Cinta Tetaplah Di Sini

Cinta Tetaplah Di Sini
Emergency


__ADS_3

"Lho, anak ini tidur di sini?" gumam Bima saat melihat Satya tidur di bangku tunggu depan ruang rawat bapak.


"Sat, bangun Sat." Bima mengguncang pelan tubuh adiknya yang terlelap walau di tempat seadanya.


Merasa ada yang mengganggu tidurnya Satya menggeliat dan membuka matanya perlahan. Betapa terkejutnya dia saat melihat tidak hanya wajah kakaknya, tapi juga Kirana. Wanita yang diantarnya pulang sudah ada di tempat itu lagi.


"Kenapa tidur di sini? Tadi malam harusnya masuk aja tidur di dalam," kata Bima lalu duduk di sebelah adiknya.


Kirana menyadari jika ternyata Satya justru melihatnya bukan memperhatikan kakaknya yang sedang mengajaknya bicara. Dengan segera dia melenggang berlalu dari hadapan kedua pria itu dan masuk ke dalam ruang rawat bapak dengan hati berdebar. 'Ada apa dengan jantungku?' gumamnya dalam hati. Ia merasa begitu malu dipandang seperti itu oleh seorang pria.


Dua hari berlalu namun tidak ada kemajuan dalam kondisi bapak. Semua masih tetap bergiliran menjaga di rumah sakit. Rasa cemas dan gelisah tentu sudah memenuhi hati mereka.


"Pak, kapan bapak bangun.Kita pulang, yuk," kata Sekar berbisik di telinga bapak.


"Mbak, sebaiknya bapaknya sering dibacakan surat Yasin dan diajak berbicara. Ini bisa merangsang kenaikan tingkat kesadaran pasien," ujar seorang perawat senior yang sedang memeriksa kondisi ayahnya memberikan saran untuk Sekar.


"Iya, Mbak itu saran yang baik dan sebaiknya kita lakukan secara bergantian," sahut Kirana yang baru saja masuk.


Malam semakin larut namun Sekar belum bisa tertidur. Kirana dan Satya tidak pulang ke kost. Mereka ikut menjaga di dalam ruang rawat bapak.


"Kalian tidur aja biar aku yang jaga," kata Bima. Ia baru saja selesai membaca surat Yasin di samping brankar ayah mertuanya.


"Aku gak bisa tidur. Biar Kirana dan Satya aja yang tidur, mereka pasti lelah udah jaga bapak dari siang." Sekar menggelengkan kepalanya sementara raut wajahnya murung.


"Sayang, kamu harus tidur biar gak ikut sakit. Kalau kamu sakit semua pasti ikut repot. Bukankah tadi kamu lihat keadaan ibu yang juga mulai melemah? Jangan sampai kamu pun ikut lemah. Tidurlah aku akan menemanimu."

__ADS_1


Bima merengkuh tubuh istrinya yang terlihat mulai sayu karena kelelahan dan kurang tidur. Ia memeluk tubuh mungil itu dan menidurkannya di sofa. Tangan kekarnya terus mengelus pucuk kepala istrinya hingga perlahan mulai tertidur.


Setelah dipastikan istri tersayangnya terlelap, Bima menyelimuti tubuh yang telah ia baringkan di sofa tadi. Perlahan ia bergerak bangun untuk menjaga ayah mertuanya dan membiarkan istrinya istirahat bersama adiknya.


Semua yang dilakukan Bima disaksikan langsung oleh Satya. Ternyata tadi ia terbangun saat mendengar perbincangan kakaknya. Dalam hati ia mengagumi sikap lembut Bima dan sikap patuh kakak iparnya.


'Apa dia sepatuh kakaknya?' batin Satya seraya memandangi Kirana yang juga terlelap.


Satya masih memandangi Kirana yang terlelap di sampingnya. Menatap wajah ayu itu membuatnya ingin terus menatapnya, menghafal setiap lekuk garis wajah gadis perawat itu.


Wajah khas orang jawa memang terlihat kuat di wajah Kirana. Gadis itu memiliki garis rahang yang sedikit melengkung dikarenakan ujung dagunya terbelah, bibir mungil yang tipis, hidung mancung yang ramping juga alis yang membentuk seperti bulan sabit secara alami. Bagi Satya wajah itu sangat unik dan seperti jarang sekali yang memiliki wajah seperti itu.


Diam-diam Satya mengambil gambar gadis yang tengah mengarungi mimpinya menggunakan kamera ponselnya. Bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman, "Cantik," sebuah kata yang tanpa sadar terucap dari bibirnya.


Setelah cukup puas memandangi Kirana, pandangan Satya beralih pada sosok Bima yang tertidur dengan posisi duduk di samping brankar.


********. *******


Pagi telah datang, Sekar dan Kirana mendekati brankar tempat istirahat ayah mereka. Sekar mengusap pelan air matanya yang tiba-tiba mengalir melihat kondisi sang ayah yang masih tidak menunjukkan kemajuan apapun.


"Ini semua salah, Mbak. Kalau aja waktu itu aku bisa langsung menerima permintaan bapak saat ini pasti beda ceritanya. Bapak pasti tidak mengalami komplikasi," ucap Sekar lirih matanya masih mengamati wajah pucat ayahnya.


"Sebenarnya bapak sudah diminta operasi dari Mbak masih di Singapura. Tapi bapak menolak dengan alasan enggak ingin menghabiskan uang hasil kerja keras Mbak Sekar dan memilih membeli kebun dan sawah. Katanya bisa buat masa depan Mbak Sekar," jawab Kirana.


Gadis itu tengah memeriksa kondisi ayahnya menggunakan alat kedokteran yang dibawanya. Diperiksanya dengan teliti satu persatu apa-apa saja yang harus diperiksa tanpa ada yang terlewat. Tiba-tiba Kirana menghentikan kegiatannya dan kembali memastikan apa yang terjadi.

__ADS_1


"Mbak tolong panggil Mas Bima," pinta Kirana pada Sekar.


Dengan segera Sekar berlari keluar mencari suaminya namun tidak ada. Dia pun kembali masuk, "Gak ada. Ada apa, sebenarnya?"


Kirana tidak menjawab ucapan kakaknya namun tangannya memencet tombol darurat yang ada di sana. Tidak lama kemudian datang seorang dokter diikuti beberapa orang perawat di belakangnya.


Dokter pria berbadan besar yang pernah ditemuinya itu memeriksa tubuh ayahnya seperti yang dilakukan oleh Kirana tadi. Sekar yang tidak tahu apa-apa hanya melihat apa yang mereka lakukan tanpa mengerti apa maksudnya.


"Ada apa, Dok?" tanya Bima yang baru saja kembali membawa sarapan untuk istri dan adik iparnya bersama Satya.


"Tolong bawa keluar istri anda sebentar biar kami lakukan tugas kami agar tidak terganggu. Kirana bawa keluar sekalian," kata dokter membuat Kirana terkejut.


"Biar saya ikut menangani bapak, Dok" bantab Kirana menolak perintah dokter.


"Kehadiranmu di sini hanya akan mengganggu pekerjaan kami. Tolong kerja samanya. Ini perintah tidak ada penolakan," kata dokter itu tegas.


Sekar yang masih tidak paham maksud dokter hanya diam termangu. Bima yang menyadari keadaan sedang tidak baik-baik saja segera membawa istrinya keluar. Satya pun ternyata paham situasi. Ia pun segera mengamankan Kirana.


"Ayo kita tunggu di luar," kata Satya.


"Aku harus di sini ikut menangani bapak, ini emergensi," tolak Kirana masih dengan keras kepalanya tetap memegangi tubuh ayahnya.


"Dokter akan jadi sungkan dan terganggu dengan kehadiranmu di sini," kata Satya. Dia sudah tidak ingin lembut lagi menghadapi Kirana, menarik tangan gadis itu kuat dan menggeretnya keluar ruangan dengan Kirana yang terus memberontak.


"Kirana, kamu pilih di sini menunggui ayahmu atau saya yang keluar pergi dari sini dan tidak akan masuk lagi ke ruangan ini?" dokter yang sudah tidak sabar akhirnya mengeluarkan senjata pamungkasnya yaitu ancaman yang membuat Kirana tidak bisa membantah lagi karena keadaan emergensi ayahnya.

__ADS_1


"Kiran, ada apa dengan bapak?" tanya Sekar lugu.


"Emergency, Mbak," ucap Kirana yang langsung memeluk kakak perempuannya dengan air matanya yang tidak dapat dibendung lagi.


__ADS_2