
Tiga minggu berselang.
Sebuah kapal laut tengah mengarungi luasnya selat Sunda di tengah gelapnya langit. Bukan karena waktu berganti malam. Melainkan cuaca buruk tengah melanda.
Kapal yang jadwal keberangkatannya sempat tertunda akibat badai, diputuskan bisa berlayar bersamaan dengan 19 kapal lainnya ketika cuaca diketahui membaik. Namun baru 20 menit perjalanan, langit menggelap dengan gulungan awan hitam memayungi.
Gelombang tinggi kembali mengganas. Awak kapal sibuk menurunkan seluruh jangkar yang dimiliki kapal mereka masing-masing. Seluruh kapal itu berkumpul menjadi satu lingkaran di tengah lautan untuk dapat bertahan di tengah ganasnya gelombang.
Sebagian awak kapal yang lain sibuk membagikan pelampung pada setiap penumpang. Tidak ada yang luput satu pun, termasuk para bayi. Semua dipersiapkan untuk segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi selanjutnya.
Suara gemuruh petir menyertai derasnya hujan di tengah hari. Ombak terus menunjukkan kesan tidak bersahabatnya. Tinggi, sampai menyentuh lantai atas kapal, meriakkan airnya ke geladak.
Kapal yang terus bergoyang semakin membuat kepanikan yang gaduh di dalam ruangan yang penuh dengan penumpang. Masing-masing tangan berpegangan pada apapun yang bisa dijadikan pegangan. Ada yang bersimpuh, ada pula yang tetap menguatkan kakinya untuk berdiri. Namun wajah cemas dan ketakutan terlihat jelas di setiap wajah insan di kapal itu.
Setiap wajah itu menampilkan kecemasan luar biasa. Ketakutan akan kematian yang bisa saja terjadi di depan mata. Setiap hati tak henti berdoa dan berharap, cuaca akan kembali tenang dan mereka selamat dari ganasnya alam.
Ingin mengabari keluarga tidak bisa. Sinyal gawai sangat berbahaya dalam kondisi seperti ini. Hanya walkie talki dan handphone jadul yang bisa dipakai untuk berkomunikasi saat sekarang. Namun, siapa yang masih punya handphone jadul di zaman yang modern ini? Semua orang sudah menggunakan android dengan segala fitur canggih sebagai pendukung. Tapi di saat seperti ini, itu tidak berarti sama sekali.
******** *******
"Bang, kata Kirana, Mbak Sekar udah berangkat ke Jakarta sejak kemarin sore, lho. Tapi kok sampai jam segini belum datang juga, ya?" ujar Satya pada kakaknya di ruang keluarga sore itu.
Bima terkejut mendengar ucapan Satya, "Kamu kata siapa?" tanyanya pada adik angkatnya itu.
__ADS_1
"Nih, Kirana tadi yang ngomong," jawab Satya seraya mengangkat gawainya ke atas seolah menunjukkan dari sana asal informasinya.
"Tapi Sekar nggak ngabarin, Abang," gumam Bima. Tangannya sibuk menekan nomor ponsel istrinya, namun gagal tersambung. "Di luar jangkauan," seru pria itu agak panik manakala berkali-kali dihubungi namun selalu dijawab oleh operator kapal.
*******. ******
Sekar duduk bersimpuh di lantai dek kapal sambil terus berdoa untuk keselamatan kapal ini yang artinya seluruh penumpang pun akan selamat. Ya, Sekar kini menjadi salah satu penumpang kapal yang tengah terjebak badai di tengah selat Sunda.
Di saat genting seperti ini dia teringat Bima, suaminya. Dirinya tidak berpamitan pada sang suami untuk bepergian walau itu kembali pada suaminya. Ia melupakan kewajibannya sebagai seorang istri untuk selalu meminta izin pada suami saat akan keluar rumah. Dan inilah akibatnya, ia terjebak dalam kondisi yang mengancam jiwanya.
"Ya, Allah ampunilah hamba yang durhaka pada suami hamba. Tak seharusnya hamba pergi tanpa izin darinya. Tolong selamatkanlah nyawa hamba agar bisa berbakti untuk suami hamba," Sekar terus bermunajat dengan berbagai permintaan yang tiada habisnya.
Ombak sedikit lebih tenang. Sekar bangkit untuk melihat keluar kapal. Ia harus berhati-hati dalam melangkah, ada banyak barang yang berserakan di lantai kapal, akibat kapal yang terus bergoyang dengan kuat.
Tampak di luar banyak kapal yang ikut berkumpul di satu titik. Mereka paham jika tidak begini, kemungkinan besar kapal mereka bisa saja sudah terbalik. Beruntung, seluruh awak kapal sangat sigap. Sehingga mereka tidak dalam keadaan yang lebih buruk.
Sekar kembali masuk ke dalam. Diraihnya ponselnya dari dalam tas, namun takut untuk menggunakannya. Hatinya gundah, bagaimana caranya mengabari keluarganya bahwa keadaanku saat ini mengkhawatirkan dan butuh doa dari orang lain? Gadis berhijab putih itu hanya bisa menggenggam ponselnya dengan raut wajah cemas dan gelisah.
"Anda ingin mengabari orang rumah?" tanya seorang awak kapal padanya. Sekar menatap pria berseragam orange itu dan mengangguk. "Ini pakailah, hubungi keluarga anda dan minta doa dari mereka untuk keselamatan kapal dan seluruh penumpang," kata pria itu seraya menyodorkan sebuah ponsel jadul padanya.
Dengan tangan bergetar, Sekar menekan tombol nomor di ponsel itu. Tidak berapa lama panggilan tersambung.
"Assalamualaikum," Sekar memulai pembicaraannya di telepon.
__ADS_1
"......................."
"Halo, Mas Bima, ini aku Sekar," kata gadis itu setelah seseorang menjawab salam darinya.
"......................."
"Iya, Mas aku sekarang dalam perjalanan ke Jakarta," Sekar menahan air matanya namun gagal, ia menangis tertahan. "Kapal yang kutumpangi terjebak gelombang tinggi di laut. Cuaca buruk, jadi kapal masih nggak bisa terus berlayar."
"......................."
"Tolong doa dari semuanya, ya. Aku juga minta maaf atas semua salahku selama ini. Dan bila aku nggak selamat, tolong ikhlaskan. Assalamualaikum," Sekar menutup sambungan teleponnya.
"Ini, Mas terimakasih, ya," kata Sekar ketika tangannya mengembalikan ponsel jadul itu. Ponsel bercasing hitam pudar dan tombol yang hampir tenggelam. Tanpa kamera apalagi fitur canggih yang didukung kamera beresolusi tinggi. Ponsel ini pernah eksis di tahun 2000-an. Jadul memang. Tapi justru kejadulannya inilah yang bisa menyelamatkan mereka di saat genting seperti ini.
"Bersabarlah dan jangan putus berdoa, kita nggak tahu sampai kapan badai ini akan berakhir. Posisi kapal kita ada di luar lingkaran. Yang itu artinya bisa kalah dan tenggelam bila nggak kuat menahan kuatnya badai," ujar pria itu, dia menjelaskan tanpa diminta.
"Apa masih lama?" tanya Sekar, matanya menatap pria itu sekilas.
"Biasanya terjadi antara empat sampai sepuluh jam. Ini baru lima jam dan cuaca masih gelap, bisa jadi masih akan lama," ujar pria itu lagi.
"Kamu terlihat tenang, apa sudah biasa menghadapi cuaca seperti ini?"
Pria berambut keriting itu tertawa, "Tentu saja aku sudah terbiasa, aku sudah lima belas tahun hidup di laut. Badai seperti ini masih belum seberapa bila dibandingkan dengan enam tahun lalu di samudera Hindia. Tapi walau begitu, kita harus tetap berdoa dan berharap. Karena tanpa badai pun kapal bisa saja karam."
__ADS_1
Sekar mulai merasa lapar, ia melewatkan waktu makan siangnya akibat badai. Sebenarnya ada kiriman makanan barusan dan Sekar pun sudah menerimanya. Namu pikiran kalut dan takut membuat otaknya tidak merespon sinyal dari perut yang mengatakan jika ia lapar dan butuh makan. Kini setelah ombak cukup tenang, ia merasakan lapar yang terlupakan itu.
Bukan sebentar waktu yang dihabiskan di atas laut saat itu. Ternyata hingga 8 jam lamanya badai berlangsung. Beruntung akhirnya mereka selamat karena formasi lingkaran kapal yang dibuat oleh para nahkoda.