
Pagi buta Sekar merasa perutnya seperti diaduk. Terasa mual yang seperti tidak ada habisnya. Meski sudah tidak ada apa-apa lagi yg bisa dikeluarkan, ia selalu ingin muntah dan muntah lagi. Berkali-kali Sekar ke kamar mandi untuk membuang isi perutnya, namun hanya cairan kuning yang keluar dan meninggalkan rasa pahit di mulutnya.
Bima dengan cekatan membantu istrinya untuk bisa berjalan karena tenaganya telah habis terkuras. Ia mengambil minyak kayu putih lalu diusapkannya ke sekujur tubuh wanita yang kini telah menjadi bagian dalam hidupnya itu.
"Sayang, kita ke dokter, ya?" tanya Bima saat mengoleskan minyak kayu putih ke perut istrinya. Sekejap ia menatap perut rata itu dan sebuah tanya terbersit di pikirannya. "Sayang, kapan terakhir kamu datang bulan?"
"Dua minggu lalu," sahut Sekar lirih saking lemahnya.
"Apa mungkin kamu hamil?" tanya Bima lagi.
"Masa baru dua minggu udah mabok gini? gak mungkin sepertinya," jawab Sekar seraya memejamkan matanya.
"Kita ke dokter, ya siapa tahu beneran hamil?" bujuk Bima. Dirinya tidak ingin terlambat mengetahui kehamilan istrinya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
"Nanti, deh aku mau tidur dulu, lelah," Dan Sekar benar-benar tidur sesaat setelah mengucapkan itu.
Melihat istrinya tidur dalam damai membuat hati Bima tergerak untuk keluar kamar menuju dapur menyiapkan sarapan untuk dirinya juga istrinya yang tengah sakit itu.
Bima berkali-kali membuka aplikasi video tutorial masak namun gagal. Ia merasa kesal dan putus asa karena berkali-kali mencoba selalu saja gagal. Dapur pun berubah seperti kapal pecah tak terlihat lagi kebersihannya. Akhirnya karena putus asa, dia hanya memanggang roti dan membuat susu saja. Ya, hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini.
"Sepertinya aku harus belajar masak dari mama biar nggak kesulitan seperti ini kalau Sekar sakit," gumamnya sendiri di dapur. Ia membersihkan dapur seorang diri meski cukup kerepotan dengan usahanya yang harus ekstra sabar. Tak dapat ia bayangkan bagaimana istrinya melakukan semua pekerjaan rumah seorang diri apalagi kini sedang sakit.
Setelah kegiatan bersih-bersih dapur selesai, ia pun naik ke lantai atas tempat di mana kamarnya dan Sekar berada. Dengan langkah cepat ia menaiki anak tangga dengan tangan membawa baki berisi gelas susu dan roti panggang di atasnya.
"Sayang, ayo makan dulu biar ada tenaga buat bangun," ujar Bima seraya mengusap kepala istrinya yang masih memejamkan matanya. Hatinya merasa iba dengan keadaan istrinya. Wajah yang biasanya berseri kini tampak pucat pasi. Rambut yang biasanya tergerai indah kini terlihat kusut dan berantakan. Tubuh yang biasanya bugar kini terkulai lemah tak berdaya. Hatinya terasa teriris perih namun dia tak bisa menggantikan posisi itu.
Karena tidak juga bangun, Bima pun bangkit untuk mengambil pakaian kotor dan segera mencucinya dengan telaten. Dulu saat kuliah di Jepang, Bima biasa mencuci baju dan membersihkan rumah seorang diri. Namun untuk makan dia selalu membelinya. Itu sebabnya dia tidak bisa memasak apapun.
Setelah mencuci Bima pun menjemurnya di teras belakang rumah mereka. Ia naik lagi ke lantai atas untuk melihat istrinya sudah bangun atau belum namun ia tak mendapatinya di ranjang. Suara gemericik air terdengar dari arah kamar mandi. Ia yakin jika Sekar ada di sana.
Bima duduk di tepi ranjang menanti istrinya keluar dari kamar mandi. Cukup lama ia menunggu namun Sekar tidak juga keluar dari ruang kecil itu. Merasa ada yang janggal, Bima berinisiatif mengetuk pintu kamar mandi.
Hening. Hanya ada suara gemericik air yang tidak berhenti sejak tadi. Tanpa pikir panjang Bima pun mendorong pintu kamar mandi untuk melihat keadaan istrinya.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Arum?!" Bima begitu terkejut mendapati tubuh istrinya tergeletak di lantai yang basah karena aliran air yang tidak berhenti sejak tadi.
Dengan cekatan ia mengangkat tubuh lemah itu dan membaringkannya di atas ranjang. Ia pun membuka lemari dan mengambil pakaian ganti untuk Sekar. Segera ia membuka pakaian basah itu dan menggantinya dengan yang kering. Tubuh yang lemah cukup menyulitkan kegiatannya kali ini.
******. *****
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Bima pada seorang dokter yang baru saja selesai memeriksa kondisi Sekar.
Ya, mereka telah berada di rumah sakit. Sekar pun sudah diberi cairan infus untuk bisa memulihkan kondisi tubuhnya yang sangat lemah.
"Selamat ya, Pak sebentar lagi anda akan menjadi seorang ayah," jawab dokter wanita di hadapan Bima saat ini.
"Maksud Dokter istri saya hamil?" tanya Bima tak percaya meski pagi tadi dia sudah menduganya.
"Iya, benar sekali," jawab dokter itu seraya tersenyum. Dokter wanita itu ikut merasa senang dengan kabar bahagia yang baru saja ia sampaikan pada calon ayah baru itu.
"Terimakasih, Dok," ucapnya lalu menyalami dokter yang bertugas tadi. Wajahnya tampak berseri-seri bahagia.
"Mas," panggilnya. Pria yang tengah duduk menatap perut rata istrinya tersentak mendengar suara panggilan yang ditujukan untuk dirinya itu. Ia menoleh ke sumber suara penuh antusias, "Ya, sayang kamu udah sadar, ada apa? mau apa?" tanyanya kemudian.
"Aku kenapa?" tanya Sekar lirih.
"Selamat, sayang kamu akan jadi ibu," ucap Bima penuh haru.
"Mas Bima serius?" tanya Sekar tak percaya. "Masa aku bohong? seriuslah, sayang."
Sekar mengelus perut ratanya dengan air mata bahagia. Sebagai seorang wanita yang telah menikah tentu saja ini adalah kabar gembira yang sangat dinantikannya. Perasaan hangat memenuhi ruang hatinya. Seorang bayi akan lahir dari rahimnya, bisiknya dalam hati.
********. *******
"Sayang, aku keluar cari makan dulu, ya? kamu mau titip apa?" tanya Bima setelah waktu maghrib berlalu.
"Nggak ada. Aku cuma mau tidur aja, rasanya lelah," jawab Sekar.
__ADS_1
"Ya, sudah kamu istirahat aja dulu. Aku pergi, ya?" Sekar mengangguk.
Sekar pun menutup matanya setelah Bima keluar dari ruangan berbau obat yang cukup menyengat itu.
Sementara itu Bima yang baru saja keluar dari kantin rumah sakit bertemu Deri.
"Bima, kamu di sini? siapa yang sakit?" tanya Deri setelah ia menghampiri Bima.
"Sekar, dia harus bedrest karena hamil muda," jawabnya agak canggung. Ia belum cukup siap untuk bertemu seseorang yang pernah mencintai istrinya.
"Oh, Sekar hamil? kapan kalian nikah, kok aku nggak tahu?" tanya Deri kaget, ia tak menyangka jika keduanya telah menikah karena memang tidak ada pesta pernikahan di keluarga Doni.
"Kami nikah di Lampung saat ayahnya Sekar sakit," jawab Bima.
"Oh, selamat, ya" ucap Deri tulus.
"Kamu sedang apa di sini?" tanya Bima. Pria itu takut kecolongan dengan hadirnya Deri di sana.
"Silvia baru aja melahirkan," jawab Deri.
"Bolehkah aku menjenguknya?" Bima ingin memastikan jika apa yang dikatakan Deri adalah nyata atau hanya alasan saja
"Mari ikut denganku," ajak Deri berlalu tanpa menunggu jawaban dari Bima. Instingnya mengatakan jika Bima merasa curiga padanya dan dia akan buktikan jika itu benar, Deri baru saja mendapatkan seorang putri cantik.
"Apa kabarmu, Silvia?" sapa Bima. Ia duduk di kursi samping brankar pasien.
"Alhamdulillah, sehat. Siapa yang sakit?" Wanita yang tengah bahagia itu perlahan bangun dari posisi berbaringnya.
"Sekar, dia hamil muda disuruh bedres. Selamat, ya udah lahiran. Maaf aku nggak tahu jadi nggak bawa apa-apa."
"Terimakasih. Selamat juga sebentar lagi akan jadi ayah. Tolong dijaga baik-baik, sepertinya kandungan Sekar lemah jadi harus banyak istirahat," kata Silvia memberi saran.
"Kamu tahu darimana kalau Bima dan Sekar menikah? kok aku baru tahu?" tanya Deri heran.
__ADS_1