Cinta Tetaplah Di Sini

Cinta Tetaplah Di Sini
Asisten Baru


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Sekar sudah bangun. Dengan segera ia menuju dapur untuk membantu Bi Jum memasak setelah sebelumnya ia melaksanakan ibadah salat subuh.


"Bibi mau masak apa?" tanya Sekar saat telah berada di dapur.


"Mau masak ayam goreng sama sayur capcay," jawab wanita tua itu dengan tangan masih memilah bahan masakan dari dalam kulkas.


"Selera orang di rumah ini seperti apa ya, Bi?" Kini tangannya telah mengupas bawang.


"Mereka suka masakan pedas. Ibu suka yang pedas manis tapi alergi jamur. Bapak semua suka. Mas Bima suka makanan sehat tapi alergi udang. Mas Satya sukanya ayam bakar kecap dan Mbak Mutia sukanya kepiting saus tiram," Bi Jum dengan telaten menjelaskannya padanya tentang selera tiap penghuni rumah.


"Satya sama Mutia itu siapa, Bi?"


"Mas Satya anak angkatnya Pak Doni dan Mbak Mutia adik kandung Mas Bima."


"Mereka dimana? kok saya gak lihat mereka kemarin?" tanya Sekar lagi kini dia tengah menggoreng ayam ungkep yang sudah disimpan di kulkas selama beberapa hari.


"Mbak Mutia kuliah di London dan Mas Satya sedang menjenguknya sekalian menemui klien Pak Doni di sana." Sekar pun mengangguk paham.


Setelah semua sarapan siap, Sekar segera mandi dan bersiap siap untuk bekerja di hari pertamanya. Ia tak ingin bos barunya kecewa dengan kinerjanya. Bahkan sejak kecil Sekar sudah terbiasa disiplin jadi tentu tidak sulit baginya beradaptasi di tempat kerja yang baru. Sekar berprinsip, "Waktu adalah emas." Itu sebabnya ia selalu mengutamakan kedisiplinan dan tentunya kejujuran sebagai faktor utama kesuksesan.


"Sekar mana kok belum keluar?" tanya Intan saat telah duduk di meja makan bersama suami dan anaknya.


"Hari pertama sudah telat?" sahut Doni yang mulai menikmati sarapannya.


"Belum telat dong, Pa kan kita juga baru mau mulai sarapan," Bima membela Sekar karena memang masih terlalu awal untuk mengatakan jika Sekar telat dan itu tak lepas dari pandangan Intan.


"Sekar sedang bersiap, Pak soalnya tadi bantuin saya menyiapkan sarapan," Bi Jum yang mendengar percakapan majikannya menyahut.


"Ini Sekar yang masak?" Intan mulai mencicipi makanan di piringnya, "Enak juga," gumamnya kembali menikmati sarapannya.


"Maaf saya telat." Mereka menoleh pada sumber suara dan tersenyum melihat penampilan Sekar yang yang elegan. Sekar memakai tunik selutut berwarna putih, celana jeans ketat dengan pasmina berwarna peach serta sepatu baletnya membuat tampilannya seperti gadis remaja saja.


"Iya, mari makan," Intan mempersilahkan Sekar duduk di salah satu kursi di sana. "Apa yang kamu lihat, Bim?" Intan memergoki putranya memandang Sekar tak berkedip membuatnya semakin yakin jika putranya memang menyimpan rasa untuk Sekar.

__ADS_1


"Lihat apa, Ma? Bima gak lihat apa apa," elaknya berkilah membuat Intan geleng kepala akan gengsi anaknya.


"Kamu bisa nyetir mobil?" tanya Intan pada Sekar di sela sela makannya


"Bisa, Bu."


"Punya SIM?" tanya Intan lagi.


"Sudah mati, Bu. Sudah dari tiga bulan lalu."


"Kenapa gak diperpanjang?" tanya Doni lalu menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Saya pikir sudah gak diperlukan secara waktu itu kerja di toko pakaian jadi gak perlu nyetir mobil," Sekar pun menjelaskan alasan kenapa SIM miliknya mati.


"Ya, sudah sementara nunggu SIM milikmu aktif kembali saya yang akan nyetir sendiri," ujar Intan dengan menatap wajah Sekar yang terlihat sangat manis apalagi jika ia tersenyum semakin teelihat manis.


"Tapi kalau saya ngurus SIM bagaimana pekerjaan saya?" risau Sekar.


"Jangan risau, nanti Bima yang urus." Intan minum air putih sejenak, "Bim, nanti kalau lagi senggang bantu urus SIM punya Sekar, okey!" perintah Intan pada putranya dan Bima hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Butik Intan"


Papan nama di depan sebuah bangunan toko menunjukkan jika itulah tempat yang dituju.


Sekar begitu terkagum melihat isi butik itu. Gaun gaun mewah terpasang cantik di badan manekin yang berjejer rapi dalam lemari kaca banyak juga yang di luar lemari. Semua terlihat indah karena menggunakan bahan berkwalitas dan dikerjakan oleh tangan-tangan terampil pilihan.


Sekar pun dengan cekatan melakukan semua tugas yang diberikan oleh Intan. Bahkan gadis itu ikut melayani pengunjung jika pegawai di sana tengah sibuk.


"Jeng Intan," panggil salah seorang pelanggan butik dari dekat patung manekin bergaun pengantin berwarna pink.


"Ya, ada apa, Jeng Siska?" Intan berjalan mendekat pada wanita berdandan menor di dalam butik miliknya.


"Gadis itu siapa manis sekali, pegawai baru atau calon mantu?" tanya wanita itu penasaran.

__ADS_1


"Asisten pribadi saya," Jawab Intan.


"Bukan calon mantu berarti bisa dong saya kenalin ke anak saya?" tanya wanita itu masih dengan mengamati Sekar yang tengah sibuk mengurus berkas di meja kerjanya.


"Jangan!" tiba tiba Intan setengah berteriak memegangi tangan Siska.


"Kenapa, katanya bukan calon mantu?" herannya pada Intan yang terlihat panik.


"Dia sudah punya calon suami." Intan berbohong tentunya dia tak ingin Sekar menjadi menantu Siska karena dia juga mengetahui jika Bima menyukai Sekar, dia tak ingin putranya kecewa wanita idamannya diambil orang.


"Benarkah? Siapa?"


'Kok makin kepo sih dia?' gumamnya tak senang.


"Ada. Jangan suka kepo urusan orang bisa kecewa nanti," sarannya dan berlalu karena wanita itu dirasa sudah sangat mengganggu moodnya di waktu sepagi ini.


Bukannya pergi Siska justru makin mendekati Sekar membuat Siska makin jengkel. Bahkan obrolan mereka terlihat akrab. Pribadi Sekar yang supel dan ramah membuatnya cepat akrab dengan siapapun


"Besok kamu mengurus yang di dalam aja, ya gak perlu melayani pengunjung," pinta Intan saat dalam perjalanan pulang.


"Kenapa, Bu? kan itu bagian pekerjaan saya?" terlihat dahinya berkerut.


"Bukan apa-apa saya hanya ingin kamu fokus di bagian produksi saja mengawasi dan memastikan jika produknya sesuai pesanan. Nah, kalau saya keluar baru kamu ikut keluar," kilah Intan beralasan agar Sekar nurut saja dengan maunya.


Intan paham betul jika kepribadian Sekar akan banyak diincar ibu-ibu langganannya untuk dijadikan calon menantu mereka dan Intan tidak ingin itu terjadi dia ingin Sekar menjadi menantunya bukan orang lain.


Entah mengapa sejak pertama bertemu dengan gadis itu ia langsung jatuh cinta padanya dan ingin memilikinya sebagai menantu dikarenakan Sekar memiliki pesona yang berbeda dari gadis pada umumnya.


"Kamu sudah kabari keluargamu jika kamu sudah sampai dengan selamat?" Intan sekilas menoleh pada Sekar yang terlihat asyik memandangi suasana perjalanan yang cukup macet dan gerah.


"Sudah, Bu mereka juga titip salam buat keluarga Ibu," jawab gadis manis itu dengan tersenyum. Terlihat sesekali ia membenahi letak pasminanya yang mulai berantakan karena sudah terlalu lama dipakai.


"Keluargamu pasti sangat hangat terlihat dari caramu memperlakukan orang lain," Intan coba menebak bagaimana keadaan keluarga Sekar.

__ADS_1


Sekar tersenyum, "Ya, mereka sangat hangat sama seperti keluarga Bu Intan," puji Sekar dengan tulus.


"Semoga kedepannya keluargamu dan keluarga Ibu bisa terhubung tali persaudaraan, ya," ujar Intan dan diamini oleh Sekar. Ia tidak tahu saja jika Intan berharap keluarga mereka berbesan. 'Gadis ini lugu sekali,' gumam Intan dalam hati.


__ADS_2