dengan wajah sedikit panik.
"Segera kita temui klien mereka sudah lama menunggu," perintah Intan pada Sekar.
Dengan cekatan Sekar melajukan mobilnya.
Dia tak ingin klien marah dan membatalkan kerjasama mereka. Lampu merah menyala di persimpangan membuat Sekar menghentikan mobilnya sementara.
Tanpa mereka sadari truk besar di belakang mengalami rem blong membuatnya melaju rak terkendali hingga menabrak bagian belakang mobil mereka. Saking kuatnya benturan sampai membuat mobil mungil itu terlempar cukup jauh ke depan. Sementara truk besar tadi baru berhenti setelah menabrak bangunan toko di pinggir jalan.
__ADS_1
Keadaan mobil yang dikendarai Sekar rusak parah tak berbentuk. Tempat itu pun langsung ramai orang untuk menolong para korban kecelakaan. Polisi yang sedang berpatroli pun ikut mengevakuasi korban.
Jika keadaan mobilnya begitu parah, lalu bagaimana keadaan korbannya?