Cinta Tetaplah Di Sini

Cinta Tetaplah Di Sini
Mengundurkan Diri


__ADS_3

Hari ini Sekar akan menerima gaji hasil kerja kerasnya sebulan ini. Dia pun berencana akan langsung mengajukan surat pengunduran diri sore nanti saat akan pulang. Semalam Bima berhasil meyakinkan dirinya bahkan mengantarkannya pulang dengan taksi sehingga ia tahu dimana gadis itu tinggal. Ia tersenyum sendiri mengingat momen semalam. Momen yang dirindukannya selama empat tahun lamanya.


Satu persatu karyawan mendapatkan gaji bagian mereka siang itu begitupun Sekar. Dengan wajah gembira ia menerimanya. Dengan gembira pula ia melakukan pekerjaan di hari terakhirnya di toko ini.


Sore tiba saatnya pulang. Sekar pun langsung menghadap atasannya untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya. Sebelumnya ia meminta Devina untuk makan malam dengannya malam nanti.


"Apa yang membuatmu ingin mengundurkan diri apa ada yang membuatmu tak betah bekerja di sini?" tanya atasannya yang bernama Lula.


"Bukan, Bu. Saya betah bekerja di sini. Kemarin kerabat saya mengabarkan bahwa dirinya membutuhkan bantuan saya untuk menjadi asisten pribadinya," jawabnya tenang.


"Dimana?"


"Jakarta. Dia seorang desainer. Asisten lamanya baru meninggal beberapa hari lalu karena sakit dan dia butuh asisten pribadi lagi segera itu sebabnya saya mengundurkan diri disini untuk membantunya," jelasnya panjang lebar.


"Baiklah kuterima alasanmu. Terima kasih atas kerja kerasmu selama beberapa bulan ini," ucap Lula dengan lapang dada.


"Terima kasih, bu pengertiannya," jawab Sekar langsung menyalami atasannya itu lalu pamit pulang.


"Haaaaaa....Kenapa pergi lagi, sih? Kita kan baru setengah tahun bersama setelah bertahun-tahun berpisah. Tega sekali kamu Sekar....huuuuuu," Devina terisak setelah Sekar menjelaskan maksudnya mengajak Devina bertemu malam itu.


"Aku pergi, kan demi masa depan keluargaku. Lagian, kan kita masih bisa video call kalau kangen. Jangan lebay deh," ujar Sekar juga dengan mata berair sedih.


"Janji, ya selalu kabari aku?" tanya Devina masih dengan terisak. Sekar pun mengiyakan permintaan sahabat baiknya itu.


Mereka menghabiskan waktu malam itu dengan baik juga menyimpan banyak foto mereka berdua sebelum akhirnya benar benar berpisah.


Pagi ini Sekar akan pulang ke desa bersama adiknya Kirana. Kirana mendapat libur 3 hari. Tentu saja dia merasa sangat senang bisa berjumpa kembali dengan keluarganya.


"Mbak, nanti beli apa buat Bapak sama Ibu?" tanya Kirana saat dalam perjalanan menggunakan bus AKAP.


"Apa, ya?" Sekar berfikir sejenak. "Beli buah sajalah yang gampang Mbak juga bingung mau beli apa," jawabnya kemudian.

__ADS_1


"Mbak, kenapa Mbak tidak pernah pacaran lagi sejak terakhir sama kang Abas?" tanya Kirana yang sukses bikin Sekar bingung mau jawab apa.


"Entahlah, Dek mungkin belum ada yang pas saja di hati Mbak," jawabnya asal.


"Apa mungkin ada yang Mbak tunggu?" Sekar tersentak.


'Benarkah? Benarkah ia masih menunggu dia yang berhasil mengobrak abrik hatinya hingga tak peduli pada pria pria di sekitarnya? Sebenarnya untuk apa menunggunya, menunggu seseorang yang tak pasti. Tapi entahlah ia hanya menjalani takdirnya saja berharap akan adanya keajaiban. Semoga,' pertanyaan serta harapan memenuhi pikirannya saat ini hingga ia tak bisa menikmati perjalanan panjangnya hari ini.


"Hai, Joko!" panggil Sekar pada seorang tukang ojek yang merupakan temannya di desa saat telah mereka turun dari bus. Memang untuk sampai di desa mereka harus naik ojek terlebih dahulu karena tidak akan ada angkutan umum yang beroperasi ke sana.


"Eh, Sekar kamu pulang? Apa kabarmu sudah lama tidak pulang?" tanya si Joko setelah menghampiri Sekar dan Karina.


"Alhamdulillah sehat. Kamu juga sehatkan?" jawab Sekar


"Heem. Mau ngojek? Aku cariin ojek satu lagi, ya?" tawar Joko si jangkung dengan rambut gondrong berwarna pirang alami akibat sinar matahari.


"Iya. Gpl, ya," sahut Sekar dan diiyakan oleh Joko. Dengan cepat Joko memanggil Andre teman sesama tukang ojek untuk diajak mengantar Sekar dan Kirana.


Butuh waktu hingga setengah jam lamanya menyusuri jalanan berbatu untuk sampai ke desa mereka. Jarak yang tidak begitu jauh dari kota harus memakan waktu lebih lama karena infrastruktur yang buruk. Tapi ini masih lebih baik keadaannya ketimbang saat Sekar masih sekolah. Jalanan ini hanya berupa batu batu besar yang disusun lalu dilindas alat berat.


"Walaikum salam," suara wanita muda dari dalam rumah.


"Aaaaa Mbak Sekar sama Mbak Kirana pulang!!!" seru gadis itu kegirangan menyambut kedua kakak perempuannya. Mereka berpelukan layaknya Teletubbies, serial favorit anak-anak.


"Gimana kabarmu, Dek?" tanya Sekar seraya menangkup pipi adik bungsunya itu.


"Emhhh sehat Mbak. Mbak juga sehat, kan?" tanya Puspa dengan wajah berbinar dan air mata haru di ujung matanya.


"Bapak sama ibu mana, dek?" tanya Kirana saat telah masuk dan mencuci sebagian anggota tubuhnya.


"Bapak sama ibu lagi ada kumpulan di balai desa entah kumpulan apa aku gak tahu," jawab Puspa dengan tangan membawa minuman dan cemilan untuk kedua kakaknya.

__ADS_1


Mereka pun bercengkrama hingga sore menjelang. Tak lama setelah mereka sholat ashar terdengar suara sepeda motor datang memasuki pekarangan rumah mereka.


Sekar dan Kirana langsung menyambut mereka dengan penuh haru dan rindu jadi satu. Kedua orang tua itu pun menyambut anak anaknya dengan pelukan dan ciuman.


"Ada acara apa tho, Bu di balai desa?" tanya Sekar saat mereka semua duduk santai di bekakang rumah.


"Itu kampanye kebersihan mencegah penyakit demam berdarah dan cikungunya," jawab ibu.


"Kok tumben pulang bareng?" tanya Bapak.


"Iya. Kirana pas dapat libur tiga hari makanya pulang, kangen," jawab Kirana sambil memeluk lengan ibunya manja.


"Sekar, libur juga?"


"Bukan libur tapi Sekar mau pindah kerja, Pak Ibu."


"Pindah kemana, Ndhuk? Kamu gak betah kerja di toko itu? Bosmu galak, ya?" cecar ibu penasaran.


"Bukan, Bu. Sekar keluar karena ada teman lama Sekar dari Jakarta nawarin kerja jadi asisten pribadi ibunya yang seorang desainer karena asisten lamanya meninggal akibat sakit demam berdarah beberapa hari lalu," Sekar coba menjelaskan


"Oh, Ibu kira kenapa. Apa kamu mengenalnya dengan baik?"


"Iya, Bu. Mereka masih kerabat Pak Herman ayah Mas Rafa. Nantinya Sekar akan tinggal di rumah mereka jadi Sekar akan aman."


"Ya sudah kalau mereka orang baik ibu ikut senang. Ibu doakan ini akan menjadi awal yang baik untuk masa depan kamu, Ndhuk," harapan ibu dengan tangan mengelus lengan putrinya.


"Amiiin," jawab semua orang.


"Mau berangkat hari apa, Mbak?" kini giliran Puspa yang sejak tadi diam saja bertanya.


"InsyaAllah hari sabtu sore biar sampai sana pagi sekali jadi Mbak masih sempat istirahat dan mampir ke rumah Pak Dodi."

__ADS_1


"Eh, iya mau bawa oleh oleh apa ya, Ndhuk mumpung masih lama berangkatnya?" ide orang ndeso pun muncul dari bapak.


"Apa, ya?" semua ikut berfikir. Mau bawa apa, ya si Sekar ke Jakarta?


__ADS_2