Cinta Tetaplah Di Sini

Cinta Tetaplah Di Sini
Rumah Sakit Jadi Saksi


__ADS_3

"Bagaimana, Ndhuk kamu siap nikah hari ini?" tanya bapak semakin lirih.


"Tapi, keluarga Mas Bima belum dikabari. Gak mungkin kan kalau kita nikah tanpa mengabari mereka?" tanya Sekar pelan.


"Mama Papa sudah dalam perjalanan kemari," sahut Bima.


"Penghulu dari desa juga sudah dalam perjalanan bersama pakde Suraji dan pak Ngadiman tetangga kita. Mereka yang akan menikahkan kalian dan sekaligus menjadi saksinya," ujar ibu membuat Sekar tercengang.


"Bagaimana bisa secepat itu? Kapan ibu dan Mas Bima mengabari mereka?" Sekar sangat terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Tadi waktu kalian keluar," jawab ibu.


"Hah, keluar ke taman barusan?" ibu mengangguk.


"Waktu kita di taman tadi. Sekarang mungkin mereka sudah di dalam pesawat," jawab Bima membuat Sekar tak percaya. Mereka sungguh ingin dia menikah hari ini juga.


"Tapi bapak janji, ya setelah Sekar nikah bapak langsung masuk ruang operasi?" tanya Sekar memastikan janji bapak.


"Iya, bapak janji. Tapi sebelum itu bapak berpesan agar kamu jadi istri yang berbakti untuk suamimu. Kemanapun dia pergi ikuti, apa maunya turuti, layani dia sepenuh hati dan jangan pergi tanpa seiizinnya. Selama itu baik jangan pernah menentangnya. Karena setelah menikah surgamu telah berada dalam ridhonya. Kamu mengerti, Nak?" nasehat bapak dengan nafas terengah-engah karena sesak yang dirasakannya.


"Bapak operasinya sekarang aja,ya?" Sekar kembali membujuk ayahnya karena keadaannya semakin memburuk.


"Tidak mau. Bapak tidak yakin kalian akan tetap menikah kalau bapak dioperasi sekarang. Bapak akan tetap menunggu sampai kalian selesai akad nanti." bapak tetap dengan kemauannya dan menolak dioperasi sebelum putrinya benar-benar menikah.


"Sekar janji, Pak Sekar akan tetap menikah begitu bapak sadar setelah operasi. Bapak operasi sekarang aja ya, Pak" bujuk Sekar lagi. Namun lagi-lagi bapak menolaknya.


Akhirnya Sekar mengikuti saja keinginan ayahnya yang keras kepala itu. Ia mondar mandir gelisah di ruang perawatan bapak membuat yang melihatnya merasa pusing.


"Sebaiknya kamu diam atau keluar saja kalau tidak mau diam. Gerakanmu membuat bapak semakin pusing," ketus ibu membuat Sekar menyadari kegugupannya.

__ADS_1


Dua jam berselang keluarga Bima datang. Doni, Intan serta Satya masuk ke ruang rawat inap ayah Sekar. Sekar menyambut dan memeluk Intan, wanita yang telah dianggapnya ibu selama dirinya di Jakarta. Orang tua Bima memperkenalkan diri dan membicarakan tentang anak-anak mereka.


Sejam kemudian Pakdhe Suraji dan Pak Ngadiman serta penghulu datang melengkapi kehadiran semua yang dibutuhkan.


Ternyata Intan membawa pakaian pengantin untuk Bima dan Sekar. Sekar tak menyangka jika ternyata Intan sudah menyiapkan pakaian pengantin itu sudah sejak lama. Sekar merasa terharu dengan apa yang dilakukan oleh calon ibu mertuanya.


Sekar dan Bima bergantian ganti pakaian di kamar mandi. Sekar dirias sederhana oleh Kirana adiknya setelah ia keluar dari kamar mandi tadi.


Semua sudah siap. Kedua calon mempelai menghadap penghulu untuk segera melakukan akad nikah dadakan itu. Sebagai saksi ada Pak Ngadiman. Sedangkan dari pihak Bima ada Doni. Untuk wali dilakukan langsung oleh bapak.


"Saya terima nikah dan kawinnya Dewi Sekar Arum binti Mahmud dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas dua puluh empat karat seberat dua puluh gram dibayar tunai," ucap Bima saat melakukan akad menyambut ucapan bapak.


"Saksi sah?" tanya penghulu.


"Sah," sahut semua yang hadir.


Acara dilanjutkan doa yang dipimpin oleh penghulu dan diamini oleh semua. Tak lupa mereka pun mendoakan bapak menjelang operasinya. Sepanjang acara akad nikah tak hentinya semua wanita yang hadir menitikkan air mata. Sedih dan haru jadi satu.


Satu persatu Sekar dan Bima menyalami orang tuanya dan juga mertuanya. Mereka memberikan nasehat mereka untuk keduanya.


Satya sedari tadi sibuk memotret mengabadikan momen pernikahan kakaknya. Sesekali dia mencuri pandang pada Kirana gadis muda yang berulang kali memeriksa kondisi ayahnya.


Dokter yang akan melakukan operasi pada bapak ikut menjadi saksi pernikahan mereka. Tidak ada acara apapun setelah akad nikah karena bapak harus segera masuk ruang operasi.


"Karena acara sudah selesai, kami akan segera membawa pasien untuk segera melakukan tindakan operasi. Kondisi pasien sudah semakin menurun tidak bisa terus ditunda," kata seorang dokter yang ikut jadi saksi pernikahan mereka.


*****. *****


Semua orang menunggu dengan cemas dan penuh harap di depan ruang operasi. Semua berdoa untuk keberhasilan operasi dan juga kesembuhan Mahmud ayah Sekar.

__ADS_1


Operasi berlangsung cukup lama hingga 3 jam. Sedari tadi Satya mencari sosok gadis yang telah berhasil mengusik hatinya. Namun tak kunjung dilihatnya. "Kemana gadis itu, bukankah dia adik Sekar?" ujar Satya dalam hati.


Bima yang melihat Sekar begitu gelisah ikut gundah. Didekatinya istrinya yang sedang duduk di samping ibunya. Dia ikut duduk di sana dan menggenggam tangan Sekar berusaha menguatkan.


"Sayang, bapak pasti bisa. Bapak orang yang kuat. Kamu harus yakin dan teruskan doamu,"ucap Bima.


Dia menyandarkan kepala istrinya di bahu kekarnya dengan tangan kanannya merangkul pundak wanita itu. Sekar yang sejak tadi gelisah merasa sedikit tenang dengan sentuhan lembut suaminya. Ia merasa hatinya lebih baik dari sebelumnya. Kemudian dia lanjut memanjatkan doa dengan mata terpejam.


3 Jam berlalu. Dokter keluar dari ruang operasi dengan wajah lelah berpeluh. Dokter mendekati semua yang ada di sana.


"Bagaimana keadaan bapak saya, apa operasinya berhasil?" tanya Sekar yang sudah terlebih dahulu mendekati dokter itu.


"Alhamdulillah berkat doa dari semua, operasi berjalan dengan lancar. Sekarang tinggal menunggu pasien sadar. Setelah beberapa jam dari sekarang akan dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui ada tidaknya komplikasi pasca operasi. Sampai di sini paham, ya. Kalau begitu saya permisi," kata dokter lalu pergi meninggalkan keluarga pasien.


"Alhamdulillah," ucap syukur mereka serentak.


"Karena operasi berjalan dengan lancar dan sudah selesai, saya dan istri pamit pulang. Setelah ini kami akan menjemput putri kami ke London untuk pulang ke Indonesia karena studinya sudah selesai. Dan untuk Satya kami tinggal karena dia akan membantu untuk mengurus surat pernikahan kakaknya," ucap Doni setelah dokter pergi dari hadapan mereka.


"Mutia akan pulang, Pak?" tanya Sekar.


"Iya. Sekarang kamu sudah jadi menantu kami jadi mulai saat ini panggil saya papa dan mama untuk istri saya."


"Iya, Pa."


"Jaga diri kalian baik-baik kalau ada apa-apa segera hubungi kami. Kami permisi dulu hari sudah semakin malam takut ketinggalan pesawat karena besok akan terbang di pagi hari," pesan Doni kemudian pergi meninggalkan mereka.


Pakdhe Suraji, Pak Ngadiman serta penghulu menginap di rumah sakit karena tidak akan ada kendaraan ke desa saat malam.


Sekar tak menyangka jika rumah sakit ini akan jadi saksi pernikahannya dengan Bima.

__ADS_1


__ADS_2