Cinta Tetaplah Di Sini

Cinta Tetaplah Di Sini
Benar-Benar Cinta


__ADS_3

Setelah obrolan mereka tadi yang berakhir dengan rasa malu pada Kirana, suasana di ruangan itu terasa senyap dan sepi. Keduanya tidak ada yang memulai pembicaraan lagi. Keduanya dalam mode canggung.


Suara dering ponsel milik Kirana berbunyi memecah kesunyian. Kirana segera menerima panggilan telepon yang ternyata dari Sekar.


"Iya, Mbak ada apa?" tanya Kirana lirih.


"Kalian sudah makan?" suara Sekar dari seberang sana.


"Belum, Mbak," jawab Kirana seraya melirik Satya sekilas.


"Ya, sudah Mbak akan ke sana bawa makan malam."


"Iya, Mbak."


"Dari kemarin aku gak lihat ada pria berkunjung selain saudara mu dan penghulu yang datang dari desa. Apa kamu dan Puspa jomblo?" tanya Satya membuat Kirana melongo tak percaya jika ada pria yang bertanya begitu gamblang tentang statusnya saat ini.


"Apa urusanmu kalau aku jomblo? Gak bikin kamu rugi ini," Kirana menjawabnya dengan ketus karena merasa tersinggung.


"Kalau jomblo berarti ada lowongan, dong,"


celetuk Satya sambil membenahi duduknya agar lebih nyaman


"Lowongan apa?" Kirana mengerutkan dahinya tak mengerti hubungan jomblo dan lowongan yang dimaksud Satya.


"Lowongan jadi calon suamimu," jawab Satya lagi-lagi membuat Kirana melongo.


"Apa gak ada pembahasan lain selain itu? Hah, kenapa Mas Bima punya adik menyebalkan sepertimu?"


"Kan kalau jomblo berarti peluang terbuka lebar, kan sayang kalau disia-siakan. Lagipula kamu cantik masa gak ada yang mau jadi pacar kamu?" Kirana merasa tersipu ada pria yang mengatakan jika ia cantik. Sebab selama ini ia tidak pernah merias diri. 'Hah, tapi itu kan cuma gombalan,' pikir Kirana dalam hati.


"Satya yang sok setia...... aku jomblo atau enggak itu bukan urusan kamu. Siapa kamu berani campuri urusanku?" Kirana coba menutupi rasa malunya dengan mencibir Satya.


"Kan aku udah bilang, aku ini calon suamimu," Satya mengatakan itu dengan pedenya.


Tiba-tiba Kirana menengadahkan tangan seraya berdoa, "Ya, Allah kalau memang dia calon suamiku buat dia menderita karena sudah mau menikah denganku tanpa cinta."


"Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu, jangan dipaksakan. Aku yakin nantinya kamu yang akan jatuh cinta padaku duluan," sahut Satya dengan tersenyum dan menaik turunkan kedua alisnya.


"Sok kepedean."

__ADS_1


"Ya, harus pede. Nanti kalau sudah jatuh cinta padaku jangan nangis kalau nanti aku yang menolakmu," goda Satya membuat Kirana makin kesal.


"Narsis," cibir Kirana dengan wajah cemberut kesal karena terus digoda oleh Satya yang menurutnya cerewet.


"Assalamualaikum," suara Sekar mengucap salam sambil membuka pintu ruang rawat inap ayahnya.


"Walaikumsalam," jawab Satya dan Kirana serentak.


"Ini makan malam dulu nanti setelah itu kita gantian jaganya." Sekar meletakkan bungkusan makanan yang dibawanya ke atas meja kecil di depan sofa.


Mereka pun menikmati makanan itu dengan sesekali berbicara. Kirana masih terlihat ceria di depan kedua kakaknya walau hatinya sangat kesal pada pria yang kini duduk di depannya. Ia pura-pura baik-baik saja.


"Satya, tolong antar Kirana pulang tidak baik malam-malam pulang sendiri," kata Sekar setelah mereka selesai makan.


"Aku bisa pulang sendiri, Mbak kan dekat." Kirana menolak perintah kakaknya. 'Ogah pulang sama dedemit. Pulang sendiri malah cepat sampai,' gerutu Kirana dalam hati.


"Iya, kami tahu. Tapi lebih baik jika ada yang mengantarmu pulang. Dia bukan orang asing. Kalau dia macam-macam bilang aja biar nanti ku sunat lagi dia," kata Bima menimpali dengan mengancam adik angkatnya itu.


"Ya jangan disunat, Mas bisa habis punyaku," kata Satya sambil menutupi bagian atas celananya dengan wajah menahan ngeri membayangkan jika burungnya akan disunat lagi.


"Makanya jangan macam-macam, jaga dia baik-baik," sahut Bima tegas.


Kirana mendekati tubuh bapak kemudian dia memeriksa beberapa bagian tubuh tak berdaya itu seperti yang dilakukannya sebelum sholat maghrib tadi.


"Sudah yuk pulang sudah malam," kata Kirana setelah selesai memeriksa ayahnya.


******. *******


"Kiran, kamu kuat ikut operasi kemarin, itukan ayahmu sendiri?" tanya Satya begitu tubuh mereka keluar dari gedung rumah sakit.


"Sejujurnya aku juga ngeri. Tapi aku seorang perawat, jadi harus sekuat mungkin menghadapi segala situasi termasuk membantu operasi keluarga dekat sendiri," jawab Kirana dengan terus melangkahkan kaki meninggalkan gedung tempat ayahnya dirawat.


Diam-diam Satya merasa kagum pada gadis yang kini berjalan di sebelahnya ini. Dia yakin tidak banyak orang yang mampu untuk melakukan apa yang dilakukan oleh Kirana. Baginya kini Kirana adalah wanita galak berhati baja. Ya, wanita ini adalah wanita tangguh.


"Kamu kalau pulang malam sama siapa?" tanya Satya.


"Sendiri," jawab Kirana singkat.


"Gak takut?" Satya masih penasaran rupanya dengan sosok wanita cantik alami ini.

__ADS_1


"Kan dekat," Kirana masih menjawab dengan singkat.


"Kalau ada yang gangguin?"


"Teriak minta tolonglah kan di sini ramai terus." Kirana menunjuk sekitar jalan itu yang memang ramai oleh orang-orang yang gilir mudik


"Kalau aku jadi suamimu aku pasti akan jemput kamu terus." Kembali Satya mengungkit hal yang membuat Kirana kesal bukan main.


"Uweeeek," sahut Kirana pura-pura muntah karena merasa jijik dengan bualan Satya.


"Gak percaya," celetuk Satya.


"Orang seperti mu gak bisa dipercaya."


"Jadi cewek galak amat. Mbak Sekar lembut, Puspa adikmu juga lembut. Kamu dapat dari mana sifat galak itu?"


"Aku benci sama kamu makanya aku galak sama kamu. Kamu cowok nyebelin." Dengan emosi meluap Kirana memaki Satya.


Bagi kirana berjalan bersama Satya adalah hal yang sangat menyebalkan baginya. Kalau saja bukan karena di ruang tempat ayahnya dirawat, ia pasti sudah menolak mentah-mentah perintah Sekar dan Bima yang menyuruh Satya mengantarnya pulang.


"Jangan benci benci nanti jadi cinta. Benci itu kepanjangannya benar-benar cinta, lho."


"Au, ah!" Kirana menghentakkan kakinya karena merasa sangat kesal dengan pria yang kini mengantarnya pulang.


******. *******


Sementara itu di dalam ruang rawat ayahnya Sekar mencoba berbicara pada ayahnya.


"Bapak, bangun. Bapak gak capek tidur saja. Lihat pak Sekar jadi gak bisa bulan madu karena bapak belum bangun juga. Nanti kalau Sekar punya anak bapak gak bisa gendong kalau tidur terus. Bapak bangun, ya," ucap Sekar sambil menahan tangisannya di samping telinga bapak.


"Sabar, sayang jangan nangis di sini nanti bapak sedih," kata Bima mengusap pundak istrinya halus.


"Pak, Sekar istirahat dulu, ya."


Bima membawa istrinya untuk tidur di sofa. Setelah istrinya tidur, Bima pindah duduk di samping brankar mertuanya.


"Pak, saya sudah menepati janji saya untuk menikahi putri bapak. Dan saya harap bapak bangun agar jika istri saya hamil dan melahirkan, bapak bisa melihat kebahagiaan di wajah putri bapak. Bukankah itu yang bapak mau, melihat putri kesayangan bapak bahagia?"


"Saya menikahi putri bapak karena saya benar-benar cinta pada nya jadi saya akan selalu berusaha membuatnya bahagia seperti harapan bapak."

__ADS_1


Kini Bima yang berbicara pada ayah mertuanya berharap mertuanya mau membuka mata.


__ADS_2