Cinta Tetaplah Di Sini

Cinta Tetaplah Di Sini
Jakarta I'm Coming


__ADS_3

Malam itu juga Sekar berangkat ke Jakarta menggunakan bus pariwisata dengan alasan kenyamanan selama dalam perjalanan. Bus mulai berangkat dari terminal jam sepuluh malam. Tak berselang lama bus sampai di pelabuhan Bakauheni pertanda akan segera menyeberangi Selat Sunda.


Dinginnya angin laut di malam hari tak menyurutkan niatnya untuk menikmati suasana tenang tanpa kebisingan dunia. Dia berdiri di samping pagar pembatas.Sesekali ia mengambil gambar menggunakan ponselnya. Setelah merasa cukup ia pun kembali nikmati angin malam diiringi deburan ombak lautan. Angin membuat hijabnya melambai lambai, tangannya pun semakin mengeratkan jaketnya. 'Ah, seandainya ada yang memeluknya alangkah hangatnya hati ini' bisik hatinya.


Tak mau terlarut dalam kesepian ia mencoba kembali menata hatinya. Ia ingin move on tapi justru takdir membuatnya kembali dekat dengan pria itu, pria yang mengisi relung hatinya yang hingga kini tak terganti dengan nama selain namanya. Sakitnya cinta sendirian.


"Hai, angin malam ini sangat dingin kenapa kamu justru berada di luar?" suara seorang pria membuyarkan lamunannya.


"Saya hanya ingin menikmati momen langka ini" jawabnya ramah.


"Jadi kamu jarang naik kapal laut?" Sekar mengangguk.


"Kenalin namaku Deri. Namamu siapa?" pria itu mengulurkan tangan memperkenalkan dirinya. "Aku Sekar" ia pun menyambut uluran tangan itu.


"Tujuanmu kemana?" tanya Deri tanpa menoleh ia menatap hamparan laut lepas di hadapannya.


"Jakarta."


"Aku juga."


"Mau kerja juga?" tanya Sekar masih dengan tangan dalam saku jaketnya.


"Bukan, aku memang tinggal di Jakarta. Aku baru saja pulang dari liburan di rumah paman di Bengkulu. Karena ingin menikmati perjalanan lebih panjang jadi aku memilih lewat jalur darat. Kalau kamu kerja?" jelas Deri panjang lebar.


"Iya, aku mau kerja."


"Kamu irit bicara, ya?" celetuk Deri dan hanya ditanggapi senyuman oleh Sekar.


"Ini kartu namaku jika di sana kamu butuh sesuatu jangan sungkan untuk menghubungiku aku pasti datang membantumu," kata Deri seraya memberinya kartu nama yang langsung disimpannya di saku jaketnya.


Kapal mulai merapat di pelabuhan Merak saat tengah malam. Sekar lebih memilih keluar kapal dengan menumpangi bus seperti saat masuk tadi. Setelah bus melaju ia pun memejamkan matanya namun ia tak bisa tidur.


Bus berhenti di sebuah terminal yang tak begitu jauh dari pelabuhan dan penumpang di sebelahnya pun turun dari bus karena telah tiba di tempat tujuannya.

__ADS_1


Sekar kembali memejamkan mata sambil menggerak-gerakkan tubuhnya untuk mencari posisi nyaman hingga ada seseorang yang duduk di sebelahnya. Ia membuka matanya kembali dan terkejut dengan apa yang dilihatnya.


"Kamu?" Sekar melongo. "Penumpang bus ini juga? Lalu tadi duduk di mana?" sederet pertanyaan langsung keluar dari bibir mungilnya membuat pria itu tertawa.


"Ada di belakang. Karena kurang nyaman dan aku tadi melihat orang yang duduk di sini turun jadi aku pindah ke sini. Eh, ternyata ada kamu di sini. Sepertinya kita jodoh, deh ketemu terus," jawabnya dengan bibir mengembang.


"Kepedean," gerutu Sekar dengan wajah menatap jendela.


"Jangan lihatin luar jendela kalau malam suka ada yang nongol," ujarnya seraya menarik gorden jendela bis yang sontak membuat Sekar kembali melongo.


"Ish, ganggu aja!" gerutunya lalu kembali memejamkan mata.


"Ngantuk, ya?" tanya Deri saat melihat mata Sekar yang terpejam.


Kali ini Sekar benar benar tertidur. Melihat wajah manis Sekar yang teduh membuat Deri jadi ingin terus memandanginya. Bahkan saat melihat posisi tidur Sekar yang terlihat kurang nyaman, disandarkanlah kepala gadis itu di lengan kekarnya hingga tidurnya semakin pulas. Entah mengapa melihat itu ia tersenyum sendiri seperti ada yang berbeda di hatinya.


Sekar menggeliat membuka matanya bangun dari tidur singkatnya lalu menguap pelan dengan tangan yang menutupi mulutnya. Melihat pergerakan itu Deri pura pura tidur, dia tak ingin Sekar malu karena telah tertidur di lengan seorang pria asing.


"Bang, sudah sampai mana, ya?" tanyanya pada kenet bus ya kebetulan lewat di samping kursinya.


"Sudah sampai Tanggerang mungkin setengah jam lagi sampai terminal Pulo Gebang," jawab kenet itu kemudian berlalu ke arah depan.


Diliriknya jam di tangan kirinya. Jam setengah empat malam. "Iqbal sudah bangun belum, ya?" gumamnya.


Sekar mengambil ponsel di saku jaketnya lalu melakukan panggilan ke nomor ponsel kerabat jauhnya itu.


"Ya, Assalamualaikum ada apa, Kar?" suara serak dari seberang terdengar.


"Walaikumsalam kamu bisa jemput aku, Bal?" tanyanya hati hati khawatir Iqbal akan terkejut.


"Kapan? Dimana?"


"Sekarang di terminal Pulo Gebang. Mungkin setengah jam lagi aku sampai sana."

__ADS_1


"Hah, edan jam segini? Ya, ampun Kar cewek pergi malam malam gak takut apa?" teriak Iqbal panik.


"Bisa, kan? ini malam lho, Bal jemput, ya?" rengeknya merayu kerabat sekaligus sahabatnya itu.


"Iya. Aku siap siap dulu tunggu di sana jangan kemana mana sebelum aku sampai sana. Ganggu orang mimpi aja," gerutunya dengan secepat kilat bersiap pergi menjemput Sekar.


Bus telah terparkir rapi di terminal. Sekar menunggu kenet menurunkan barangnya dan meminta kenet itu meletakkan barangnya di dekat kursi tunggu. Setelah kenet selesai melakukan tugasnya Sekar memberinya uang tips karena sudah membantunya.


"Kamu dijemput atau mau naik angkutan lain lagi?" Sekar kaget karena Deri tiba tiba ada di sebelahnya.


"Oh, ya ampun senangnya bikin orang kaget," gerutu Sekar kesal dengan tangan mengelus dada.


"Hahaha iya, iya maaf." Deri menyatukan kedua tangannya di depan dada. "Gimana, dijemput atau tunggu angkutan lain?"


"Ada saudara kok yang jemput tak perlu khawatir," jawabnya sambil celingukan mencari keberadaan Iqbal.


Dari kejauhan terlihat sebuah sepeda motor mendekati mereka. Pria pengendara sepeda motor itu membuka helmnya dan terlihatlah wajah bantal Iqbal.


"Ya, ampun Sekar kamu bikin aku jantungan aja malam malam sudah sampai Jakarta mana gak kabari dulu dari kemarin. Gimana selama perjalanan kamu baik baik aja, kan? Siapa laki laki ini, pacarmu?" cecar Iqbal tanpa jeda membuat Sekar bingung mau jawab yang mana.


Hemh....Sekar menghela nafas pelan.


"Bukan, Bal. Dia teman sebangku di bus kebetulan aja tujuannya sama. Kenalan dulu gih. Der, ini saudara aku namanya Iqbal dan Iqbal ini Deri," Sekar memperkenalkan mereka berdua. Deri tersenyum ramah sementara Iqbal menatapnya tajam.


"Sudah, yuk jalan dingin," ajak Sekar pada Iqbal.


"Nanti mampir cari makan dulu, ya perutku rasanya dingin banget, nih," pinta Sekar saat mereka mulai melintasi jalanan ibukota yang masih lengang karena waktu masih dini hari.


"Sepertinya kamu senang sekali ya kembali ke Jakarta lagi?" tanya Iqbal tanpa menoleh dan Sekar pun mengangguk.


"Jakarta I'm Coming!!!!" seru Sekar seraya merentangkan kedua


tangannya menantang angin dengan senyum mengembang.

__ADS_1


__ADS_2